Author: Artemisaish PM
Apa jadinya jika Akatsuki pergi berbelanja? kekacauan apakah yang terjadi? apa tanggapan Kakuzu soal berbelanja? Mind To RnR?
Follow/FavoriteRated: Fiction T - Indonesian - Humor - Akatsuki -
Words: 2,178 - Reviews: 10 - Favs: 2 - Follows: 1 - Published: 08-23-10 -
Status: Complete - id: 6266337
A+ A-
A/N
Humh…ini fic kedua Ai about Akatsuki, kali ini tentang
pelitnya sang rentenir akatsuki 'Kakuzu!'.Fic ini terinsipirasi dari
gambar para akatsuki yang berbelanja tapi Kakuzu malah berkelahi dengan
kasir. Oh, iya sebelum itu Ai mo ngucapin selamat menjalankan Ibadah
Puasa buat yang menjalaninya sekarang! Kalau Ai ada salah tolong
dimaafkan! Marhaban ya Ramadhan!
Shopping
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Humor
Warning : Aneh/Gila/Typo dengan bahasa jauh banget dari EYD/OC/nista
Pairing : Akatsuki
Suatu pagi yang amat cerah, saking cerahnya sampai-sampai sebuah venus
flytrap gak membuka-buka dari tadi di sebuah halaman gua. Entah venus
flytrap itu mati atau lagi tidur. Seorang perempuan berambut biru masuk
tergesa-gesa ke dalam gua itu membawa setumpuk kertas.
"Darimana saja my honey lovely…" kata Pein dengan suara selembut madu dicampur jeruk dan kecap ditambah cuka (emang ada?)
"Origami jelek!" sambung seseorang.
"Yah, origami jelek!" ulang Pein tidak sadar, membuat yang bersangkutan mengeluarkan aura iblis.
"Apa maksudmu, hah?" bentak Konan.
"Eh, bukan sayang, kamu kan yang tercantik di dunia *muntah!*" kata
Pein merayu Konan lalu menoleh ke sekumpulan kerbau eh, anggotanya dan
mengaktifkan rinnegannya "Siapa tadi yang bicara, ayo! Ngaku kalian!"
bentaknya. Lalu, dengan gaya yang cuek abis Deidara mengangkat
tangannya.
"Kalau gue un, emangnya loe mau apa un?" katanya sambil mengaktifkan bom C4 di tangannya membuat semuanya mundur perlahan.
"Dei-chan, tenanglah! Nanti kalau itu meledak kita mau tidur dimana?"
kata Kisame membujuk Deidara, yang lain mengangguk-angguk setuju.
"Memangnya un siapa yang mau meledakkan tempat ini un?" tanya Deidara.
"Lha, terus bom ditangan kamu mau diapain?" tanya Sasori.
"Oh, ini un! Tadi, gue mau lemparin ini ke Leader, un. Memangnya kenapa, un?"
"Buegoooo! Itu sama aja! Kalo loe lemparin ini ke Leader bukannya tempat ini langsung hancur!" teriak Itachi.
"Oh, iya ya un!" kata Deidara dengan muka innocent. Itachi yang masih
kesal mengalihkan perhatiannya, dia melihat selebaran yang dibawa oleh
Konan tadi. Tiba-tiba
"Kyaaaa!" teriaknya kencang membuat para
anggota akatsuki lain kaget dan berlompatan menuju Itachi yang masih
tereak-tereak tidak jelas.
"Ada apa sih Tachi? Kok kamu teriak?" tanya Kisame.
"Iya, ada apa? Kamu mengganggu acaraku dengan Dewa Jashin-sama yang
terhormat." kata Hidan marah. Kakuzu yang gusar karena diganggu lagi
ngitung duit merebut selebaran ditangan Itachi dan membacanya.
Diskon gede-gede-an
Sampai 99,99%
Segera! Dapatkan Krim APD (Anti Penuaan Dini). Khusus HARI INI!
Limited Edition!
"Apa-apaan ini?" teriak Kakuzu sambil melempar selebaran itu dimuka Itachi yang masih teriak.
"Tau nggak! Ini limited Edition! Gue harus kesana, sebelum habis!" kata
Itachi masih histeris sendiri. Sasori mengambil selebaran yang lain
dan…
"Kyaaa! Ada penjualan perdana boneka Barbie New Edition.
Gue harus kesana!" teriaknya. Zetsu dan Kisame yang penasaran turut
mengambil selebaran itu.
"Wah! Ada pameran bunga langka! Gue harus kesana!"
"Ada pertunjukan perdana saudara gue 'Lumba-lumba pintar!'"
"Lo! Bukannya saudara loe itu hiu, Kis?" tanya Itachi.
"Sama aja, yang penting sama-sama ikan" jawab Kisame yang lain sweatdrop
"Eh, ada penceramahan hari ini, gue juga ikut dong!" kata Hidan sambil melihat selebaran yang lain.
"Gue juga ikut, hari ini ada penjualan Icha-Icha seri terbaru" kata Pein dengan seringai aneh.
"Gue ikut juga deh ada diskon gede di penjualan baju nih" kata Konan.
"kamu mau ikut nggak Kus?" tanya Pein, Kakuzu langsung keringat dingin mendengar pertanyaan itu dan teringat sesuatu.
"Eh, sa…ya ti…dak us..sah iku..t deh!" kata Kakuzu dengan suara terbata-bata membuat yang lain jadi heran.
"Loe baik-baik aja kan, Kuz?" tanya Hidan khawatir.
"Iya, gu..e gak apa-apa kok" kata Kakuzu. Deidara menyikut Itachi.
"Emang loe punya duit, un?" tanyanya.
"Eh, gue nggak punya nih. Loe punya nggak Saso?"
"Wah, gue juga nggak punya. Kalau loe Pein?"
"Tampaknya kita semua nggak punya duit yah" kata Pein dan yang lain
mengangguk-angguk setuju "kalau begitu…" Kakuzu tiba-tiba merasakan
firasat yang tidak enak banget.
"Eh, gue sakit perut. Gue kebelakang dulu yah!" katanya bersiap-siap kabur tapi, langsung dihadang oleh Itachi dan Sasori.
"Mau kemana Kuz?"
"Iya, loe mau kemana? Kami mo minta duit dong!" kata Pein. Dan
benarlah! Firasat tidak enaknya dari tadi. Ternyata, saat ini mereka
semua lagi kere alias bokek.
"Tidak boleh! Kalau kalian tidak punya duit, tidak usah pergi belanja!" teriak Kakuzu sambil memeluk kopernya.
"Dikit aja Kuz, pelit amat seh!" kata Pein merayu Kakuzu.
"Nggak! Nggak akan pernah gue kasiin duit ke elo-elo semua." kata
Kakuzu sambil memeluk erat-erat kopernya dengan air muka berubah menjadi
parno a.k.a Paranoid dengan sekelilingnya.
"Pelit amat! Elo
itu kan keuangan disini! Jadi, gak usah pelit deh! Daripada, entar gue
gak akan pernah bayar utang. Hayo! Elo mau apa sekarang?" ancam Pein
yang membuat Kakuzu bergidik ngeri membayangkan Pein tidak akan membayar
hutangnya yang segunung itu dan rugilah dia, begitu pikirnya.
"Baik…lah! Aku akan memberi kalian U…ukh…uang!" kata Kakuzu susah payah
karena sangat-sangat tidak rela. "Tapi, setiap orang hanya seratus
rupiah! Ucap Kakuzu yang langsung mendapat sambutan jitakan dari seluruh
anggota termasuk ketua Akatsuki.
"Yee! Dasar tua Bangka pelit!
Itu mah sama aja, loe gak ngasih apa-apa! Tambahin!" tuntut Pein
sedangkan yang lain mengangguk-angguk setuju. Kakuzu mengelus-elus
benjolan dikepalanya, dan tampak berpikir keras.
"Baiklah,
masing-masing sepuluh ribu rupiah! Titik! Gak lebih dan gak kurang!"
kata Kakuzu dengan muka berlumeran air mata "Huwa! Duit gue!" teriaknya.
"Yasud deh! Mendingan juga daripada seratus rupiah!" kata Itachi.
"Bener un? Ayo, kita berangkat sekarang ke mall, un! Nanti keburu tutup, un! "kata Deidara.
"Iya, bener juga kata loe! Ayo, kita berangkat" seru Pein semangat,
akhirnya seluruh anggota Akatsuki berangkat menuju mall untuk shopping
terlebih dahulu mereka semua berdandan.
"Hm…di mall kan banyak
cowok? Gue harus tampil cantik dan seksi!" kata Konan sambil berdandan
dengan dandanan yang Wuah! *Warning! tutuplah mata kalian jika
melihatnya!* akhirnya, setelah berdandan habis-habisan *maksudnya
Konan*, nambahin pierching di wajah *yang ini Pein*, ngitung duit sambil
nangis nggak rela *Kakuzu tuh!*, Komat-kamit di pojokan minta
keselamatan pada Dewa Jashin *Hidan ini!*, bermasker ria berusaha
nutupin keriput *Itachi pastinya!*, Berkiss good bye ama ikan *Kisame
nih!*, nyiapin permen berkantung-kantung *Tobi maksudnya*, Dandanin
boneka ama dandanin orang *Sasori ama Deidara pasti!*, Makan
banyak-banyak *Zetsu dong!*.
Akhirnya, organisasi nista ntu
berangkat ke mall, dengan jalan kaki karena Kakuzu tidak mau membiayai
ongkos kendaraan mereka. Alhasil, mereka pun jalan sejauh 5 kg *lebay*.
Setelah setengah mampus, setengah pingsan, setengah sadar mereka pun
sampai. Bahkan Deidara sampai menangis saking terharunya.
Mal
di kota Konoha sedang ramai-ramainya *maklum ada diskon besar!*.
terlihat para ibu-ibu yang sedang sibuk bertengkar memperebutkan baju
dengan diskon yang besar. Para anggota akatsuki juga memasuki mall yang
ramai. Mereka langsung berbaur dengan yang lain. Hidan langsung ke aula
karena disitu diadakan lomba pidato dan ceritanya ini Hidan mo
ngedaftar. Itachi langsung rebutan dengan para wanita atau lebih
tepatnya wanita keriput, dengan ganasnya dia mentsukuyomi yang
menghalanginya. Si mesum eh, maksudnya Pein tentu saja di tempat
penjualan perdana buku Icha-Icha.
Sementara anggota yang lain
sibuk! Kakuzu malah sibuk menghadiri seminar bagaimana cara menghemat
uang dengan baik dan benar. Dia heran pada yang anggota yang lainnya,
menurutnya membuang waktu saja melakukan hal-hal tak berguna seperti itu
baginya seminar ini berguna bagi masa depan, nanti saja dia ceramah
kalau sampai di markas. *Gak akan ada yang dengar!*. Tobi karena saking
senengnya lari-lari keliling mall sambil teriak kalimat terkenalnya itu
'Tobi Anak baek', dasar anak autis! Konan rebutan dengan ibu-ibu dengan
pakaian yang diskon gede-gedean. Sasori main opera di toko boneka
membuat para pengunjung sweatdrop. Kisame berenang renang denga para
lumba-lumba, entahlah! Tapi sekarang saia tidak bisa membedakannya
antara dia dan lumba-lumba. Menurut kalian bagaimana? Zetsu lagi bicara
ama tumbuhan di pojok mall, membuat orang yang lewat terheran-heran.
Deidara masuk di salon rencananya seh mau ngeledakin tuh salon soalnya
banyak yang masuk kesana dan setelah keluar jadi cantik tapi nggak jadi
karena sekarang dia lagi asyik Pedicure and Manicure gitu. Dan mari kita
lihat akibat yang para akatsuki itu.
Hidan yang ngikut lomba ceramah dilempar para tamu karena ceramahnya adalah
"Para tamu undangan sekalian! Mari kita sama-sama menyembah Jashin-sama
yang agung!" kata Hidan sambil membunuh tikus yang entah dapat darimana
dengan sabitnya lalu darahnya itu dijilatnya membuat para tamu itu
menyimpulkan bahwa orang didepannya itu adalah orang gila! Alhasil dia
dilempar dan dibuang ke tempat sampah.
Itachi yang sukses
mengtsukuyomi para wanita keriput itu berhasil mendapatkan krim anti
penuaan dini itu tapi, setelah efek tsukuyomi para wanita keriput itu
hilang tak tanggung Itachi dikejar-kejar wanita keriput itu lari-lari
keliling mall dan Tobi yang mengira disaingi oleh Itachi menambah
kecepatan larinya sambil teriak lebih kencang. Kakuzu berdebat dengan
seseorang soal cara penghematan uang yang lebih efektif (baca:
berkelahi). Konan yang masih sibuk memborong pakaian diskon gede-gedean
itu akhirnya menghancurkan counter penjualan karena kesal di kalah sama
ibu-ibu. Sasori diusir karena akibat operanya itu boneka-boneka itu
rusak habis judul operanya adalah Jatuhnya bom dikota Hiroshima dan
Nagasaki. Zetsu yang dikira gila akhirnya di bawa ke RSJ oleh satpam.
Kisame yang lomba berenang dengan lumba-lumba jadi bahan pertunjukan
karena banyak yang menonton, mungkin dia dikira gila. Deidara yang habis
dari Pedicure dan Medicure akhirnya mengingat rencana awalnya untuk
meledakkan salon itu. Alhasil dia diburu kesatuan anti teroris karena C4
ditemukan di tasnya. Singkatnya, semua hancur berantakan gara-gara
Akatsuki.
Malam pun tiba, mereka bersiap-siap pulang. Pein yang
sedari tadi berada di counter penjualan Icha-icha dengan tidak rela
akhirnya menuju kasir untuk membayarnya. Teman-temannya sudah
menunggunya di kasir dan Kakuzu sudah siap membayarnya *tumben dia
baik!*. Sasori dengan bonekanya, Itachi dengan krim APD nya, Konan
dengan baju-bajunya dan Kisame dengan ikannya serta Tobi dengan
permennya.
"Silahkan ditaruh barang-barangnya" ujar sang kasir
ramah, tapi Kakuzu mendelik tidak suka. Setelah barang barang dibungkus
masing-masing dan diambil oleh pemiliknya masing-masing.
"Baiklah, totalnya adalah... sepuluh juta!" kata sang kasir ramah. Kakuzu melongo!
satu detik...
dua detik...
tiga detik... *A/N: sebaiknya tutup telinga kalian!*
"APA!" teriak Kakuzu dengan suara mencapai ultrasonik membuat aktivitas di Mall itu terhenti seketika "Apa nggak salah tuh?"
"Oh, ini sudah benar! Baju-baju itu seharga dua juta! Krim APD itu dua
juta! Permen itu seharga satu juta! Buku-buku itu seharga dua juta!
Boneka satu juta dan ikan itu dua juta!" jelas sang kasir sedangkan
Kakuzu sudah mengeluarkan hawa aneh! Membuat teman-temannya yang lain
merinding!
"Psst... kita cabut saja yuk!" bisik Pein pada yang lainnya.
"Iya, kayaknya si Kakuz lagi marah besar" kata Itachi.
Mereka pun beringsut mundur sepelan mungkin menjaga agar Kakuzu tidak melihatnya. Kakuzu membalik ke arah teman-temannya.
"Kalian! Kembalikan barang-barang itu!" serunya marah tapi terlambat!
Yang lainnya sudah mencapai gerbang mall dan langsung ambil langkah
seribu pulang ke markas. Kakuzu mau mengejr mereka tapi ditahan oleh
satpam mall *Kasihan kau Kakuzu!*
"Maaf, mas! Mas harus membayarnya dulu!"
"Mas! Mas! Sejak kapan gue menikah ama mbak loe" kata Kakuzu sewot
teramat sewot. "Hei, mbak kasir! Bagaimana bisa semuanya sepuluh juta?
Baju itu diskon! Krim APD itu juga diskon sampai 99,99%?" kata Kakuzu
protes keras.
"Masalahnya, kalian mengambil baju terlalu banyak! Lagipula harga asli krim itu adalah seratus juta maklum limited edition!"
"Pokoknya aku tidak mau bayar! Enak saja!" tolak Kakuzu tegas.
"Baiklah! Kalau begitu! Tangkap dia!" kata sang kasir pada satpam. Otomatis Kakuzu langsung pucat.
"Baiklah, Baka!"
"Aku bukan baka!" kata kasir itu marah.
"Baka itu adalah mbak kasir, ssa..ya a...kan..." kata Kakuzu
tersendat-sendat tampaknya sangat-sangat tersiksa "Mem...ba..yar...nya"
juga sangat-sangat tidak rela. Dia lalu membuka kopernya dan mengambil
uang sepuluh juta kemudian menyerahkan pada sang kasir.
"Hiks... uangku!" kata Kakuzu sambil berurai air mata "Jagalah dia
baik-baik, jangan lupa mandikan dan makan tiga kali sehari!" pesan
Kakuzu pada sang kasir yang langsung sweatdrop. Kakuzu pulang dengan
sangat lesu.
Sementara dimarkas,
Itachi sudah melumuri
mukanya dengan krim APD itu, Tobi makan permen banyak-banyak, Kisame
berenang-renang bersama ikan barunya, Sasori main opera, Konan sibuk
mengutat di cermin dengan baju barunya sedangkan Pein baca Icha-icha.
Yang lain seperti Hidan lagi mandi soalnya tadi dia di buang ketempat
sampah jadi bau! Deidara nggak jelas nasibnya soalnya tadi dia
ditangkap, terus Zetsu masih di RSJ.
BRAAKK!
Terdengar
suara pintu dibanting seseorang, semua orang dalam ruangan itu langsung
terlonjak. Lalu muncullah seorang laki-laki bercadar dengan hawa
membunuh.
"KALIAN!" teriaknya "Harus mati!" kata Kauzu kencang,
semuanya langsung teriak kecuali Itachi yang teriak pelan karena takut
merusak krim di wajahnya.
Dan berakhirlah hidup Akatsuki,
hm...kecuali Hidan yang selamat sekarang setengah mati berdoa
mengucapkan syukur pada Jashin-sama karena menyelamatkannya. Juga
Deidara yang dipenjara dan tentu saja Zetsu yang masih di RSJ.
~Owari~
Total Tayangan Halaman
Tampilkan postingan dengan label Favor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Favor. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 November 2013
Aka no Tsuki Akatsuki
Author: Uchiha Syerrent- chan
Tobi lagi pundung nih hari ini, tetapi, karena tak kesengajaan, Tobi
jadi happy, kira- kira, kenapa ya? RNR aja, okay? Gak bisa buat summary
Title: Aka no Tsuki AKATSUKI
Rate: K+
Attention: OOC, AU, humor garing n gosong, dll.
Disclaimer: Naruto dkk punya MasKishi alias Masahi Kishimoto, ceritanya
punya saya^^
Summary: Tobi lagi pundung nih hari ini, tetapi, karena tak kesengajaan,
Tobi jadi happy, kira- kira, kenapa ya?
.
And let's start!
.
Pada suatu hari, terdapat sebuah goa eh markas yang bernama Akatsuki.
Keadaan di dalam markas itu sangat hening, hingga...
"Sempai! Bangun! Udah pagi! Tobi anak baek laper!" teriak salah satu
mahluk bertopeng lolipop dengan volume 100 Hz(?)(*udah tau siapa kan?*)
"Berisik loe Tob!" maki seorang penganut Jashin yang tak ada duanya
bernama Hidan.
"Aduh~Tobi laper ya? Sini, biar mama masakin deh.." ucap seorang gadis
berambut raven bernama Konan. Berkat ucapannya tadi, sesosok mahluk
berpierchingan langsung bangun seketika.
"Apa? Konan sayank bilang mama ke Tobi?" teriak Pein, nama mahluk itu,
tak kalah histeris.
"Loe berisik bener sih, un! Gw ledakin loe, Pein ama Tobi! Un!" gerutu
seorang banci pirang(*dibom*) aka. Deidara, namun sayangnya gak didengerin.
"Udah! Gua mau masak dulu! Tobi sayang~ kamu tunggu disini ya?" perintah
Konan lalu ngacir ke dapur.
"Yeyy! Mama Konan emang baek! Oke, ma!" teriak Tobi dari dalam kamar
dengan wajah berseri- seri, namun sayangnya, gak ada yang melihat karena
ia memakai topeng.
"Hahaha! Sasuke pake bikini ke pantai! Hahaha! Kisame jadi ikan asin!
hahaha!" lindur seorang Uchiha muda yang bernama Itachi. Sontak, mahluk
biru sebelahnya langsung melotot.
"Apa? Gua jadi ikan asin! Kurang asem lu, Chi! Gua samehada baru tau
rasa!" maki seorang hiu jadi- jadian(?) bernama Kisame.
"Hahaha! Kisame jadi ikan bakar! Hahaha!" Itachi masih ngelindur gak
jelas sehingga kesabaran Kisame pun habis.
"Grrrr..." muka Kisame udah berubah jadi ungu gara- gara menahan marah.
"1..2...3...BRUAGGGHHH!"
Dengan kekuatan HiuMan(?), Kisame berhasil menendang Itachi sehingga
tembok kamar pun jebol. Sontak mahluk bercadar pun bangun seketika.
"Huaaaa! Temboknya jebol! Kan bayar nya mahal! Kisame! Bayar loe 100.000
$ ke gua! Huaaa!" teriak Kakuzu, mahluk bercadar itu, dengan lebaynya.
All(-Ita, Kakuzu, Konan) jawsproof 100 cm(?). Seorang manusia boneka
aka. Sasori segera bangun.
"Aduh! Berisik bener sih! Ada-" ucapannya terhenti ketika melihat tembok
kamar yang jebol. "-Apa?"
"Bodo ah! Siapa lu, Kuz? Gua gak mau bayar! Bye!" ucap Kisame dan
langsung ngibrit ke akuarium ikan aligator nya. Lalu Kisame menciumi
kaca akuarium itu hingga ikan itu langsung ngompol(?).
"Huaah! Ohayou semua!" ucap sosok Venus FlyTrap muncul tiba- tiba dari
dalam tanah. All(-Itachi n Konan) jantungan semua.
"Kurang asem lu Zet! Jantungan gua!" ucap Kakuzu sambil ngelus- ngelus dada.
"Eh Jashin pake kutang! Eh Pein nungging! Eh Deidara mati!" latah Hidan
dengan gaje nya. Yang bernama Pein dan Deidara, langsung menghajar Hidan
dengan full power. Akhirnya, Hidan dilempar dari jebolan tembok dan
tepar bersama Itachi.
"Ehehehe! Gomen, bro!" ucap Zetsu sambil nyengir.
Tak lama kemudian...
"WOI! MAKAN SINI!" teriak Konan dari arah meja makan. Dengan kecepatan
larinya Sena Eyeshild 21, Akatsuki (-Ita, Konan, Hidan) langsung ngibrit
ke meja makan.
"Yey! Mama Konan baek! Arigatou, ma!" teriak Tobi lansung ngambil 5
tusuk sate ayam ke piring. Konan geleng- geleng kepala.
"Eh, omong- omong si kakek muda ama si ubanan mana?" tanya Konan sambil
menyeruput jus apel miliknya(*ngiler*).
"Thaukh thu, laghi thephar," ucap Pein dengan mulut penuh dengan nasi
uduk(*readers: Lha? Ini Konoha ato Jakarta sih?*).
"Bhetuhl!" ujar Kisame yang lagi ngunyah balado ikan kembung.
"Kisame! Kakuzu!" panggil Konan.
"Aphhaaa?" tanya mereka berbarengan yang mulutnya masing- masing penuh
dengan semur jengkol.
"Jemput kekasih kalian kesini!"
"GUBRAAAKK!" "HOEKKK!"
Kisame tumbang dengan gubrakannya. Kakuzu muntah- muntah. All (-yang
tepar plus Kisame dan Kakuzu) sweartdrop.
"Udah! Cepat panggil sana! Nanti mereka ngambek lagi gara- gara
kehabisan makanan!" perintah Konan bak. ratu. Dengan terpaksa, Kakuzu
dan Kisame menghampiri masing- masing UKE- nya(*ditampol samehada*).
.
5 menit kemudian...
Tobi sendirian di meja makan. Yang lain (minus Tobi dan ke empat orang
tadi) entah menghilang kemana. Setan kali ya?#hajarrr!#
"Ah! Lama banget sih sempai- sempai itu! Entar keburu dingin! Huh!"
gerutu Tobi sambil memerhatikan ada 4 piring nasi, semur jengkol, dango,
darah ayam(?), ikan kembung balado.
"Glek!" Tobi menelan ludah melihat makanan milik sempainya yang begitu
enak. Tiba- tiba, muncul 2 sosok yang masing- masing berdiri disamping Tobi.
"Tobi...kamu makan aja..." bisik sosok berwarna merah dan memiliki tanduk.
"Jangan Tobi, kamu hangatkan saja...biar mereka tak sakit perut," ucap
sosok berwarna putih dengan sayap.
"Makan, Tobi!"
"Jangan! Hangatkan saja!"
"Makan!"
"Hangat!"
"Udaahhh! Tobi anak baek mau mutusin aja, yaitu..."
"Yaitu?" tanya sosok berwarna merah dengan cemas- cemas.
"..." sosok berwarna putih hanya diam.
"Yaitu..."
"Apa?"
"Tobi anak baek! Tobi harus hangati makanan sempai!" teriak Tobi dengan
semangat'45.
"Yihaa! Gw menang, Iblis! Bayar taruhan lu ke gw! Cepet!" maki sosok
putih sambil nadahin tangan ke arah sosok warna merah itu.
"Huwaaa! Duit gua! Entar gua pulang ke neraka gimana? Kan gua gak punya
duitt..." ratap Iblis dengan air mata dan ingus berkibar- berkibar kayak
bendera.
"Bodo amat! Mana?" tanya sosok putih tersebut dengan angkuh. Tobi hanya
sweatdrop berat lihat pertempuran Merah vs. Putih(?). Dengan tingkat
masa bodo yang sangaatt tinggi, Tobi membawa makanan keempat sempainya
dan membawanya ke dapur.
Sesampainya di dapur...
