Total Tayangan Halaman

Sabtu, 01 Februari 2014

Itachi Sakit

T (gak tahu mau dikasih rate apa)
Warning
Penuh ke OOC-an, GaJe, Abal, Garing pastinya, Boring, Typo(s), tulisan tidak rapi, dan tidak mengesankan
Summary
Itachi Sakit!
Salam kenal, yak! Saya Author baru di sini, jadi masih butuh banyak bimbingan dari senpai-senpai semua. Maaf bangeeeet kalau ficnya garing, jayus, dan membosankan. Saya 'kan masih newbie.. #alasan
Saya menerima saran, kritik, dan pujian kalau ada… XD *ngarep*
QUINNLAWLIET
[.]
[.]
PRESENT
[.]
[.]
AKATSUKI NISTA SERIES
~ITACHI SAKIT~
Di sebuah markas kumuh milik organisasi nista Akatsuki, terdapat seorang pemuda keriputan yang sedang duduk sendirian di ruang depan. Maklumlah, anggota Akatsuki kan PENGACARA alias PENGangguran bAnyak aCARA. Karena bosan, ia mencari teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka sedang asyik dengan kegiatan masing-masing sehingga mereka tidak sadar kalau pemuda itu menghampiri mereka dengan wajah Ku Chell Byn The Kill (baca:kucel bin dekil).
"Ohayou, minna~" ujar Itachi semangat.
"…" Tidak ada satu pun yang menjawab salam Itachi. Karena tidak terima dicuekin begitu saja, Itachi mengulang salamnya. "OHAYOU, MINNAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ohayou." Jawab yang lain singkat, kemudian kembali berkutat dengan urusan masing-masing. Melihat ia dicuekin lagi, Itachi mencoba mendekati rekannya, sang manusia jadi-jadian. *dipotong pake Samehada*
"Kisame, kau sedang apa?" tanya Itachi sok bego. Lha wong, dia sudah liat kalau Kisame lagi kasih makan ikannya, kok masih nanya. Itachi… Itachi… Bego…
Karena belum di jawab, Itachi gak menyerah. "Ngasih makan ikan, ya?" ujar Itachi lagi masih dengan sikap sok blo'onnya.
"Loe kan udah tau, udah liat sendiri, kan? Kenapa masih nanya, sih?" sahut Kisame ketus.
"Yaelaa… Gue kan Cuma nanya, Kis. Bye de wei, nama ikan loe sapa?" Itachi masih berusaha beramah-tamah.
"Namanya Arwini. Udah, kan? Ganggu aja loe," ketus Kisame lagi. Itachi yang merasa sakit hati karena usiran tidak langsung dari Kisame tadi memilih untuk menghampiri Sasori yang sedang asyik main boneka barbie sendirian. Salah satu contoh anggota Akatsuki yang masa kecilnya—sangat—kurang bahagia.
"Sasorii~" panggil Itachi dengan muka innocentnya.
"Apaan sih?" ujar Sasori tanpa menoleh, masih sibuk dengan Barbie dan Ken-nya.
"Gue boleh ikutan main kagak?" tanya Itachi terpaksa. Habisnya, gak ada bahan yang bisa nyambung selain Sasori malah menghentikan kegiatannya dan menatap intens wajah Itachi. Alis Sasori terangkat sebelah dengan mulut sedikit terbuka menandakan kalau ia sedang sweatdrop berat==a. (Readers:Sweatdrop kok begitu, seh? / Author:Itu sweatdropnya orang keren! / Sasori:Bener, tuh! / Readers:Gilak!)Seandainya Author yang ditatap begitu sama Sasori-kun. *Ketawa-tawa sendiri*
Bek to de stori
Karena melihat tatapan Sasori yang seakan mengintimidasi-nya, Itachi menggeser tubuhnya perlahan mendekati bendahara(m) Akatsuki yang sedang sibuk dengan istri-istrinya (baca:duit). "Kuz, lu ada kerjaan gak?" tanya Itachi dengan nada selembut mungkin.
"Menurut loh?" Mendengar nada bicara Kakuzu, Itachi cukup tahu untuk menyingkir dari hadapannya sekarang. Karena gak dipeduliin sama Kakuzu, Itachi mulai datangi Konan yang sedang sibuk dengan koran bekasnya di sofa. Tapi, malang bagi Itachi, ia gak sengaja nyenggol meja di depan Konan yang di atasnya ada susunan kertas yang berbentuk—seperti—candi Borobudur. Sedetik kemudian, Itachi dengan sukses menelan bulat-bulat deathglare dari Konan. Karena Itachi gak mau deket-deket sama Hidan yang lagi komat-kamit sambil nyembur, atau Zetsu yang asyik pacaran sama pacarnya, si Rafflesia, atau juga Pein yang lagi serius baca majalah. Hayoo… majalah apa itu? Di sampulnya tertulis "CARA-CARA UNTUK MENJADI KETUA YANG BAIK DAN BENAR" Oh, ternyata bukan majalah seperti yang dipikirkan Itachi. Dasarnya, otaknya Itachi memang mesum.
Dengan berat—seberat-beratnya—hati Itachi mendekati Deidara yang sedang bergumul (?) dengan lempung putih dan dibuat menjadi bentuk wajah Kakuzu yang abstrak-nya minta ampun. "Dei~" panggil Itachi dengan nada melas. Gak kebayang…
"Apa, un?" tanggap Deidara mending daripada yang sebelum-sebelumnya.
"Sibuk ya?" tanya-nya lagi.
"Iya, un. Kenapa, un?" tanggap Dei tanpa menoleh.
"Temenin gue biar gak bosen, dong."
"Gomen, Itachi, un. Selain karena gue muak banget sama yang namanya Uchiha, seni gue sebentar lagi jadi, nih!" jawab Dei pelan tapi menusuk. Bagian 'muak banget sama yang namanya Uchiha' itu lhoo…
Dengan hati yang teriris-iris, Itachi ngesot mendekati opsi terakhir, Tobi. Tobi dengan khusyuk dan khidmatnya sedang meresapi film yang ditontonnya. Teletubbies. "Tobi." Panggil Itachi.
"…" Tidak ada jawaban.
"Tobi." Panggilnya lagi.
"…"
"Tobi, Tobi anak baek~" Itachi mengucapkan kata sakral, tapi tetep gak ada jawaban.
"…"
"Hello… Tobi anak baek~" Itachi menggoncang-goncangkan tubuh Tobi yang gak bergeming sedikitpun.
"Hahahahah!" Tiba-tiba si Tobi ngakak bikin Itachi jungkir balik ke belakang (?) "Lucu! Teletubbies-nya lucu banget!" Dan anggota lain masih berkutik dengan kegiatannya masing-masing. Padahal teriakannya Tobi nyaring banget. Itachi lalu mematikan TV dan berdiri di depan Tobi.
"HUEEE! ITA-SENPAI JAHAAATT! HUEEE!" Tiba-tiba (lagi) Tobi teriak Gaje bikin Itachi jungkir balik lagi, tapi kepalanya malah kejedot TV. Seketika seluruh mata menatap Itachi.
"Lo apain si Tobi, Chi?" tanya Pein dengan tatapan iblis-nya. Apalagi matanya yang udah melungker kayak obat nyamuk gitu, tambah serem dah. *Author di-rinnegan*
"ITACHI-SENPAI GANGGUIN TOBI! PADAHAL TOBI LAGI NONTON TELETUBBIES!" teriak Tobi lagi. Walhasil, bermacam-macam deathglare mampir ke Itachi.
Akhirnya, dengan pundung berat, Itachi pergi ke kamarnya buat tidur. Tapi sampai malam Itachi gak keluar-keluar juga. Semua Akatsukiter pun merasa kehilangan dan merasa bersalah karena udah ngacangin Itachi tadi pagi. Kisame pun nge-cek ke kamar tanpa disuruh sama Pein. Partner yang baik :D.
Kisame masuk kamar dan nemuin sesosok mayat gak berbentuk dengan bola mata tinggal satu, kepala yang hampir lepas dari badannya, perut yang… CUT! RATE-NYA GAK COCOK DENGAN ADEGAN BEGINI! KITA ULANG, SCENE 15389 TAKE 45892, KAMERA? ROLLING! AND… ACTION!
Kisame masuk ke kamar dan melihat Itachi lagi selimutan sebatas hidung sambil menggigil. Dengan paniknya, Kisame menghampiri Itachi dan melihat mukanya. Pucat sekali, melebihi Orochimaru. Kisame sentuh kening Itachi, panas sekali. Punggung tangan Kisame aja sampai terbakar. *Lebaii* Dengan panik, Kisame lari turun ke ruang tengah.
"Leader-sama! Gawat!" teriak Kisame dari tangga.
"Kenapa? Kalo lo Cuma mau ngasih tahu kalo keriputnya tambah panjang, itu udah biasa." Balas Sasori dengan tampang males.
"Bukan! Si Itachi sakit!" teriak Kisame di depan muka Pein menyebabkan hujan meteor berjatuhan di mukanya yang tidak rata—karena pierchingan—itu.
"WOOTT?" teriak Akatsukiter yang lain dengan bahasa Inggris yang pas-pasan.
"Huh, sakit-sih sakit… Tapi gak perlu nyembur dong!" bentak Pein sewot, gak diterima mukanya yang tanpa cela itu terkena hujan asam-nya Kisame. *Author dipenjara karena fitnah tanpa beralasan*
"Ayo, cepet lihat keadaannya!" seru Konan memimpin Akatsukiter lainnya yang berebutan naik tangga. Meninggalkan Pein yang merasakan sedikit api cemburu *ceilee…*. Tapi begitulah rasa solidaritas Akatsuki. Iya, kan?
Tapi sepertinya Author harus mengoreksi ucapannya sekali lagi. Karena…
"Deii! Jangan injek-injek kaki gue dong! Kagak sopan amat lu!"
"Yee! Salah sapa, un. Loe berdiri deket gue, un!" Deidara dan Hidan saling sembur menyembur.
"Si Dei mending, Dan. Cuma nginjek kaki lo. Daripada lo sendiri."
"Emang gue ngapain elo sih?"
"Loe kagak nyadar, ya? Loe dari tadi tu nginjek kepalanya Kisame, tauk!" timpal Kakuzu.
"Hah? Oh, Cuma Kisame doang, kok."
"Dasar tega lo!"
"Woy, diem dong!"
"Konan! Jangan semprot sembarangan, dong. Gue dari tadi diem! Mereka noh yang ribut!" Sasori berniat menunjuk muka Deidara dan Hidan tapi yang ada telunjuknya malah masuk ke hidung-nya Zetsu.
"Sas, tangan lo bau terasi~" ujar Zetsu pasrah hidung sucinya kemasukan jari-nya Sasori.
"Hiiiih! Jijik gue!"
"Yaudah, kita dari tadi kenapa kagak naik-naik, seh?"
"Yang depan noh, lama amat!"
"Tobi tu kalo jalan pake tata krama, gak kayak senpai-senpai semua!" ujar Tobi sambil melanjutkan jalannya yang seperti putri keraton.
"Woy! Jangan buang-buang waktu aja! Waktu itu duit!"
"Cepetan dong, Tobi! Itachi-san butuh pertolongan segera! Kalau kita tidak bergerak cepat, dia bisa kehilangan nyawa-nya!" entah siapa yang meneriakkan kalimat lebay itu.
Sementara itu, Pein dan Author hanya geleng-geleng kepala melihat ke'solidaritas'an Akatsukiter itu dari bawah. Sepertinya Author benar-benar harus mengoreksi ucapan Author yang tadi. Baiklah, setelah melewati banyak sekali halangan dan rintangan *halah*, mereka akhirnya nyampe di kamarnya Itachi.

