Total Tayangan Halaman
Selasa, 05 November 2013
Cerpen Gaje Akatsuki
~Rahasia Dibalik Organisasi Akatsuki ~
Disclaimer : bang Kishimoto, kupinjam chara Narutomu ya
Mohon maap bila ceritanya garing dan bahasanya kurang bagus en sopan, karene saya masih junior & ini fic pertama saya.
Warning: Umur semua karakter saya ngawur & Banyak adegan kekerasan
Mohon maaf bila ada kesalahan ratednya, Mohon silahkan diberitahu..
Chapter 1
–Introduction-
Pada suatu hari disebuah hutan yg amat sangat terpencil dan terasing terdapat markas organisasi Akatsuki yg super duper miskin, kere dan kumuh. Terdapat berbagai macam mahluk yg mengenaskan & tidak berbentuk seperti :
Ketua (Pein) :
Gender laki-laki, memiliki mata seperti obat nyamuk, dan banyak piercing besi karatan yg menancap dimuka super duper ngeres & mesumnya .(Author: “reader setuju!!”, Reader:” Setuju 100%!!”)
Anggota :
Konan :
Gender: Perempuan. Manusia (lebih mirip tumpukan kertas Koran – dilempar sandal jepit ama konan -)yg terdiri dari kumpulan sampah kertas, bungkus nasi, & origami lecet yg sudah terkena cairan beracun dari Venus flytrap (Zetsu) .
Itachi (ceritanya masih idup): Gender : Laki-laki, umur : 55 thn -di Ametarasu Itachi, Author koma 22 tahun 2 bulan 22 hari– Ralat, Umur : 25 thn. Memiliki wajah dengan paras cakep yg super dupeerrr -diawasi itachi pake mangekyou sharingan- . (Author: “Alah ngomong aja kalau udah tua Bangka, buktinya banyak kriput dimuka loh tuh!!” -di Tsukiyomi Itachi – Author: “Yee.. Gak kena”- Author nginbrit naik becak ke Afrika-)
Deidara: Gender: tak jelas (Deidara: “Kok ‘tak jelas’ un?” –siap2 meledakan C4- Author: “Eiits mau saya ubah kaya apa? Banci, Homo, Lesbian atau Waria”, Deidara: “Lho pilihannya kok gak bener semuah sih un!!!” Author: “Ck..ck… tau diri dong, guekan autornya jadi lo gak berhak marah, udah untung gue kasih tak jelas ketimbang tak bergender!”, -Deidara sweatdrop-) rambut kuning panjang dikuncir satu , tangan ada mulutnya dan berprinsip: “seni adalah ledakan” ngomong sambil pose ala Gai & Lee (Author: “hoeeekkk”)
Tobi: Gender: Laki-laki, Umur: ???/5thn (Tobi : “Apa maksudnya ‘???/5thn’ sih?”, Author: “Itu karena aku gak tau umurmu yg pasti jadi kutulis ‘???/5thn, ngerti?”, Tobi: ber ‘Oh’ ria). Anak yg suka lollipop, suka pakai topeng oranye yg kaya obat nyamuk, Autis dan suka dipuji ‘Tobi anak baik’.
Sasori (ceritanya masih idup) : Gender: Laki-laki, Umur: 21. Muka baby face, imut, cakep, ganteng & keren. Sikap cool, rambut warna merah. Penguna boneka kugutsu & jago dalam membuat boneka.(Deidara: “Curang un, masa Cuma sasori yg di kasih keterangan yg paling bagus un!”. Pein, Konan& Itachi: “Betul, gak adil!!”, Author: “Ingat, sayakan authornya jadi jangan protes, Sebaiknya kalian contoh tobi, dia sama sekali gak protes!!!”-di bom C4, di Tsukiyomi, di Rinnegan, di bungkus ama origami, Dan berhasil membuat Author koma 100 tahun 1 bulan 10 hari - Tobi: “tobi anak baek, tobi anak baik!!”-sambil teriak pake toa-).