"Ah? Konan- sempai mana? Kok gak ada?" tanya Tobi pada dirinya sendiri
sambil nyariin Konan. "Ah gak ada Konan- sempai, Tobi hangatin aja
sendiri! Tobi kan anak bisa!"
Oven(*widih!*) dinyalakan Tobi dan langsung menghangatkan makanan sempainya.
"TOBIII!"
"Ada apa, sempai?" tanya Tobi sambil lari- lari keluar dari dapur.
"Mana makanan kita?" tanya Hidan, Kisame, Itachi, Kakuzu bersamaan.
"Oh, itu di-"
"Kamu makan ya?" potong Kisame.
"Nggak! Itu-"
"Ah bohong kamu! Kan disini cuma ada kamu doang!" potong Itachi.
"A-ano itu di O-"
"O apa? Otakmu?" potong Hidan.
"Huaaa! Sempai gak mau dengerin Tobi! Huwaaa!" dengan air mata
berceceran kemana- mana, Tobi berlari meninggalkan keempat sempai
pemotong(?) tadi. Ia terus lari hingga...
"Jeduk!"
"Ouch! Sakitt!" ringis Tobi sambil mengangin kepalanya akibat terbentur
sesuatu. Ia mendongak dan alangkah kagetnya ia menemukan sempai-
sempainya sedang mengelilinya dengan tatapan Aduh! -Kamu-kiyut-banget!-.
"Lha? Sempai kenapa disini?" tanya Tobi.
"Itu...kawaii bener!..." ucap Konan sambil nunjuk- nunjuk belakang Tobi.
"OMG! Jadiin anggota kita, yuk!" ucap Pein dengan mata blink- blink.
"Nama kamu siapa?"
"Bito..." ucap mahluk bertopeng itu.
Dengan slow motion, Tobi nengok ke belakang dan...
Demi keriput Itachi, Tobi melihat 'duplikat' dirinya sendiri di
belakangnya, sama- sama topeng lolipop, namun ia memiliki rambut yang
dikuncir ke belakang.
"Tenggg!"
Entah dari mana, bunyilah bel tanda Tobi tahu sekarang. Dengan kecepatan
Orochimaru pengen boker, Tobi langsung ngibrit ke tempat
sempai(gila)nya: Itachi, Kakuzu, Kisame, Hidan.
"Sempai! Lihat disana! Ada Itachi baru!" teriak Tobi pake toa.
"JELGERRR!"
Entah petir dari mana, Itachi tiba- tiba melongo sampai uler dengan
bebas nya keluar masuk.
"Nani!? Ada Itachi baru!" teriak Kakuzu, Kisame, Hidan tak kalah heboh
dan langsung lari begitu aja, meninggalkan Itachi yang masih cengo.
Tiba- tiba, ide jail pun numpang ke otak Tobi. Ia mengambil salah satu
tanah liat milik Deidara, dan ia lemparkan tepat di mulut Itachi yang
masih melongo.
"KATSU!" ucap Tobi ala. Deidara.
"DUAARRR!" dengan hebatnya, tanah liat Deidara meledak dengan kecepatan
penuh(?) di mulut Itachi.
"Hahahaha! Mampus loe!" dan Tobi langsung ngacir, meninggalkan Itachi
yang gosong.
.
"Huaaahh! Lucu bener! Un!" teriak Deidara gak henti- hentinya mencubiti
topeng(?) Bito.
"Konan, emang kamu nemu dimana, sih?" tanya Sasori.
"Tuh, di mansion Uchiha sono. Dia tergeletak aja di pinggir jalan," ucap
Konan yang masih ngacak- ngacak rambut Bito dengan gemasnya.
Tobi pun datang lagi di perkumpulan itu...
"Eh Tobi. Kemalin, ini namanya Bito," ucap Konan memperkenalkan mahluk
bertopeng tadi.
"Ha'i Bito! Aku Tobi! Senang kenalan denganmu, ya.." ucap Tobi sambil
salam dengan Bito.
"Senang kenalan denganmu juga," ucap Bito membalas salam Tobi. "Kok
kenapa kita mirip, ya?"
"Ya, aku juga bingung, tapi gak apa- apa, kok! Maein yuk! Sempai! Tobi
mau maen ama Bito ya?!" teriak Tobi sambil nyeret(?) Bito keluar markas.
"Ya, hati- hati, Bito! Tobi! Kalo ada apa- apa ama Bito, sempai gantung
kamu!" teriak Pein dengan dashyattttnya.
"Oke!" balas Tobi.
.
"Eh, kamu dari mana?" tanya Tobi dengan PeDe.
"Aku dari..Uchiha..." ucap Bito khas Hinata.
"Oh...sama dong kayak aku dan Itachi sempai!"
"Itachi sempai? Yang mana?" tanya Bito.
"Oh ya, kan tadi belum ketemu. Sini!" ajak Tobi lalu segera pergi ke
kamar Itachi.
"Tok tok!" Tobi mengetuk pintu kamar dan tak lama kemudian keluarlah Itachi.
"Ada apa, ya?" tanya Itachi.
"O ya, Bito, ini Itachi sempai" ujar Tobi memperkenalkan Itachi pada Bito.
"Salam kenal, Itachi- sempai.."
"Hn. Salam kenal juga." ucap Itachi. "Sempai masuk dulu ya, soal sempai
lagi dipijitin ama akang(?) Kisame" Dan Itachi pun masuk...
"Hah..Ayo kita main, Bito" ajak Tobi sambil menarik tangan Bito.
"Bagaimana kita main lempar tanah liat?" usul Tobi yang tiba- tiba entah
dari mana, tanah liat sudah ada di tangannya.
"Oke, ayo"
"Ok, siap ya?"
"Jreett!" dengan tepat, Tobi melempar tanah liat itu ke topeng Bito.
"Hahaha! Rasakan!"
"Jrett!" Bito melempar tanah liat dan mendarat juga di topeng Tobi. Dan
mereka terus bermain...
.
Di sebuah kamar...
"Danna, lihat tanah liatku, gak? Un?" tanya seorang yang bernama Deidara.
"Nggak tuh," ujar Sasori seraya membersihkan bonekanya.
"Siapa yang ngambil ya?" Deidara bertanya- tanya sendiri, masih mencari
dimana tanah liatnya. "Oh ya, KATSUUU!"
.
Ke tempat Tobi and Bito...
"Hahaha! Kena kau!"
"Jret!"
"DUARRRR!"
Tanah liat yang menempel di topeng Tobi pun meledak dan menyisakan asap
yang mengepul.
"DUARRR!"
Giliran tanah liat di topeng Bito meledak sehingga topengnya pecah...
Setelah asap mulai pudar, dengan jelas Bito dapat melihat wajah Tobi.
"Madara?" tanya Bito.
'Darimana ia tahu namaku?' batin Tobi panik.
"Nii-san? Nii-san?" tanya Bito lagi sambil memerhatikan wajah Tobi. Tobi
segera nengok kebelakang.
"Nii-san! Lihat aku!" teriak Bito. Dengan slowmotion, Tobi nengok ke
arah Bito...
"..I-izu...na?" tanya Tobi tak percaya akan yang dilihatnya.
"Madara nii-san!" ternyata Bito yang diketahui namanya ialah Izuna
segera berlari slow motion memeluk kakaknya. "Aku kangen nii-san.."
"Izuna otouto!" teriak Tobi(Madara) juga berlari dengan slowmotion ke
arah adiknya.
1 meter lagi...
"Dugh!"
Izuna kesandung batu...Madara tercengang.
0,5 meter...
Madara merentangakn tangannya untuk menangkap tubuh adiknya dan...
"Hap Hap! Hap hap!" tiba- tiba, Madara nyanyi ala iklan Ax*s dan Izuna
tertangkap di pelukannya (*jiehh..*).
.
Slowmotion terhenti.
.
Tiba- tiba, berdendanglah lagu 'Humko Humise Churalo' yang ternyata dari
tape DVD Kakuzu.
"Nii-san..." Izuna mengelus pipi kakaknya.
"Otuto- chan...i miss u!" ucap Madara lalu memeluk erat Izuna.
"Hiks..hiks..." terdengarlah tangisan dari para anggota Akatsuki(-Tobi/
Madara).
"Huaaa! Drama yang sangat menyentuh..hiks..hiks.." tangis Konan tak lupa
dengan memegang popcornnya.
"Sedih, un...hiks..sroott!" Deidara menangis sambil mengelap ingus
dengan tisu.
"Hiks..hiks...persaudaraan yang mengharukan..." tangis Itachi tanpa
sadar memeluk Konan. Pein nengok slowmotion, ditambah air mata yang
beruraian.
"Hiks...I..Ta..Chi...grrr! hiks..." Pein marah(kok kayak gitu==") sambil
nangis. "Shinra..hiks..Tensei!"
"Tuingg!" Itachi mental ke angkasa dengan beruraian air mata. Kisame
nangis celingak- celinguk nyariin istrinya(*dibacok ItachiFG*).
"Ita- chan...hiks...dimana..kamu, sayanggg hiks...?" tanya Kisame dengan
air mata hiu-nya.
"Hiks..Demi Jashin! hiks...diatas!" ucap Hidan sambil nunjuk- nunjuk ke
atas. Kisame cengo.
"Ah..makasih, ya, Hidan- kunhh..." ucap Kisame sambil nyolek dagu Hidan.
Kakuzu yang berada disamping Hidan langsung emosi.
"Apa lu..hiks...nyentuh...my..hiks. ..lovely Uke hiks.. Hidan?" tanpa
adegan slowmotion, Kisame ditendang Kakuzu dan terbang ke angkasa,
bersama Itachi. Hidan muntah- muntah ditempat sambil nangis.
"Hiks...mengharukan ya, tanamanku?" tanya Zetsu yang memeluk tanaman
mawar. Mawar nya langsung sweatdrop(?).
.
Di atas langit...
"Ita-chan.."
"Oh, Kisa-kun.."
"Berpelukan!" ucap Kisame dan Itachi berbarengan ala Teletubb*es, dan
mereka pun berpelukan.
"Huwaaaa! Itu lebih mengharukan lagi, un!" ucap Deidara sambil nunjuk ke
atas yang rupanya ia menonton drama KisaxIta. Segera saja,
Akatsuki(-ItaKisa) mendongak kan kepala keatas.
"Hiks...hiks...otouto- chan..itu lebih sedih lagi, ya?" tanya Madara
sambil nunjuk ke langit.
"Iya...Onii- kun..." Izuna menjawabnya dengan air mata beruraian kemana-
mana.
"Be my wife, Itachi..." ucap Kisame sambil menyodorkan setangkai mawar
merah- entah dari mana- kepada Itachi. Itachi langsung melek(?) dan sadar.
"Baka! Gua gak mau jadi istri lu! Nanti anak gua(?) kayak ikan hiu! No!"
teriak Itachi sambil berlari- lari atas awan.
"Please deh, Ita-chan..sekali- kali aja.." mohon Kisame sambil mengejar
Itachi. Dan terjadilah kejar- kejaran. All yang ada didarat, maksud
Akatsuki, kecuali Zetsu yang lagi pundung dalam tanah gara- gara
mawarnya diambil Kisame, pada sweatdrop 10 liter.
"Oh My Jashin! Ckckck.." Hidan eswete- an.
"Demi duit yang gua korup, gak nyangka Kisame itu suka ama Itachi..."
Kakuzu meluk- meluk duit korupsi nya. Akatsuki yang tersisa langsung
tepar di tempat.
.
.
OWARI DENGAN GAK MUTUNYA, DAN SILAHKAN BERI COMMENT JIKA BERKEHENDAK,
KARENA PEMBACA ADALAH RAJA. THANKS.\
Tobi lagi pundung nih hari ini, tetapi, karena tak kesengajaan, Tobi
jadi happy, kira- kira, kenapa ya? RNR aja, okay? Gak bisa buat summary
Title: Aka no Tsuki AKATSUKI
Rate: K+
Attention: OOC, AU, humor garing n gosong, dll.
Disclaimer: Naruto dkk punya MasKishi alias Masahi Kishimoto, ceritanya
punya saya^^
Summary: Tobi lagi pundung nih hari ini, tetapi, karena tak kesengajaan,
Tobi jadi happy, kira- kira, kenapa ya?
.
And let's start!
.
Pada suatu hari, terdapat sebuah goa eh markas yang bernama Akatsuki.
Keadaan di dalam markas itu sangat hening, hingga...
"Sempai! Bangun! Udah pagi! Tobi anak baek laper!" teriak salah satu
mahluk bertopeng lolipop dengan volume 100 Hz(?)(*udah tau siapa kan?*)
"Berisik loe Tob!" maki seorang penganut Jashin yang tak ada duanya
bernama Hidan.
"Aduh~Tobi laper ya? Sini, biar mama masakin deh.." ucap seorang gadis
berambut raven bernama Konan. Berkat ucapannya tadi, sesosok mahluk
berpierchingan langsung bangun seketika.
"Apa? Konan sayank bilang mama ke Tobi?" teriak Pein, nama mahluk itu,
tak kalah histeris.
"Loe berisik bener sih, un! Gw ledakin loe, Pein ama Tobi! Un!" gerutu
seorang banci pirang(*dibom*) aka. Deidara, namun sayangnya gak didengerin.
"Udah! Gua mau masak dulu! Tobi sayang~ kamu tunggu disini ya?" perintah
Konan lalu ngacir ke dapur.
"Yeyy! Mama Konan emang baek! Oke, ma!" teriak Tobi dari dalam kamar
dengan wajah berseri- seri, namun sayangnya, gak ada yang melihat karena
ia memakai topeng.
"Hahaha! Sasuke pake bikini ke pantai! Hahaha! Kisame jadi ikan asin!
hahaha!" lindur seorang Uchiha muda yang bernama Itachi. Sontak, mahluk
biru sebelahnya langsung melotot.
"Apa? Gua jadi ikan asin! Kurang asem lu, Chi! Gua samehada baru tau
rasa!" maki seorang hiu jadi- jadian(?) bernama Kisame.
"Hahaha! Kisame jadi ikan bakar! Hahaha!" Itachi masih ngelindur gak
jelas sehingga kesabaran Kisame pun habis.
"Grrrr..." muka Kisame udah berubah jadi ungu gara- gara menahan marah.
"1..2...3...BRUAGGGHHH!"
Dengan kekuatan HiuMan(?), Kisame berhasil menendang Itachi sehingga
tembok kamar pun jebol. Sontak mahluk bercadar pun bangun seketika.
"Huaaaa! Temboknya jebol! Kan bayar nya mahal! Kisame! Bayar loe 100.000
$ ke gua! Huaaa!" teriak Kakuzu, mahluk bercadar itu, dengan lebaynya.
All(-Ita, Kakuzu, Konan) jawsproof 100 cm(?). Seorang manusia boneka
aka. Sasori segera bangun.
"Aduh! Berisik bener sih! Ada-" ucapannya terhenti ketika melihat tembok
kamar yang jebol. "-Apa?"
"Bodo ah! Siapa lu, Kuz? Gua gak mau bayar! Bye!" ucap Kisame dan
langsung ngibrit ke akuarium ikan aligator nya. Lalu Kisame menciumi
kaca akuarium itu hingga ikan itu langsung ngompol(?).
"Huaah! Ohayou semua!" ucap sosok Venus FlyTrap muncul tiba- tiba dari
dalam tanah. All(-Itachi n Konan) jantungan semua.
"Kurang asem lu Zet! Jantungan gua!" ucap Kakuzu sambil ngelus- ngelus dada.
"Eh Jashin pake kutang! Eh Pein nungging! Eh Deidara mati!" latah Hidan
dengan gaje nya. Yang bernama Pein dan Deidara, langsung menghajar Hidan
dengan full power. Akhirnya, Hidan dilempar dari jebolan tembok dan
tepar bersama Itachi.
"Ehehehe! Gomen, bro!" ucap Zetsu sambil nyengir.
Tak lama kemudian...
"WOI! MAKAN SINI!" teriak Konan dari arah meja makan. Dengan kecepatan
larinya Sena Eyeshild 21, Akatsuki (-Ita, Konan, Hidan) langsung ngibrit
ke meja makan.
"Yey! Mama Konan baek! Arigatou, ma!" teriak Tobi lansung ngambil 5
tusuk sate ayam ke piring. Konan geleng- geleng kepala.
"Eh, omong- omong si kakek muda ama si ubanan mana?" tanya Konan sambil
menyeruput jus apel miliknya(*ngiler*).
"Thaukh thu, laghi thephar," ucap Pein dengan mulut penuh dengan nasi
uduk(*readers: Lha? Ini Konoha ato Jakarta sih?*).
"Bhetuhl!" ujar Kisame yang lagi ngunyah balado ikan kembung.
"Kisame! Kakuzu!" panggil Konan.
"Aphhaaa?" tanya mereka berbarengan yang mulutnya masing- masing penuh
dengan semur jengkol.
"Jemput kekasih kalian kesini!"
"GUBRAAAKK!" "HOEKKK!"
Kisame tumbang dengan gubrakannya. Kakuzu muntah- muntah. All (-yang
tepar plus Kisame dan Kakuzu) sweartdrop.
"Udah! Cepat panggil sana! Nanti mereka ngambek lagi gara- gara
kehabisan makanan!" perintah Konan bak. ratu. Dengan terpaksa, Kakuzu
dan Kisame menghampiri masing- masing UKE- nya(*ditampol samehada*).
.
5 menit kemudian...
Tobi sendirian di meja makan. Yang lain (minus Tobi dan ke empat orang
tadi) entah menghilang kemana. Setan kali ya?#hajarrr!#
"Ah! Lama banget sih sempai- sempai itu! Entar keburu dingin! Huh!"
gerutu Tobi sambil memerhatikan ada 4 piring nasi, semur jengkol, dango,
darah ayam(?), ikan kembung balado.
"Glek!" Tobi menelan ludah melihat makanan milik sempainya yang begitu
enak. Tiba- tiba, muncul 2 sosok yang masing- masing berdiri disamping Tobi.
"Tobi...kamu makan aja..." bisik sosok berwarna merah dan memiliki tanduk.
"Jangan Tobi, kamu hangatkan saja...biar mereka tak sakit perut," ucap
sosok berwarna putih dengan sayap.
"Makan, Tobi!"
"Jangan! Hangatkan saja!"
"Makan!"
"Hangat!"
"Udaahhh! Tobi anak baek mau mutusin aja, yaitu..."
"Yaitu?" tanya sosok berwarna merah dengan cemas- cemas.
"..." sosok berwarna putih hanya diam.
"Yaitu..."
"Apa?"
"Tobi anak baek! Tobi harus hangati makanan sempai!" teriak Tobi dengan
semangat'45.
"Yihaa! Gw menang, Iblis! Bayar taruhan lu ke gw! Cepet!" maki sosok
putih sambil nadahin tangan ke arah sosok warna merah itu.
"Huwaaa! Duit gua! Entar gua pulang ke neraka gimana? Kan gua gak punya
duitt..." ratap Iblis dengan air mata dan ingus berkibar- berkibar kayak
bendera.
"Bodo amat! Mana?" tanya sosok putih tersebut dengan angkuh. Tobi hanya
sweatdrop berat lihat pertempuran Merah vs. Putih(?). Dengan tingkat
masa bodo yang sangaatt tinggi, Tobi membawa makanan keempat sempainya
dan membawanya ke dapur.
Sesampainya di dapur...
"Ah? Konan- sempai mana? Kok gak ada?" tanya Tobi pada dirinya sendiri
sambil nyariin Konan. "Ah gak ada Konan- sempai, Tobi hangatin aja
sendiri! Tobi kan anak bisa!"
Oven(*widih!*) dinyalakan Tobi dan langsung menghangatkan makanan sempainya.
"TOBIII!"
"Ada apa, sempai?" tanya Tobi sambil lari- lari keluar dari dapur.
"Mana makanan kita?" tanya Hidan, Kisame, Itachi, Kakuzu bersamaan.
"Oh, itu di-"
"Kamu makan ya?" potong Kisame.
"Nggak! Itu-"
"Ah bohong kamu! Kan disini cuma ada kamu doang!" potong Itachi.
"A-ano itu di O-"
"O apa? Otakmu?" potong Hidan.
"Huaaa! Sempai gak mau dengerin Tobi! Huwaaa!" dengan air mata
berceceran kemana- mana, Tobi berlari meninggalkan keempat sempai
pemotong(?) tadi. Ia terus lari hingga...
"Jeduk!"
"Ouch! Sakitt!" ringis Tobi sambil mengangin kepalanya akibat terbentur
sesuatu. Ia mendongak dan alangkah kagetnya ia menemukan sempai-
sempainya sedang mengelilinya dengan tatapan Aduh! -Kamu-kiyut-banget!-.
"Lha? Sempai kenapa disini?" tanya Tobi.
"Itu...kawaii bener!..." ucap Konan sambil nunjuk- nunjuk belakang Tobi.
"OMG! Jadiin anggota kita, yuk!" ucap Pein dengan mata blink- blink.
"Nama kamu siapa?"
"Bito..." ucap mahluk bertopeng itu.
Dengan slow motion, Tobi nengok ke belakang dan...
Demi keriput Itachi, Tobi melihat 'duplikat' dirinya sendiri di
belakangnya, sama- sama topeng lolipop, namun ia memiliki rambut yang
dikuncir ke belakang.
"Tenggg!"
Entah dari mana, bunyilah bel tanda Tobi tahu sekarang. Dengan kecepatan
Orochimaru pengen boker, Tobi langsung ngibrit ke tempat
sempai(gila)nya: Itachi, Kakuzu, Kisame, Hidan.
"Sempai! Lihat disana! Ada Itachi baru!" teriak Tobi pake toa.
"JELGERRR!"
Entah petir dari mana, Itachi tiba- tiba melongo sampai uler dengan
bebas nya keluar masuk.
"Nani!? Ada Itachi baru!" teriak Kakuzu, Kisame, Hidan tak kalah heboh
dan langsung lari begitu aja, meninggalkan Itachi yang masih cengo.
Tiba- tiba, ide jail pun numpang ke otak Tobi. Ia mengambil salah satu
tanah liat milik Deidara, dan ia lemparkan tepat di mulut Itachi yang
masih melongo.
"KATSU!" ucap Tobi ala. Deidara.
"DUAARRR!" dengan hebatnya, tanah liat Deidara meledak dengan kecepatan
penuh(?) di mulut Itachi.
"Hahahaha! Mampus loe!" dan Tobi langsung ngacir, meninggalkan Itachi
yang gosong.
.
"Huaaahh! Lucu bener! Un!" teriak Deidara gak henti- hentinya mencubiti
topeng(?) Bito.
"Konan, emang kamu nemu dimana, sih?" tanya Sasori.
"Tuh, di mansion Uchiha sono. Dia tergeletak aja di pinggir jalan," ucap
Konan yang masih ngacak- ngacak rambut Bito dengan gemasnya.
Tobi pun datang lagi di perkumpulan itu...
"Eh Tobi. Kemalin, ini namanya Bito," ucap Konan memperkenalkan mahluk
bertopeng tadi.
"Ha'i Bito! Aku Tobi! Senang kenalan denganmu, ya.." ucap Tobi sambil
salam dengan Bito.
"Senang kenalan denganmu juga," ucap Bito membalas salam Tobi. "Kok
kenapa kita mirip, ya?"
"Ya, aku juga bingung, tapi gak apa- apa, kok! Maein yuk! Sempai! Tobi
mau maen ama Bito ya?!" teriak Tobi sambil nyeret(?) Bito keluar markas.
"Ya, hati- hati, Bito! Tobi! Kalo ada apa- apa ama Bito, sempai gantung
kamu!" teriak Pein dengan dashyattttnya.
"Oke!" balas Tobi.
.
"Eh, kamu dari mana?" tanya Tobi dengan PeDe.
"Aku dari..Uchiha..." ucap Bito khas Hinata.
"Oh...sama dong kayak aku dan Itachi sempai!"
"Itachi sempai? Yang mana?" tanya Bito.
"Oh ya, kan tadi belum ketemu. Sini!" ajak Tobi lalu segera pergi ke
kamar Itachi.
"Tok tok!" Tobi mengetuk pintu kamar dan tak lama kemudian keluarlah Itachi.
"Ada apa, ya?" tanya Itachi.
"O ya, Bito, ini Itachi sempai" ujar Tobi memperkenalkan Itachi pada Bito.
"Salam kenal, Itachi- sempai.."
"Hn. Salam kenal juga." ucap Itachi. "Sempai masuk dulu ya, soal sempai
lagi dipijitin ama akang(?) Kisame" Dan Itachi pun masuk...
"Hah..Ayo kita main, Bito" ajak Tobi sambil menarik tangan Bito.
"Bagaimana kita main lempar tanah liat?" usul Tobi yang tiba- tiba entah
dari mana, tanah liat sudah ada di tangannya.
"Oke, ayo"
"Ok, siap ya?"
"Jreett!" dengan tepat, Tobi melempar tanah liat itu ke topeng Bito.
"Hahaha! Rasakan!"
"Jrett!" Bito melempar tanah liat dan mendarat juga di topeng Tobi. Dan
mereka terus bermain...
.
Di sebuah kamar...
"Danna, lihat tanah liatku, gak? Un?" tanya seorang yang bernama Deidara.
"Nggak tuh," ujar Sasori seraya membersihkan bonekanya.
"Siapa yang ngambil ya?" Deidara bertanya- tanya sendiri, masih mencari
dimana tanah liatnya. "Oh ya, KATSUUU!"
.
Ke tempat Tobi and Bito...
"Hahaha! Kena kau!"
"Jret!"
"DUARRRR!"
Tanah liat yang menempel di topeng Tobi pun meledak dan menyisakan asap
yang mengepul.
"DUARRR!"
Giliran tanah liat di topeng Bito meledak sehingga topengnya pecah...
Setelah asap mulai pudar, dengan jelas Bito dapat melihat wajah Tobi.
"Madara?" tanya Bito.
'Darimana ia tahu namaku?' batin Tobi panik.
"Nii-san? Nii-san?" tanya Bito lagi sambil memerhatikan wajah Tobi. Tobi
segera nengok kebelakang.