"Itachi-senpai kok mukanya pucet kayak Orochimaru sih, senpai?" bisik Tobi dengan suara keras (?) ke Deidara.
"Itu karena Itachi-san lagi sakit, Tobii, un…" jawab Deidara—terpaksa—sabar.
"Berarti kalo orang sakit itu pucat, ya, senpai?" tanya Tobi lagi.
"Iya, un." Deidara dengan mati-matian berusaha menahan hasratnya untuk ngejitak Tobi.
"Berarti, Orochimaru-senpai itu sakit dong. Tapi kok gak sembuh-sembuh, sih?" Tobi tanya lagi. Tapi Deidara gak jawab, dia Cuma nunduk dengan muka kemerahan. Bukan, bukan karena blushing. Tapi menahan segala hasrat dan gairah untuk membunuh anak autis di sampingnya ini. Sasori yang dari tadi ngederin mereka berdua juga ikut keheranan sendiri. 'Bener juga ya si Tobi. Kok Orochimaru itu pucet banget?' batin Sasori. Wah, ikutan autis ni anak.
Seluruh Akatsukiter (minus Itachi) sekarang sedang mengelilingi ranjang Itachi dengan Itachi sebagai terdakwa sekaligus saksi sekaligus tersangka (?). Konan menempelkan punggung kakinya (?) ke kening Itachi yang membuat Pein menyipitkan mata-nya karena cemburu *Jiahh…*
"Iya, panas banget…" ujar Konan.
"Kalo gitu harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga," tandas Kisame.
"Baik. Kita bawa Itachi ke rumah sakit Konoha," ujar Pein bijak.
"Wet up! Wet down (?)! Rumah sakit Konoha? Di sana tu biaya-nya mahal banget tauk! Secara duitnya kan dipake buat nambalin utang-nya si Kepala Rumah Sakit itu!" sewot si mata ijo.
"Tapi, RS Konoha itu rumah sakit yang paling deket, un!" timpal Deidara.
"Kalau mau cari yang paling dekat, kenapa gak ke kliniknya si Oro aja?"
"Lu mau bikin si Itachi mati dibunuh apa?" sewot Sasori pada temannya yang tidak berperike-Itachi-an.
"Kalau gitu, kita bawa Itachi-senpai ke Kliniknya Sakura aja, Leader. Kan deket, murah lagi."
"OKE!" kali ini Kakuzu langsung setuju. "Hemat biaya transportasi."
"Baik. Kita bawa Itachi ke klinik-nya Sakura!" seru Pein sambil mengepalkan tangannya ke udara. Sementara para anak buahnya hanya bisa sweatdropped dan menyesali mengapa mereka harus di ketuai oleh Leader abnormal macam Pein.
Author juga gak tau, hanya Tuhan dan Om Masashi lah yang tahu mengapa…
^^TO BE CONTINUED^^
Walaaah. Jadinya abal banget.. Yah, Author sendiri juga nyadar, kok. Jadi silahkan flame fic ini, karena fic ini emang pantes diflame. TT_TT Mungkin banyak cerita yang mirip kayak gini, ya? Tapi ini asli ide Ui sendiri, kok. Datangnya ide ini dari pertanyaan Author "Akankan Sasuke-kun menjenguk Itachi-nii kalau aniki-nya itu sakit?" Silahkan cari tahu di chapter depan!
Terimakasih bagi yang sudah membaca fic gak jelas ini. Author sangat sangat sangat mengharapkan uluran tangan anda untuk meng-klik kotak review di bawah ini… *nunjuk-nunjuk tombol review*

Akhirnya, setelah diadakan musyawarah untuk mencapai mufakat, keputusan mereka adalah membawa Itachi ke klinik Sakura yang terletak di pinggir hutan ini. Itachi dinaikkan ke atas burung tanah liat-nya Deidara sementara yang lainnya termasuk Deidara pergi ke klinik dengan jalan kaki. Ini Author atau Deidara yang bego sih? (Dei:Ya elo, lah! Kan elo yang nyuruh gue jalan kaki!). Zetsu juga memilih jalan kaki, padahal dia kan bisa nyelem ke dalam tanah. Dasar Akatsuki zaman sekarang.
Sementara itu, di klinik Sakura sedang terjadi kehebohan karena telah ditemukan seorang pemuda yang berwajah mirip Sasuke-kun—kecuali keriputnya—berada di teras klinik secara misterius. Akhirnya, karena kebijakan Sakura, pemuda itu pun dibawa oleh Ino dan Hinata, perawat di klinik itu, untuk di rawat.
Sejam setelah kedatangan pemuda misterius itu, klinik kembali di hebohkan karena kedatangan sembilan makhluk aneh, sebenernya Cuma enam. Paling nggak, Konan, Hidan, dan Sasori bentuknya masih manusia. (Tobi & Pein:Kita gak dianggap berbentuk manusia…) (Zetsu & Kisame:Gue terima aja, gue selalu dinistakan begini kok) (Deidara:Loe pikir gue kayak apa? / Readers:Bences Taman Lawang!)Mereka mencari pemuda yang ternyata bernama Itachi Uchiha tersebut.
Setelah enam jam menunggu hasil diagnosa, Sakura pun keluar dari ruangan. Ia segera diserbu oleh para Akatsukiter yang sibuk menanyakan keadaan Itachi. Sakura hanya tersenyum.
"Setelah melihat hasil pemeriksaan, Itachi-san positif mengidap virus Ysiphtobetesyndhrome," terang Sakura.
"Wot de pak in de hell? Emang ada virus macam begituan?" tanya Hidan dengan Bahasa Inggris yang malu-maluin Akatsuki.
Sakura melongo sebentar melihat keajaiban bahasa yang dipake makhluk di depannya ini, namun tak lama dia menjelaskan, "Ysiphtobetesyndhrome disebabkan karena BT berat akan sesuatu. Cara menyembuhkannya hanyalah dengan membuat si penderita merasa senang untuk beberapa lama sampai ia melupakan BT-nya tersebut." Akatsukiter manggut-manggut menyadari kesalahannya masing-masing yang sudah nyuekin Itachi waktu itu.
"Terus, Itachi sekarang gimana, dong? Eh, Dok?" tanya Pein dengan suara—sok—berwibawa. Eh, yang keluar malah suara cempreng macem Tobi.
"Boleh dibawa pulang kalau mau, dibuang juga boleh, tapi kalau mau membuang sebaiknya dibungkus dulu. Kalau mau dimasak silahkan, lebih enak kalau digoreng atau dibakar. Dihidangkan ketika masih hangat akan lebih enak." Terang Sakura sambil melenggang pergi meninggalkan Pein dengan ke-cengo-annya yang sangat tidak elit.
Akhirnya, setelah rapat paripurna para makhluk gajelas ini pun sepakat untuk membawa Itachi pulang. Namun, ketika hampir sampai di pintu keluar…
"Eh, mas, om, mbak, mbah, buyut… Bayar dulu," seru cewek berambut pirang dengan bandana ungu. Kali ini Sasori langsung turun tangan tanpa disuruh, semuanya demi Itachi *halah*
"Mbak… Kami ini sudah gak makan tiga hari, karena itu temen kami sakit… Masak Mbak tega nyuruh kami bayar setelah segala penderitaan yang kami alami…" ujar Sasori dengan 'melas eyes no jutsu'.
"E-eh? I-iya deh," kata si Mbak pirang yang di nametag-nya tertulis 'Ino Yamanaka' itu cengo karena melihat pemandangan paling mengerikan seumur hidupnya. Jadilah, Akatsuki pulang tanpa membayar yang sangat jelas membuat Kakuzu berteriak kegirangan dalam hati. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengajak Sasori kalo lagi belanja di toko yang penjaga kasir-nya cewek. Dasar otak duit…

"Eh, ada apa, Ino-chan?" tanya rekan si rambut pirang yang bernama Hinata. Darimana Author tahu? Kan Author baca nametag-nya :D
"Itu… Mereka kasihan banget ya, Hinata…"
"Iya, Ino-chan. Udah penampilannya gak meyakinkan begitu, tampangnya ancur-ancuran, kere lagi. Aku jadi prihatin," ujar Hinata iba yang ujung-ujung-nya adalah penghinaan dan penistaan bagi Akatsuki.
"Udah deh, pasti Sakura ikhlas kalau mereka gak bayar… Itung-itung nyantunin orang miskin…" timpal Ino lagi.
"Eh, Ino-chan. Bukannya yang sakit tadi Itachi Uchiha, ya? Keluarganya Sasuke-kun, dong,"
"Bener juga… Berarti kita mesti kasih tahu Sasuke-kun, dong…"