Kisame: Gender: Hiu jantan (Kisame:” Oi author, kamu niat mati ya?”, Author: “Gak tuh!!”, Kisame: “kalau gak kenapa kamu tulis ‘hiu jantan’??”, Author: “Kenyataan kali!!”-dipukul Kisame pake beton 50kg-). Muka biru mirip kaya hiu yg dilaut, idola para hiu wanita dan Up to date bawa samehada: pedangnya yg gede kaya pentungan raksasa (lebay) .
Zetsu: Gender: Bunga jantan (Zetsu putih & hitam: “Ck….ck…. kasihan sekali author fanfic ini, belum apa-apa udah remuk badanya”, Author: “Ya mending akulah timbang lo, bunga jantan Venus flytrap, gak jelas dan gak bener!!” –Zetsu mengejar author untuk dimakan, author ngibrit ke ujung dunia sambil bawa laptop-, Umur: 26. Pencinta tumbuhan, mempunyai dua kepribadian, pencinta bungan bangkai & dan segala jenis bunga beraroma busuk(bau badannya pun busuk).
Hidan: Gender: Laki-laki, Umur: 28thn. Penyembah aliran sesat DJ (Dewa Jasin), tak bisa mati, rambut kuning, dan senjata andalan adalah sabit bercabang tiga.(Author:” Eiiits, tunggu dulu, saya belum selesai”) muka sok alim, sok keren, jaim dan dkk. (Pein, Konan, Deidara, Hidan& Itachi: “Bener – bener cari mati tuh Author!!!!”, Author: “ Gomen, ini cuma balas dendam karena telah ngeremukin badanku!!”, Hidan: “Kok aku juga di ikutin sih?”, Author: “Biar puas aja!” - Author berlari sambil mebawa laptop dengan kecepatan yg mengalahkan kecepatan cahaya larinya Eyeshield , karena dikejar segerombol makhluk aneh bernafsu penghancur & pembunuh berdarah dingin(yg tak lain dan tak bukan dalah Akatsuki, kecuali Kakuzu & Sasori yg cakep)-)
Kakuzu: Gender: Laki-laki, Umur: 91thn. Pencinta uang(Gila uang), bendahara akatsuki , dapat mencium keberadaan uang dalam radius 10 m, menggunakan kerudung dan cadar(kaya punya AAC), bekerja sambilan sebagai pembunuh orang berhadiah(sejenis pembunuh bayaran) dan jago menjahit. (Kakuzu: “Berani sekali kau menghinaku bocah tengik!!”, Author: “ Maaf bang, Maaf… nanti saya kasih 50 ribu,deh!”, Kakuzu: “kurang, 100 ribu!”-sambil nodong pake sabitnya hidan-, Author:” Iya deh, hiiks….hiiks” -author nangis Bombay, akatsuki sweatdrop-)
~Rahasia Dibalik Organisasi Akatsuki ~
Disclaimer : bang Kishimoto, kupinjam chara Narutomu ya
Chapter 2
- Pein secret Part I –
Pada suatu pagi hari yg cerah dihutan amat sangat terpencil dan terasing terdapat markas organisasi Akatsuki yg super duper miskin, kere dan kumuh. Terjadi keributan yg menggebrak meja hakim (ehh salah tulis)ralat: markas akatsuki.
Pein = P, Konan = Kn, Kisame=Ks & Kakuzu= Kk
P: “tidaaaakkkkk……”-teriak pake toa-
Kn: “ada apa sih pein-sama?”
Ks : “ketua mesum, kenapa lo pagi2 udah ribut? ”
Kk: “Sekali lagi lo kayak gitu, tak akan kukasih nanti uang buat beli majalah playwaria & kutagih utang lo ama gue yg lo tugak 10thn!”