"Nii-san! Lihat aku!" teriak Bito. Dengan slowmotion, Tobi nengok ke
arah Bito...
"..I-izu...na?" tanya Tobi tak percaya akan yang dilihatnya.
"Madara nii-san!" ternyata Bito yang diketahui namanya ialah Izuna
segera berlari slow motion memeluk kakaknya. "Aku kangen nii-san.."
"Izuna otouto!" teriak Tobi(Madara) juga berlari dengan slowmotion ke
arah adiknya.
1 meter lagi...
"Dugh!"
Izuna kesandung batu...Madara tercengang.
0,5 meter...
Madara merentangakn tangannya untuk menangkap tubuh adiknya dan...
"Hap Hap! Hap hap!" tiba- tiba, Madara nyanyi ala iklan Ax*s dan Izuna
tertangkap di pelukannya (*jiehh..*).
.
Slowmotion terhenti.
.
Tiba- tiba, berdendanglah lagu 'Humko Humise Churalo' yang ternyata dari
tape DVD Kakuzu.
"Nii-san..." Izuna mengelus pipi kakaknya.
"Otuto- chan...i miss u!" ucap Madara lalu memeluk erat Izuna.
"Hiks..hiks..." terdengarlah tangisan dari para anggota Akatsuki(-Tobi/
Madara).
"Huaaa! Drama yang sangat menyentuh..hiks..hiks.." tangis Konan tak lupa
dengan memegang popcornnya.
"Sedih, un...hiks..sroott!" Deidara menangis sambil mengelap ingus
dengan tisu.
"Hiks..hiks...persaudaraan yang mengharukan..." tangis Itachi tanpa
sadar memeluk Konan. Pein nengok slowmotion, ditambah air mata yang
beruraian.
"Hiks...I..Ta..Chi...grrr! hiks..." Pein marah(kok kayak gitu==") sambil
nangis. "Shinra..hiks..Tensei!"
"Tuingg!" Itachi mental ke angkasa dengan beruraian air mata. Kisame
nangis celingak- celinguk nyariin istrinya(*dibacok ItachiFG*).
"Ita- chan...hiks...dimana..kamu, sayanggg hiks...?" tanya Kisame dengan
air mata hiu-nya.
"Hiks..Demi Jashin! hiks...diatas!" ucap Hidan sambil nunjuk- nunjuk ke
atas. Kisame cengo.
"Ah..makasih, ya, Hidan- kunhh..." ucap Kisame sambil nyolek dagu Hidan.
Kakuzu yang berada disamping Hidan langsung emosi.
"Apa lu..hiks...nyentuh...my..hiks.
adegan slowmotion, Kisame ditendang Kakuzu dan terbang ke angkasa,
bersama Itachi. Hidan muntah- muntah ditempat sambil nangis.
"Hiks...mengharukan ya, tanamanku?" tanya Zetsu yang memeluk tanaman
mawar. Mawar nya langsung sweatdrop(?).
.
Di atas langit...
"Ita-chan.."
"Oh, Kisa-kun.."
"Berpelukan!" ucap Kisame dan Itachi berbarengan ala Teletubb*es, dan
mereka pun berpelukan.
"Huwaaaa! Itu lebih mengharukan lagi, un!" ucap Deidara sambil nunjuk ke
atas yang rupanya ia menonton drama KisaxIta. Segera saja,
Akatsuki(-ItaKisa) mendongak kan kepala keatas.
"Hiks...hiks...otouto- chan..itu lebih sedih lagi, ya?" tanya Madara
sambil nunjuk ke langit.
"Iya...Onii- kun..." Izuna menjawabnya dengan air mata beruraian kemana-
mana.
"Be my wife, Itachi..." ucap Kisame sambil menyodorkan setangkai mawar
merah- entah dari mana- kepada Itachi. Itachi langsung melek(?) dan sadar.
"Baka! Gua gak mau jadi istri lu! Nanti anak gua(?) kayak ikan hiu! No!"
teriak Itachi sambil berlari- lari atas awan.
"Please deh, Ita-chan..sekali- kali aja.." mohon Kisame sambil mengejar
Itachi. Dan terjadilah kejar- kejaran. All yang ada didarat, maksud
Akatsuki, kecuali Zetsu yang lagi pundung dalam tanah gara- gara
mawarnya diambil Kisame, pada sweatdrop 10 liter.
"Oh My Jashin! Ckckck.." Hidan eswete- an.
"Demi duit yang gua korup, gak nyangka Kisame itu suka ama Itachi..."
Kakuzu meluk- meluk duit korupsi nya. Akatsuki yang tersisa langsung
tepar di tempat.
.
.
OWARI DENGAN GAK MUTUNYA, DAN SILAHKAN BERI COMMENT JIKA BERKEHENDAK,
KARENA PEMBACA ADALAH RAJA. THANKS.\
Israel Invasion
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, typo(s), berantakan, mending jangan dibaca.
Bagi yang tetep mau baca,
semoga terhibur!
.
.
Perseteruan Israel-Hamas di jalur Gaza bukan lagi suatu berita yang tabu bagi kita. Betapa tidak, beritanya pun sampai saat ini masih kita temukan di media massa dan search engine, masih dibahas oleh para kritikus internasional, dan kadang menjadi topik dalam diskusi mahasiswa dengan tema yang terkait. Sudah ribuan warga Palestina yang tak berdosa, gugur akibat bengisnya serangan tentara Israel.
Tapi, apa jadinya kalau Israel, dengan tanpa tedeng aling-aling ada Limbad makan beling, justru menyerang Konoha desa tercinta kita?
Dafuq is this shit?! Apa urusan lo sama Konoha sih?!
Rasanya pengen narik gemes hidung-hidung mereka terus selipin deh petasan korek ke lubangnya. Duarr. Selesai.
Oh, tapi tenang, pemirsa. Selama Akatsuki masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, maka semua akan beres seberes-beresnya.
.
(9-.-)9
.
Dalam tiga hari terakhir, seluruh penghuni desa Konoha dihantui bayang-bayang kematian. Israel yang entah kenapa tiba-tiba datang menginvasi desa yang sama sekali tak ada hubungan apa-apa dengan mereka. HTS-an aja nggak pernah, apalagi pacaran. Ibaratnya kayak kamu yang nggak pernah menjalin hubungan apapun sama orang yang kamu taksir, kamu juga nggak pernah ngungkapin perasaan kamu ke dia, lalu kamu lihat dia lagi jalan berdua sama orang lain, lalu tanpa memastikan orang lain itu cewek atau cowok, saudaranya apa bukan, lalu kamu menghadang dia, dan tanpa ba-bi-bu, kamu bantai dia pake AK-47!
Gila! Apa banget kan?!
Oke, bagi kamu yang mendadak galau silakan lambaikan tangan ke kamera di pojok sana.
.
Tapi ya udahlah. Nggak perlu terlalu dipikirin apa alasan mereka. Yang terpenting sekarang adalah: Konoha sedang di ambang kehancuran!
.
(9-.-)9
.
Dentuman bom dan rentetan bunyi tembakan terdengar di mana-mana. Dari warga sipil, pejabat, militan dan anggota militer Konoha, semua bekerja bahu-membahu melancarkan serangan balik atas invasi Israel yang membabi buta. Tak terkecuali mereka, para personel Akatsuki yang memang tergabung ke dalam Satuan Militer Konoha.
Pein, Konan, Itachi, Kisame, Sasori, Hidan, Kakuzu, Tobi, Deidara.., telah berpakaian loreng khas tentara militer lengkap dengan helm baja, goggle (kacamata pelindung), bulletproof vest (rompi anti peluru), kneepad (pelindung lutut), elbow pad (pelindung siku), sepatu boot, dan sarung tangan tebal. Mereka memegang senjata masing-masing, siap menggempur pasukan Israel. Oh sori, minus Deidara. Doi disandera oleh tentara Israel yang menyusup ke markas ketika doi lagi mandi. Mereka pikir dia cewek blonde.
Sekitar 971 orang tewas, dari 165 juta penduduk di Konoha. Mampukah Akatsuki mengembalikan kedamaian desa seperti sediakala? Bagaimana cara mereka membebaskan kembali Deidara dalam kondisi utuh dan bernyawa?
(9-.-)9
DHUAAAARRRRRR…
Sebuah pesawat jet tempur milik Israel menjatuhkan bom lagi ke daerah pemukiman. Orang-orang berlarian kesana kemari mencari perlindungan. Bersembunyi di terowongan, di semak-semak, dan di bunker-bunker yang ada di sisi jalan. Mereka yang konsisten menjaga jam tidurnya tetap 8 jam meski hidupnya sedang terancam, pasti mati duluan sebelum sempat sadar dan kabur dari ledakan.
.
Kakuzu yang saat itu tak jauh dari sumber ledakan, terkena percikan bom tersebut yang mengakibatkan salah satu jantungnya hancur. Padahal saat itu doi lagi jongkok di balik tembok sambil membidik, tapi dia nggak liat kalau ada pesawat seliweran sambil ngejatuhin bom (mungkin karena kupingnya ketutup kudungan). Ia pun terkapar pingsan.
Melihat sahabatnya sekarat berlumuran darah, Hidan yang kebetulan lewat sambil lari rempong karena bom tadi, lekas meminta pertolongan medis melalui walkie talkie-nya.
"Tolong! Tolong teman saya! Dia hampir matiii," pintanya dengan suara serak-serak mau nangis.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dua orang tentara medis datang. Sakura dan Shizune cepat-cepat menggotong seonggok tubuh bercadar milik Kakuzu yang sedang pingsan dan melarikannya ke tenda pengobatan.
Saat menuju tenda, Kakuzu siuman. Ia sadar, ia sedang digotong oleh tentara cewek yang cantik nan belia. Yakin akan ditangani oleh mereka, doi pun pura-pura masih pingsan sambil ngebayangin saat dadanya digrepe-grepe nanti.
.
Sampai di tenda, tubuh Kakuzu dibaringkan di samping korban-korban luka lainnya. Shizune dan Sakura meninggalkannya untuk menandu korban lain. Tak lama kemudian, seorang wanita renta mendekati Kakuzu, membuka pakaian militer yang dikenakannya.
Sadar tubuhnya sedang disentuh oleh tangan yang tak sesuai harapan (keriput -red), Kakuzu sedikit membuka sebelah matanya untuk memastikan.
.
"Buset. Neneknya Sasori ngapain ada di seneee?!" pekiknya dalam hati. Ia shocked, lalu pura-pura mati.
(9-.-)9
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! -Ctrek!
Itachi mengokang senapannya lagi setelah berkali-kali mengarahkan tembakan ke tentara musuh yang mengendap-endap di semak belukar. Namun bidikannya selalu meleset karena tentara itu menghindar gesit sembari koprol ke segala arah. Terakhir Itachi liat, dia koprol ke jurang.
"Sialan," keluhnya sambil ikut koprol ke jurang. Ya nggak lah! Maksudnya, Itachi melupakan sasarannya yang kemungkinan sudah tewas kepentok batu jurang itu, kemudian berlari ke arah berlawanan memburu sasaran lain.
(9-.-)9
Di lain tempat, Kisame terlihat sedang berjalan setengah mengendap mengikuti seorang tentara Israel yang memasuki area pasar. Melihat toko kembang Yamanaka akan jadi sasaran tembak oleh tentara tersebut, emosi Kisame memuncak. Sebagai makhluk berperikeikanan ia bergegas menyelamatkan si empunya toko.
"Neng Ino! Awas leda-AAAAAAAAAAK."
.
Ratattatatatatata! Ratatatatatattataa! Ratatattatatatatatat!
.
Beruntung Kisame datang di saat yang tepat. Meski yang jejeritan tadi justru Kisame, meski toko kembang Ino telah hancur, nyawa Ino terselamatkan setelah ditarik tangannya oleh Kisame. Mereka berlari menunduk menjauh dari lokasi tersebut, dan masuk ke sebuah bunker terdekat.
.
"Makasih ya, Bang," ucap Ino di sela napasnya yang masih ngos-ngosan, sembari mengikat rambut panjangnya yang terurai lepas.
"Sama-sama, Neng. Neng Ino gapapa kan?" Ngeliat Ino, Kisame meleleh. Cewek kalo lagi nguncirin rambut itu cantik ya, pikirnya. Wajahnya serius tapi kalem, tangannya lihai memainkan ikat rambut dan rambutnya dirapikan dengan tangan satunya lagi. Duh, jadi ngebayangin kan.
Darah pun menetes keluar dari hidung Kisame. Warna kulit mukanya yang biasanya biru berubah jadi pink.
"Gapapa, Bang. Cuma tangan saya agak lecet kena cakar kuku Abang..," Ino menjawab seadanya sambil nunjukin pergelangan tangannya yang terluka. "Eh? Bang Kisa sakit?" tanya Ino dengan ekspresi iba ngeliat Kisame yang tiba-tiba mimisan dan mukanya jadi kayak ikan busuk (pink kebiru-biruan).
"Gapapa kok, Neng. Ehehehe…"
.
.
.
Itachi, yang kebetulan melewati area pasar tak sengaja melihat partnernya, Kisame sedang bersama seorang gadis. Cewek yang mengingatkannya pada kejadian di masa lalu saat Itachi masih menjadi tentara rookie.
"Cewek pirang itu." Ia mulai mengingat-ingat.
= Flashback =
Itachi membenci hidupnya.
Setelah membantai orang tuanya sendiri, ia ditinggal pergi adik satu-satunya, Sasuke yang setengah mati membenci dirinya. Sasuke kabur ke Uzbekistan bersama Orochimaru untuk sekolah coret-kecantikan-coret militer di sana.
Tak ada lagi orang tercinta, Itachi merasa hidupnya sudah tidak berarti apa-apa.
Satu-satunya yang kini ia cintai hanya Konoha, dan ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada desa ini.
Hingga suatu ketika di hari berhujan, Itachi terbaring di jalan yang jarang dilalui orang dengan luka tusuk di perutnya. Luka tusuk yang meski tidak terlalu fatal, namun menguras daya hidupnya tetes demi tetes.
Sedang sekarat begitu, terlintas banyak hal random yang menumpuk di benak Itachi sejak lama. Kemanakah sebenarnya ayam-ayam Adi? Rumah Jefri yang benar itu di sebelah mana? Apakah saat kita mengenyot susu Real Good kenyot, kita bisa tiba-tiba terkena hydrocephalus?
Bukan, bukan hal-hal seperti itu yang seharusnya terpikir di saat seperti ini.
Merasakan sakit di perutnya semakin parah, Itachi sadar ia telah menjadi korban iklan.
Ah, menanti ajal tanpa dikelilingi orang-orang tercinta di tempat yang dingin dan sepi seperti ini, mungkin pantas bagi kematian seorang pembantai, pikirnya.
.
.
.
"…bertahanlah! Bantuan akan segera datang!"
Suara yang panik dan histeris menyadarkannya. Dan saat Itachi membuka mata, ia temukan gadis pirang itu, bersimpuh di sisinya sembari menekan lukanya dengan kain.
Sudah lama sekali, Itachi tak pernah melihat orang lain tersenyum tulus padanya, apalagi bersedih untuknya. Namun gadis pirang itu; menangisinya seperti menangisi keluarga sendiri.
=oOo=
"…dia yang nolong gue waktu itu." Itachi tersadar dari lamunannya. Buru-buru ia lepas rompi anti peluru yang ia kenakan, lalu menghampiri Kisame dan Ino yang sedang berdiri di samping bunker sambil mengawasi situasi sekitar.
"Pakai ini ya." Itachi memberikan rompinya pada Ino. "Bahaya banget berkeliaran di luar bunker tanpa vest."
(9-.-)9
"Bekal makanan dari markas masih ada?" tanya Pein pada Konan yang berdiri agak jauh darinya. Pein-Konan dengan pakaian militer begitu nampak seperti Alice dan Carlos di Resident Evil Series. Sangar, tapi hawt gitu.
"Ada. Nih." Konan melempar bungkusan kroket berisi potongan keju, wortel dan kentang. Pein langsung membuka bungkusan tersebut dan memakannya, sekalian bungkus-bungkusnya. "Kroket." Itachi teringat sesuatu.
.
"Nan." Pein duduk sambil memegangi dagunya, berpikir keras.
"Hm?" sahut Konan tanpa menoleh. Doi lagi sibuk sama petasan kertasnya yang sampe sekarang doi sendiri nggak tahu gunanya apa untuk saat ini, selain buat ngagetin orang lewat, atau ngusir orang pacaran yang berdua-duaan saat jam sholat tarawih.
"Kamu inget nggak, sekitar tiga tahun lalu, waktu Deidara ngeram diri berhari-hari di bangsal?" tanya Pein, masih megangin dagunya.
"Tiga tahun lalu? …hmm. Oh! Iya, inget. Emang kenapa?" Konan menjawabnya sambil memilin kertas petasan menjadi gulungan-gulungan kecil.
"Waktu itu dia bilang kalo dia lagi ngerakit roket kan, Nan? IYA KAN, NAN?!" Pein bertanya lagi dengan nada suara yang mulai gak nyante. Hidungnya kembang-kempis.
"Iya. Terus? Satu, dua, tiga..." yang ditanya tetep woles sambil ngitungin petasan pilinannya.
Kesal melihat tingkah partnernya yang masa bodoh, Pein menyingkirkan semua petasan di meja Konan.
"Sayang, kumohon lihat aku dulu..." pintanya dengan wajah sendu, tatapannya nanar kayak anak kucing minta nete.
"Apa sih? Terus kenapa kalo Deidara bikin roket?" Merasa kesibukannya diusik, Konan mulai bete.
"Roket itu bisa kita gunakan untuk mengusir mereka yang telah memporakporandakan desa kita!" kata Pein berapi-api.
(9-.-)9
Deidara disekap di sebuah gubuk di hutan yang tak terkunci, pintunya hanya diikat dengan tali rotan yang tebal. Zetsu, dengan kemampuan khususnya, masuk ke dalam tanah dan muncul tepat di dalam gubuk tempat Deidara disekap. Ia lepaskan ikatan yang menjerat tubuh kawan cantiknya itu, lalu membakar tali yang mengunci pintu gubuk tersebut. Deidara pun bebas.
Dari hutan, Deidara menuju ke tenda terdekat untuk memakai perlengkapan militer yang sudah disiapkan. Di sana sudah ada Sasori yang memang menunggunya sambil beristirahat.
"1 jam 12 menit 56 detik," ujar Sasori sambil melihat ke stopwatch-nya dengan tampang bosan.
.
.
Sambil menunggu Deidara berkemas, Pein mengutus Tobi untuk pulang ke markas mencari kunci bangsal berisi roket di kamar Deidara.
.
.
Kunci itu berada di dalam sebuah kotak yang terbuat dari kayu jati, campur aduk tertimbun di antara kunci-kunci lain dan harta benda Deidara yang kurang begitu berharga. Tobi langsung membuka kotak yang memang tak dikunci itu, lalu menghubungi Deidara melalui walkie talkie-nya untuk memastikan ciri-ciri kunci yang dimaksud.
"Dei! Ini Tobi. Gue disuruh Pein buat cari kunci bangsal di kamar lo."
"Hah? Buat apaan, un?"
"Katanya, dia mau ngeluarin roket rakitan yang lo bikin tiga tahun lalu."
"Buat ngebom mereka? Ya elah, itu roket gue bikin cuma iseng-iseng, lagian belum tentu bisa ngeluncur, un!"
"Ya apa salahnya dicoba? Udah, bawel lu. Ini perintah pimpinan!"
"Ya udah, buruan cari, un!"
"Kuning, panjang?"
"Iya iya!"
"Dari kuningan?"
"Bisa jadi bisa jadi!"
"Dari besi?"
"Tidak tidak!"
"Dari katun?"
"Tidak tidak tidak!"
"Ada rendanya?"
"Tidak!"
"Warnanya putih kekuning-kuningan?"
"Tedaaaak!"
"Ada tulisan 'Deidara, Man of Beauty'?"
"Plis, Tob. Itu kolor gue. "
"Ou, sori. Jadi yang mana? Barang-barang lo campur aduk, gue sampe lupa tujuan awal gue buka box ini apa."
"Kunci yang kuning, paling panjang, paling berat, ada ukiran huruf B di salah satu sisinya, un."
"Oh... Ada, nih. Bilang kek dari tadi!"
Tobi langsung menutup pembicaraan dan bergegas keluar membawa kunci tersebut.
(9-.-)9
Setelah beberapa menit mengganti pakaiannya menjadi seragam perang, Deidara pun keluar dari tenda dengan gagahnya. Dia keliatan seperti banci salon yang lagi ikutan Be a Man.
"Watch out, Israel! Here I come! Hahahahaha –Ckrek!" katanya dengan ketawa khas pemain antagonis yang mau ngerebut harta anak yatim.
Sementara Sasori cuma duduk diem dengan tampang bete abis. Secara doi nungguin hampir 2 jam karena Deidara ngotot nggak mau ditinggal waktu ganti kostum. Takut ada yang nyulik lagi, katanya.
.
"BURUAN BENCONG NGGAK USAH FOTO-FOTO DULU NAPA." Sasori mencak-mencak.
Ooh, rupanya bunyi 'ckrek' tadi berasal dari kamera HP Deidara.
"Siap, un! Gue udah rapih! Ayok kita cabut, un!" ajak Deidara bersemangat.
"An un an un. Lo belom rapih, bihun. Reslitting celana lo kebuka." ujar Sasori sambil ngeloyor pergi menenteng senjatanya.
(9-.-)9
Pein telah memanggil semua teman-teman Akatsuki-nya untuk berkumpul di depan bangsal, menanti kedatangan si perancang roket, Deidara. Plus Ino yang turut berada di sana, telah mengenakan pakaian perang lengkap (pemberian Itachi) seperti yang lainnya.
Ino sebenarnya adalah mantan tentara medis senior, hanya saja dia terpaksa mengundurkan diri karena harus meneruskan usaha orang tuanya di dunia perbungaan. Makanya, Itachi sempat kaget saat melihat Ino cukup cekatan menggunakan LMG (Light Machine Gun) M249 SAW (Squad Automatic Weapon) yang terpasang diJeepmiliter sewaktu menuju bangsal bersama Kisame.
'Ratattatatatatatatatta!' Begitu bunyinya. Wow, cekatan sekali.
Deidara telah nampak dari kejauhan, berlari dengan Assault Rifle di punggungnya, sambil melambai-lambaikan tangan kanan seperti Miss Universe kebelet pup, diikuti Sasori yang berjalan menunduk sambil facepalm.
Yang dinanti akhirnya datang, semua yang berada di sana bersorak. Deidara langsung membuka pintu bangsal menggunakan kunci yang diberikan Tobi.
Sebuah roket berdiameter 1,5 m, dengan panjang 10 m dikeluarkan dari bangsal tersebut beserta peluncurnya yang terpasang pada kendaraan artilleri berupa truk ukuran sedang. Perangkat itu terdiri dari muatan roket (payload) yang ―semoga― mampu terbang dan jatuh tepat pada sasaran yang telah ditentukan (homing), setelah terlepas dan terpisah dari peluncur roket. Rudal ini berseri DEI174-124-AJH atau bisa dibaca: 'Deidara ajah'.
"Roket ini berbahan bakar propelan padat. Dan seinget gue, menurut perhitungan yang gue terapin di roket ini, ni roket bisa terbang kira-kira setinggi 5 km, homing hingga jarak 15 km, dan jangkauan ledakannya lumayan sempit, sekitar 4 km. Bisa dibilang ini mirip miniatur-nya Exocet MM38, rudalnya Prancis." Deidara mulai menjelaskan layaknya tutor, tatapannya serius. Yang lain cuma manggut-manggut.
"Cara kerja roket ini layaknya proses pelepasan pesawat angkasa luar. Saat roket melakukan separasi, payload dan motor berpisah. Dan…"
"…dan?" tanya Pein penasaran.
"…dan meskipun roket ini dilengkapi guidance waypoint system, jadi semacem target-seeker gitu, gue nggak terlalu yakin ni roket bakal meledak saat mengenai sasaran, hiks." Deidara pasrah.
"Penjelasannya nanti aja, Dei. Lo luncurin sekarang, soal ni roket berfungsi apa nggak, kita liat nanti. Demi Jashin, gue yakin roket lo pasti meledak," ujar Hidan sambil merangkul Deidara, memberi semangat.
Deidara tersenyum, "Oke. Tapi janji ya, lo semua jangan marah kalo ternyata ni rudal sistemnya rusak trus nyungsep ke sawah-sawah."
"Siaappp," semua berujar kompak.
Deidara pun naik ke belakang truk, mengarahkan tabung peluncur ke arah laut di mana kapal-kapal para tentara Israel berlabuh.
Ia menginstruksikan kepada semua yang ada untuk menjauh dari truk artilleri itu demi keamanan, dan siap mengoperasikan peluncur untuk melakukan pelepasan roket. Semua diam, memandangi roket yang cukup lama tidak menampakkan reaksi apapun.
Beberapa menit berselang, terlihat kepulan asap keluar dari bawah roket tersebut. Asapnya yang hitam dan bergumpal-gumpal membuat pandangan mereka kabur. Dan…
.
SYUUUUUZZZZZZZHHHHH….
Roket itu meluncur dengan sukses.
Semua orang bertepuk tangan sambil mendongak ke atas, terpukau melihat terbangnya roket itu sampai wujudnya hilang tertutup awan, hanya jejak asapnya saja yang terlihat.
Sekitar 3 menit menunggu, sebuah dentuman keras terdengar dari arah laut.
DDDDDHHHUUUAAAARRRRRRRRRRR…..
Deidara melompat girang lalu memeluk orang di sampingnya, Sasori. Tobi melompat ke dalam kepompong di sampingnya, memeluk Zetsu. Pein memeluk Konan. Hidan memeluk Kakuzu. Kisame memeluk Itachi. Itachi memeluk Ino. Yang setelah sadar, Ino refleks menamparnya. Walaupun pelan namun bunyinya cukup terdengar. PLAKKK!
Itachi berbalik badan lalu tersenyum nakal sambil memegangi bekas tamparan Ino, kemudian mengantongi bekas tamparan itu.