"Loe pikir gue peduli sama Aniki gue?" jawab si pemuda emo itu ketus.
"Tapi, Sasuke-kun… Dia itu sakit parah, tadi aja sampe pingsan berjam-jam…" cewek pirang tadi masih berusaha meyakinkan.
"Biarin aja dia. Kan dia punya kehidupan sendiri. Gue juga punya kehidupan sendiri,"
"Yasudahlah… Terserah Sasuke-kun aja…" gadis pirang itu meninggalkan Sassuke sambil cemberut. 'Dasar adek durhaka, semoga lo entar dicakar-cakar banci atau minimal dipelukin sama orang gak normal…" kutuk Ino dalam hati.
Sepeninggal Ino, Sasuke langsung pergi mencari teman-temannya yang kebetulan lagi ngumpul di warung Ramen. Naruto, Gaara, dan Neji. Itu pun kalau Sasuke menganggap Neji sebagai teman.
"Woy! Loe semua mesti pada temenin gue ke markas Akatsuki sekarang!" teriaknya tiba-tiba di samping kuping Neji.
"Memangnya ada apa, Sasuke?" tanya Neji enteng. Padahal kupingnya udah denging gak keruan.
"Aniki gue sakiitt! Cepetan! Temenin gue jengukin dia!"
"Emang separah itu, ya?" Naruto masih gak rela kalau harus ninggalin ramennya.
"Iya! Dia sampai pingsan berjam-jam!"
Akhirnya, atas nama cinta Naruto pada Sasuke, CUT! AUTHOR TIDAK SUKA YAOI! AUTHOR BUKAN FUJOSHI! GANTI SCENE! (readers:padahal kan dia yang bikin naskah)
Akhirnya, atas nama persahabatan, ketiga teman Sasuke itu memutuskan untuk menemani si pantat ayam itu. Tapi, mereka harus mampir ke warung dango dulu, karena Sasuke mau membelikan Itachi oleh-oleh.
*****BACK TO AKATSUKI*****
Singkatnya, mereka semua udah balik lagi ke markas, dan Itachi udah mulai siuman. Ketika ngeliat Itachi ngebuka mata-nya, Kisame jejeritan histeris. "WOOOOYY! ITACHI UDAH BANGUN! CEPETAN! ITACHI UDAH SADAR!" teriakan Kisame mampu membuat Itachi pingsan lagi, tapi langsung siuman lagi karena suara rusuh di luar kamarnya.
Kerusuhan itu terjadi karena Hidan yang lagi makan mie rebus sambil jalan ke ruang tengah kaget waktu denger teriakan Kisame, mie-nya tumpah kena kepala-nya Pein yang lagi duduk di sofa. Seketika Pein langsung jerit juga karena kuah mie-nya masih panas, Konan dan Kakuzu juga ikut teriak karena sofa putih yang baru dibersihin Konan dan harganya selangit itu kotor kena mie-nya Hidan.
Saking kagetnya ngedenger teriakan beruntun itu, Deidara gak sengaja ngeledakin barbie Rapunzel-nya Sasori dan bikin yang punya nangis histeris. Deidara ikutan histeris buat minta maaf ke danna tersayang-nya. Tobi yang gak tau apa-apa Cuma ikutan teriak dengan suara cemprengnya yang naujubilaah. Sementara Zetsu Cuma bisa diam tanpa berkomentar. Hidan hanya sweatdrop tanpa berusaha menyadarkan teman-temannya yang agak (baca:sangat)gak waras itu.
*Di Warung Dango*
"Beli dango-nya dua puluh tusuk, Bibi," pesan Sasuke gak kira-kira.
"Banyak bener sih, Sas. Mau buat Aniki lo semua, tuh?" ujar Naruto bingung.
"Ya enggak lah, lo pikir kalo gue cuma beli lima tusuk, makhluk-makhluk di sana gak bakal mintain apa? Entar Aniki gue malah gak kebagian lagi,"
"Oh…" Naruto manggut-manggut. Neji dan Gaara diam. Memang sudah sifatnya. Tapi… kali ini mereka diam sambil memandangi dango yang sedang dibungkus oleh si Bibi. Hm, diam yang mencurigakan…
"Berapa semuanya, Bibi?" tanya Sasuke sambil mengeluarkan dompet Ripcurl biru tua bergambar kipas klan Uchiha.
"10.000 Rupiah, de'." Ujar si Bibi enteng. 'Hah? 10.000 Rupiah? Mahal amet sih? Duit gue kurang, nih!' batin Sasuke panik. 'Tapi masak gue mau ngaku kalo duit gue kurang sih? Ilang dong harga diri gue…' keringat dingin mulai membanjiri pelipis Sasuke.
Naruto menangkap gelagat gak enak dari Sasuke. "Kenapa lu, Sas?"
"Na-naruto… U-uang gue d-di-copet," jawab Sasuke menutupi kebenaran.
"Lah? Jadi gimana dong?" tanya Naruto bingung. Ia sendiri gak bawa uang sama sekali. Ia berniat minta bantuan dari dua temannya itu, tapi diurungkan melihat mupeng mereka, sudah dipastikan mereka juga gak bawa uang.
Sasuke dan Naruto menoleh serentak dengan tatapan memelas pada si Bibi. Tapi, si Bibi gak kerayu.
*Di Markas Akatsuki*
Para Akatsukiter yang tadinya histeris langsung tersadar begitu Kisame teriak untuk yang kesekian kalinya. Mereka mulai berebutan naik tangga lagi. Kali ini Pein ikutan rebutan. Ia gak mau dianggap ketua gak becus karena datengnya telat. Begitu kata buku yang dibaca Pein di chapter 1.
"Aw! Siapa nih, nginjek kaki gue lagi? Pasti Deidara!"
"Enak aja lo tuduh-tuduh! Yang ada elo yang nginjek idung gue, blekok!"
"Lha? Yang nginjek gue sapa dong?"
"Eh? Hidan? Keinjek ya? Sorry…"
"SASORIII!"
"Yang di depan! Jangan kayak putri keraton! Waktu itu uang!"
"Senpai~, sekarang bukan Tobi yang di depan…"
"Kakuzu, kan yang paling depan elo sendiri!"
"Udah! Cepetan jalan!"
"Senpaii~! Tangannya Tobi keinjek, senpai~!"
"Oe! Diem ngape?" teriak Konan.
Semua langsung diam seketika. Hening. Tidak ada suara selain suara kedipan mata. Bahkan Kisame yang ada di kamar Itachi pun mengira kalau mereka semua sudah mati. Ia pun memutuskan untuk keluar kamar dan melihat teman-temannya sedang ada dalam posisi yang mengenaskan.
Dei terlentang dengan muka keinjek kaki Hidan yang di atas kakinya Hidan ada kakinya Sasori yang baunya mirip dengan bau cadarnya Kakuzu yang gak pernah ganti. Kakuzu yang paling depan cuma diam mematung memandangi uang lima ratusan receh yang tergeletak sendirian di depan kamar Itachi. Di belakangnya ada Konan yang kepalanya udah merah—siap meledak. Terus ada Pein yang gak ada suaranya karena mulutnya nyangkut di pegangan tangga, dan bermacam-macam pose TIDAK ELIT lainnya.
Melihat semua itu, Author dan Zetsu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala ke kanan dan kiri (?) dari bawah. Sementara Kisame sedang sweatdrop berat melihat teman-temannya—bahkan Leadernya—bertingkah sekacau ini.
"WOY! Itachi udah bangun noh! Niat jengukin nggak, sih?"
"NIAAATT~!" teriak yang lain berbarengan kecuali Zetsu dan Pein yang bibirnya masih nyangkut. Malang benar dikau, Pein. Dinistakan di daerah kekuasaan sendiri.
Mereka lalu berbaris dengan rapinya untuk masuk ke kamar Itachi.

Di Konoha...
Kedua remaja yang tadi bengong sekarang masih bengong dengan mupeng yang keliatan banget. Huh, bikin malu ibu-bapak loe berdua! Bagaimana nasib duo kita Sasuke dan Naruto? Kotak berisi dango sudah di tangan Sasuke, yang membawanya pun memasang tampang ceria. Sementara duren di sebelahnya malah murem.
"Loe sih, Teme! Kenapa mesti kecopetan segala, sih? Lo pikir nyuci piring tu enak? Mana piringnya segunung lagi.." keluhan Naruto tidak di dengar Sasuke karena ia sedang sibuk menyadarkan kedua temannya yang tengah mempermalukan diri sendiri itu.
"Tapi, gue bingung. Kok tu copet hebat banget ya? Bisa nyopet duitnya doang, gak sama dompetnya sekalian," gumam Naruto ketika mereka tengah dalam perjalanan 'Menjenguk Kakak Sasuke'. Sasuke terkesiap sejenak dan semburat merah muncul di pipinya. Namun cepat-cepat ia memasang wajah stoic dan (sok) cool-nya lagi dan menggidikkan bahu.
"Eh, Sas! Emangnya lu tau dimana markas Akatsuki?" pertanyaan Gaara tadi sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan muka-nya yang sudah berubah rata! #Lupakan.
"Oh, nooo! Gue kagak ngerti dimana markasnya!" jerit Sasuke sambil ngesot jilat tanah. "Kalau gue gak ngerti dimana markasnya, gue gak bisa kesanaa!" teriaknya lagi sambil melepas sendalnya dan menampari wajahnya sendiri dengan sendal Ripcurl-nya itu.
Ketiga temannya hanya bisa sweatdrop. Ternyata kecintaan yang berlebihan pada saudara sendiri dapat menyebabkan seseorang berubah 180 derajat, dan mempermalukan dirinya sendiri. Untung Sasuke melakukannya di pinggir hutan, palingan yang lihat cuma serangga hutan atau ularnya Orochimaru yang sering mangkal di situ (?). Dalam hati Gaara berjanji kalau dia gak akan terlalu menyayangi Temari dan Kankurou, karena takut berakhir seperti ini.
"Sasuke…"
"Kalo gue gak kesana, entar gue gak ketemu Aniki gueeee!" Sasuke masih berusaha membuat malu dirinya dan ketiga temannya serta keluarga besar Uchiha. "Kalo Aniki gak ketemu gueee, dia bisa-bisa gak sembuuuuuuuuuuhh!" teriak Sasuke penuh ke-OOC-an dan ke-lebay-an tingkat akut sambil menjambak rambutnya sendiri dan rambut ketiga temannya yang masih diam tak bergerak.
"Sasuke…"
"Dan kalo Aniki gue gak sembuh, diiiiiiiiiaaaaaaaaaaa biiiiiiiiiiisssssaaaaaaaaaaaa maaaaaaaaaaaatttiiiiiiiiiiii! Hueeeeeee!" Sasuke menjerit histeris sambil mencakar-cakar batang pohon.
"SASUKE!" teriak Gaara frustasi ngeliat temannya jadi gak waras. "Lu kenapa sih?" tanya-nya setelah Sasuke tenang.
"Gue gak ngerti alamat Akatsuki~" ujarnya sambil menunduk dan menggenggam tanah secara dramatis. "Gue gak tahu dimana markas Aniki gue~" dan air mata Sasuke pun bercucuran kembali.
"Tapi kan, gue tau." Ujar Gaara singkat. Membuat Sasuke melotot dengan tidak elitnya. Dari tadi juga semua yang dia lakukan udah gak elit.
"Kenapa lo kagak bilang sih? Kenapa loe nanya kayak gitu tadi?" tanya Sasuke dengan deathglare terindahnya. Yang disambut anggukan Neji dan Naruto yang masih shock.
"Kan gue cuma nanya, loe ngerti atau nggak. Kalo nggak, biar gue yang jalan di depan. Elo malah nangis deluan.
"Oh.. Yaudah, jalan di depan sono." Sasuke kembali ke sikap (sok) cool-nya yang membuat Naruto dan Neji dapat bergerak lagi.
*Di Kamar Itachi*
Semua akatsukiter kecuali Itachi tentunya, sedang duduk sedikit berdesakan di lantai. Mereka hanya menatap Itachi sambil melongo. Itachi yang baru sadar dari pingsan keduanya pun heran ngeliat makhluk Gaje ini ngerubungi dia kayak semut yang ngeliat gula.
"Kalian kenapa?" tanya Itachi.
"Itachi… apa yang kau inginkan sekarang? Kami akan berusaha mewujudkannya." Ujar Pein tegas. *tumben * Mendengarnya, Itachi langsung sumringah.
"Aku sebenarnya ingin krim anti keriput terbaru yang dijual oleh Sales Shikamaru kemarin," ucap Itachi dengan nada lemah.
"Baik. Dei, belikan. Minta uang dari Kakuzu," titah sang Leader. Tanpa banyak cincong, Deidara mengambil uang dari Kakuzu dan ngeloyor pergi. Beginilah 'solidaritas' Akatsuki yang Author maksud, tidak perlu dengan kata-kata. Iya, kan? Deidara yang notabene benci dengan Uchiha mau membantu-nya ketika sedang sakit. Begitu juga dengan Kakuzu yang akan sangat perhitungan soal uang. Sebenarnya sampai sekarang masih. Buktinya, baru saja ia mencatat bahwa hutang Itachi Uchiha sudah bertambah 30 Rupiah, padahal uang yang dibawa Dei Cuma 10 Rupiah. Haa~h, turunan Gayus ke-1879 nih, si Kakuzu. Emaknya ngidam apa ya dulu?
"Apa lagi permintaanmu, Itachi?"
Tak lama kemudian, lima puluh tusuk dango hadir di atas meja di kamar itu. Disusul dengan segala alat facial yang ditaruh di ujung ruangan itu, juga satu set shampoo plus conditioner-nya sudah nangkring di sebelah alat facial itu. Itachi hanya menyeringai dalam diam melihatnya.
Tiba-tiba, terdengar suara orang memanggil-manggil. Zetsu yang di daulat untuk membuka pintu pun beranjak ke pintu depan, kemudian ia segera kembali lagi ke kamar Itachi.
"Siapa, Zet?"
"Yang datang itu si…"
"Nii-san!"
"Woy! Jangan teriak-teriak! Itachi-san lagi sakit." Seru Kisame. Sendirinya aja teriak.
"Sasuke? Keluargaku! Akhirnya aku melihat Uchiha lain selain si bocah keriputan itu!" jerit Tobi yang mode Madaranya lagi nyala. To—eh, Madara segera berlari gak peduli kalau muka-nya Hidan keinjek dan akuarium-nya Kisame kesenggol sampai jatuh. Ia menyongsong Sasuke dan memeluk-meluknya. Sementara Naruto, Neji, dan Gaara sudah memaksa duduk di antara anggota Akatsuki yang sudah berdesakan di ruangan yang emang sempit itu.
Ketika Sasuke berusaha melepaskan diri dari si autis itu, Deidara muncul dengan sebungkus plastik kresek hitam. Tapi, ketika melihat Sasuke, plastiknya itu dijatuhkan secara dramatis. Lalu ia menjerit histeris,
"AAA! UCHIHAA! GUE BENCI UCHIHA, UN! PERGI KAGAK LU, UN? KALO LO MASIH DI SINI, GUE BUNUH JUGA LU, UN!" jerit Deidara histeris, gak nyadar kalau kouhai-nya itu juga Uchiha. Lalu ia sibuk nimpuk, nabok, nyakar, dan melakukan segala hal yang menistakan Sasuke dan UCHIHA. Kayaknya terkabul deh, do'a-nya Ino di atas.
"Sudah diam! Tenang semua!" teriak Pein? Bukan, bukan Pein, tapi Kisame. Kisame? Wow!
Mereka pun diam dan duduk di tempat semula walaupun berdesakan. Dalam hati Sasuke bersyukur pada Tuhan sudah menciptakan Kisame yang membantunya melepaskan diri dari dua makhluk gak waras itu. (Author:Akhirnya, ada yang bersyukur atas kehadiranmu, Kis… / Kisame:Iya, aku jadi terharu, Author… / Sasuke:Cih, Author! Lu ngarang aja. Gue gak pernah bersyukur atas apa pun yang ada dalam diri Kisame tauk!)
"Gue ke sini cuma mau nganterin dango doang. Salam buat Aniki." Ujar Sasuke datar padahal udah mati-matian nahan supaya gak lari meluk kakaknya. Ketiga temannya pun sweatdrop berjamaah dengan Naruto sebagai Imam (?). Masih inget nggak, tragedi Sasuke waktu di warung ramen sama di pinggir hutan? Tadi dia nangis sekejer itu, kok sekarang dia stay cool aja, sih? Dasar nggak sinkron! Sebenernya Sasuke gengsi karena ada Akatsukiter lainnya numpuk di sini.
"Yaudah. Gue mau pulang dulu." Ujarnya. Itachi yang matanya sayu pun langsung terbelalak. Sebaliknya, Deidara malah bertepuk tangan kegirangan.
"OTOUTO! JANGAN PULANG DULU! AKU MASIH KANGEN KAMU, SASU-CHAN!" teriak Itachi menggelegar. Seketika semua orang yang ada di situ tercengang. Ternyata Itachi udah gak sakit. Dia udah sembuh…
Sebenernya, Sasuke pengen puter balik terus teriak "AKU JUGA KANGEN NIISAN!" tapi… dia gengsi lah… Jadi dia cuma bilang "Jadi loe gak sakit? Berarti sia-sia dong, dango ini," ujarnya sambil menunjuk dango hasil jerih payahnya di atas meja. Itachi diam saja ditembak pertanyaan begitu. "Udah ah, gue pulang aja." Ujar Sasuke sambil melangkah pergi dibuntuti oleh ketiga babu setianya *PLAK! BUK! PRANG!*
"OH NOO! OTOUTOOOOOO!" teriak Itachi lebay.
Dalam hati, Sasuke berkata "Gomen, niisan. Aku harus pergi, My lovely one and only Aniki…"
"Itachi…"
"I-iya, Leader?"
"Jadi lo gak sakit?" tanya Pein menusuk.
"Gue sakit, Leader. Tapi udah sembuh waktu lo bilang lo mau ngabulin permintaan gue…" jawab Itachi jujur. Toh, ia gak bisa bohong di depan Leader-nya yang kalo lagi marah berasa ketemu iblis di neraka.
"Hukuman apa yang sesuai untuk orang seperti ini?" tanya Pein ke Konan yang sekarang gak pake 'sayang' atau 'beibh' atau embel-embel apapun lagi, saking keselnya Pein.
"Ini alasan kenapa gue benci Uchiha~" bisik Dei ke Sasori yang dibisiki cuma manggut-manggut dengan tampang sayu.
"Sudah. Serahkan semua pada Kakuzu, Leader." Jawab Konan.
Itachi udah pasang tampang horor denger ucapannya Konan. "Uchiha-san. Di catatanku, hutangmu bertambah 300.000 Rupiah, sehingga semuanya menjadi 583.847.000 US $. Karena kau membeli alat-alat ini" Ucap Kisame sambil menunjuk barang-barang di meja Itachi yang membuat jantung Itachi berhenti.
"A-apaaahh? Tidak mungki~n," kemudian Itachi pingsan dengan dramatisnya. Tapi Akatsukiter gak ada yang peduli lagi, semua meninggalkan kamar Itachi kecuali Sasori. Boneka imut itu sudah ngorok duluan di samping Itachi.
Epilogue
"Hiks… hiks… Gue nyesel gak sempat meluk Aniki tadi…" tangis seorang cowok berambut 'chickenbutt style' pada sebongkah duren dan sebiji panda. Di sampingnya duduk cowok yang rambutnya indah seindah bintang iklan Herbal Essence.
"Sabar, Sasuke… Kita do'akan saja supaya Aniki-mu sakit lagi,"
"Iya, yang lebih parah kalau perlu,"
Akhirnya keempat pemuda idiot itu pun pergi ke arah yang berbeda, ada yang ke wihara, pura, gereja, dan masjid. Tujuannya sama, untuk meminta kepada Tuhan supaya Itachi Uchiha diberi sakit lagi. Kira-kira dikabulkan nggak, ya?
OWARI
Terimakasih bagi yang sudah menyempatkan waktunya baca fic ini. Author lagi sedikit gak mood, jadi hasilnya juga gak bagus, deh. Padahal Author udah berusaha... Hiks...hiks..hiks...
Dan, tolong beritahu dimana letak kesalahan-kesalahan saya lewat REVIEW yaa... ^^

Rabu, 29 Januari 2014

Awardsnya Akatsuki

By: Putu Amannata Suprapta
Genre: humor/romance
"Om swastiastu  ketemu dengan saya Putu Amannata Suprapta,panggil aja  amannata. Di bawah merupakan fic pertama saya maaf kalo gak asik gak lucu, gak menarik dan gak gak yang lainnya."
Disclaimer:
Naruto © Masashi Khisimoto.
Awardsnya Akatsuki © Putu Amannata Suprapta.
Au:  "fic ini dibuat untuk Event yang dibuat oleh page Naruto (NAmpang RUsuh Tapi Objektif)
WARNING: diusahakan untuk tidak OOC, EYD mode: kadang ON, kadang Off, garing, gila, bau, makin kebawah makin garing.