.
.
.
TAMAT
Warning: AU, OOC, typo(s), berantakan, mending jangan dibaca.
Bagi yang tetep mau baca,
semoga terhibur!
.
.
Perseteruan Israel-Hamas di jalur Gaza bukan lagi suatu berita yang tabu bagi kita. Betapa tidak, beritanya pun sampai saat ini masih kita temukan di media massa dan search engine, masih dibahas oleh para kritikus internasional, dan kadang menjadi topik dalam diskusi mahasiswa dengan tema yang terkait. Sudah ribuan warga Palestina yang tak berdosa, gugur akibat bengisnya serangan tentara Israel.
Tapi, apa jadinya kalau Israel, dengan tanpa tedeng aling-aling ada Limbad makan beling, justru menyerang Konoha desa tercinta kita?
Dafuq is this shit?! Apa urusan lo sama Konoha sih?!
Rasanya pengen narik gemes hidung-hidung mereka terus selipin deh petasan korek ke lubangnya. Duarr. Selesai.
Oh, tapi tenang, pemirsa. Selama Akatsuki masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, maka semua akan beres seberes-beresnya.
.
(9-.-)9
.
Dalam tiga hari terakhir, seluruh penghuni desa Konoha dihantui bayang-bayang kematian. Israel yang entah kenapa tiba-tiba datang menginvasi desa yang sama sekali tak ada hubungan apa-apa dengan mereka. HTS-an aja nggak pernah, apalagi pacaran. Ibaratnya kayak kamu yang nggak pernah menjalin hubungan apapun sama orang yang kamu taksir, kamu juga nggak pernah ngungkapin perasaan kamu ke dia, lalu kamu lihat dia lagi jalan berdua sama orang lain, lalu tanpa memastikan orang lain itu cewek atau cowok, saudaranya apa bukan, lalu kamu menghadang dia, dan tanpa ba-bi-bu, kamu bantai dia pake AK-47!
Gila! Apa banget kan?!
Oke, bagi kamu yang mendadak galau silakan lambaikan tangan ke kamera di pojok sana.
.
Tapi ya udahlah. Nggak perlu terlalu dipikirin apa alasan mereka. Yang terpenting sekarang adalah: Konoha sedang di ambang kehancuran!
.
(9-.-)9
.
Dentuman bom dan rentetan bunyi tembakan terdengar di mana-mana. Dari warga sipil, pejabat, militan dan anggota militer Konoha, semua bekerja bahu-membahu melancarkan serangan balik atas invasi Israel yang membabi buta. Tak terkecuali mereka, para personel Akatsuki yang memang tergabung ke dalam Satuan Militer Konoha.
Pein, Konan, Itachi, Kisame, Sasori, Hidan, Kakuzu, Tobi, Deidara.., telah berpakaian loreng khas tentara militer lengkap dengan helm baja, goggle (kacamata pelindung), bulletproof vest (rompi anti peluru), kneepad (pelindung lutut), elbow pad (pelindung siku), sepatu boot, dan sarung tangan tebal. Mereka memegang senjata masing-masing, siap menggempur pasukan Israel. Oh sori, minus Deidara. Doi disandera oleh tentara Israel yang menyusup ke markas ketika doi lagi mandi. Mereka pikir dia cewek blonde.
Sekitar 971 orang tewas, dari 165 juta penduduk di Konoha. Mampukah Akatsuki mengembalikan kedamaian desa seperti sediakala? Bagaimana cara mereka membebaskan kembali Deidara dalam kondisi utuh dan bernyawa?
(9-.-)9
DHUAAAARRRRRR…
Sebuah pesawat jet tempur milik Israel menjatuhkan bom lagi ke daerah pemukiman. Orang-orang berlarian kesana kemari mencari perlindungan. Bersembunyi di terowongan, di semak-semak, dan di bunker-bunker yang ada di sisi jalan. Mereka yang konsisten menjaga jam tidurnya tetap 8 jam meski hidupnya sedang terancam, pasti mati duluan sebelum sempat sadar dan kabur dari ledakan.
.
Kakuzu yang saat itu tak jauh dari sumber ledakan, terkena percikan bom tersebut yang mengakibatkan salah satu jantungnya hancur. Padahal saat itu doi lagi jongkok di balik tembok sambil membidik, tapi dia nggak liat kalau ada pesawat seliweran sambil ngejatuhin bom (mungkin karena kupingnya ketutup kudungan). Ia pun terkapar pingsan.
Melihat sahabatnya sekarat berlumuran darah, Hidan yang kebetulan lewat sambil lari rempong karena bom tadi, lekas meminta pertolongan medis melalui walkie talkie-nya.
"Tolong! Tolong teman saya! Dia hampir matiii," pintanya dengan suara serak-serak mau nangis.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dua orang tentara medis datang. Sakura dan Shizune cepat-cepat menggotong seonggok tubuh bercadar milik Kakuzu yang sedang pingsan dan melarikannya ke tenda pengobatan.
Saat menuju tenda, Kakuzu siuman. Ia sadar, ia sedang digotong oleh tentara cewek yang cantik nan belia. Yakin akan ditangani oleh mereka, doi pun pura-pura masih pingsan sambil ngebayangin saat dadanya digrepe-grepe nanti.
.
Sampai di tenda, tubuh Kakuzu dibaringkan di samping korban-korban luka lainnya. Shizune dan Sakura meninggalkannya untuk menandu korban lain. Tak lama kemudian, seorang wanita renta mendekati Kakuzu, membuka pakaian militer yang dikenakannya.
Sadar tubuhnya sedang disentuh oleh tangan yang tak sesuai harapan (keriput -red), Kakuzu sedikit membuka sebelah matanya untuk memastikan.
.
"Buset. Neneknya Sasori ngapain ada di seneee?!" pekiknya dalam hati. Ia shocked, lalu pura-pura mati.
(9-.-)9
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! -Ctrek!
Itachi mengokang senapannya lagi setelah berkali-kali mengarahkan tembakan ke tentara musuh yang mengendap-endap di semak belukar. Namun bidikannya selalu meleset karena tentara itu menghindar gesit sembari koprol ke segala arah. Terakhir Itachi liat, dia koprol ke jurang.
"Sialan," keluhnya sambil ikut koprol ke jurang. Ya nggak lah! Maksudnya, Itachi melupakan sasarannya yang kemungkinan sudah tewas kepentok batu jurang itu, kemudian berlari ke arah berlawanan memburu sasaran lain.
(9-.-)9
Di lain tempat, Kisame terlihat sedang berjalan setengah mengendap mengikuti seorang tentara Israel yang memasuki area pasar. Melihat toko kembang Yamanaka akan jadi sasaran tembak oleh tentara tersebut, emosi Kisame memuncak. Sebagai makhluk berperikeikanan ia bergegas menyelamatkan si empunya toko.
"Neng Ino! Awas leda-AAAAAAAAAAK."
.
Ratattatatatatata! Ratatatatatattataa! Ratatattatatatatatat!
.
Beruntung Kisame datang di saat yang tepat. Meski yang jejeritan tadi justru Kisame, meski toko kembang Ino telah hancur, nyawa Ino terselamatkan setelah ditarik tangannya oleh Kisame. Mereka berlari menunduk menjauh dari lokasi tersebut, dan masuk ke sebuah bunker terdekat.
.
"Makasih ya, Bang," ucap Ino di sela napasnya yang masih ngos-ngosan, sembari mengikat rambut panjangnya yang terurai lepas.
"Sama-sama, Neng. Neng Ino gapapa kan?" Ngeliat Ino, Kisame meleleh. Cewek kalo lagi nguncirin rambut itu cantik ya, pikirnya. Wajahnya serius tapi kalem, tangannya lihai memainkan ikat rambut dan rambutnya dirapikan dengan tangan satunya lagi. Duh, jadi ngebayangin kan.
Darah pun menetes keluar dari hidung Kisame. Warna kulit mukanya yang biasanya biru berubah jadi pink.
"Gapapa, Bang. Cuma tangan saya agak lecet kena cakar kuku Abang..," Ino menjawab seadanya sambil nunjukin pergelangan tangannya yang terluka. "Eh? Bang Kisa sakit?" tanya Ino dengan ekspresi iba ngeliat Kisame yang tiba-tiba mimisan dan mukanya jadi kayak ikan busuk (pink kebiru-biruan).
"Gapapa kok, Neng. Ehehehe…"
.
.
.
Itachi, yang kebetulan melewati area pasar tak sengaja melihat partnernya, Kisame sedang bersama seorang gadis. Cewek yang mengingatkannya pada kejadian di masa lalu saat Itachi masih menjadi tentara rookie.
"Cewek pirang itu." Ia mulai mengingat-ingat.
= Flashback =
Itachi membenci hidupnya.
Setelah membantai orang tuanya sendiri, ia ditinggal pergi adik satu-satunya, Sasuke yang setengah mati membenci dirinya. Sasuke kabur ke Uzbekistan bersama Orochimaru untuk sekolah coret-kecantikan-coret militer di sana.
Tak ada lagi orang tercinta, Itachi merasa hidupnya sudah tidak berarti apa-apa.
Satu-satunya yang kini ia cintai hanya Konoha, dan ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada desa ini.
Hingga suatu ketika di hari berhujan, Itachi terbaring di jalan yang jarang dilalui orang dengan luka tusuk di perutnya. Luka tusuk yang meski tidak terlalu fatal, namun menguras daya hidupnya tetes demi tetes.
Sedang sekarat begitu, terlintas banyak hal random yang menumpuk di benak Itachi sejak lama. Kemanakah sebenarnya ayam-ayam Adi? Rumah Jefri yang benar itu di sebelah mana? Apakah saat kita mengenyot susu Real Good kenyot, kita bisa tiba-tiba terkena hydrocephalus?
Bukan, bukan hal-hal seperti itu yang seharusnya terpikir di saat seperti ini.
Merasakan sakit di perutnya semakin parah, Itachi sadar ia telah menjadi korban iklan.
Ah, menanti ajal tanpa dikelilingi orang-orang tercinta di tempat yang dingin dan sepi seperti ini, mungkin pantas bagi kematian seorang pembantai, pikirnya.
.
.
.
"…bertahanlah! Bantuan akan segera datang!"
Suara yang panik dan histeris menyadarkannya. Dan saat Itachi membuka mata, ia temukan gadis pirang itu, bersimpuh di sisinya sembari menekan lukanya dengan kain.
Sudah lama sekali, Itachi tak pernah melihat orang lain tersenyum tulus padanya, apalagi bersedih untuknya. Namun gadis pirang itu; menangisinya seperti menangisi keluarga sendiri.
=oOo=
"…dia yang nolong gue waktu itu." Itachi tersadar dari lamunannya. Buru-buru ia lepas rompi anti peluru yang ia kenakan, lalu menghampiri Kisame dan Ino yang sedang berdiri di samping bunker sambil mengawasi situasi sekitar.
"Pakai ini ya." Itachi memberikan rompinya pada Ino. "Bahaya banget berkeliaran di luar bunker tanpa vest."
(9-.-)9
"Bekal makanan dari markas masih ada?" tanya Pein pada Konan yang berdiri agak jauh darinya. Pein-Konan dengan pakaian militer begitu nampak seperti Alice dan Carlos di Resident Evil Series. Sangar, tapi hawt gitu.
"Ada. Nih." Konan melempar bungkusan kroket berisi potongan keju, wortel dan kentang. Pein langsung membuka bungkusan tersebut dan memakannya, sekalian bungkus-bungkusnya. "Kroket." Itachi teringat sesuatu.
.
"Nan." Pein duduk sambil memegangi dagunya, berpikir keras.
"Hm?" sahut Konan tanpa menoleh. Doi lagi sibuk sama petasan kertasnya yang sampe sekarang doi sendiri nggak tahu gunanya apa untuk saat ini, selain buat ngagetin orang lewat, atau ngusir orang pacaran yang berdua-duaan saat jam sholat tarawih.
"Kamu inget nggak, sekitar tiga tahun lalu, waktu Deidara ngeram diri berhari-hari di bangsal?" tanya Pein, masih megangin dagunya.
"Tiga tahun lalu? …hmm. Oh! Iya, inget. Emang kenapa?" Konan menjawabnya sambil memilin kertas petasan menjadi gulungan-gulungan kecil.
"Waktu itu dia bilang kalo dia lagi ngerakit roket kan, Nan? IYA KAN, NAN?!" Pein bertanya lagi dengan nada suara yang mulai gak nyante. Hidungnya kembang-kempis.
"Iya. Terus? Satu, dua, tiga..." yang ditanya tetep woles sambil ngitungin petasan pilinannya.
Kesal melihat tingkah partnernya yang masa bodoh, Pein menyingkirkan semua petasan di meja Konan.
"Sayang, kumohon lihat aku dulu..." pintanya dengan wajah sendu, tatapannya nanar kayak anak kucing minta nete.
"Apa sih? Terus kenapa kalo Deidara bikin roket?" Merasa kesibukannya diusik, Konan mulai bete.
"Roket itu bisa kita gunakan untuk mengusir mereka yang telah memporakporandakan desa kita!" kata Pein berapi-api.
(9-.-)9
Deidara disekap di sebuah gubuk di hutan yang tak terkunci, pintunya hanya diikat dengan tali rotan yang tebal. Zetsu, dengan kemampuan khususnya, masuk ke dalam tanah dan muncul tepat di dalam gubuk tempat Deidara disekap. Ia lepaskan ikatan yang menjerat tubuh kawan cantiknya itu, lalu membakar tali yang mengunci pintu gubuk tersebut. Deidara pun bebas.
Dari hutan, Deidara menuju ke tenda terdekat untuk memakai perlengkapan militer yang sudah disiapkan. Di sana sudah ada Sasori yang memang menunggunya sambil beristirahat.
"1 jam 12 menit 56 detik," ujar Sasori sambil melihat ke stopwatch-nya dengan tampang bosan.
.
.
Sambil menunggu Deidara berkemas, Pein mengutus Tobi untuk pulang ke markas mencari kunci bangsal berisi roket di kamar Deidara.
.
.
Kunci itu berada di dalam sebuah kotak yang terbuat dari kayu jati, campur aduk tertimbun di antara kunci-kunci lain dan harta benda Deidara yang kurang begitu berharga. Tobi langsung membuka kotak yang memang tak dikunci itu, lalu menghubungi Deidara melalui walkie talkie-nya untuk memastikan ciri-ciri kunci yang dimaksud.
"Dei! Ini Tobi. Gue disuruh Pein buat cari kunci bangsal di kamar lo."
"Hah? Buat apaan, un?"
"Katanya, dia mau ngeluarin roket rakitan yang lo bikin tiga tahun lalu."
"Buat ngebom mereka? Ya elah, itu roket gue bikin cuma iseng-iseng, lagian belum tentu bisa ngeluncur, un!"
"Ya apa salahnya dicoba? Udah, bawel lu. Ini perintah pimpinan!"
"Ya udah, buruan cari, un!"
"Kuning, panjang?"
"Iya iya!"
"Dari kuningan?"
"Bisa jadi bisa jadi!"
"Dari besi?"
"Tidak tidak!"
"Dari katun?"
"Tidak tidak tidak!"
"Ada rendanya?"
"Tidak!"
"Warnanya putih kekuning-kuningan?"
"Tedaaaak!"
"Ada tulisan 'Deidara, Man of Beauty'?"
"Plis, Tob. Itu kolor gue. "
"Ou, sori. Jadi yang mana? Barang-barang lo campur aduk, gue sampe lupa tujuan awal gue buka box ini apa."
"Kunci yang kuning, paling panjang, paling berat, ada ukiran huruf B di salah satu sisinya, un."
"Oh... Ada, nih. Bilang kek dari tadi!"
Tobi langsung menutup pembicaraan dan bergegas keluar membawa kunci tersebut.
(9-.-)9
Setelah beberapa menit mengganti pakaiannya menjadi seragam perang, Deidara pun keluar dari tenda dengan gagahnya. Dia keliatan seperti banci salon yang lagi ikutan Be a Man.
"Watch out, Israel! Here I come! Hahahahaha –Ckrek!" katanya dengan ketawa khas pemain antagonis yang mau ngerebut harta anak yatim.
Sementara Sasori cuma duduk diem dengan tampang bete abis. Secara doi nungguin hampir 2 jam karena Deidara ngotot nggak mau ditinggal waktu ganti kostum. Takut ada yang nyulik lagi, katanya.
.
"BURUAN BENCONG NGGAK USAH FOTO-FOTO DULU NAPA." Sasori mencak-mencak.
Ooh, rupanya bunyi 'ckrek' tadi berasal dari kamera HP Deidara.
"Siap, un! Gue udah rapih! Ayok kita cabut, un!" ajak Deidara bersemangat.
"An un an un. Lo belom rapih, bihun. Reslitting celana lo kebuka." ujar Sasori sambil ngeloyor pergi menenteng senjatanya.
(9-.-)9
Pein telah memanggil semua teman-teman Akatsuki-nya untuk berkumpul di depan bangsal, menanti kedatangan si perancang roket, Deidara. Plus Ino yang turut berada di sana, telah mengenakan pakaian perang lengkap (pemberian Itachi) seperti yang lainnya.
Ino sebenarnya adalah mantan tentara medis senior, hanya saja dia terpaksa mengundurkan diri karena harus meneruskan usaha orang tuanya di dunia perbungaan. Makanya, Itachi sempat kaget saat melihat Ino cukup cekatan menggunakan LMG (Light Machine Gun) M249 SAW (Squad Automatic Weapon) yang terpasang diJeepmiliter sewaktu menuju bangsal bersama Kisame.
'Ratattatatatatatatatta!' Begitu bunyinya. Wow, cekatan sekali.
Deidara telah nampak dari kejauhan, berlari dengan Assault Rifle di punggungnya, sambil melambai-lambaikan tangan kanan seperti Miss Universe kebelet pup, diikuti Sasori yang berjalan menunduk sambil facepalm.
Yang dinanti akhirnya datang, semua yang berada di sana bersorak. Deidara langsung membuka pintu bangsal menggunakan kunci yang diberikan Tobi.
Sebuah roket berdiameter 1,5 m, dengan panjang 10 m dikeluarkan dari bangsal tersebut beserta peluncurnya yang terpasang pada kendaraan artilleri berupa truk ukuran sedang. Perangkat itu terdiri dari muatan roket (payload) yang ―semoga― mampu terbang dan jatuh tepat pada sasaran yang telah ditentukan (homing), setelah terlepas dan terpisah dari peluncur roket. Rudal ini berseri DEI174-124-AJH atau bisa dibaca: 'Deidara ajah'.
"Roket ini berbahan bakar propelan padat. Dan seinget gue, menurut perhitungan yang gue terapin di roket ini, ni roket bisa terbang kira-kira setinggi 5 km, homing hingga jarak 15 km, dan jangkauan ledakannya lumayan sempit, sekitar 4 km. Bisa dibilang ini mirip miniatur-nya Exocet MM38, rudalnya Prancis." Deidara mulai menjelaskan layaknya tutor, tatapannya serius. Yang lain cuma manggut-manggut.
"Cara kerja roket ini layaknya proses pelepasan pesawat angkasa luar. Saat roket melakukan separasi, payload dan motor berpisah. Dan…"
"…dan?" tanya Pein penasaran.
"…dan meskipun roket ini dilengkapi guidance waypoint system, jadi semacem target-seeker gitu, gue nggak terlalu yakin ni roket bakal meledak saat mengenai sasaran, hiks." Deidara pasrah.
"Penjelasannya nanti aja, Dei. Lo luncurin sekarang, soal ni roket berfungsi apa nggak, kita liat nanti. Demi Jashin, gue yakin roket lo pasti meledak," ujar Hidan sambil merangkul Deidara, memberi semangat.
Deidara tersenyum, "Oke. Tapi janji ya, lo semua jangan marah kalo ternyata ni rudal sistemnya rusak trus nyungsep ke sawah-sawah."
"Siaappp," semua berujar kompak.
Deidara pun naik ke belakang truk, mengarahkan tabung peluncur ke arah laut di mana kapal-kapal para tentara Israel berlabuh.
Ia menginstruksikan kepada semua yang ada untuk menjauh dari truk artilleri itu demi keamanan, dan siap mengoperasikan peluncur untuk melakukan pelepasan roket. Semua diam, memandangi roket yang cukup lama tidak menampakkan reaksi apapun.
Beberapa menit berselang, terlihat kepulan asap keluar dari bawah roket tersebut. Asapnya yang hitam dan bergumpal-gumpal membuat pandangan mereka kabur. Dan…
.
SYUUUUUZZZZZZZHHHHH….
Roket itu meluncur dengan sukses.
Semua orang bertepuk tangan sambil mendongak ke atas, terpukau melihat terbangnya roket itu sampai wujudnya hilang tertutup awan, hanya jejak asapnya saja yang terlihat.
Sekitar 3 menit menunggu, sebuah dentuman keras terdengar dari arah laut.
DDDDDHHHUUUAAAARRRRRRRRRRR…..
Deidara melompat girang lalu memeluk orang di sampingnya, Sasori. Tobi melompat ke dalam kepompong di sampingnya, memeluk Zetsu. Pein memeluk Konan. Hidan memeluk Kakuzu. Kisame memeluk Itachi. Itachi memeluk Ino. Yang setelah sadar, Ino refleks menamparnya. Walaupun pelan namun bunyinya cukup terdengar. PLAKKK!
Itachi berbalik badan lalu tersenyum nakal sambil memegangi bekas tamparan Ino, kemudian mengantongi bekas tamparan itu.
.
.
.
TAMAT
BBB
Suatu
hari, di sebuah gubuk kecil yang kumuh dan gak sehat, duduklah seorang
kakek kakek tua yang udah bau tanah di depan beranda gubuk itu. Beberapa
lama kemudian, segerombolan anak kecil yang bertampang 25 tahun keatas
(?) menghampiri kakek itu.
"Kakek Itachi!" seru seorang anak yang bertampang metal dengan pierchingnya yang hamper nutupin mukanya.
"Ada apa? Uhuk!uhuk!" jawab kakek Itachi sambil batuk kronis
"Kakek Itachi sakit?" Tanya anak yang selalu bawa tasbih kemana-mana yang bernama Hidan Al Sholehudin itu.
"Ya…batuk kronis! 2 tahun, Cucuku…" jawab Kakek Itachi
"Woah! 2 tahun? Kok gak mati-mati?" seru seorang anak cacat yang sering di sangka tanaman kantong semar yang bernama Nepenthes Zetsu itu
"Gak punya duit buat acara penguburan dan tahlilan ya?" tebak anak yang selalu pake cadar kayak keturunan orang Arab yang nyasar di daerah pedalaman gini.
"Gak sopan banget sih nyumpahin kakek tua dn gak berdaya gini?" ujar Hidan
"Mungkin Kakek kena karma karena dulu ngebaantai klan Kakek sendiri kan?" Tanya anak psikopat dan di kira anak haram karena gak jelas asal-usulnya yang bernama Tobi itu
"Dulu dia kuat dan sempat gabung ama genk Akatsuki! Jahat banget deh pokonya! Eh, sekarang jadi gelandangan di pedalaman gini!" bisik anak jadi-jadian yang bernama Kisame. Dia sering di juluki anak haram karena Ibunya kepergok selingkuh ama Hiu di laut saat suaminya sekarat di Rumah Sakit.
"Akatsuki ituh apa?" Tanya satu-satunya anak gadis dan manusia paling normal di situ yang bernama Konan
"Gak tau!" jawab satu-satunya anak gak jelas apa kelaminnya yang bernama Deidara
"Ada apa kalian kemari, cucuku?" Tanya Itachi ramah
"Cucu? Perasaan kakek aku gak jelek dan payah kayak kamu, deh!" cibir satu-satunya anak yang tertampan dan pendiam di situ yang bernama Sasori
"Jadi aku cucu kakek?" Desis Tobi heran dan bingung. "Jadi ibuku pernah selingkuh ama anak kakek Itachi ya?"
Bisa mati gue kalo cebol-cebol ini masih di sini, Batin Kakek Itachi
"Kakek, kami kesini mo denger cerita dari Kakek," ujar Zetsu
"Cerita apa, Cu?" Tanya Itachi
"Jangan panggil aku Cu ! Kayak aku ini Cupang aja!" gerutu Zetsu, Itachi tersenyum, di hati melaknat Zetsu
"Cerita apa aja! Asal jangan cerita porno!" sambung Sasori
"Ya mana mungkin Kakek cerita hal begituan pada kalian," Ujar Itachi mangkel
"Abis tampang Kakek kan tampang-tampang Kakek cabul!" lanjut Sasori
"Sasori! Lo mau kakek Itachi tambah cepet mati?" bisik Konan
"Banget!"
"Ya udah, Kakek ceritain kalian dongeng aja ya?" tawar kakek Itachi
"Alah! Dongeng? Kayak anak kecil aja!" cibir Pein
"Emang lo udah 17 taun ke atas apa?" Tanya Hidan
"Ya udah, kakek mulai ya! Kalian duduk, donk!" ujar Itachi sambil tersenyum manis. Tapi di mata anak2 sangat memuakkan!
Semua pun duduk lesehan (maklum, Itachi kere. Gak punya kursi/kertas / Koran) mengelilingi Itachi.
"Kakek, pangku aku dong!" rajuk Tobi manja!
Itachi pun segera meraih Tobi dalam pangkuannya
"Yei! Aku di pangku kakek, nih! Kalian iri kan duduk sendiri gitu?" kata Tobi girang
"Siapa yang iri di pangku Kakek-kakek keriput gitu?" desis Konan
"Baiklah…diam semuanya. Kita mulai nih ya?" kata Itachi
"Baik!" ujar mereka serempak
"Tunggu! Judulnya apa, Kek?" Tanya Kisame
"BBB,"
"Whoa! Hebat!"
"Suatu hari….,"ujar Itachi
Hiduplah seorang saudagar yang sangat kaya dan terkenal akan kekayaan dan kepelitannya! Dia bernama George Kakuzu….