Happy Reading Guys! Enjoy!
.
#DON’T LIKE DON’T READ#
.
.

Pada  suatu siang yang cerah, di sebuah gua buluk dengan pencahayaan yang teramat suram, bau amis, kotor, dekil, berantakan dan…
“BLEATAK”
“Woi! Siapa yang nimpuk kepala gue pake bata?” teriak Author dengan niat dan nada akan membunuh, tp niat dan  nada membunuh itu hilang setelah beberapa pasang mata yang mengeluarkan death glare, seolah olah berkata’berani lu ngehina rumah kita, kita kuliti lu hidup hidup.’ Author jadi tambah takut plus ngeri dan mengulang kata pembukanya.
Pada suatu siang di sebuah gua yang disebut ‘rumah’ oleh penghuni yang berbagai mancam rupa dan gak jelas sedang asik menjalankan aktivitasnya masing- masing.

Pein sang leader sedang ngaca sambil ngelapin perching – perchingnya yang mengkarat gara – gara lupa dilap setahun. Tiba – tiba Tobi dateng sambil nepuk pundak sang leader, otomatis ngebuat perching yang mau di pasang di hingdung hampir mendarat di mata Pein.
“TOOBIIIIIII!!! Lu gak kira – kira nepuk pundak gue, hampir ni perching nyungsep di mata gue, lu mau gue buta HAH!!”
“HUWAAAAAAA, Tobi hiks Tobi kan cuman mau manggil leader hiks, ada yang yang nyari leader hiks di depan HUWAAAA” kata Tobi yang kembali nangis.
‘Dasar anak autis katanya aja Madara Uchiha, tau taunya cuman anak autis yang make topeng bentuk byagon… eeh ada yang nyari gua siapa?’ Batin Pein.
Akibat tangisan Tobi yang begitu keras, sontak ngebangunin penghuni gua yang disebut ‘rumah’ oleh mereka.
“Huaaahmmm.. ada apa ni pagi – pagi sudah ribut, ganggu mimpi gue aja” kata Kisame dengan muka yang berantakan.
Huaahmm.. ia ni padahal sedang asik asiknya main boneka barbie yang limited edition. Eeh kis lu bisa mimpi juga? Gue kira setan gak bisa mimpi! Emang lu mimpi apaan?” kata Sasori sambil memeluk boneka barbienya.
“Gue mimpi jadi kolektor semua jenis ikan langka, eeh? Lu bilang gue apa tadi? Setan? Gue lempar tu barbie lu ke kolam ikan hiu gue, baru tau rasa lu!” kata Kisame sambil megangin mukanya yang dibilang setan.
“Apa sih kok  ribut – ribut” kata Konan yang baru bangun dar jadwal sleeping beauty-nya.
“Iya  padahal gue mau santai habis masang ni masker muka” kata Itachi yang keluar dari kamarnya  dg maskerannya yang hancur.
“WOI! Diem lu pada, sudah siang tau kenapa lu baru bangun” teriak Pein pake toa yang habis dicolongnya minggu kemarin.
“Yang berisik tu lu leader mesum, ganggu kekhusukkan ritual gue pada Yang Mulia Dewa Jashin” kata Hidan sambil megang sesajennya.
“Hmm ada apa siang – siang ngumpul di sini ? pada mau bayar uang kas bulanan yang loe – loe pada gak bayar 3 bulan” kata Kakuzu yang langsung ngebuat semua yang ada di ruang tengah minus Kakuzu jadi kikuk dan mulai nyari nyari alasan.
“Hei leader hiks cepetan keluar hiks ditunggu dari tadi tu hiks” teriak Tobi yang masih nangis gara gara dikacangin.
Pein yang baru diingetin oleh Tobi langsung keluar gua.
1 jam kemudian Pein kembali masuk gua dengan wajah yang berkilau (gara gara perchingnya author senterin biar berkilau)
“Hei Pein muka lu kok terang banget ceria banget?” kata Deidara dengan nada khas anak ABG jaman sekarang.
“oke gue ada berita bagus tapi mana Zetsu?” kata Pein.
“Gua disini” kata Zetsu “ngapain kita kita disuruh ngumpul di sini”  lanjutnya.
“baiklah karenana semua anggota sudah berkumpul, mari dengarkan pengumuman dari saya akan tetapi sebelumnya mari bersama mengucapkan puja dan puji syukur….”
“Woi cepetan! loe mau kasi pengumuman apa? Pake pidato segala” sewot Hidan karena ritualnya terganggu.
“Oke oke, kita organisasi Akatsuki diundang untuk menghadiri sebuah awards Naruto untuk kategori tokos terpopuler di Akatsuki….”
“wah bagus tu akhirnya organisasi ini mendapat perhatian juga” kata Konan yang memotong pengumuman dari Pein.
“ Konan sayang Pein-chan kan belum selesai ngomong kok di potong potong si sayang” kata pein seimut mungkin( Author : padahal gak ada imut – imut nya malahan muka mesumnya yang tampak)
“maaf ya sayang” bales Konan dengan rona merah di pipinya.
“sudah sudah stop mesrah mesrahannya, buat iri aja” kata Itaci yang memang belum pernah  merasakan pacaran, gara gara setiap cewek yang deket dengannya risih dengan keriputnya.
“lanjutin leader” kata Tobi kegirangan.
‘dasar anak autis tadi mewek sekarang kegirangan’ batin Pein
“oke gua lanjutin, kita kesana pukul 08.00 malam hari ini ke lapangan Konoha”
“HAH! Gak salah loe pein ni dah pukul 07.00 malam kok loe gak ngomong dari tadi” kata Sasori yang terkejut karena waktu yang ia butuhkan hampir 1 jam untuk bersiap siap.
“maka dari itu cepetan kalian siap siap, siapa suruh kalian bangun kesiangan” kata Pein yang sudah siap dari tadi (Author : cepet banget si Pein)
#####[Awardsnya Akatsuki]#####
Pukul 07.30
 “Semua siap?” teriak Pein pake toa
“siap!!” teriak anggota akatsuki yang gak mau kalah kerasnya
#####[Awardsnya Akatsuki]#####
Pukul 08.00 di lapangan Konoha
“hah hah hah hah sialan loe kakuzu !!! pelit banget loe jadi orang , masak gak bayarin kita kita naik bus malah disuruh jalan kakitrus lari lagi hah hah hah” kata Pein yang ngos ngosan
“ia nih make up gua kan jadi luntur” kata Konan
“siapa suruh kalian nunggak setoran uang kas 3 bulan “ bales Kakuzu santai.
“sudah sudah yang  penting kita dah nyampe di tempat” kata Itachi yang masih ngos ngosan.
“Iya bener tu kata Itachi, sebaiknya kita makan dulu saja tu hidangan di meja menggiurkan banget” kata Kisame sambil ngiler, tapi setelah ia menoleh kanan kiri hanya ada dia seorang.
‘sialan loe pada ninggalin gue’ batin Kisame.
#####[Awardsnya Akatsuki]#####
Di meja makan
Sasori, Deidara dan Tobi
“hei Tob bener lu cuman mau makan kue yang manis manis itu saja, gak mau sayur ?” tanya Sasori
“Gak!! Sayur gak enak!” bales Tobi
“nanti gak ilang ilang autis lu, malahan gigi lu yang ilang” sahut Deidara sambil nahan tawa.
“boleh kita bergabung?” tanya gadis berambut pirang dengan temannya yang memiliki rambut indigo.
“I..iya” jawab Sasori yang mendadak gugup.
“silakan” kata Deidara sambil menarik kursi untuk mempermudah gadis  berambut pirang yang bernama Ino.
“arigatou Gozaimasu” kata Ino dengan senyum manisnya. Deidara yang mendapatkan senyum dari Ino merasa jantungnya meledak ledak.
“na.. nama mu si.. siapa?” tanya Sasori yang gugupnya menjadi jadi.
“Hi.. Hinata Hyuga”kata gadis bermata lavender itu “ka.. kamu?”
“Sasori” kata sasori yang mulai bisa mengendalikan rasa gugupnya.
#####[Awardsnya Akatsuki]#####
Pein dan Konan
Author : “sudah jangan dah dibahas dua mahluk kasmaran ini, pastinya mereka berdua lagi mesrah mesrahan, suap suapan dan lainnya.”
#####[Awardsnya Akatsuki]#####
Hidan, Kakuzu, Zetsu, Kisame dan Itachi
“sialan kenapa menu yang loe ambil harus ikan” kata Kisame yang kasihan dan meratapi nasib sang ikan.
“sudah makan aja nanti loe juga suka” kata Hidan sambil makan ikan goreng yang diambilnya di piring Kisame.
“wah ada sayur ijo kesukaan gue, pinter banget loe ngambil menu makannannya Dan” kata Zetsu yang langsung nyamber semua sayur pesenan.
“hey hey hey kalian makan bisa tenang sedikit, malu dilihat orang” kata Itachi yang mendadak sifat khas clan uchihanya muncul.
“lumayan bisa dijual” gumam Kakuzusambil ngebungkus makanan yang ada.
#####[Awardsnya Akatsuki]#####
“ baiklah karena tamu kehormatan kita yaitu Akatsuki telah hadir mari kita mulai acara untuk…
AWARD NARUTO, kategori tokoh terpopuler di Akatsuki” teriak pemuda berambut pirang layaknya duren di atas panggung.
“sebelumnya perkenalan nama saya Naruto Uzumaki. Mari kita persilakan kepada anggota akatsukiuntuk menaiki panggung dan memperkenalkan diri” lanjutnya
Semua anggota Akatsuki menaiki panggung dengan terpaksa karena acara makan makan mereka terganggu.
“perkenalkan kami adalah Akatsuki, nama saya adalah Pein sang Leader dari Akatsuki hobi saya membaca”.
“wah wah wah rupa rupanya leader dari akatsuki memiliki wawasan yang luas ya?” tanya Naruto
“ah tidak juga” kata Pein
“sang Leader kita memang suka membaca tapi hobinya ini tidak boleh kalian tiru” kata Sasori
“loh kok dilarang? Membaca kan hal yang bagus intuk menambah wawasan kita” kata Naruto
“jelas saja gak boleh ditiru, si Pein itu hobi baca majalah Play Boy” kata Sasori
‘dasar  Sasori awas loe nanti gue bakar semua boneka barbie lu’ batin Pein
Naruto seatdrop mendengar penuturan Sasori. “baok kita lanjut yang berikutnya”
Nama saya Sasori keahlian saya dalam memainkan kugutsu” kata Sasori “wah apakah benar ini tuan Sasori sang ahli kugutsu dari Suna?” tanya naruto. Sasori hanya mengangguk bangga.
“iya memang Sasori adalah ahli kugutsu tetapi kugutsu barbie” kata pein yang memulai balas dendam pertamanya.
penonton dan Naruto semakin sweath drop. “Oke lanjut”
“nama Kakuzu, bendahara akatsuki paling senang dengan yang namanya  uang.”
“nama zetsu, sang mata mata akatsuki. Selain mata mata saya adalah pecinta tanaman terutama Venus Flying Trap”
“nama Kisame kegiatan diaakatsuki selain menerima misi dari leader yaitu sebagai kolektor ikan”
“nama gue Hidan sang penasehat keagamaan di akatsuki dan pemimpin ritual yang di persembahkan kepada Dewa Jashin.”
“Nama Konan kegiatan di akatsuki main origami dan nemenin yayang Pein.”
“nama tobi anak baru di akatsuki hobinya makan lolipop, Tobi kan anak baik makanya hobi makan lolipop”
“nama deidara kegiatan di akatsuki yaitu kerajinan tanah liat. Ada yang mau beli?” kata deidara sambil menunjukan hasil karyanya dengan cepat.
“wah seniman, saya mau beli 1” kata naruto
“bagus untuk pembeli pertama gratis” kata deidara
“ arigatou tuan deidara, menurut informasi yang saya dapat anda mempunyai ungkapan favorit boleh kami yang ada disini tau?” tanya naruto sambil memperhatikan karya deidara dekat wajahnya.
“eee… beneran mau tau?” kata deidara ragu. “bener” bales naruto yang masih memperhatikan detil demi detail.
Memdengar jawaban dari naruto semua anggota akatsuki berpindah tempat ke belakang tubuh deidara.
“Ya sudah kalau memang mau tau, favorit saya yaitu ‘seni adalah KATSU’(ledakan)”
DUUUAAAARRRR!!
Burung tanah liat yang dipengang naruto meledak di wajah naruto. Naruto diam meratapi nasibnya dan wajahnya yang gosong . “ok lanjukan yang terakhir” kata naruto lemas dan akhirnya pingsan lalu digantikan oleh Shikamaru.
“ nama Itachi Uchiha keahlian dalam teknik api dan ilusi”
“wah klan uchiah, klan elit di desa konoha. Akatsuki harus berbangga dengan hal ini” kata shikamaru.
“apa yang harus di banggakan, setiap hari kerjanya cuman maskeran untuk ngatasin keriputnya, lalu tehnik api amaterasu sering digunain untuk masak oleh anggota soalnya apinya gak padam padam.”kata Pein. Itachi menjadi murung karena semua aib nya dibongkar.
“oke oke perkenalan sudah uasai… oh ini dia pengumpulan suara dari pecinta anime/manga naruto melalui via sms suadah selesai, baik saya akan bacakan siapa yang akan mendapat award naruto untuk kategori tokoh terpopuler  di akatsuki yaitu…….. oh naruto kau sudah sadar” ‘Gubrak’
“woi cepet siapa yang menang” teriak pein.
“Baik narito kau siap mengatakan pemenangnya? “   “ya”    “baiklah pemenangnya adalah SASORI” kata shikamaru dan narutoo bersamaan.
Sasori hanya tesenyum penuh kemenangan, sedangkan Pein mendadi muram dan terpukul karena ia kalah populer dengan bawahannya yang pecinta boneja barbie itu.
Baik tuan sasori isilakan sampaikan pesan pesan atas kemenangan anda” kata naruto yang sudah mulai semangat lagi.
“ terimakasih atas waktu yang di berikan kepada saya dan terimakasih bayak kepada semua pecinta anime/manga naruto yang telah memilih saya serta pada hari ini saya ingin mengatakan sesuatu kepada seseorang” kata sasori yang turun dari panggung untuk menjemput tepatnya menarik hinat keatas panggung.
“Hey hinata chan ada perlu apa kau naik ke atas panggung”  tanya naruto yang tidak memperhatikan dari tadi. Belum sempat hinata membalas pertanyaan naruto sasori langsung memegang tangannya dan berlutut di hadapat hinata.
“Hyuga hinata pertama kaliaku melihat mu dadaku terasa berdebar kencang, wajah ku memanas malu setiap melihat mata indah bagai rembulan”kata sasori
“Apa maksudmu?” tanya hinata.
Anggota akatsuki mengisi kekosongan waktuk mereka karena menunggu sasori berpidato dengan  memperhatikan stap scurity yang ternyata di isi oleh kyubi dengan kalung nama KURAMA, dan bertuliskan nama pemiliknya naruto di bawa nama kurama tadi. Melihat hal itu akatsuki menjadi lebih berhati hati untuk bersikap terutama deidara yang sudah sangat ketakutan karena meledakan majikan kyubi itu.
“maksudku begini hmm mungkin ini terlau cepat tapi aku suka pada mu hinata sejak pertama kita bertemu apa kau mau jadi pacar ku?” kata sasori
“…..” hinata hanya diam dan menoleh kearah naruto
Naruto yang awalnya bingung mendadak menjadi marah, darahnya naik dan mendidih setelah mendengarkan perkataan sasori ang merayu istrinya, Hinata.
Anggota akatsuki yang lain meraksakan perubahan sikap naruto yang mendadak mara penuh ambisi membunuh, menjadi ngeri dan takut apalagi naruto merupakan majikan dari kyubi. Pein memberikan kode kepada semua anggotanya termasuk sasori untuk kabur dari lapangan konoha ini, tetapi kode itu malah tidak dihiraukan oleh sasori yang masih berlutut di depan hinata. Akhirnya anggota akatsuki kabur tanpa sasori.secepat kilat.
“wah sepertinya akan ada pertunjukan seru” gumam shikamaru dan memberikan kode kepada penonton yang ada untuk berada dibelakang naruto.
“SASORI!!!”
Sasori yang masih berlutut tersentak dengan suara menggelegar dari arah naruto.
“beraninya kau merayu istriku Hinata…..” “AKAN KU BUNUH KAU!!!” kata naruto menghapiri stap scurity dedekatnya dan membuka kunci kalung kurama yang diikatnya.
“KURAMA BIJUU DAAMAA!!!” kata narutoyang berlari kearah hinata untuk menjaukan dari sasran biju daama kurama yaitu sasori ke tempat yang aman.
Kurama meluncurkan bijuu daama kearah sasori setelah mendapat kode dari sang majikan. Dan
WUUUUSSSSHH, sasori hanya bisa bengong melihat bulatan besar hitam meluncur kearahnya dan melemparnya kelangit dengan keadaan tubuh dan wajah serta piala awardnya gosong.
TINK
The end

Minggu, 26 Januari 2014

Kisame Batal

sumber: fanfiction.net
cerita ini tidak ada kaitannya dengan cerita yang alsi,atau hanya buat hiburan aja .
Selamat membaca:


Kisame , Batal

Pagi itu, tepatnya sih subuh.
Kira-kira jam empat pagi gitu
deh, sesosok makhluk biru tinggi
besar alias gede ato raksasa
(sebelas duabelas ame Hulk)
terlihat sedang sibuk mengisi perut di ruang makan yang gelap
(kaga bayar listrik!) sambil duduk
bersila di atas sebuah meja kayu
bundar. Setelah ngerasa
kenyang, makhluk itu pun
meninggal dunia (?), maksud ane ninggalin ruang makan dan
kembali ke kamarnya untuk tidur (lagi).

Dari balik sebuah kulkas
muncullah sebentuk makhluk
bertopeng obat nyamuk sedang
merinding disko. Dia pun berlari
keluar dari ruang makan dan
mendobrak sebuah pintu besi bertuliskan "Art is Beng-beng (?)
!". "Seeennnpaaiiii! Ada tuyul!"

"Berisik, un!"

DUAR!

###

"Leader-sama, un. Kamar eke direnopasi dong, un!"

Pein-si Leader-yang sedang
menyesap air kobokan (?),
mengintip dari balik koran bekas
setahun lalu yang tadi dibacanya.
"Lapor ame Kakuzu aja, Dei. Ntuh
orangnya lagi SKJ di depan ame Hidan." Belum sedetik dia
mengatakan itu, Kakuzu udah
berlari masuk kemudian berlari
keluar lagi sambil nentengin
sebuah koper dan brankas. "Nah,
orangnya baru aja lewat, Dei."

"Gara-gara Tobi nih, un! Sialan lu,
un!" gerutu Deidara.
Ditendangnya Tobi yang sedang
menyeruput sustagen senior (?)
di kolong meja.