"tunggu! Memangnya ada personil BBB yang namanya norak gitu?" Tanya Kisame heran
"George Kakuzu? Gak matching!" bisik Sasori pada Pein
"Kakuzu?perasaan aku tau deh nama itu!" desis Kakuzu mengingat-ingat
Itachi menggeleng. "Bukan BBB yang grup vocal itu,"
"Trus apa?"
"Beauty, Beast dan Babu,"
"?"
Setiap bulan saudagar itu selalu berdagang (aslinya ngerampok, sih!) ke luar Kota, luar negeri bahkan luar Bumi untuk mendapatkan barang dagangan yang paling murah dengan jumlah banyak.
Saudagar itu punya 3 putri yang cantik yang bernama Elenna Sasori, Alexandra Tobi dan Waldjinah Deidara
"heh?perasaan aku juga tau ketiga nama itu, deh," Pikir Kakuzu kaget
"Itu kan nama aku!" ujar Sasori kaget" wah, jadi artis nih!"
"Biasa, deh!aku aja yang namanya ke pake gak over girang kayak kamu gitu!" cibir Deidara
"Itu karena kamu kan setengah cewek, jadi gak kaget di jadiin pemeran cewek,"ujar Hidan
Suatu tahun, suatu bulan, suatu tanggal, suatu hari, suatu jam, suatu menit dan suatu detik….
Saudagar itu akan pergi lagi ke pedagang luar negeri untuk mengadakan kerjasama dalam usaha mereka. Saudagar itupun mengumpulkan anak-anaknya sebelum ia pergi.
"Ada apa sih, Daddy?" ujar Elenna Sasori sambil malas-malas menuju George Kakuzu sambil meluk boneka Barbie nya
"Abah mau pergi lagi ya?" ujar Alexandra Tobi sambil nyuguhin teh
"Bapak mau ke mana lagi, sih?" Waldjinah Deidara cemberut manja
"Tunggu, kok Waldjinah sih? Semua tokonya namanya Eropa banget! Kok pake nama Waldjinah yang penyanyi asal Solo itu, sih?" protes Deidara
"Biasa, deh! Nama itu kan di sesuaikan dengan yang punya wajah!" ujar Sasori
"Ya udah deh, kalo gitu namanya Katiyem Deidara aja ya?" tawar Itachi
"AAARRGGGHHH!"
George Kakuzu menatap teh yang di suguhin Alexandra Tobi
"Teh apa ini?"
"Teh Botol Sosro," jawab Alexandra Tobi
"Iklan kali!" cibir Elenna Sasori
"Berapa harganya? Beli di toko mana?" Tanya George Kakuzu
"1500 perak, di toko sebelah,"
"sebelah mana?di sebelah utara, selatan, barat timur, kan ada toko semua,"
"Sebelah tenggara , Abah!" jawab Alexandra Tobi
"1500 ya?" gumam George Kakuzu. " berarti kamu hari ini gak dapet makan malam ya!"
"Kenapa?"
"Jatah kamu kan buat beli teh ini,"
"yang minum kan Abah!"
"Siapa yang minta?"ujar George Kakuzu sambil nyeruput teh nya
"Makanya, jadi orang jangan suka caper deh!" sindir Elenna Sasori
"Tapi Abah minum juga , kan?" lanjut Alexandra Tobi protes
"Kan ada pepatah, gak boleh nolak rezeki! Kamu sendiri yang ngasih kan? Ayah gak minta, lho! Lagian kenapa sih gak bikin sendiri aja? Kan lebih hemat," oceh George Kakuzu
"Tapi Abah gak pernah mau minum teh buatanku," lanjut Alexandra Tobi
"Mana ada orang yang mau minum teh rasa kopi?"
Katiyem Deidara menatap George Kakuzu dengan tatapan cemas dan sedih
"Kenapa Katiyem?" Tanya George
"panggil aku Deidara, dong Pak!"
"Iya! Kenapa Deidara?"
"Bapak berangkat kemana?untuk apa?"
"Ke pedagang luar negeri, nak! Mau kerjasama!"
"Kerjasama ngerampok toko orang?" Tanya Elenna Sasori
"Yah… begitulah!"
"Ke luar negeri? Negeri mana, Bah? Ke Jerman? Australia? Ato kemana?" Tanya Alexandra Tobi antusias
"ke pedagang luar negeri, Alex!"
"Kok Alex? Aku kan cewek!" protes Alexandra Tobi
"Iya deh, Andra!"
"Abah! Aku bukan grup band tauk!" Alexandra Tobi mencak-mencak
"Iya iya! Tobi" George Kakuzu mengelus-ngelus kepala Alexandra Tobi
"Jadi kemana, Bah? Ke Jerman, bah? Atau kemana, Bah?" Tanya Alexandra Tobi
"Kamu kayak orang Batak aja, bah-bah mulu!" dengus Katiyem Deidara
"Ayah kan bilang mau ke pedagang luar negeri," jelas George Kakuzu. "Maksudnya ke pedagang swasta gitu,"
"Oh….," Alexandra Tobi ngowoh. "Sudah ku duga,"
George Kakuzu berdiri dari duduknya. "Baiklah! Ayah pergi dulu ya!"
"Eh? kok Gak nawarin kita minta oleh-oleh apa gitu?" protes Elenna Sasori
"Gak usah! Buang-buang duit aja!" elak George Kakuzu
"Tapi di ceritanya kan gitu! Jangan maen ngubah, dong!" dukung Alexandra Tobi
"Oke! Daripada peran gue diganti! Kalian minta apa?" Tanya George Kakuzu gak ikhlas
"Aku mau kalung berlian seharga 600!"Seru Elenna Sasori semangat
"Aku mau baju yang di lapisi emas, perak, mutiara, intan dan berlian juga mutiara!" lanjut Alexandra Tobi
"Oi! Kamu mau beli baju apa toko perhiasan? Ngrentep amat!" sindir Elenna Sasori
"Gak bisa! Permintaan kalian terlalu mustahil! Minta apa kek gitu?" kali ini giliran George Kakuzu yang protes
"Perasaan di ceritanya semua keinginan anaknya di penuhi tanpa protes, deh!" pikir Elenna Sasori
"Oke! Biar Ayah yang putusin! Elenna Sasori akan Ayah bawain Boneka 5000an dan Alexandra Tobi akan Ayah belikan ikat rambut yang 5000an juga!"
"Tapi rambutku kan pendek! Mana bisa di ikat?" sela Alexandra Tobi
"Oke! Bakso semangkok aja deh, ya!"
"Dasar Daddy pelit!" dengus Elenna Sasori
"Kenapa sih Abah kita harus orang itu?" dukung Alexandra Tobi
"Heh! Kamu gak minta apa-apa?" Tanya George Kakuzu pada Katiyem Deidara sambil berharap semoga jawabanya tidak
Katiyem Deidara menggeleng, George Kakuzu legah
"Aku kan gak mau ketinggalan," ujar Katiyem Deidara yang langsung sukses bikin mental George Kakuzu ngedrop
"Aku Cuma mau Bapak selamat dalam perjalan dan selalu di lindunginya! Semoga dapat pulang dengan sehat walafiat!" ujar Katiyem Deidara
George Kakuzu merasa hatinya tersentuh
"Cuma itu?" desisnya tak percaya
Katiyem Deidara mengangguk. "Setelah Ayah pulang, aku minta nama ku diganti jadi agak lebih keren! Itu aja!"
"Baiklah," Ujar George Kakuzu legah campur terharu
"Tapi pergantian namanya harus disertai ada pesta yang meriah lho ya!" lanjut Katiyem Deidara
"Sudah ku duga," batin George Kakuzu sedih campur nyesel
Akhirnya, saat itu juga, George Kakuzu meninggalkan ketiga putrinya untuk bekerjasama dengan pedagang swasta
"Sudah berakhir?" Tanya Sasori heran
"Gak jelas amat endingnya," desis Pein
"Perasaan aku kenal deh dengan prang pelit dan nyebelin kayak George Kakuzu itu!" bisik Kakuzu pada Zetsu
"Aku juga kenal kok! Nyebelin banget emang! Pengen gue bunuh aja tuh orang!" Ujar Zetsu sambil menatap Kakuzu berapi-api dengan tatapan mengancam
"Lanjuuuuuuutttttt!" teriak Tobi semangat di pangkuan Kakek Itachi
Di perjalannya, George Kakuzu melihat setangkai bunga bangkai di pinggir jalan. Kok tumben amat ya bunga langka seperti itu ada di pinggir jalan seperti itu? George Kakuzu pun seketika dapat ide
"Hoi! Berhenti!" George Kakuzu memukul sopir pribadinya dengan pukulan yang mampu membuat sopir itu patah tulang bahu
"Apa gak bisa Tuan mukulnya pelan2?" Tanya Hidan AL-Muharram, si sopir. "Oh Dewa Jashin…."
"Alah! Diem deh! Di pukul gitu aja mengeluh! Dasar tulang cewek!" omel George Kakuzu
"Ade Rai pun bisa Ko-Id kalo di pukul kayak tadi!" kata Hidan
Dengan cuek George Kakuzu turun dari truk Pick Up nya dan menuju jalan di mana bunga bangkai tadi berada
"Woi!" teriak Hidan keras. "Awas nyasar lo! Gue tunggu di mobil ya!"
Sesampai di jalan di mana bunga bangkai itu berada, George Kakuzu menatap bunga itu dengan tatapan bahagia…..terharu . Lalu dia membungkuk dan mencium bunga bangkai itu.
"Hah…..wanginya….," ujarnya senang… "Dimana-mana benda yang bisa menghasilkan uang itu baunya harum banget… bisa menghasilkan ribuan dollar nih kalo di jual!" ujarnya senang dan bahagia
"Tambah kaya gue…!" pekiknya senang sehingga membuat orang2 yang lewat pada mandang risih dan aneh ke dia
"HOI! BRENGSEK!" Teriak seseorang dari kejauhan dan berlari menghampiri George Kakuzu
George Kakuzu noleh, merasa tidak asing dengan sebutan brengsek yang kerap di ucapkan orang-orang padanya
"Ada pa?" Tanya George Kakuzu tersinggung
"Berani-beraninya kamu mendekati bunga bangkai itu!"
"Kenapa gak berani? Ini kan Cuma bunga! Bukan bangkai sungguhan!"
"Kamu sudah lancang! Pake nyium bunga itu, lagi!"
"Yang penting gak nyium kamu, kan?"
"GGGRRRHHH!"
"Kenapa kamu?" Tanya George Kakuzu innocent
"Kamu udah lancang, barani bercanda ama saya lagi!"
"Kenapa sih kamu? Apa salahnya saya mendekati bunga ini dan menciumnya? Apa bunga ini istri kamu yang di ktuk jadi bunga?" ujar George Kakuzu mulai ngaco
"Itu bunga saya yang nanam tau!"
"Jadi kamu tukang kebun? Sudah ku duga dari pertama kali liat muka kamu,"
"Itu bunga milik saya! Saya yang punya!"
"Oh?"
"…..,"
"Kenapa kamu nanamnya di sini? Gak punya pekarangan atau gak punya rumah?"
"Saya sengaja nanam di sini buat saya pamerin! Jarang-jarang ka nada orang yang punya bunga langka di sini!"
"Saya ga….,"
"Cukup! Kamu ikut saya," potong orang itu sambil mencekal lengan George Kakuzu. "Kamu hatus ikut ke rumah saya untuk saya jadiin sebagai pembantu! Sebagai ganjaran karena udah berani niyum bunga saya!"
"APA? PEMBOKAT?"
"Pembantu!"
"Apa saya punya tampang jadi seperti itu?"
"Khas banget malah!" ujar orang itu sambil nyeret George Kakuzu dengan paksa
"Jangan….jangan perkaos aku…jangan culik aku… jangan jual aku!"
"Diem lo! Sok komersil lo!"
"Apa salah ku? Cuma nyium bunga busuk gitu juga!"
"Kalo tau busuk kenapa kamu cium?"
"Aku kan gak ada niat buat ngambil bunga itu dan menjualnya karena bunga itu punya nilai jual yang tinggi dan bisa menghasilkan ratusan ribu dollar!"
"Jadi emang itu niat kamu?"
"TOLONG….!" Teriak George Kakuzu tapi gak ada yang sudi nanggepin teriakannya
Sementara itu di truk pick up, Hidan lagi asyik dengerin mp3 dengan headset hp nya
George Kakuzu (70 M dari Hidan): "TOLONG….!"
Hidan: "…."
George Kakuzu (200 M dari Hidan): "WOI BUDEG! TOLONGIN GUE….!"
Hidan: "…."
George Kakuzu (300 M dari Hidan):"GUE PECAT LO! TOLONGIN GUE BRENGSEK!"
Hidan:"….."
George Kakuzu (sudah lenyap)
Hidan: "Tuan kok lama ya?"
Sesampainya di rumah orang yang menculiknya, George Kakuzu merasa letih karena abis di seret-seret sekaligus abis teriak-teriak minta tolong
Orang itu mendorong George Kakuzu ke lantai hingga George Kakuzu jatuh bersimpuh.
"Kasar banget sih kamu?" bentak George Kakuzu jengkel
"Ini rumah saya!"
"Siapa bilang ini rumah Mama Laurent?" George Kakuzu melihat-lihat keadaan rumah itu
"Gila! Rumah kamu bagus banget! Padahal tadi saya kira kamu adalah gelandangan yang gila!"
"APA?"
"No repeat! BUSYET! Kenapa gak ngomong kalo mau bawa saya ke rumah se mewah ini? Kalo bilang dari tadi, pasti saya mau dengan suka rela!'
"Ingat! Posisi kamu di sini pembantu!"
"Perasaan di ceritanya aku Cuma di tahan deh! Gak di jadiin pembantu!"
"Terserah gue dong!"
"Boleh kenalan gak?" ujar George Kakuzu sambil tersenyum dan ngulurin tangannya "Nama saya George Alfred Kakuzu! Keturunan Prancis-Spanyol! Saudagar terkaya di kota saya!"
Orang itu cuek sambil berlalu dari depan George Kakuzu "Buat apa saya kenalan ama pembantu?"
George Kakuzu Cuma mengawasi orang itu menghilang dari depannya "Udah jelek, galak lagi! Gue doain lo jodoh lo ntar sama jelek dengan lo! Mertua lo entar mati gara-gara punya mantu kayak lo!"
Seseorang menghampiri George Kakuzu dari belakang
"HOI!"
"WHOA! DEWA JASHIN!" Teriak George Kakuzu yang niruin trade mark sopirnya. Setelah ia menoleh, di litany seorang pemuda yang mukanya penuh dengan tindik.
"Apa telinga kamu di depan semua? Kok pake anting di situ? Bisa kena HIV/AIDS lho kalo kebanyakan," jawab George Kakuzu sok dosen
"Aku Doglas Pein. Kamu siapa?" Tanya cowok itu
"Oh….. Nama saya George Alfred Kakuzu! Keturunan Prancis-Spanyol! Saudagar terkaya di kota saya!"
"Oh…jadi kamu saudagar terkenal itu ya?" Tanya Pein kaget
"YA! Itulah saya!" Ujar George Kakuzu bangga sambil nepuk2 dadanya
"Yang terkenal karena kepelitannya itu kan?" lanjut Pein
George Kakuzu melipat dahinya. "Ngomong-ngomong, orang tadi siapa sih?"
"Orang yang mana?"
"Yang mukanya jelek dan galak banget itu! Yang sombong dan sok pamer dengan nanam bunga bangkai berbau busuk di tepi jalan! Yang mulutnya bau itu, tuh!"
"Oh… itu ya? Dia majikan saya, lho!"
"Lho? Jadi kamu juga babu di sini?"
"Sudah 45 taun malah!"
"HAH? Emang umur kamu berapa?"
"25,"
"Kok bisa kerja disini selama itu?"
"45 taun itu, 13 taun ibu saya kerja disini, 13 taun ayah kerja disini, dan 19 taun saya yang kerja di sini. Saya kerja disini mulai umur 6 taun! Waktu itu kerjaan saya Cuma nyabutin uban Tuan Kisame,"
"Oh? jadi darah kamu tuh asli darah babu ya? Ibu anak bapak kok pada mbabu semua! Di tempat yang sama lagi!'
"Abis mo giman lagi?"
"o ya…ampe lupa! Majikan kamu tadi siapa namanya?"
"O ya…ampe lupa! Namanya H. Kisame,"
"Pantes mukanya mirip perpaduan antara manusia dan hiu! H. Kisame? H tuh maksudnya dia dah haji gitu?"
"Iya! Haji!"
"Haji apa?"
"Hajingan!"
"Kek! Kenapa aku harus jadi babu, sih? Jadi babunya orang kayak gini juga!" Pein nunjuk Kisame. "Tampang model gini juga!" protes Pein
"Iya! Tampang model TKP kan?" ujar Sasori
"TKP? Emang kamu pikir aku aspal apa pake kayak TKP!"
"TKP tuh tenaga kerja pria!"
"Awas kamu!" Pein mengacungkan jari tengahnya
"Udah-udah! Kalian diem kalo mau di lanjutin ceritanya," lerai Kakek Itachi
"Trus kenapa aku ahrus jadi si jelek?" protes Kisame
"Jawabannya mudah! Karena kamu emang jelek! Gitu aja gak nyadar!" timpal Konan
"terima aja, yah?" hibur Deidara. "Orang jelek emang selalu kebagian yang jelek-jelek juga!"
Sudah 2 bulan lebih George Kakuzu di tawan di rumah Kisame dan di jadiin Budak! Makan Cuma 1 hari setengah piring, itupun piring bayi. Tidurnya di gudang yang banyak kecoak dan berbagai hewan yang menjijikan. Sebagai seorang saudagar yang kehidupannya sudah terbiasa mewah, tentu saja George Kakuzu merasa syok dan sedih!
"Elenna….Alexandra…..Katiyem….," rintih George Kakuzu suatu malam di gudang tempatnya tidur
"nama siapa tuh? Istri-istri kamu ya? Poligami, donk?" Tanya Pein yang sekamar ama George Kakuzu
"Anak-anak aku tau!" bentak George Kakuzu jengkel
"Kamu kangen ama mereka ya?"
"Banget,"
"Aku sih gak punya saudara jadi gak bisa kangen ama siapa-siapa,"
"…"
"Hidup sebatang kara,"
"….."
"Tanpa tujuan. Hanya mengabdi pada Tuan Kisame,"
"…"
"Tapi aku kadang-kad….."
"Yang pantes curhat tuh aku apa kamu, sih? Di sini kan aku yang lagi sedih!"
Terdengar ketukan pintu gudang dari luar. Dan setelah terbuka, nongol lah wajah Kisame yang bikin George Kakuzu pengen nagis sekeras-kersnya
"Ikut saya!"
"Kemana? Apa aku mau di eksekusi mati?" Tanya George Kakuzu
"Udah cepet! Bacot banget!"
Pein mendorong punggung George Kakuzu. "Cepet sono! Temen gue yang jadi babu di sini pernah di makan ama Tuan Kisame gara-gara lemot lho!"
WUZZZ! Seketika George Kakuzu lari mendahului Kisame
"Kamu boleh pulang," ujar Kisame bersahaja (?)
"WAPPA?" George Kakuzu kaget setengah sekarat
"BUDEG! KAMU BOLEH PULANG!"
"Ah….Tuan pasti bohong!"
"Ya udah, kalo gak mau!"
"MAUUUU!" George Kakuzu teriak girang
"Baiklah! Tapi ada syaratnya,"
"ternyata gak gratisan, ya?" George Kakuzu lemas
"Sama kayak kamu kan?"
"Syarat apa nih?"
"Kamu harus bawa seorang dari ketiga putrimu kesini untuk menggantikan posisimu,"
"OKE DEH! BERES!"
"? Bukannya seharusnya kamu protes dan gak setuju?"
"oh iya!" George Kakuzu langsung pasang wajah melas. "Tuan…. Saya mohon…jangan gitu donk…. Jangan libatkan putri saya…." George Kakuzu ngemis2. "Eh? Tapi darimana tuan tau kalo saya punya putri?"
"itu kan dah sesuai dangan scriptnya bodoh!"
"Oh iya ya…. Tuan, saya mohon jangan ambil putri saya!"
"Kalo gak mau, kamu bakal jadi budak saya selamanya!"
"jangan2 nih orang mau punya maksud tertentu ama anak gue! Jangan2 anak gue mau di kawin ma dia!"Batin George Kakuzu cemas.
"Gimana? Mau gak?"
"Gak papa deh! Daripada gue disini trus gak bisa usaha, gue bakal jadi babu selamanya, harta gak bertambah dan ludes, jadi mending salah satu dari anak gue aja yang gantiin gue!" Batin George Kakuzu
"Oke deh Tuan!" George Kakuzu langsung ngambil kopernya dan langsung kembali ke hadapan Kisame
"Itu koper isi apa?" Kisame nunjuk koper yang di bawa George Kakuzu
"Isi baju dan berkas2,"
"Oh…."
"….."
"….."
"…."
"…"
"….."
"Kamu ngapain masih disini?" Tanya Kisame
"Yah…Tuan pasti ngerti!"
"Gak tuh!"
"Yah…setidaknya kasih saya ongkos pulang, dong!"
"Oh….,"
Kisame ngeluarin beberapa uang dari dompetnya
"Nih!" Kisame nyerahin beberapa lembar uang ke George Kakuzu
"? Kok segini?" George Kakuzu menatap risih ke lembar 1000an dan 2 keping 500
"mang napa?"
"Masak pesangon saya segini?"
"Katanya tadi minta buat ongkos pulang aja? Masak segitu gak cukup sih buat naik metromini?"
"Tapi…"
"Gak mau?"
"Mau…" jawab George Kakuzu lemas dan pasrah
"Sono minggat! Jangan lupa ama janji lo! Kalo ingkar, gue sewa dukun buat nyantet lo!"
"IYA! Habis manis sepah di buang!"
"Permen ya?"
"ABAH!"
"DADDY!"
"BUAPAK!"
Ketiga putri George Kakuzu menyambutnya bak seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang
"Putriku!" George Kakuzu berlari menyambut ketiga putrinya dengan air mata keempat makhluk itu berpelukan dan saling cipika-cipiki. Alexandra Tobi sampai mencium kaki Abahnya berkali-kali
"Kenapa lama, Bapak?" Tanya Katiyem Deidara
"Baru aja 2 bulan! Biasanya kan sampe 2 taun!" ujar Elenna Sasori
"Abah gak lupa bawa oleh2 kan?" Tanya Alexandra Tobi antusias
"Tentu saja!" Jawab George Kakuzu
"Makasih!" Alexandra Tobi memeluk Abahnya
"Tentu saja lupa, maksudnya," lanjut George Kakuzu yang langsung membuat Alexandra Tobi mendorongnya dengan kesal
"Sudah ku duga!" cibir Elenna Sasori
"Bulan lalu, taun lalu dan setiap Abah pulang dari bepergian selalu alasan lupa!" gerutu Alexandra Tobi
"Tapi kamu kan Cuma mesen bakso! Bali aja di warung Pak Sarmin, beres kan?" ujar George Kakuzu
"Aku gak pesan! Itu kan Abah aja yang mutusin seenaknya!"
"Bapak kok kucel?" Tanya Katiyem Deidara. "Sebenarnya kerjaan Bapak tuh saudagar atau kuli bangunan sih, ampe kumus2 gini!"
"Ayah abis jadi ba….," George Kakuzu tidak melanjutkan kalimatnya. Ampir aja keceplosan…..
"Ba?" Tanya Elenna Sasori
"Ba….um…ba….bandar! ya! Bandar!" tukas George Kakuzu
"Hah? Bapak jadi Bandar narkotika?" pekik Katiyem Deidara
"Bodoh! Bukan Bandar gituan! Bandar dagang, tau!" elak George Kakuzu
"Bandar dagang? Baru denger!" kata Elenna Sasori
"Itu kan karena saking ndesonya kamu!" ejek Alexandra Tobi
"Daripada elo! Dasar primitive kampungan!"
"Hidan mana, Bah?" Tanya Alexandra Tobi. "Kok tumben Abah sendirian? Biasanya ama tuh ustadz mulu kayak penganten baru!"
"Emang kamu mau punya ibu tiri kayak Hidan?" Tanya Elenna Sasori
"HAH? IYA! MANA TUH ORANG SIALAN?" Teriak George Kakuzu yang teringat ama Hidan yang telah berlagak sok budeg dengan tidak menolongnya dari penculikan itu!
"Kok balik Tanya?"
"Gara gara tuh orang Ayah jadi kucel kayak gelandangan gini!" ujar George Kakuzu
"Tapi pantes kok, Dad! Matching ama muka!"
"Dasar anak durhaka!gak nyesel Ayah gak beliin kamu berlian!"
"Tapi meski di puji, tetep aja kan Daddy sok pikun!"
"Kemarin, ada surat kaleng, Pak!" kata Katiyem Deidara
"Surat yang gak ada nama pengirimnya, gitu?"
"Bukan! Tapi surat yang dimasukin kaleng susu kuda liar bekas!"
"Kayak susu Alexandra waktu bayi, ya?" George Kakuzu mengingat-ingat
"Tapi di dalamnya ada nama Hidan, Pak! Tulisannya jelek banget! Tintanya pake warna pink lagi! Dia Cuma bilang…
Ini Abdi Dewa Jashin, menyampaikan bahwa yang bernama George Alfred Kakuzu telah hilang dari pengamatan saya! Sampai saat ini yang bersangkutan belum saya temukan! Dalam waktu 2 X 24 jam setelah menerima surat ini, jika yang bersangkutan belum kembali, harap segera hubungi kantor polisi terdekat!
Terima kasih
Salam
(Dewa Jashin)
"Gitu, Pak!" jelas Katiyem Deidara
"Kamu hafalin surat norak tadi?" Tanya Elenna Sasori
"Ya! Jaga2 kalo tuh surat hilang!"
"Sekarang suratnya dimana?"
"Tadi aku pake buat ngelap kotoran di lantai!"
"Kotoran? Pake kertas?" Tanya Alexandra Tobi dengan wajah jijik
"Kok surat tadi kedengaran seperti surat penahanan dari polisi ya? Resmi banget kata2nya!"gumam George Kakuzu
""Jadi selama ini Daddy hilang kemana?"