"Tobi ngeliat tuyul semalem,
Senpai!" teriak Tobi di sela-sela
minumnya. Alhasil susunya
bermuncratan ke kaki Pein dkk.

"Tuyul?" seru Akatsuki kompak,
minus Deidara yang udah tahu,
Hidan yang lagi SKJ di luar,
Kakuzu yang entah raib kemana,
dan Kisame yang masih ngorok.

Ngorok?

Jiah! Udah jam delapan pagi masih aja ngorok. Kaga tau apa ntuh Itachi aja udah bangun dari
entah jam berapa buat ritual
ngumpulin air embun! (Ekh! Buat
apaan tuh? Ritual dukun?)

"Ritual awet muda ajaran
engkong gua, Bahlul!"

"Ita-kun ngomong ama sapa,
sih?" tanya Konan.

Pein langsung keselek air
kobokan kemudian mewek dan
berguling-guling di lantai-yang
kemudian diikuti Tobi. Gua aja
kaga pernah dipanggil semesra
itu ame Yayang Konan! protesnya dalam hati. Itachi dan
Konan yang gerah dengan
tingkahnya kemudian mutusin
buat mojok di waduk sebelah (?).

"Si Ikan Buruk Rupa ntuh kalo
tidur kayak babi, bangunin gih!"
bentak Sasori pada Deidara.
Deidara yang dibentak cuman
manyun-manyunin bibir (sok
imut) dan melenggang pergi.

Zetsu yang sedari tadi sibuk
ngejar laler buat sarapan (?)
pun ikutan pergi dari situ.
Tinggallah Sasori duduk sendirian
sambil ngeliatin duo guling-guling
dadakan tapi kompak. Sama- sama oranye!

Tik. Tok. Tik. Tok.

Ga berasa udah dua jam berlalu.
Hidan udah ikutan nongkrong di
ruang makan, duduk sebelahan
sama Sasori yang lagi mainin
Barbie Fairytopia. Pein dan Tobi
masih aja sibuk guling-guling. Sekarang malah udah
gelundungan ampe ke wc.

"Jiah! Kutu kupret lu bangun jam
segini!" maki Hidan saat Kisame
memasuki ruang makan. "Bau
jigong lu!"

Kisame duduk di sebelah Hidan.
"Tadi abis sahur lupa gosok gigi,
coy!" sahutnya watados. "Ih! Kaga
puasa lu, dan?" serunya (sok)
jijik ngeliatin isi sarapan Hidan.
Ada beras sama bunga kembang tujuh rupa. Udah kayak sesajen
aja tuh.

"Bau tengik! Ngapain lu puasa,
hah? Mau tobat? Sekalian aja
keluar dari Akatsuki!" bentak
Hidan emosi. Acara makannya
terganggu oleh bau tak sedap
dari mulut Kisame, selera makannya jadi hilang.

"Pan puasa lagi ngetrend nih
sebulanan ini. Itachi bilang kalo
kita hidup sambil ngikutin trend,
artinya kita itu pesyenista, coy!"
jelas Kisame. Sasori mandangin
dia dengan tatapan 'lu-emang- nista-coy!'.

"Yoweslah! Ari ini jadwal lu
belanja, pan? Minggat sono ke
pasar! Kalo perlu ga usah balik
lagi ke sini, Setan!" perintah
Hidan bak ibu-ibu berotot
preman pasar.

Jadilah Kisame pergi dari rumah
indahnya yang adalah kamuflase
dari sebuah gua menuju pasar di
negara sebelah (jauh amat dah)
dengan menunggang Samehada
(lu kate ntuh kuda?) sambil berdoa semoga imannya kuat
ngejalanin puasa.

###

Astajim! Ini pasar ato kebun
binatang? tanya Kisame dalam
hati. Baru aja beberapa langkah
memasuki gerbang pasar, dirinya
udah disuguhi pemandangan ala
Discovery Channel gitu, dimana binatang-binatang pada
berebutan mangsa. Bedanya
yang dia lihat adalah ibu-ibu lagi
berebutan bahan makanan
dengan beringas gara-gara lagi
ada sale 70% (ini pasar ape mall?).

Kisame baru aja ngelewatin
konter bagian daging saat dia
ngeliat dua ibu-ibu saling jambak-
jambakan. Makjang, itu pan
enyaknye Naruto sama Itachi!
Pelan-pelan dia berjalan mepet dinding, bahasa kerennya
merayap. Udah berasa kayak
cicak aja tuh makhluk.

"KISAME?" panggil tuh dua ibu-ibu
begitu ngenalin sosok nista
Kisame.

Padahal Kisame udah menyamar
pake kostum Spidergirl (?) yang
roknya renda-renda gitu, masih
aja ketauan. Dia berbalik sambil
nyengir, tapi ga keliatan karena
memakai topeng. "Sapa yah?" tanyanya (sok) innocent dan 50
cent.

"Loh? Kirain Kisame," ujar ibu-ibu
berambut hitam panjang berponi
belah tengah ntuh sambil tetap
berantem. Sekarang
berantemnya pake cakar-
cakaran.

"Nama ane bukan Kisame, Bu.
Nama ane Bret Pit," Kisame
ngeles. Setelah itu dia langsung
kabur, takut ketauan. Bisa
gawat kalo ketauan nipu istri
Hokage ke-4 sama istri ketua Kepolisian Militer Konoha. Bisa-
bisa dia digoreng, dibakar,
dilalap, dan lain-lain.

Digoreng saus tiram enak tuh
kayaknya. Nyammy!

###

"Nek, Ayamnya sebiji berapa?"

Nenek-nenek gahoel yang lagi
megang parang itu melototi
Kisame. "Lu kate ini tai?" Dia
nodong-nodongin tuh parang
tepat di depan idung Kisame
yang udah mblesek ke dalem (?) demi menyelamatkan diri. "Panggil
akyu Onee-chan dong ah~"

Bulu roma beserta colosseumnya
(?) langsung meremang. Kisame
mau tak mau kalau dimadu (?)
terpaksa menuruti permintaan
nenek gahoel yang memakai
gaun berbelahan dada rendah berwarna ngejreng itu, daripada
dia digoreng Konan. "O-nee-
Onee-chan, a-ayam-nya se-
seekor be-berapa?"

"Buat kamyu cumah 50.000 Ryo
aja, ganteng."

Akhirnya setelah berpuluh-puluh
tahun hidup menduda(?), ada
juga yang muji seekor(?)
Hoshigaki Kisame ganteng. Kalo
kata Syahrini, sih, Alhamdulillah,
yah. "MAHAL AMAT! DI PASAR SEBELAH AJA BARU 26.000 RYO!"
Oh, ternyata abang kita satu ini
ga kemakan rayuan si nenek
tadi.

BRAK!

Kisame menatap ngeri ujung
parang yang tertancap ga jauh
dari tempatnya berdiri. Keringat
sebesar biji duren nangkring di
jidatnya. Tau-tau aja dia udah
ngejengkang ke belakang gara- gara si nenek melompat
menerjangnya.

Kali ini doa Kisame bertambah.
Semoga gua masih perawan,
doanya. Sedangkan nenek tadi
udah grepe-grepein dia pake
parang (?).

###

Tersiksa!

Kisame bener-bener tersiksa
lahir batin! Udah digerayangin
nenek-nenek cabul, ngeliatin
temen sebangsa setanah airnya
dibacok (ikan, loh), ditambah pas
pulang diceramahin Konan, plus kuah-kuahnya. Lengkap!

"Yang sabar yah, Senpai. Anak
baik disayang Jashin-chan,kayak Tobi!"

Kisame misuh-misuh ngeliatin Tobi
yang lagi ngemut es krim jeruk.
Cobaan berat nih, mana pas
tengah hari lagi panas-panasnya.
Sabar, Kis, sabar, ujarnya dalam
hati. (Ini perasaan ane aja ato Kisame berasa manggil Masashi
Kishimoto? O.o?)

"Bi. Jangan maem es krim depan
gua dong, lagi puasa nih!" protes
Kisame. Gerah juga dia ngeliatin
tingkah Tobi yang ngejilatin tuh
es krim ampe muter-muter 360
derajat.

"Ih! Tobi kan makannya di
samping Senpai, bukan di depan!
Lagian Tobi ga puasa kok!"
Walhasil Samehada diayunkan
Kisame, dan Tobi pun melayang
ke langit dan menghilang. Ting!

Kisame memutuskan untuk jalan-jalan ke Konoha aja. Kali-kali aja
di sana ga menyengsarakan dia.

###

Salah besar! Keputusan Kisame
buat menghindari hal-hal yang
membuatnya sengsara ternyata
malah menjadi bumerang baginya.
Astaga, ini cobaan paling berat
selama hidupnya, lebih berat daripada saat berat badannya
naik 2 kilogram sebulan lalu.

Masa ya, tadi dia ketemu sama
Naruto sama Chouji lagi makan
ramen. Trus ketemu Shikamaru
sama Chouji lagi makan yakiniku.
Trus ketemu Kiba sama Chouji
lagi makan dango. Trus ketemu Sasuke sama Chouji lagi makan
ayam bakar.

Setelah menganalisa semua tadi,
Kisame menarik tali kolor, eh,
kesimpulan. Bahwa di mana ada
makanan, di situ ada Chouji.

Krik... krik...

###

"I-Ino-c-chan, a-aku ga b-bisa
na-napas. Hah."

Kisame najemin telinga pake
pisau (?), kemudian meringsek
nempel di dinding. Daritadi dia
penasaran suara desahan siapa
yang menggugah jiwanya (ehem!).
Pelan dia melongok ke balik dinding.

Astaga! Demi Jashin pake kutang!
Kisame ngeliatin Ino sama Hinata
lagi yuri-an. Ckckck, lagi bulan
puasa malah bikin dosa! Ane
laporin sama Neji juga Sai nih!
batinnya. Secepat kilat dia pun terbang (?) menembus cakrawala
dan menuju kediaman Hyuuga
terlebih dahulu.