"Yah….kesasar dikit lah!"
"Kesasar kemana?"
"Ke daerah Pakistan,"
"DIKIT?"
"Udah deh! Yang penting sekarang Ayah sudah pulang, kan? Nanti Hidan biar Ayah pecat!"
"Oh ya!" pekik Katiyem Deidara seperti teringat sesuatu. "Ada bagian surat yang belum aku sampaikan….
Salam
Dewa Jashin
NB: Saya mengundurkan diri sebelum saya di undurkan! Dewa Jashin telah memanggil saya
"BRENGSEEEEEEKKKKKK!"
"Ada apa sih, Bapak memanggil aku?" Tanya Katiyem Deidara saat di panggil George Kakuzu di ruang ngupil (ruang santai)!
"Anak tercintaku…,"
"Tumben bilang gitu? Biasanya anak haramku,"
"Hehehe….itu becanda, kok!"
"Ada apa sih? Pasti ada yang Bapak mau kan? Gak biasanya kan Bapak muji2 gini! Dasar komersil!"
"Kamu judes banget sih? Gak cocok meranin putriku!"
"….."
"Anakku…."
"hm?"
"Kamu minggat ya dari sini! Plis…..!"
"?" Katiyem Deidara menatap George Kakuzu dengan tatapan yang seolah-olah berkata "Siapa lo sebenernya?"
"Ada pa sih?"
"Kamu minggat ya?"
"Kenapa?"
"Well, bukan minggat sih, Cuma pergi dari rumah dengan barang-barang kamu untuk jangka waktu yang agak lama! Yah…minimal 2 taun!"
"itu sama aja dengan minggat tau!"
"Kamu akan Ayah kirim ke teman Ayah!"
"Bapak mau menjualku?"
"Jangan sok laku, deh! Siapa yang mau beli kamu?"
"Trus kenapa?"
"Ayah pernah judi trus kalah! Dan Ayah terpaksa taruhin kamu karena waktu itu uang Ayah habis!"
"Bohong banget! Mana mungkin Bapak mau buang2 uang untuk judi? Buat kasih pengamen cepek aja gak mau!"
"Tapi saat itu Ayah stress karena ada masalah kerja! Jadi tanpa sadar Ayah taruhin kamu!" ucap George Kakuzu dengan acting yang serius dan raut muka nyesel yang sukses bikin Katiyem Deidara percaya (dikit)
"Kenapa harus aku…..?" rintih Katiyem Deidara
"Ayah gak punya pilihan lain!"
"Kan masih ada Alexandra dan Elenna!"
"Mereka terlalu mahal buat di jadiin taruhan!"
"Jadi menuruT Bapak aku ini murahan? Tega!"
"Katiyem….,"
"Dsar Bapak goblok! Udah jual aku, manggil aku Katiyem lagi!"
"Ayah gak jual kamu!Ayah Cuma jadiin kamu taruhan!"
"Sama ja, bodoh!"
"Deidara…Sebagai laki2, Ayah gak bisa ingkari janji Ayah…,"
"Kok Ayah pasrah gitu, sih? Harusnya Ayah berusaha mertahanin aku kan? Anak sendiri juga!"
"Kalo begitu, nanti ceritanya gak bakal kelar!"
"Hiks!hiks!"
"Pergilah anak ku….pergilah dengan tenang…."
"Aku bukan mau mati, tauk!"
Setelah diringi dengan acting nangis George Kakuzu, Katiyem Deidara pun langsung pergi dengan membawa 3 pakaian, 1 selimut, 1 bantal, 1 guling, 1 kulkas dan 1 televisi layar datar. Elenna Sasori dan Alexandra Tobi pun Cuma bisa menangis sedih dengan kejadian ini. Akhirnya, Katiyem Deidarapun pergi setelah mendapat peta menuju rumah orang yang katanya temen Bapaknya itu!
"Kenapa kalian nangis?" Tanya George Kakuzu pada Sasori dan Tobi setelah Deidara pergi
"Gak ada yang masakin kita lagi," isak Alexandra Tobi
"Gak ada yang nyeterika baju…" tambah Elenna Sasori
"Hu…hu….hu…." George Kakuzu terisak
"Hu…hu….HUWAHAHAHAHAHAHA!"
"?" Elenna dan Alexandra
"Jatah pengeluaran hidup berkurang!OYEAH!YEAH!" George Kakuzu mengacung-acungkan tinjunya dengan senang ke udara
"Daddy….."
"Abah…."
"bersyukurlah karena aku tidak memilih kalian! Pangerannya terlalu jelek! Gak mungkin bisa jadi tampan sekalipun udah dapat pacar yang mencintainya!"
"Ngemeng epe sih nih orang?" desis Alexandra Tobi
"Daddy elo tuh!"
"Enak aja! Aku Cuma anaknya ibu kok!"
"Aku juga!"
"Oke! Dia Cuma pantes jadi bapaknya Katiyem, ya!"
"Sebentar!" Deidara memotong cerita Itachi. "Jangan-jangan aku yang jadi Beautynya, ya?"
"Baru nyadar, lo?" sindir Hidan
"Gak mau!" protes Deidara
"Mang napa? Enak kan jadi orang cantik?"
"Aku gak mau endingnya entar aku kawin ama Kisame!"
"Itu kan Cuma cerita!" hibur Itachi
"Lagian gak mungkin aku ngawinin kamu beneran, kan?" Kisame tersinggung
"Tapi….."
"Udah deh! Sudah tanggung nih!" lerai Sasori jengkel
Sudah 9 bulan 10 hari Katiyem Deidara menjadi pembantu di rumah H. Kisame untuk menggantikan posisi Bapaknya! Perlakuan yang diterima Katiyem Deidara pada awalnya sangat tidak menyenagkan, lebih sadis daripada penganiyayaan TKI di …
Kisame : "Katiyem, tolong tempelin tanganmu ke setrika ini. Sudah panas atau belum. (sambil nunjuk setrikaan yang udah ngepulin asap)
Atau….
Kisame : "tolong beliin Dodol ke Garut, jalan kaki ya, biar sehat!"
Atau….
:Kisame : "coba hitung berapa banyak bintang di langit!"
Dan yang paling berat bagi Katiyem Deidara adalah….
Kisame : "tolong katakan "Tuan Kisame tampan" sebanyak 10kali!"
Dan Katiyem Deidara harus menahan rasa mualnya ketika dengan terpaksa mengatakan hal itu
Tapi pada akhirnya, sedikit demi sedikit perlakuan yang di terima Katiyem Deidara agak mendingan… Kisame pun perlahan-lahan mulai baik padanya. Tapi justru kebaikan Kisame itu yang membuat Katiyem Deidara makin sumpek!
Suatu hari….
"Katiyem…"
"Deidara!" uajr Katiyem Deidara memotong ucapan Kisame
"Iya! Deidara, nanti malam aku enaknya pake baju apa ya?"
"Apa aja!"
"Emang aku ini pantes ya, pake baju apa aja! Terlalu charming sih!"
"Apa aja! Gak ada pengaruh kok ama muka!" Katiyem Deidara jengkel. "Perasaan yang jadi Beastnya gak genit kayak kamu, deh!"
"hehehe…bisa aja kamu!"
"Tuan…"
"Hm?"
"Jangan hm! Itu kan trade mark saya!"
"Iya deh! Un?"
"Itu juga trade mark saya dalam versi jepang!"
"Iya iya! Ada apa sih?"
"Saya kangen sama keluarga saya! Saya mau ijin pulang…." Ujar Katiyem Deidara sambil pasang muka sedih
"Gak boleh! Belum tentu keluarga kamu kangen ama kamu!"
"Tuan..saya mohon…"
Kisame melirik Katiyem Deidara, hatinya agak luluh ketika melihat wajah campuran antara perempuan dan laki2 itu mengeluarkan air mata dan air hidung
"hhh…."
"hhh?"
"Kamu boleh pulang, dengan satu syarat!"
"Bener Cuma satu?"
"Iya deh, 3 syarat!"
"Apa? Jangan yang mustahil, ya!"
"Pertama, kamu boleh pulang hanya dalam waktu 4 X 24 jam saja!"
"Insya Allah!"
"Kedua, kamu harus bawa oleh2 kalo balik kesini! Yah, minimal mobil Mercedes lah!"
"Insya Allah, everything is possible in Gods will! Kalo gak bisa, yah minimal gerobak aja ya!"
"Yang ketiga, sebelum pergi, bilanglah "Tuan Kisame tampan sebanyak 10 kali!"
"Aku kan bilang, syaratnya jangan yang mustahil dan menimbulkan fitnah kayak gitu!'
"Ya udah, berarti kamu gak boleh pulang!"
"Ugh! Iya deh!"
Akhirnya Katiyem Deidarapun hendak berangkat pulang ke rumah keluarganya tinggal, hatinya senag sekaligus muak memikirkan syarat ketiga yang sebentar lagi harus ia lakukan.
"Tuan, saya permisi ya!" ujar Katiyem Deidara sambil membalikkan badan
"Syarat ketiga!"
"Ugh! Ingat, deh!" batin Katiyem Deidara mangkel. "Maafkan aku, Tuhan! Aku terpaksa berbuat murtad!"
"Tuan Kisame ganteng! Tuan Kisame ganteng! Tuan Kisame ganteng!" teriak Katiyem Deidara frustasi sambil meremin mata rapat2.
"Ya udah! Pergi sana!"
Katiyem Deidara pun melangkah pergi, setelah jauh dari Kisame di berteriak sekeras-kerasnya.
"KISAME NARSIS! KISAME JELEK! KISAME GAK PERNAH NGACA!"
"KATIYEM! KEMBALI KAMU!"
Terlambat, Katiyem sudah nebeng pesawat jet yang lewat di depannya (?)
Di rumah George Kakuzu…
"Ini hari yang keberapa Katiyem pergi yah?" kata Elenna Sasori lirih
"Yang ke 10 bulan" jawab Alexandra Tobi
"Gue Tanya hari! Bukan bulan!" Elenna Sasori sewot
"Kalo gitu ya, 300 hari! Gitu aja heboh!"
"Kalo begitu, ayo kita rayakan hari penurunan pengeluaran kita!" ujar George Kakuzu semangat
"Pesta, Dad?" Elenna Sasori antusias dan di jawab dengan anggukan mantap George Kakuzu
"Pesta apa, Bah?" Alexandra Tobi tak mau kalah
"Pesta makan bakso di warung Pak Sarmin! Hebat kan?"
"?"
"mending aku ikut pengajian aja!" ujar Elenna Sasori jengkel sambil pergi dari situ
"Aku mending ikut Elenna pengajian aja!" tambah Alexandra Tobi sambil menyingkir dari situ juga
"Lho? Kok pada pergi? Padahal aku punya rencana nraktir bakso trus beli perhiasan di mall!"
Gumam George Kakuzu heran tapi senang
Siang itu, George Kakuzu lagi asyik nikmatin baksonya Pak Sarmin! Tanpa kedua putrinya! Dia Cuma beli satu kuah bakso! Cuma kuahnya aja! George Kakuzu kan terkenal hemat dan ke-irit-en.
"Ah,kenyang….(?)…" kata George Kakuzu setelah kuahnya habis
"Hoy! Mau nambah kuah gak? Kuah saya masih tinggal 1 drum, nih!" ujar Pak Sarmin jengkel pada pelanggannya yang hobi makan (minum) kuah baksonya! Mana bayarnya Cuma 200perak lagi! Kuah bakso+sabun cuci piring n sendok+sambal (apalagi George Kakuzu kalo ngambil sambal hamper banyak sambalnya daripada kuahnya) kan gak cukup 200. mana sekarang cabe pada naik lagi!
"Ya! Bungkusin aja!" jawab George Kakuzu. "buat oleh2 Alex dan eL-eN-A" gumamnya
"Kamu mau bakso gak? Mau ku kasih kucingku sih, tapi kucingku lagi gak ada disini! Digantiin kamu aja mau gak?" lanjut Pak Sarmin
"Emang aku kucing?" gerutu George Kakuzu sewot, tapi diambilnya juga! "Tapi ini bukan daging tikus kan? Halal kan?"
"Alah! Halal-halal! Selama ini yang masuk perut kamu kan barang dosa semua!"
George Kakuzu pun mencomot bakso yang berukuran gede itu
Tiba-tiba…
"Hmmmpppffhhh!" George Kakuzu melotot-lotot sambil megangin lehernya
"Apa lo? " bentak Pak Sarmin tersinggung. "Maen melotot-lotot! Lo nantangin gua? Mo nyekik gua?"
"Hmmmmpppfffhhhh!" George Kakuzu geleng2 sambil masih melotot dan megangin lehernya
"Apa lo? Jangan ham-hem aja!sini lo, tua bangka!"
"Hmpppfffhhh!" kini wajah George Kakuzu memerah
"Hahaha! Lo marah ya? Sini lo kalo gak terima!"
Kini wajah George Kakuzu membiru
Tiba-tiba seorang cewek yang berpenampilan khas babu, menghampiri mereka
"HAH! BAPAK!" Ujar cewek itu yang tak lain adalah Katiyem Deidara yang sebelumnya mau mampir beli kuah bakso disini .Bukan karena nurun George Kakuzu, tapi karena uang Katiyem Cuma cukup buat beli kuahnya aja!
"Kamu siapa, Le?" Tanya Pak Sarmin yang terkesima liat kecantikan Katiyem Deidara (?).
"La-Le la-le! Kamu pikir aku lele apa?" ujar Katiyem Deidara sewot
"kamu cantik sekali" ujar Pak Sarmin yang membuat paras Katiyem Deidara memerah
Baru kali ini ada yang ngomong gue cantik! Hihihi…! Katiyem Ge-Er! Tapi percuma donk kalo yang muji kakek-kakek kayak gitu? Lanjut Katiyem Deidara dalam hati
"Bapak!" katiyem Deidara berpaling pada George Kakuzu yang masih melotot dengan wajah tambah membiru
"Heh? Kenapa kamu panggil dia bapak?" Pak Sarmin heran, gak menaruh perhatian sama sekali pada George Kakuzu yang lagi sakratul maut di depannya ini
"Dia ini bapakku tau!" kata Katiyem Deidara frustasi
"BUAPAKMU? HUAPPA? GAK! ITU FITNAH! KAKUZU PASTI SELINGKUH DENGAN LADY DIANA!" Teriak Pak Sarmin histeris yang bikin pengunjung lainya pada noleh risih ke dia
"Emang kenapa?" Tanya Katiyem Deidara heran dan seketika lupa pada George Kakuzu. Ktiyem Deidara malah menatap Pak Sarmin sambil menuggu jawabannya
"Kamu kan cantik! Masak orang kayak gitu punya anak seperti kamu? Gak level! Kena kutukan apa sih kamu sampai punya bapak seperti dia?"
"Benerkah?" Tanya Katiyem Deidara terharu dan terpuji
"Bener! Liat! Masak mata kamu biru, trus mata Kakuzu ijo seperti mata khas para koruptor!"
"Iya-ya?" Katiyem Deidara mikir
"Pasti mata kamu itu didapat dari ibu kamu yang kayak Lady Diana!" Pak Sarmin sok tau!
"Lady Diana? Berarti aku saudaranya Prince Harry donk? Uh…" Katiyem Deidara kagum "Tapi gak, ah! Belum tentu! Kakakku yang Alexandra Tobi dan Elenna Sasori matanya merah kok!"
"Berarti Bapak kamu tuh play boy! Udah selingkuh ama Lady Diana, selingkuh ama Iblis kolong jembatan lagi!"
"Iblis kolong jembatan?"
"Buktinya lahirlah kakak-kakamu itu yang bermata merah!"
"Oh… turs, istri bapak yang asli gimana?"
"Perasaan istri bapakmu kan mandul! Jadi gak bisa punya anak!"
Gak mungkin! Mana mau Lady Diana jadi selingkuhan orang pelit dan mata duitan kayak Bapak?
Pikiran Katiyem Deidara pun terhenti saat George Kakuzu menyodorkan kertas dengan susah payah!
Katiyem Deidara membacanya…
Hoy! Anak bego! Tolongin gue! Masa aktif gue mo abis!"
"Bapak kenapa?" Tanya Katiyem Deidara gak ngeh.
"Gue keselek bakso, goblok! Cepet tolong gue, jangan malah ngayalin hal2 norak kayak tadi!"
"HUH!" Katiyem Deidara cemberut "Udah minta tolong, masih ngatain aku goblok lagi! Jangan minta tolong ama orang goblok! Minta tolong ama Einstein sana!"
"Iya-iya! Einstein kan udah mati! lLha gitu gimana aku mau ngatain kamu pinter?"
"Ya makanya! Mati dulu, baru minta tolong ama Einstein! Lagian katanya sekarat, masih sempet aja nulis surat panjang gitu!"
"Bapak mu keselek ya?" gumam Pak Sarmin
"Gak! Lagi nyandu! Ya iyalah!"
BUAK! Akhirnya Katiyem Deidara memukul kebawah kepala George Kakuzu dengan sekuat tenaga hingga bakso yang nongkrong di tenggorokan George Kakuzu melorot ke perut dengan pemaksaan
"Gimana Bapak? Agak baikan?"
"Agak…" gumam George Kakuzu klenger
"Syukurlah…"
"Agak tambah dekat dengan Malaikat Izroil…."
"HAH? Agama Bapak apa sih?"
Baru ku tau Katiyem mewarisi ilmu judo ku! Gini ya rasanya Hidan pas ku pukul dulu? Hiks! Jadi nyesel….
"Cepet bawa Ayah ke rumah…"
"Gak ke rumah sakit?"
"Mahal tau!"
"Sekarat aja masih mikirin duit! Gak tau gimana nanti Bapak pas mati!"
Katiyem Deidara pun minta ijin ke Pak Sarmin untuk pulang
"Ya Sudah! Mudah2an cepat mati ya…" gumam Pak Sarmin setelah Katiyem Deidara dan Ayahnya pulang. "biar gak tersiksa gitu! Orang kayak gitu Cuma bek-bek i ndunyo ae!"
Sudah 5 hari ini George Kakuzu sakit gara2 insiden konyol bakso Pak Sarmin. George Kakuzu di rawat di rumah. Lehernya bengkak kayak orang kena penyakit gondok. Susah nelen makanan kayak orang sariawan. Dan susah BAB kayak orang yang susah BAB
"Daddy, ke rumah sakit aja deh!" usul Elenna Sasori
George Kakuzu menggeleng lemah. "Mahal…"
"Murah kok, rumah sakit yang abis kebakaran pasti biayanya gratis!" tambah Alexandra Tobi jengkel
"Pasti Pak Sarmin ngasih baksonya gak ikhlas ampe Ayah kena sakit gini!"
"….."
"Tapi enak sih baksonya…" lanjut George Kakuzu
Smentara itu di kamar Katiyem Deidara….
"Ini sudah lewat 4 hari… Tuan Kisame marah gak ya? Pasti marah lah! Aku bakal di apain ya? Bakal di kanibal! Aku balik gak ya enaknya? Yah…kapan2 deh!" kata Katiyem Deidara Tanya sendiri di jawab sendiri
"KATIYEM!" Teriak Alexandra Tobi dari ruang bawah
"GAK ADA YANG NAMANYA KATIYEM!" Balas Katiyem Deidara yang selalu sensi saat nama kecilnya itu di sebut
"LHA NGAPAIN LO JAWAB? MERASA NAMANYA KATIYEM YA?" Balas Alexandra Tobi jengkel
Dengan perasaan yang sangat gondok, akhirnya Katiyem Deidara turun ke lantai bawah dan menemui kakaknya.
"apa sih? Kapan sih kalian bisa manggil aku Deidara?"
"Gak pernah bisa!" dengus Alexandra Tobi
"Bapak kamu tuh kumat sakit tenggorokannya! Rawat sono!" lanjut Tobi
"kamu kan juga anaknya"
"Gak lagi! Sakit2an gitu juga! Bentar lagi pasti Ko-Id!"
Akhirnya Katiyem Deidara masuk ke kamar George Kakuzu. Di sana juga ada Elenna Sasori
"Kenapa lagi sih, Pak?" dumal Katiyem Deidara yang masih dendam gara2 Bapaknya jadiin dia taruhan sehingga dia jadi babu!
"Kamu kok judes banget sih? Harusnya lebih ramah donk!" gerutu Elenna Sasori
"Katiyem…."
"Deidara!" potong Katiyem Deidara judes
"Iya… kenapa kamu balik lagi, nak?"
"Gak boleh?"
"Boleh sih…. Tapi kalo nanti Ayah di santet Tuan Kisame gimana?"
"Santet?"
"Gak papa kan? Kalo gitu Bapak kan gak tersiksa terus!" ujar Katiyem Deidara
Dan….
"Dan?" Tanya Hidan heran begitu Kakek Itachi berhenti cerita
"Dan apa , Kek?" Tanya Tobi manja
Kakek Itachi gak nerusin ceritanya. Ia malah diam sambil menatap suatu arah tanpa bergerak
"Dasar dublek! Gimana lanjutannya?" bentak Sasori frustasi
"Gak usah di lanjutin, deh!" usul Deidara yang merasa beruntung atas terhentinya cerita itu, sehingga ia tidak akan kawin dengan Kisame yang sebagai Beast itu
"Tanggung, nih! Udah lesehan di tempat kumuh gini juga!" tambah Konan
"Aku mau tau endingnya si pelit George Kakuzu! Moga2 aja dia mati keselek bakpao!" kata Kakuzu semangat
CETIL! Sasori langsung mraktekin sentilan mautnya pada Kakek Itachi. Kakek Itachi gak ngeh dan terjatuh
"?" semuanya pada menatap heran
"Kenapa dia?" Pein heran
"Jangan-jangan…"
"Mati?" desis Tobi
"APA?" Kisame syok! "Gara-gara kamu, Sor! Dia mati gara-gara kamu!"
"Kok aku sih?" Sasori gak terima campur panic." Apa sentilananak kecil itu bisa membuat orang tewas konyol gini?"
"Bisa aja kan?" lanjut Kisame
"Bukan aku!" teriak Sasori
"Tobi kasih nafas buatan, ah!" uajr Tobi yang langsung memberi pernafasan mouth to mouth pada Itachi
"wekz!" uajr Hidan
"Yaoi banget!" tambah Kisame
"Aku gak liat! Aku gak mau liat!" ujar Sasori sambil merem rapat-rapat
sedangkan Pein lagi asyik nge-shot adegan pencabulan itu dengan kamera Hpnya
"Pein, nanti Bluetooth-in ke hp ku ya!" bisik Sasori
"woah!" teriak Tobi setelah yaoi dengan Itachi. "pahit banget rasanya!"
"Kakek Itachi belum hidup?" desis Konan merinding
"Udah mati!"
"Kenapa? Hiks! Padahal ceritanya belum selesai! Oh Dewa Jashin… kembalikan dia sampai ceritanya kelar aja!" Hidan mewek
"untung aja dia mati!" gumam Deidara senang "ceritanya gak bakal di lanjutin deh!"
Semuanya pada menatap jasad Itachi yang lagi melotot (kebanyakan dosa, makanya pose matinya sangar gitu) dan pucat itu, yang telah tak bernyawa
"Hoahhmmm!" Sasori menguap "piulang, yuk! Nagntuk aku!" Sasori dengan santai pergi niggalin gubuk peyote itu
"Iya! Aku juga! Dasar Kakek sialan! Sebelum mati kelarin ceritanya dulu donk!" uajr Pein sambil menendang kepala Itachi lalu pergi nyusul Sasori
"Payah!" Kisame juga langsung pergi
"mati ya? Kelar ya?" gumam Konan "Hah! Gak seru! Ke neraka sono!" Konan nyambit kepala Itachi dengan bata sebelum dia pergi
Lalu semua anak-anak itu juga pergi.
"Hoi! Kenapa Kakek Itachi mati?" masih terdengar suara heran Tobi dari kejauhan.
"Tau! Tanya aja sendiri!"
-END—
"Kakek Itachi!" seru seorang anak yang bertampang metal dengan pierchingnya yang hamper nutupin mukanya.
"Ada apa? Uhuk!uhuk!" jawab kakek Itachi sambil batuk kronis
"Kakek Itachi sakit?" Tanya anak yang selalu bawa tasbih kemana-mana yang bernama Hidan Al Sholehudin itu.
"Ya…batuk kronis! 2 tahun, Cucuku…" jawab Kakek Itachi
"Woah! 2 tahun? Kok gak mati-mati?" seru seorang anak cacat yang sering di sangka tanaman kantong semar yang bernama Nepenthes Zetsu itu
"Gak punya duit buat acara penguburan dan tahlilan ya?" tebak anak yang selalu pake cadar kayak keturunan orang Arab yang nyasar di daerah pedalaman gini.
"Gak sopan banget sih nyumpahin kakek tua dn gak berdaya gini?" ujar Hidan
"Mungkin Kakek kena karma karena dulu ngebaantai klan Kakek sendiri kan?" Tanya anak psikopat dan di kira anak haram karena gak jelas asal-usulnya yang bernama Tobi itu
"Dulu dia kuat dan sempat gabung ama genk Akatsuki! Jahat banget deh pokonya! Eh, sekarang jadi gelandangan di pedalaman gini!" bisik anak jadi-jadian yang bernama Kisame. Dia sering di juluki anak haram karena Ibunya kepergok selingkuh ama Hiu di laut saat suaminya sekarat di Rumah Sakit.
"Akatsuki ituh apa?" Tanya satu-satunya anak gadis dan manusia paling normal di situ yang bernama Konan
"Gak tau!" jawab satu-satunya anak gak jelas apa kelaminnya yang bernama Deidara
"Ada apa kalian kemari, cucuku?" Tanya Itachi ramah
"Cucu? Perasaan kakek aku gak jelek dan payah kayak kamu, deh!" cibir satu-satunya anak yang tertampan dan pendiam di situ yang bernama Sasori
"Jadi aku cucu kakek?" Desis Tobi heran dan bingung. "Jadi ibuku pernah selingkuh ama anak kakek Itachi ya?"
Bisa mati gue kalo cebol-cebol ini masih di sini, Batin Kakek Itachi
"Kakek, kami kesini mo denger cerita dari Kakek," ujar Zetsu
"Cerita apa, Cu?" Tanya Itachi
"Jangan panggil aku Cu ! Kayak aku ini Cupang aja!" gerutu Zetsu, Itachi tersenyum, di hati melaknat Zetsu
"Cerita apa aja! Asal jangan cerita porno!" sambung Sasori
"Ya mana mungkin Kakek cerita hal begituan pada kalian," Ujar Itachi mangkel
"Abis tampang Kakek kan tampang-tampang Kakek cabul!" lanjut Sasori
"Sasori! Lo mau kakek Itachi tambah cepet mati?" bisik Konan
"Banget!"
"Ya udah, Kakek ceritain kalian dongeng aja ya?" tawar kakek Itachi
"Alah! Dongeng? Kayak anak kecil aja!" cibir Pein
"Emang lo udah 17 taun ke atas apa?" Tanya Hidan
"Ya udah, kakek mulai ya! Kalian duduk, donk!" ujar Itachi sambil tersenyum manis. Tapi di mata anak2 sangat memuakkan!
Semua pun duduk lesehan (maklum, Itachi kere. Gak punya kursi/kertas / Koran) mengelilingi Itachi.
"Kakek, pangku aku dong!" rajuk Tobi manja!
Itachi pun segera meraih Tobi dalam pangkuannya
"Yei! Aku di pangku kakek, nih! Kalian iri kan duduk sendiri gitu?" kata Tobi girang
"Siapa yang iri di pangku Kakek-kakek keriput gitu?" desis Konan
"Baiklah…diam semuanya. Kita mulai nih ya?" kata Itachi
"Baik!" ujar mereka serempak
"Tunggu! Judulnya apa, Kek?" Tanya Kisame
"BBB,"
"Whoa! Hebat!"
"Suatu hari….,"ujar Itachi
Hiduplah seorang saudagar yang sangat kaya dan terkenal akan kekayaan dan kepelitannya! Dia bernama George Kakuzu….
"tunggu! Memangnya ada personil BBB yang namanya norak gitu?" Tanya Kisame heran
"George Kakuzu? Gak matching!" bisik Sasori pada Pein
"Kakuzu?perasaan aku tau deh nama itu!" desis Kakuzu mengingat-ingat
Itachi menggeleng. "Bukan BBB yang grup vocal itu,"
"Trus apa?"
"Beauty, Beast dan Babu,"
"?"
Setiap bulan saudagar itu selalu berdagang (aslinya ngerampok, sih!) ke luar Kota, luar negeri bahkan luar Bumi untuk mendapatkan barang dagangan yang paling murah dengan jumlah banyak.
Saudagar itu punya 3 putri yang cantik yang bernama Elenna Sasori, Alexandra Tobi dan Waldjinah Deidara
"heh?perasaan aku juga tau ketiga nama itu, deh," Pikir Kakuzu kaget
"Itu kan nama aku!" ujar Sasori kaget" wah, jadi artis nih!"
"Biasa, deh!aku aja yang namanya ke pake gak over girang kayak kamu gitu!" cibir Deidara
"Itu karena kamu kan setengah cewek, jadi gak kaget di jadiin pemeran cewek,"ujar Hidan
Suatu tahun, suatu bulan, suatu tanggal, suatu hari, suatu jam, suatu menit dan suatu detik….
Saudagar itu akan pergi lagi ke pedagang luar negeri untuk mengadakan kerjasama dalam usaha mereka. Saudagar itupun mengumpulkan anak-anaknya sebelum ia pergi.
"Ada apa sih, Daddy?" ujar Elenna Sasori sambil malas-malas menuju George Kakuzu sambil meluk boneka Barbie nya
"Abah mau pergi lagi ya?" ujar Alexandra Tobi sambil nyuguhin teh
"Bapak mau ke mana lagi, sih?" Waldjinah Deidara cemberut manja
"Tunggu, kok Waldjinah sih? Semua tokonya namanya Eropa banget! Kok pake nama Waldjinah yang penyanyi asal Solo itu, sih?" protes Deidara
"Biasa, deh! Nama itu kan di sesuaikan dengan yang punya wajah!" ujar Sasori
"Ya udah deh, kalo gitu namanya Katiyem Deidara aja ya?" tawar Itachi
"AAARRGGGHHH!"
George Kakuzu menatap teh yang di suguhin Alexandra Tobi
"Teh apa ini?"
"Teh Botol Sosro," jawab Alexandra Tobi
"Iklan kali!" cibir Elenna Sasori
"Berapa harganya? Beli di toko mana?" Tanya George Kakuzu
"1500 perak, di toko sebelah,"
"sebelah mana?di sebelah utara, selatan, barat timur, kan ada toko semua,"
"Sebelah tenggara , Abah!" jawab Alexandra Tobi
"1500 ya?" gumam George Kakuzu. " berarti kamu hari ini gak dapet makan malam ya!"
"Kenapa?"
"Jatah kamu kan buat beli teh ini,"
"yang minum kan Abah!"
"Siapa yang minta?"ujar George Kakuzu sambil nyeruput teh nya
"Makanya, jadi orang jangan suka caper deh!" sindir Elenna Sasori
"Tapi Abah minum juga , kan?" lanjut Alexandra Tobi protes
"Kan ada pepatah, gak boleh nolak rezeki! Kamu sendiri yang ngasih kan? Ayah gak minta, lho! Lagian kenapa sih gak bikin sendiri aja? Kan lebih hemat," oceh George Kakuzu
"Tapi Abah gak pernah mau minum teh buatanku," lanjut Alexandra Tobi
"Mana ada orang yang mau minum teh rasa kopi?"
Katiyem Deidara menatap George Kakuzu dengan tatapan cemas dan sedih
"Kenapa Katiyem?" Tanya George
"panggil aku Deidara, dong Pak!"
"Iya! Kenapa Deidara?"
"Bapak berangkat kemana?untuk apa?"
"Ke pedagang luar negeri, nak! Mau kerjasama!"
"Kerjasama ngerampok toko orang?" Tanya Elenna Sasori
"Yah… begitulah!"
"Ke luar negeri? Negeri mana, Bah? Ke Jerman? Australia? Ato kemana?" Tanya Alexandra Tobi antusias
"ke pedagang luar negeri, Alex!"
"Kok Alex? Aku kan cewek!" protes Alexandra Tobi
"Iya deh, Andra!"
"Abah! Aku bukan grup band tauk!" Alexandra Tobi mencak-mencak
"Iya iya! Tobi" George Kakuzu mengelus-ngelus kepala Alexandra Tobi
"Jadi kemana, Bah? Ke Jerman, bah? Atau kemana, Bah?" Tanya Alexandra Tobi
"Kamu kayak orang Batak aja, bah-bah mulu!" dengus Katiyem Deidara
"Ayah kan bilang mau ke pedagang luar negeri," jelas George Kakuzu. "Maksudnya ke pedagang swasta gitu,"
"Oh….," Alexandra Tobi ngowoh. "Sudah ku duga,"
George Kakuzu berdiri dari duduknya. "Baiklah! Ayah pergi dulu ya!"
"Eh? kok Gak nawarin kita minta oleh-oleh apa gitu?" protes Elenna Sasori
"Gak usah! Buang-buang duit aja!" elak George Kakuzu
"Tapi di ceritanya kan gitu! Jangan maen ngubah, dong!" dukung Alexandra Tobi
"Oke! Daripada peran gue diganti! Kalian minta apa?" Tanya George Kakuzu gak ikhlas
"Aku mau kalung berlian seharga 600!"Seru Elenna Sasori semangat
"Aku mau baju yang di lapisi emas, perak, mutiara, intan dan berlian juga mutiara!" lanjut Alexandra Tobi
"Oi! Kamu mau beli baju apa toko perhiasan? Ngrentep amat!" sindir Elenna Sasori
"Gak bisa! Permintaan kalian terlalu mustahil! Minta apa kek gitu?" kali ini giliran George Kakuzu yang protes
"Perasaan di ceritanya semua keinginan anaknya di penuhi tanpa protes, deh!" pikir Elenna Sasori
"Oke! Biar Ayah yang putusin! Elenna Sasori akan Ayah bawain Boneka 5000an dan Alexandra Tobi akan Ayah belikan ikat rambut yang 5000an juga!"
"Tapi rambutku kan pendek! Mana bisa di ikat?" sela Alexandra Tobi
"Oke! Bakso semangkok aja deh, ya!"
"Dasar Daddy pelit!" dengus Elenna Sasori
"Kenapa sih Abah kita harus orang itu?" dukung Alexandra Tobi
"Heh! Kamu gak minta apa-apa?" Tanya George Kakuzu pada Katiyem Deidara sambil berharap semoga jawabanya tidak
Katiyem Deidara menggeleng, George Kakuzu legah
"Aku kan gak mau ketinggalan," ujar Katiyem Deidara yang langsung sukses bikin mental George Kakuzu ngedrop
"Aku Cuma mau Bapak selamat dalam perjalan dan selalu di lindunginya! Semoga dapat pulang dengan sehat walafiat!" ujar Katiyem Deidara
George Kakuzu merasa hatinya tersentuh
"Cuma itu?" desisnya tak percaya
Katiyem Deidara mengangguk. "Setelah Ayah pulang, aku minta nama ku diganti jadi agak lebih keren! Itu aja!"
"Baiklah," Ujar George Kakuzu legah campur terharu
"Tapi pergantian namanya harus disertai ada pesta yang meriah lho ya!" lanjut Katiyem Deidara
"Sudah ku duga," batin George Kakuzu sedih campur nyesel
Akhirnya, saat itu juga, George Kakuzu meninggalkan ketiga putrinya untuk bekerjasama dengan pedagang swasta
"Sudah berakhir?" Tanya Sasori heran
"Gak jelas amat endingnya," desis Pein
"Perasaan aku kenal deh dengan prang pelit dan nyebelin kayak George Kakuzu itu!" bisik Kakuzu pada Zetsu
"Aku juga kenal kok! Nyebelin banget emang! Pengen gue bunuh aja tuh orang!" Ujar Zetsu sambil menatap Kakuzu berapi-api dengan tatapan mengancam
"Lanjuuuuuuutttttt!" teriak Tobi semangat di pangkuan Kakek Itachi
Di perjalannya, George Kakuzu melihat setangkai bunga bangkai di pinggir jalan. Kok tumben amat ya bunga langka seperti itu ada di pinggir jalan seperti itu? George Kakuzu pun seketika dapat ide
"Hoi! Berhenti!" George Kakuzu memukul sopir pribadinya dengan pukulan yang mampu membuat sopir itu patah tulang bahu
"Apa gak bisa Tuan mukulnya pelan2?" Tanya Hidan AL-Muharram, si sopir. "Oh Dewa Jashin…."
"Alah! Diem deh! Di pukul gitu aja mengeluh! Dasar tulang cewek!" omel George Kakuzu
"Ade Rai pun bisa Ko-Id kalo di pukul kayak tadi!" kata Hidan
Dengan cuek George Kakuzu turun dari truk Pick Up nya dan menuju jalan di mana bunga bangkai tadi berada
"Woi!" teriak Hidan keras. "Awas nyasar lo! Gue tunggu di mobil ya!"
Sesampai di jalan di mana bunga bangkai itu berada, George Kakuzu menatap bunga itu dengan tatapan bahagia…..terharu . Lalu dia membungkuk dan mencium bunga bangkai itu.
"Hah…..wanginya….," ujarnya senang… "Dimana-mana benda yang bisa menghasilkan uang itu baunya harum banget… bisa menghasilkan ribuan dollar nih kalo di jual!" ujarnya senang dan bahagia
"Tambah kaya gue…!" pekiknya senang sehingga membuat orang2 yang lewat pada mandang risih dan aneh ke dia
"HOI! BRENGSEK!" Teriak seseorang dari kejauhan dan berlari menghampiri George Kakuzu
George Kakuzu noleh, merasa tidak asing dengan sebutan brengsek yang kerap di ucapkan orang-orang padanya
"Ada pa?" Tanya George Kakuzu tersinggung
"Berani-beraninya kamu mendekati bunga bangkai itu!"
"Kenapa gak berani? Ini kan Cuma bunga! Bukan bangkai sungguhan!"
"Kamu sudah lancang! Pake nyium bunga itu, lagi!"
"Yang penting gak nyium kamu, kan?"
"GGGRRRHHH!"
"Kenapa kamu?" Tanya George Kakuzu innocent
"Kamu udah lancang, barani bercanda ama saya lagi!"
"Kenapa sih kamu? Apa salahnya saya mendekati bunga ini dan menciumnya? Apa bunga ini istri kamu yang di ktuk jadi bunga?" ujar George Kakuzu mulai ngaco
"Itu bunga saya yang nanam tau!"
"Jadi kamu tukang kebun? Sudah ku duga dari pertama kali liat muka kamu,"
"Itu bunga milik saya! Saya yang punya!"
"Oh?"
"…..,"
"Kenapa kamu nanamnya di sini? Gak punya pekarangan atau gak punya rumah?"
"Saya sengaja nanam di sini buat saya pamerin! Jarang-jarang ka nada orang yang punya bunga langka di sini!"
"Saya ga….,"
"Cukup! Kamu ikut saya," potong orang itu sambil mencekal lengan George Kakuzu. "Kamu hatus ikut ke rumah saya untuk saya jadiin sebagai pembantu! Sebagai ganjaran karena udah berani niyum bunga saya!"
"APA? PEMBOKAT?"
"Pembantu!"
"Apa saya punya tampang jadi seperti itu?"
"Khas banget malah!" ujar orang itu sambil nyeret George Kakuzu dengan paksa
"Jangan….jangan perkaos aku…jangan culik aku… jangan jual aku!"
"Diem lo! Sok komersil lo!"
"Apa salah ku? Cuma nyium bunga busuk gitu juga!"
"Kalo tau busuk kenapa kamu cium?"
"Aku kan gak ada niat buat ngambil bunga itu dan menjualnya karena bunga itu punya nilai jual yang tinggi dan bisa menghasilkan ratusan ribu dollar!"
"Jadi emang itu niat kamu?"
"TOLONG….!" Teriak George Kakuzu tapi gak ada yang sudi nanggepin teriakannya
Sementara itu di truk pick up, Hidan lagi asyik dengerin mp3 dengan headset hp nya
George Kakuzu (70 M dari Hidan): "TOLONG….!"
Hidan: "…."
George Kakuzu (200 M dari Hidan): "WOI BUDEG! TOLONGIN GUE….!"
Hidan: "…."
George Kakuzu (300 M dari Hidan):"GUE PECAT LO! TOLONGIN GUE BRENGSEK!"
Hidan:"….."
George Kakuzu (sudah lenyap)
Hidan: "Tuan kok lama ya?"
Sesampainya di rumah orang yang menculiknya, George Kakuzu merasa letih karena abis di seret-seret sekaligus abis teriak-teriak minta tolong
Orang itu mendorong George Kakuzu ke lantai hingga George Kakuzu jatuh bersimpuh.
"Kasar banget sih kamu?" bentak George Kakuzu jengkel
"Ini rumah saya!"
"Siapa bilang ini rumah Mama Laurent?" George Kakuzu melihat-lihat keadaan rumah itu
"Gila! Rumah kamu bagus banget! Padahal tadi saya kira kamu adalah gelandangan yang gila!"
"APA?"
"No repeat! BUSYET! Kenapa gak ngomong kalo mau bawa saya ke rumah se mewah ini? Kalo bilang dari tadi, pasti saya mau dengan suka rela!'
"Ingat! Posisi kamu di sini pembantu!"
"Perasaan di ceritanya aku Cuma di tahan deh! Gak di jadiin pembantu!"
"Terserah gue dong!"
"Boleh kenalan gak?" ujar George Kakuzu sambil tersenyum dan ngulurin tangannya "Nama saya George Alfred Kakuzu! Keturunan Prancis-Spanyol! Saudagar terkaya di kota saya!"
Orang itu cuek sambil berlalu dari depan George Kakuzu "Buat apa saya kenalan ama pembantu?"
George Kakuzu Cuma mengawasi orang itu menghilang dari depannya "Udah jelek, galak lagi! Gue doain lo jodoh lo ntar sama jelek dengan lo! Mertua lo entar mati gara-gara punya mantu kayak lo!"
Seseorang menghampiri George Kakuzu dari belakang
"HOI!"
"WHOA! DEWA JASHIN!" Teriak George Kakuzu yang niruin trade mark sopirnya. Setelah ia menoleh, di litany seorang pemuda yang mukanya penuh dengan tindik.
"Apa telinga kamu di depan semua? Kok pake anting di situ? Bisa kena HIV/AIDS lho kalo kebanyakan," jawab George Kakuzu sok dosen
"Aku Doglas Pein. Kamu siapa?" Tanya cowok itu
"Oh….. Nama saya George Alfred Kakuzu! Keturunan Prancis-Spanyol! Saudagar terkaya di kota saya!"
"Oh…jadi kamu saudagar terkenal itu ya?" Tanya Pein kaget
"YA! Itulah saya!" Ujar George Kakuzu bangga sambil nepuk2 dadanya
"Yang terkenal karena kepelitannya itu kan?" lanjut Pein
George Kakuzu melipat dahinya. "Ngomong-ngomong, orang tadi siapa sih?"
"Orang yang mana?"
"Yang mukanya jelek dan galak banget itu! Yang sombong dan sok pamer dengan nanam bunga bangkai berbau busuk di tepi jalan! Yang mulutnya bau itu, tuh!"
"Oh… itu ya? Dia majikan saya, lho!"
"Lho? Jadi kamu juga babu di sini?"
"Sudah 45 taun malah!"
"HAH? Emang umur kamu berapa?"
"25,"
"Kok bisa kerja disini selama itu?"
"45 taun itu, 13 taun ibu saya kerja disini, 13 taun ayah kerja disini, dan 19 taun saya yang kerja di sini. Saya kerja disini mulai umur 6 taun! Waktu itu kerjaan saya Cuma nyabutin uban Tuan Kisame,"
"Oh? jadi darah kamu tuh asli darah babu ya? Ibu anak bapak kok pada mbabu semua! Di tempat yang sama lagi!'
"Abis mo giman lagi?"
"o ya…ampe lupa! Majikan kamu tadi siapa namanya?"
"O ya…ampe lupa! Namanya H. Kisame,"
"Pantes mukanya mirip perpaduan antara manusia dan hiu! H. Kisame? H tuh maksudnya dia dah haji gitu?"
"Iya! Haji!"
"Haji apa?"
"Hajingan!"
"Kek! Kenapa aku harus jadi babu, sih? Jadi babunya orang kayak gini juga!" Pein nunjuk Kisame. "Tampang model gini juga!" protes Pein
"Iya! Tampang model TKP kan?" ujar Sasori
"TKP? Emang kamu pikir aku aspal apa pake kayak TKP!"
"TKP tuh tenaga kerja pria!"
"Awas kamu!" Pein mengacungkan jari tengahnya
"Udah-udah! Kalian diem kalo mau di lanjutin ceritanya," lerai Kakek Itachi
"Trus kenapa aku ahrus jadi si jelek?" protes Kisame
"Jawabannya mudah! Karena kamu emang jelek! Gitu aja gak nyadar!" timpal Konan
"terima aja, yah?" hibur Deidara. "Orang jelek emang selalu kebagian yang jelek-jelek juga!"
Sudah 2 bulan lebih George Kakuzu di tawan di rumah Kisame dan di jadiin Budak! Makan Cuma 1 hari setengah piring, itupun piring bayi. Tidurnya di gudang yang banyak kecoak dan berbagai hewan yang menjijikan. Sebagai seorang saudagar yang kehidupannya sudah terbiasa mewah, tentu saja George Kakuzu merasa syok dan sedih!
"Elenna….Alexandra…..Katiyem….," rintih George Kakuzu suatu malam di gudang tempatnya tidur
"nama siapa tuh? Istri-istri kamu ya? Poligami, donk?" Tanya Pein yang sekamar ama George Kakuzu
"Anak-anak aku tau!" bentak George Kakuzu jengkel
"Kamu kangen ama mereka ya?"
"Banget,"
"Aku sih gak punya saudara jadi gak bisa kangen ama siapa-siapa,"
"…"
"Hidup sebatang kara,"
"….."
"Tanpa tujuan. Hanya mengabdi pada Tuan Kisame,"
"…"
"Tapi aku kadang-kad….."
"Yang pantes curhat tuh aku apa kamu, sih? Di sini kan aku yang lagi sedih!"
Terdengar ketukan pintu gudang dari luar. Dan setelah terbuka, nongol lah wajah Kisame yang bikin George Kakuzu pengen nagis sekeras-kersnya
"Ikut saya!"
"Kemana? Apa aku mau di eksekusi mati?" Tanya George Kakuzu
"Udah cepet! Bacot banget!"
Pein mendorong punggung George Kakuzu. "Cepet sono! Temen gue yang jadi babu di sini pernah di makan ama Tuan Kisame gara-gara lemot lho!"
WUZZZ! Seketika George Kakuzu lari mendahului Kisame
"Kamu boleh pulang," ujar Kisame bersahaja (?)
"WAPPA?" George Kakuzu kaget setengah sekarat
"BUDEG! KAMU BOLEH PULANG!"
"Ah….Tuan pasti bohong!"
"Ya udah, kalo gak mau!"
"MAUUUU!" George Kakuzu teriak girang
"Baiklah! Tapi ada syaratnya,"
"ternyata gak gratisan, ya?" George Kakuzu lemas
"Sama kayak kamu kan?"
"Syarat apa nih?"
"Kamu harus bawa seorang dari ketiga putrimu kesini untuk menggantikan posisimu,"
"OKE DEH! BERES!"
"? Bukannya seharusnya kamu protes dan gak setuju?"
"oh iya!" George Kakuzu langsung pasang wajah melas. "Tuan…. Saya mohon…jangan gitu donk…. Jangan libatkan putri saya…." George Kakuzu ngemis2. "Eh? Tapi darimana tuan tau kalo saya punya putri?"
"itu kan dah sesuai dangan scriptnya bodoh!"
"Oh iya ya…. Tuan, saya mohon jangan ambil putri saya!"
"Kalo gak mau, kamu bakal jadi budak saya selamanya!"
"jangan2 nih orang mau punya maksud tertentu ama anak gue! Jangan2 anak gue mau di kawin ma dia!"Batin George Kakuzu cemas.
"Gimana? Mau gak?"
"Gak papa deh! Daripada gue disini trus gak bisa usaha, gue bakal jadi babu selamanya, harta gak bertambah dan ludes, jadi mending salah satu dari anak gue aja yang gantiin gue!" Batin George Kakuzu
"Oke deh Tuan!" George Kakuzu langsung ngambil kopernya dan langsung kembali ke hadapan Kisame
"Itu koper isi apa?" Kisame nunjuk koper yang di bawa George Kakuzu
"Isi baju dan berkas2,"
"Oh…."
"….."
"….."
"…."
"…"
"….."
"Kamu ngapain masih disini?" Tanya Kisame
"Yah…Tuan pasti ngerti!"
"Gak tuh!"
"Yah…setidaknya kasih saya ongkos pulang, dong!"
"Oh….,"
Kisame ngeluarin beberapa uang dari dompetnya
"Nih!" Kisame nyerahin beberapa lembar uang ke George Kakuzu
"? Kok segini?" George Kakuzu menatap risih ke lembar 1000an dan 2 keping 500
"mang napa?"
"Masak pesangon saya segini?"
"Katanya tadi minta buat ongkos pulang aja? Masak segitu gak cukup sih buat naik metromini?"
"Tapi…"
"Gak mau?"
"Mau…" jawab George Kakuzu lemas dan pasrah
"Sono minggat! Jangan lupa ama janji lo! Kalo ingkar, gue sewa dukun buat nyantet lo!"
"IYA! Habis manis sepah di buang!"
"Permen ya?"
"ABAH!"
"DADDY!"
"BUAPAK!"
Ketiga putri George Kakuzu menyambutnya bak seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang
"Putriku!" George Kakuzu berlari menyambut ketiga putrinya dengan air mata keempat makhluk itu berpelukan dan saling cipika-cipiki. Alexandra Tobi sampai mencium kaki Abahnya berkali-kali
"Kenapa lama, Bapak?" Tanya Katiyem Deidara
"Baru aja 2 bulan! Biasanya kan sampe 2 taun!" ujar Elenna Sasori
"Abah gak lupa bawa oleh2 kan?" Tanya Alexandra Tobi antusias
"Tentu saja!" Jawab George Kakuzu
"Makasih!" Alexandra Tobi memeluk Abahnya
"Tentu saja lupa, maksudnya," lanjut George Kakuzu yang langsung membuat Alexandra Tobi mendorongnya dengan kesal
"Sudah ku duga!" cibir Elenna Sasori
"Bulan lalu, taun lalu dan setiap Abah pulang dari bepergian selalu alasan lupa!" gerutu Alexandra Tobi
"Tapi kamu kan Cuma mesen bakso! Bali aja di warung Pak Sarmin, beres kan?" ujar George Kakuzu
"Aku gak pesan! Itu kan Abah aja yang mutusin seenaknya!"
"Bapak kok kucel?" Tanya Katiyem Deidara. "Sebenarnya kerjaan Bapak tuh saudagar atau kuli bangunan sih, ampe kumus2 gini!"
"Ayah abis jadi ba….," George Kakuzu tidak melanjutkan kalimatnya. Ampir aja keceplosan…..
"Ba?" Tanya Elenna Sasori
"Ba….um…ba….bandar! ya! Bandar!" tukas George Kakuzu
"Hah? Bapak jadi Bandar narkotika?" pekik Katiyem Deidara
"Bodoh! Bukan Bandar gituan! Bandar dagang, tau!" elak George Kakuzu
"Bandar dagang? Baru denger!" kata Elenna Sasori
"Itu kan karena saking ndesonya kamu!" ejek Alexandra Tobi
"Daripada elo! Dasar primitive kampungan!"
"Hidan mana, Bah?" Tanya Alexandra Tobi. "Kok tumben Abah sendirian? Biasanya ama tuh ustadz mulu kayak penganten baru!"