Sesampainya di sana, dia ga
nemuin siapa-siapa. Bahkan
pengawal yang biasanya berjaga
di depan gerbang pun ga ada
(udah kayak istana Presiden aja
pake pengawal segala). Jadi, Kisame memutuskan buat masuk
aja dan mencari Neji. Biarin dia
dikira maling, toh misinya
sekarang adalah misi suci!
BRAAKK!

Kisame mendobrak pintu kamar
Neji (macam tau aja kamar Neji
yang mana). "Neji! Ada yang mau
gua bi-"

Kata-kata Kisame ga sempat
selesai karena di depannya
terpampang adegan 21 tahun ke
atas. Pelakunya adalah Neji dan...
Sai?

"MAMIII!" Kisame berlari keluar
sambil teriak-teriak histeris.

"Apaan sih tuh makhluk? Pintu
kamar gua ampe jebol gitu,"
protes Neji.

"Neji-kun, lanjutin ga nih?
Nanggung ih," seru Sai manja
sambil gelayutan kayak orang
utan di dada uhuk-bidang-uhuk
Neji. Neji tersenyum mesra (baca:
penuh napsu) kemudian menenggelamkan diri mereka
berdua di balik selimut.

###

"BATAL HUAAA! PUASA GUA BATAL

" Kisame ngejogrog di atas
jembatan dekat pemandian air
panas. Kadang dia ngerendam
kepalanya dia ke dalem sungai di
bawah jembatan (?) sambil
menangis gaje. Tangisannya yang cempreng terdengar membahana
sepanjang Konoha, membuat
resah warga desa aja. Mana
bukan desa asal dia lagi,
ngerepotin!

"Hoshigaki-san kenapa?"

Dengan kepala basah Kisame
berbalik menghadap arah suara
berasal. Seorang kunoichi
bercepol dua menatapnya
dengan wajah khawatir. "Ung..."

"Waduh! Kenapa atuh, ampe
amburadul gitu mukanya!"

Komentar tadi sukses membuat
Kisame nangis histeris dan
berguling-guling ampe nyebur ke
sungai.

"Oalah, cuma gara-gara itu. Ga
batal kok. Lagian yang ngelakuin
itu kan orang lain, bukannya
Hoshigaki-san, 'kan?" Kunoichi
yang dikenal dengan nama
Tenten tadi mengusap wajah bersisik milik Kisame dengan
saputangan putih miliknya (ane
jamin tuh saputangan bakalan
koyak!).

Kisame terharu, baru sekali ini
ada perempuan yang berlaku
baik padanya. Mungkinkah ini
berkah dari puasanya? Kalo
memang begitu, dia bertekad
akan sembah sujud sambil gegulingan pulang nanti (lebay
amat lu, Kis). "Uh, Arigatou ne,
Dendeng-chan."

PLAK!!

Seketika itu juga pipi halus
kasarnya (?) digampar dengan
golok naga milik Tenten. Kasian,
kasian, kasian.

###

"Yo! What's up, Bray!"

Kisame beneran mau nyungsep
ke sungai saat itu juga. Hati lagi
galau, eh, malah dikagetin. Plus
dipanggil begitu bikin dia keki aja.
Emangnya dia cowok apaan, bok
(Pan dipanggil Bray, bukan Blay, Kisa-kun)!

Pas dia berbalik, sebentuk cowok
yang giginya sebelas dua belas
dengannya nyengir gaje sambil
nentengin pedang raksasa. "A-
ano. Saha teuh?" tanya Kisame
sambil pasang muka bloon.

"Ih, Kisame-senpai tega deh,
lupain eke. Ini Suigetsu, Senpai~"
balas si cowok dengan bahasa
penghuni perempatan tiap
tengah malam ke atas. Ga lupa
kedipan mata centil, mbikin yang ngeliat dijamin langsung hamil
dadakan (?).

"Ung... Suigetsu nyang mana,
yah?" tanya Kisame lagi, kali ini
dengan nada manja, ga mau
kalah.

Suigetsu langsung menabok muka
Kisame. "Sui mantannya Momo.
Malah planga-plongo."

"Momo pokalis Geisha? Astaga!
Ane pens berat itu band!
Sungguh aku tak bisa~ Sampai
kapan pun ta-" Lagi-lagi Kisame
ditabok, sekarang pake sendal.

"Momochi Zabuza! Dah ah! Senpai
mau ikut berenang, kaga? Teman
ane, Juugo ame Karin udah
nungguin di Lembah Akhir," ajak
Suigetsu.

Berenang? Gapapa kali, yak,
itung-itung sambil nungguin
adzan magrib, pikir Kisame dalam
hati. "Nyoklah. Er, tapi apa bener
elu mantannya si Zabuza?"

Suigetsu cuman ngangguk-
ngangguk, lagi-lagi dengan
sebuah kedipan maut. Kisame
hampir aja ngejengkang saking
shock-nya, dalam hati dia sempat deg-degan gitu deh (ciyeee!).

Cinta satu sorekah(?) ini? Hanya
Jashin-sama yang tau.

###

"MAKAN! MAKAN! MAKAN!"

Konan menggebrak meja, geram
dengan tingkah para anggota
Akatsuki itu. Dirinya serasa
kayak ibu-ibu pemilik panti
asuhan, dengan anak-anak yatim
segudang (ga kepikiran jadi germo, Nan? Lumayan tuh, anak-
anak elu sewain ke tante-tante
di Kirigakure!). "Berisik kalian!
Makanin aja tuh taik kebo di
depan!"

"Konan chayank~ Jangan marah-
marah, ntar keriputan kayak
engkong Hitachi~" Pein sukses
ngejengkang gegara ditendangin
bokongnya oleh Itachi.

Semua anggota Akatsuki-minus
Kisame-pada ngumpul di meja
makan. Jam udah nunjukin jam
tujuh malem, tapi Kisame ga
pulang-pulang (perasaan Kisame
bukan bang Toyib, deh).

"Duh, laper! Mana si Kampret
Kisame ntuh, hah! Katanya
puasa, tapi udah lewat magrib
kaga pulang juga!" maki Hidan.
Perutnya udah mulai orkestra
keroncong.

"Diculik Wewe Gombel kali, un,"
tebak Dei.

Zetsu dan Tobi ngakak
ampe rolling-rolling di lantai.

"Wewe Gombel juga pilih-pilih kalo mau nyulik, kali! Contohnya yang imut-imut kayak gua!" tukas Sasori, kepedean.

Pein, Konan, Dei, Itachi, Hidan, dan Kakuzu pada natapin tuh cowok bantet dengan tatapan 'lu-temennya-wewe-gombel?'.

Kesembilan makhluk tadi mulai ga
tenang setelah beberapa menit.
Ada yang ngeluh kelaperan, ada
yang ngeluh mau nonton pelem
Barbie, ada juga yang ngeluh
mau berak, udah cepirit! Pas giliran Tobi mau protes, suara
gebrakan dari arah pintu depan
ngebuat penghuni ruang makan
ntuh pada jantungan. Ditambah
lagi suara tangisan nge-bass tapi
cempreng (?) yang membahana ngebuat suasana mendadak
horor.

"HUUEEE!"

Suara tangis itu terdengar
semakin keras dan dekat.
Kedelapan makhluk bergender
campuran antara cowok,
taneman, dan zombie, pada
ngumpet di ketek Konan (?). Konan langsung menggelinjang
saat sehelai bulu ketek yang
sengaja dia tumbuhin ampe tiga
meter (?) dicabut.

Lagi asik-asiknya ber-horor-
horor ria di ruang makan, tau-
tau aja Kisame nongol. Lengkap
dengan es cendol pribadi, alias
ingus. "PUASA GUA BATAL! HUAA!"

"Gua pikir setan, taunya Kisame.
Sontoloyo," ucap Itachi kesal.
Padahal lagi asik-asiknya
nyesapin aroma ketek Konan (?).

Akatsuki-minus Pein, Konan,
Sasori, Deidara, Zetsu, Itachi,
Hidan, dan Kakuzu-langsung
ngerubungin Kisame (jiah! Ntuh
mah cuman Tobi seorang!).
"Senpai kenapa? Ngintipin cewek mandi yah, makanya batal?"
Bukannya tambah tenang,
Kisame malah makin histeris dan
gegulingan di lantai.

"Kenapa sih? Udah jam berapa
ini, masih juga ngomongin puasa!
Kalo udah buka yah emang udah
batal dong!" bentak Pein murka.

"Hiks. Bukan! Sebelum adzan,
puasa gua udah batal! Huuaaa!"
Sekarang Kisame udah berenang
gaya punggung di lantai (?).

"Kok bisa?" tanya Itachi,
penasaran.

Kisame mulai duduk bersila di
lantai. Tobi dan Zetsu ikutan
duduk di sebelahnya. "Tadi gua
berenang sama geng Taka."

"Sama Otouto gua?"

Kisame menggeleng pelan.
"Sasuke ga ikut. Gua batalnya
gara-gara berenang. Hiks."

"Kok bisa?" tanya Itachi,
mengulang pertanyaan.

Kisame menyedot ingusnya. "Gua.. Nelen air sungainya."

Krik... krik...

"GOBLOG!" maki Akatsuki-minus
Kisame dan Tobi-kompak. Jadilah
Kisame kembali mewek guling-
guling di lantai.

"Huh! Paok, un! Betewe, besok
sahur apa yak, Nan, un?"

Kisame mendadak berhenti
nangis, dan melototin Deidara.
Deidara yang dipelototin jadi
salah tingkah gitu, ga banget!
"Katanya pada ga puasa... kok
nanyain sahur?"

"Puasa, nyong. Pan besok ari
pertama puasa," jawab Sasori.

Loading 0%
Loading 25%
Loading 53%
Loading 78%
Loading 100%

"UAPAH!" jerit Kisame plus kuah-
kuahnya tepat di muka Tobi. Tobi langsung tepar. Setelah itu dia
pun ikutan tepar, tindih-tindihan
sama badannya Tobi.

"Lebay banget deh tuh kucrut.
Tapi besok kita sahur ikan hiu
goreng, pren!" seru Pein girang
sambil kayang di atas meja.
Akatsuki lainnya-minus dua insan
yang tepar-ikutan joget ga jelas. Itachi bahkan hampir
striptease (?).