"Emang kamu mau punya ibu tiri kayak Hidan?" Tanya Elenna Sasori
"HAH? IYA! MANA TUH ORANG SIALAN?" Teriak George Kakuzu yang teringat ama Hidan yang telah berlagak sok budeg dengan tidak menolongnya dari penculikan itu!
"Kok balik Tanya?"
"Gara gara tuh orang Ayah jadi kucel kayak gelandangan gini!" ujar George Kakuzu
"Tapi pantes kok, Dad! Matching ama muka!"
"Dasar anak durhaka!gak nyesel Ayah gak beliin kamu berlian!"
"Tapi meski di puji, tetep aja kan Daddy sok pikun!"
"Kemarin, ada surat kaleng, Pak!" kata Katiyem Deidara
"Surat yang gak ada nama pengirimnya, gitu?"
"Bukan! Tapi surat yang dimasukin kaleng susu kuda liar bekas!"
"Kayak susu Alexandra waktu bayi, ya?" George Kakuzu mengingat-ingat
"Tapi di dalamnya ada nama Hidan, Pak! Tulisannya jelek banget! Tintanya pake warna pink lagi! Dia Cuma bilang…
Ini Abdi Dewa Jashin, menyampaikan bahwa yang bernama George Alfred Kakuzu telah hilang dari pengamatan saya! Sampai saat ini yang bersangkutan belum saya temukan! Dalam waktu 2 X 24 jam setelah menerima surat ini, jika yang bersangkutan belum kembali, harap segera hubungi kantor polisi terdekat!
Terima kasih
Salam
(Dewa Jashin)
"Gitu, Pak!" jelas Katiyem Deidara
"Kamu hafalin surat norak tadi?" Tanya Elenna Sasori
"Ya! Jaga2 kalo tuh surat hilang!"
"Sekarang suratnya dimana?"
"Tadi aku pake buat ngelap kotoran di lantai!"
"Kotoran? Pake kertas?" Tanya Alexandra Tobi dengan wajah jijik
"Kok surat tadi kedengaran seperti surat penahanan dari polisi ya? Resmi banget kata2nya!"gumam George Kakuzu
""Jadi selama ini Daddy hilang kemana?"
"Yah….kesasar dikit lah!"
"Kesasar kemana?"
"Ke daerah Pakistan,"
"DIKIT?"
"Udah deh! Yang penting sekarang Ayah sudah pulang, kan? Nanti Hidan biar Ayah pecat!"
"Oh ya!" pekik Katiyem Deidara seperti teringat sesuatu. "Ada bagian surat yang belum aku sampaikan….
Salam
Dewa Jashin
NB: Saya mengundurkan diri sebelum saya di undurkan! Dewa Jashin telah memanggil saya
"BRENGSEEEEEEKKKKKK!"
"Ada apa sih, Bapak memanggil aku?" Tanya Katiyem Deidara saat di panggil George Kakuzu di ruang ngupil (ruang santai)!
"Anak tercintaku…,"
"Tumben bilang gitu? Biasanya anak haramku,"
"Hehehe….itu becanda, kok!"
"Ada apa sih? Pasti ada yang Bapak mau kan? Gak biasanya kan Bapak muji2 gini! Dasar komersil!"
"Kamu judes banget sih? Gak cocok meranin putriku!"
"….."
"Anakku…."
"hm?"
"Kamu minggat ya dari sini! Plis…..!"
"?" Katiyem Deidara menatap George Kakuzu dengan tatapan yang seolah-olah berkata "Siapa lo sebenernya?"
"Ada pa sih?"
"Kamu minggat ya?"
"Kenapa?"
"Well, bukan minggat sih, Cuma pergi dari rumah dengan barang-barang kamu untuk jangka waktu yang agak lama! Yah…minimal 2 taun!"
"itu sama aja dengan minggat tau!"
"Kamu akan Ayah kirim ke teman Ayah!"
"Bapak mau menjualku?"
"Jangan sok laku, deh! Siapa yang mau beli kamu?"
"Trus kenapa?"
"Ayah pernah judi trus kalah! Dan Ayah terpaksa taruhin kamu karena waktu itu uang Ayah habis!"
"Bohong banget! Mana mungkin Bapak mau buang2 uang untuk judi? Buat kasih pengamen cepek aja gak mau!"
"Tapi saat itu Ayah stress karena ada masalah kerja! Jadi tanpa sadar Ayah taruhin kamu!" ucap George Kakuzu dengan acting yang serius dan raut muka nyesel yang sukses bikin Katiyem Deidara percaya (dikit)
"Kenapa harus aku…..?" rintih Katiyem Deidara
"Ayah gak punya pilihan lain!"
"Kan masih ada Alexandra dan Elenna!"
"Mereka terlalu mahal buat di jadiin taruhan!"
"Jadi menuruT Bapak aku ini murahan? Tega!"
"Katiyem….,"
"Dsar Bapak goblok! Udah jual aku, manggil aku Katiyem lagi!"
"Ayah gak jual kamu!Ayah Cuma jadiin kamu taruhan!"
"Sama ja, bodoh!"
"Deidara…Sebagai laki2, Ayah gak bisa ingkari janji Ayah…,"
"Kok Ayah pasrah gitu, sih? Harusnya Ayah berusaha mertahanin aku kan? Anak sendiri juga!"
"Kalo begitu, nanti ceritanya gak bakal kelar!"
"Hiks!hiks!"
"Pergilah anak ku….pergilah dengan tenang…."
"Aku bukan mau mati, tauk!"
Setelah diringi dengan acting nangis George Kakuzu, Katiyem Deidara pun langsung pergi dengan membawa 3 pakaian, 1 selimut, 1 bantal, 1 guling, 1 kulkas dan 1 televisi layar datar. Elenna Sasori dan Alexandra Tobi pun Cuma bisa menangis sedih dengan kejadian ini. Akhirnya, Katiyem Deidarapun pergi setelah mendapat peta menuju rumah orang yang katanya temen Bapaknya itu!
"Kenapa kalian nangis?" Tanya George Kakuzu pada Sasori dan Tobi setelah Deidara pergi
"Gak ada yang masakin kita lagi," isak Alexandra Tobi
"Gak ada yang nyeterika baju…" tambah Elenna Sasori
"Hu…hu….hu…." George Kakuzu terisak
"Hu…hu….HUWAHAHAHAHAHAHA!"
"?" Elenna dan Alexandra
"Jatah pengeluaran hidup berkurang!OYEAH!YEAH!" George Kakuzu mengacung-acungkan tinjunya dengan senang ke udara
"Daddy….."
"Abah…."
"bersyukurlah karena aku tidak memilih kalian! Pangerannya terlalu jelek! Gak mungkin bisa jadi tampan sekalipun udah dapat pacar yang mencintainya!"
"Ngemeng epe sih nih orang?" desis Alexandra Tobi
"Daddy elo tuh!"
"Enak aja! Aku Cuma anaknya ibu kok!"
"Aku juga!"
"Oke! Dia Cuma pantes jadi bapaknya Katiyem, ya!"
"Sebentar!" Deidara memotong cerita Itachi. "Jangan-jangan aku yang jadi Beautynya, ya?"
"Baru nyadar, lo?" sindir Hidan
"Gak mau!" protes Deidara
"Mang napa? Enak kan jadi orang cantik?"
"Aku gak mau endingnya entar aku kawin ama Kisame!"
"Itu kan Cuma cerita!" hibur Itachi
"Lagian gak mungkin aku ngawinin kamu beneran, kan?" Kisame tersinggung
"Tapi….."
"Udah deh! Sudah tanggung nih!" lerai Sasori jengkel
Sudah 9 bulan 10 hari Katiyem Deidara menjadi pembantu di rumah H. Kisame untuk menggantikan posisi Bapaknya! Perlakuan yang diterima Katiyem Deidara pada awalnya sangat tidak menyenagkan, lebih sadis daripada penganiyayaan TKI di …
Kisame : "Katiyem, tolong tempelin tanganmu ke setrika ini. Sudah panas atau belum. (sambil nunjuk setrikaan yang udah ngepulin asap)
Atau….
Kisame : "tolong beliin Dodol ke Garut, jalan kaki ya, biar sehat!"
Atau….
:Kisame : "coba hitung berapa banyak bintang di langit!"
Dan yang paling berat bagi Katiyem Deidara adalah….
Kisame : "tolong katakan "Tuan Kisame tampan" sebanyak 10kali!"
Dan Katiyem Deidara harus menahan rasa mualnya ketika dengan terpaksa mengatakan hal itu
Tapi pada akhirnya, sedikit demi sedikit perlakuan yang di terima Katiyem Deidara agak mendingan… Kisame pun perlahan-lahan mulai baik padanya. Tapi justru kebaikan Kisame itu yang membuat Katiyem Deidara makin sumpek!
Suatu hari….
"Katiyem…"
"Deidara!" uajr Katiyem Deidara memotong ucapan Kisame
"Iya! Deidara, nanti malam aku enaknya pake baju apa ya?"
"Apa aja!"
"Emang aku ini pantes ya, pake baju apa aja! Terlalu charming sih!"
"Apa aja! Gak ada pengaruh kok ama muka!" Katiyem Deidara jengkel. "Perasaan yang jadi Beastnya gak genit kayak kamu, deh!"
"hehehe…bisa aja kamu!"
"Tuan…"
"Hm?"
"Jangan hm! Itu kan trade mark saya!"
"Iya deh! Un?"
"Itu juga trade mark saya dalam versi jepang!"
"Iya iya! Ada apa sih?"
"Saya kangen sama keluarga saya! Saya mau ijin pulang…." Ujar Katiyem Deidara sambil pasang muka sedih
"Gak boleh! Belum tentu keluarga kamu kangen ama kamu!"
"Tuan..saya mohon…"
Kisame melirik Katiyem Deidara, hatinya agak luluh ketika melihat wajah campuran antara perempuan dan laki2 itu mengeluarkan air mata dan air hidung
"hhh…."
"hhh?"
"Kamu boleh pulang, dengan satu syarat!"
"Bener Cuma satu?"
"Iya deh, 3 syarat!"
"Apa? Jangan yang mustahil, ya!"
"Pertama, kamu boleh pulang hanya dalam waktu 4 X 24 jam saja!"
"Insya Allah!"
"Kedua, kamu harus bawa oleh2 kalo balik kesini! Yah, minimal mobil Mercedes lah!"
"Insya Allah, everything is possible in Gods will! Kalo gak bisa, yah minimal gerobak aja ya!"
"Yang ketiga, sebelum pergi, bilanglah "Tuan Kisame tampan sebanyak 10 kali!"
"Aku kan bilang, syaratnya jangan yang mustahil dan menimbulkan fitnah kayak gitu!'
"Ya udah, berarti kamu gak boleh pulang!"
"Ugh! Iya deh!"
Akhirnya Katiyem Deidarapun hendak berangkat pulang ke rumah keluarganya tinggal, hatinya senag sekaligus muak memikirkan syarat ketiga yang sebentar lagi harus ia lakukan.
"Tuan, saya permisi ya!" ujar Katiyem Deidara sambil membalikkan badan
"Syarat ketiga!"
"Ugh! Ingat, deh!" batin Katiyem Deidara mangkel. "Maafkan aku, Tuhan! Aku terpaksa berbuat murtad!"
"Tuan Kisame ganteng! Tuan Kisame ganteng! Tuan Kisame ganteng!" teriak Katiyem Deidara frustasi sambil meremin mata rapat2.
"Ya udah! Pergi sana!"
Katiyem Deidara pun melangkah pergi, setelah jauh dari Kisame di berteriak sekeras-kerasnya.
"KISAME NARSIS! KISAME JELEK! KISAME GAK PERNAH NGACA!"
"KATIYEM! KEMBALI KAMU!"
Terlambat, Katiyem sudah nebeng pesawat jet yang lewat di depannya (?)
Di rumah George Kakuzu…
"Ini hari yang keberapa Katiyem pergi yah?" kata Elenna Sasori lirih
"Yang ke 10 bulan" jawab Alexandra Tobi
"Gue Tanya hari! Bukan bulan!" Elenna Sasori sewot
"Kalo gitu ya, 300 hari! Gitu aja heboh!"
"Kalo begitu, ayo kita rayakan hari penurunan pengeluaran kita!" ujar George Kakuzu semangat
"Pesta, Dad?" Elenna Sasori antusias dan di jawab dengan anggukan mantap George Kakuzu
"Pesta apa, Bah?" Alexandra Tobi tak mau kalah
"Pesta makan bakso di warung Pak Sarmin! Hebat kan?"
"?"
"mending aku ikut pengajian aja!" ujar Elenna Sasori jengkel sambil pergi dari situ
"Aku mending ikut Elenna pengajian aja!" tambah Alexandra Tobi sambil menyingkir dari situ juga
"Lho? Kok pada pergi? Padahal aku punya rencana nraktir bakso trus beli perhiasan di mall!"
Gumam George Kakuzu heran tapi senang
Siang itu, George Kakuzu lagi asyik nikmatin baksonya Pak Sarmin! Tanpa kedua putrinya! Dia Cuma beli satu kuah bakso! Cuma kuahnya aja! George Kakuzu kan terkenal hemat dan ke-irit-en.
"Ah,kenyang….(?)…" kata George Kakuzu setelah kuahnya habis
"Hoy! Mau nambah kuah gak? Kuah saya masih tinggal 1 drum, nih!" ujar Pak Sarmin jengkel pada pelanggannya yang hobi makan (minum) kuah baksonya! Mana bayarnya Cuma 200perak lagi! Kuah bakso+sabun cuci piring n sendok+sambal (apalagi George Kakuzu kalo ngambil sambal hamper banyak sambalnya daripada kuahnya) kan gak cukup 200. mana sekarang cabe pada naik lagi!
"Ya! Bungkusin aja!" jawab George Kakuzu. "buat oleh2 Alex dan eL-eN-A" gumamnya
"Kamu mau bakso gak? Mau ku kasih kucingku sih, tapi kucingku lagi gak ada disini! Digantiin kamu aja mau gak?" lanjut Pak Sarmin
"Emang aku kucing?" gerutu George Kakuzu sewot, tapi diambilnya juga! "Tapi ini bukan daging tikus kan? Halal kan?"
"Alah! Halal-halal! Selama ini yang masuk perut kamu kan barang dosa semua!"
George Kakuzu pun mencomot bakso yang berukuran gede itu
Tiba-tiba…
"Hmmmpppffhhh!" George Kakuzu melotot-lotot sambil megangin lehernya
"Apa lo? " bentak Pak Sarmin tersinggung. "Maen melotot-lotot! Lo nantangin gua? Mo nyekik gua?"
"Hmmmmpppfffhhhh!" George Kakuzu geleng2 sambil masih melotot dan megangin lehernya
"Apa lo? Jangan ham-hem aja!sini lo, tua bangka!"
"Hmpppfffhhh!" kini wajah George Kakuzu memerah
"Hahaha! Lo marah ya? Sini lo kalo gak terima!"
Kini wajah George Kakuzu membiru
Tiba-tiba seorang cewek yang berpenampilan khas babu, menghampiri mereka
"HAH! BAPAK!" Ujar cewek itu yang tak lain adalah Katiyem Deidara yang sebelumnya mau mampir beli kuah bakso disini .Bukan karena nurun George Kakuzu, tapi karena uang Katiyem Cuma cukup buat beli kuahnya aja!
"Kamu siapa, Le?" Tanya Pak Sarmin yang terkesima liat kecantikan Katiyem Deidara (?).
"La-Le la-le! Kamu pikir aku lele apa?" ujar Katiyem Deidara sewot
"kamu cantik sekali" ujar Pak Sarmin yang membuat paras Katiyem Deidara memerah
Baru kali ini ada yang ngomong gue cantik! Hihihi…! Katiyem Ge-Er! Tapi percuma donk kalo yang muji kakek-kakek kayak gitu? Lanjut Katiyem Deidara dalam hati
"Bapak!" katiyem Deidara berpaling pada George Kakuzu yang masih melotot dengan wajah tambah membiru
"Heh? Kenapa kamu panggil dia bapak?" Pak Sarmin heran, gak menaruh perhatian sama sekali pada George Kakuzu yang lagi sakratul maut di depannya ini
"Dia ini bapakku tau!" kata Katiyem Deidara frustasi
"BUAPAKMU? HUAPPA? GAK! ITU FITNAH! KAKUZU PASTI SELINGKUH DENGAN LADY DIANA!" Teriak Pak Sarmin histeris yang bikin pengunjung lainya pada noleh risih ke dia
"Emang kenapa?" Tanya Katiyem Deidara heran dan seketika lupa pada George Kakuzu. Ktiyem Deidara malah menatap Pak Sarmin sambil menuggu jawabannya
"Kamu kan cantik! Masak orang kayak gitu punya anak seperti kamu? Gak level! Kena kutukan apa sih kamu sampai punya bapak seperti dia?"
"Benerkah?" Tanya Katiyem Deidara terharu dan terpuji
"Bener! Liat! Masak mata kamu biru, trus mata Kakuzu ijo seperti mata khas para koruptor!"
"Iya-ya?" Katiyem Deidara mikir
"Pasti mata kamu itu didapat dari ibu kamu yang kayak Lady Diana!" Pak Sarmin sok tau!
"Lady Diana? Berarti aku saudaranya Prince Harry donk? Uh…" Katiyem Deidara kagum "Tapi gak, ah! Belum tentu! Kakakku yang Alexandra Tobi dan Elenna Sasori matanya merah kok!"
"Berarti Bapak kamu tuh play boy! Udah selingkuh ama Lady Diana, selingkuh ama Iblis kolong jembatan lagi!"
"Iblis kolong jembatan?"
"Buktinya lahirlah kakak-kakamu itu yang bermata merah!"
"Oh… turs, istri bapak yang asli gimana?"
"Perasaan istri bapakmu kan mandul! Jadi gak bisa punya anak!"
Gak mungkin! Mana mau Lady Diana jadi selingkuhan orang pelit dan mata duitan kayak Bapak?
Pikiran Katiyem Deidara pun terhenti saat George Kakuzu menyodorkan kertas dengan susah payah!
Katiyem Deidara membacanya…
Hoy! Anak bego! Tolongin gue! Masa aktif gue mo abis!"
"Bapak kenapa?" Tanya Katiyem Deidara gak ngeh.
"Gue keselek bakso, goblok! Cepet tolong gue, jangan malah ngayalin hal2 norak kayak tadi!"
"HUH!" Katiyem Deidara cemberut "Udah minta tolong, masih ngatain aku goblok lagi! Jangan minta tolong ama orang goblok! Minta tolong ama Einstein sana!"
"Iya-iya! Einstein kan udah mati! lLha gitu gimana aku mau ngatain kamu pinter?"
"Ya makanya! Mati dulu, baru minta tolong ama Einstein! Lagian katanya sekarat, masih sempet aja nulis surat panjang gitu!"
"Bapak mu keselek ya?" gumam Pak Sarmin
"Gak! Lagi nyandu! Ya iyalah!"
BUAK! Akhirnya Katiyem Deidara memukul kebawah kepala George Kakuzu dengan sekuat tenaga hingga bakso yang nongkrong di tenggorokan George Kakuzu melorot ke perut dengan pemaksaan
"Gimana Bapak? Agak baikan?"
"Agak…" gumam George Kakuzu klenger
"Syukurlah…"
"Agak tambah dekat dengan Malaikat Izroil…."
"HAH? Agama Bapak apa sih?"
Baru ku tau Katiyem mewarisi ilmu judo ku! Gini ya rasanya Hidan pas ku pukul dulu? Hiks! Jadi nyesel….
"Cepet bawa Ayah ke rumah…"
"Gak ke rumah sakit?"
"Mahal tau!"
"Sekarat aja masih mikirin duit! Gak tau gimana nanti Bapak pas mati!"
Katiyem Deidara pun minta ijin ke Pak Sarmin untuk pulang
"Ya Sudah! Mudah2an cepat mati ya…" gumam Pak Sarmin setelah Katiyem Deidara dan Ayahnya pulang. "biar gak tersiksa gitu! Orang kayak gitu Cuma bek-bek i ndunyo ae!"
Sudah 5 hari ini George Kakuzu sakit gara2 insiden konyol bakso Pak Sarmin. George Kakuzu di rawat di rumah. Lehernya bengkak kayak orang kena penyakit gondok. Susah nelen makanan kayak orang sariawan. Dan susah BAB kayak orang yang susah BAB
"Daddy, ke rumah sakit aja deh!" usul Elenna Sasori
George Kakuzu menggeleng lemah. "Mahal…"
"Murah kok, rumah sakit yang abis kebakaran pasti biayanya gratis!" tambah Alexandra Tobi jengkel
"Pasti Pak Sarmin ngasih baksonya gak ikhlas ampe Ayah kena sakit gini!"
"….."
"Tapi enak sih baksonya…" lanjut George Kakuzu
Smentara itu di kamar Katiyem Deidara….
"Ini sudah lewat 4 hari… Tuan Kisame marah gak ya? Pasti marah lah! Aku bakal di apain ya? Bakal di kanibal! Aku balik gak ya enaknya? Yah…kapan2 deh!" kata Katiyem Deidara Tanya sendiri di jawab sendiri
"KATIYEM!" Teriak Alexandra Tobi dari ruang bawah
"GAK ADA YANG NAMANYA KATIYEM!" Balas Katiyem Deidara yang selalu sensi saat nama kecilnya itu di sebut
"LHA NGAPAIN LO JAWAB? MERASA NAMANYA KATIYEM YA?" Balas Alexandra Tobi jengkel
Dengan perasaan yang sangat gondok, akhirnya Katiyem Deidara turun ke lantai bawah dan menemui kakaknya.
"apa sih? Kapan sih kalian bisa manggil aku Deidara?"
"Gak pernah bisa!" dengus Alexandra Tobi
"Bapak kamu tuh kumat sakit tenggorokannya! Rawat sono!" lanjut Tobi
"kamu kan juga anaknya"
"Gak lagi! Sakit2an gitu juga! Bentar lagi pasti Ko-Id!"
Akhirnya Katiyem Deidara masuk ke kamar George Kakuzu. Di sana juga ada Elenna Sasori
"Kenapa lagi sih, Pak?" dumal Katiyem Deidara yang masih dendam gara2 Bapaknya jadiin dia taruhan sehingga dia jadi babu!
"Kamu kok judes banget sih? Harusnya lebih ramah donk!" gerutu Elenna Sasori
"Katiyem…."
"Deidara!" potong Katiyem Deidara judes
"Iya… kenapa kamu balik lagi, nak?"
"Gak boleh?"
"Boleh sih…. Tapi kalo nanti Ayah di santet Tuan Kisame gimana?"
"Santet?"
"Gak papa kan? Kalo gitu Bapak kan gak tersiksa terus!" ujar Katiyem Deidara
Dan….
"Dan?" Tanya Hidan heran begitu Kakek Itachi berhenti cerita
"Dan apa , Kek?" Tanya Tobi manja
Kakek Itachi gak nerusin ceritanya. Ia malah diam sambil menatap suatu arah tanpa bergerak
"Dasar dublek! Gimana lanjutannya?" bentak Sasori frustasi
"Gak usah di lanjutin, deh!" usul Deidara yang merasa beruntung atas terhentinya cerita itu, sehingga ia tidak akan kawin dengan Kisame yang sebagai Beast itu
"Tanggung, nih! Udah lesehan di tempat kumuh gini juga!" tambah Konan
"Aku mau tau endingnya si pelit George Kakuzu! Moga2 aja dia mati keselek bakpao!" kata Kakuzu semangat
CETIL! Sasori langsung mraktekin sentilan mautnya pada Kakek Itachi. Kakek Itachi gak ngeh dan terjatuh
"?" semuanya pada menatap heran
"Kenapa dia?" Pein heran
"Jangan-jangan…"
"Mati?" desis Tobi
"APA?" Kisame syok! "Gara-gara kamu, Sor! Dia mati gara-gara kamu!"
"Kok aku sih?" Sasori gak terima campur panic." Apa sentilananak kecil itu bisa membuat orang tewas konyol gini?"
"Bisa aja kan?" lanjut Kisame
"Bukan aku!" teriak Sasori
"Tobi kasih nafas buatan, ah!" uajr Tobi yang langsung memberi pernafasan mouth to mouth pada Itachi
"wekz!" uajr Hidan
"Yaoi banget!" tambah Kisame
"Aku gak liat! Aku gak mau liat!" ujar Sasori sambil merem rapat-rapat
sedangkan Pein lagi asyik nge-shot adegan pencabulan itu dengan kamera Hpnya
"Pein, nanti Bluetooth-in ke hp ku ya!" bisik Sasori
"woah!" teriak Tobi setelah yaoi dengan Itachi. "pahit banget rasanya!"
"Kakek Itachi belum hidup?" desis Konan merinding
"Udah mati!"
"Kenapa? Hiks! Padahal ceritanya belum selesai! Oh Dewa Jashin… kembalikan dia sampai ceritanya kelar aja!" Hidan mewek
"untung aja dia mati!" gumam Deidara senang "ceritanya gak bakal di lanjutin deh!"
Semuanya pada menatap jasad Itachi yang lagi melotot (kebanyakan dosa, makanya pose matinya sangar gitu) dan pucat itu, yang telah tak bernyawa
"Hoahhmmm!" Sasori menguap "piulang, yuk! Nagntuk aku!" Sasori dengan santai pergi niggalin gubuk peyote itu
"Iya! Aku juga! Dasar Kakek sialan! Sebelum mati kelarin ceritanya dulu donk!" uajr Pein sambil menendang kepala Itachi lalu pergi nyusul Sasori
"Payah!" Kisame juga langsung pergi
"mati ya? Kelar ya?" gumam Konan "Hah! Gak seru! Ke neraka sono!" Konan nyambit kepala Itachi dengan bata sebelum dia pergi
Lalu semua anak-anak itu juga pergi.
"Hoi! Kenapa Kakek Itachi mati?" masih terdengar suara heran Tobi dari kejauhan.
"Tau! Tanya aja sendiri!"
-END—
Langganan:
Postingan (Atom)