P: “nooooo….”-teriak pake kubah masjid-
Trio K (Ks, Kn,& Kk): “gak usah lebay kale!!” teriak mereka bareng –mengalahkan suara pein-
P: “Iya..iya gak usah lebay, kale!! ”
Trio K: “Terus, kenapa lo pagi2 udah cari mati?”-Sambil Kisame bawa samehada, Konan bawa jarum kertas, dan Kakuzu bawa sabit Hidan-
P: “ampuuuunn, aku Cuma kaget ngeliat majalah playwaria edisi bulan ini!!!”-akatsuki sweatdrop-
Kn: “Emang napa? Ada pasangan YAOI baru ya?” –YAOI eyes mode: on-
Kk: “atau ada pembagian BLT gratis?” (Author: “ kayaknya gak mungkin deh!”)
Ks: “atau berita penangkapan hiu spesies warna biru? ” (Author: “Itu malah gak mungkin!”)
P: “Oh DJ(dewa jashin), apa yg terjadi pada babu-babuku ini” –sambil Lebay mode: on-
Hidan= H
H: “Oh pein ternyata kau penganut DJ ya, hiks…hiks…(nangis Bombay karena terharu)”
P: “Najis jong, ya GAK LAH masa gue nganut aliran tersesat yg baru aja diputuskan oleh majelis agama!” –Author lari dikejar hidan ampe keujung dunia-(Author: “kok aku sih,” Hidan: “Ya….Iyalah sapa emangnya yg nulis fanfic ?”-Author tepar gak kuat lari karena badannya segede Chouji-)
H: “Enak aja lo, DJ itu bukan aliran sesat buktinya ampe sekarang banyak penggemarnya!”
Trio K + P: “Titi DJ kali!!” –Konan YAOI eyes mode: off-
H: “Alah sama DJnya aja!”
Merekapun terus bertengkar bagaikan perang dunia ke 4
Tiba-tiba Itachi lewat
Itachi= I
I: “woi, kenapa dari tadi kalian bertengkar mulu!”
Trio K + P +H: “Emang napa?”
I: “Berisik tau!!”(teriak pake toa)
Trio K + P +H: “lo lebih berisik dari kita kali!!”
Itachi mengaktifkan mangekyou saringannya untuk melempar teman-temannya kedimensi lain.
Di dimensi lain….
P: “oi, sekarang jam berapa?”
Kk: “jam 09.00, emang napa?”
P: “ngak papa” –inner: mampus gue, guekan ada janji jam 09.15 -
~Rahasia Dibalik Organisasi Akatsuki ~
Disclaimer: bang Kishimoto, kupinjam chara Narutomu ya
Chapter 3
-Pein secret Part II –
Pein = P, Konan = Kn, Kisame=Ks, Kakuzu= Kk & Hidan= H
P: “Oi Kiss!!!” (sambil menghadap kearah Kakuzu)
K: “Lo minta dicium?”
H: “Ingat DJ melarang ketua melakukan hal tabu itu apa lagi ama Kakuzu!!”
Kn +Ks: “Betul betul betul betul !!!”(sambil nirukan suara upin ama ipin)
P: “Iiih, sapa kali yg mau ama Kakuzu, aku cuma mau manggil Kisame!!”
Trio K + H: “Oooohh….”
Ks: “terus napa loh manggil gue?”
P: “lo kan patnernya Itachikan, pasti tau kan cara untuk keluar dari sini !!”
Ks: “Hmm….”
1 Abad kemudian (gak ding!!)
P: “Oi, udah 5 menit nih!!, Sebenarnya kamu tau apa gak?”
Ks: “Gak!”-ngejawab dengan tampang innocent –
-Akatsuki Sweatdrop-
Tiba-tiba….
Someone: S
S: “Jual-jual pintu kemana saja, Pintu yg bisa mengeluarkan anda dari dimensi ini!!” -Teriak pake toa-
P: “Emang itu berapa, kus?”
S: “Enak aja lo tampang imut kayak kucing gini lo bilang tikus!!”
P: “Ya maap, jadi berapa?”
S (yg diketahui bernama Doraemon): “Murah kok Cuma $”
Kk: “Apa gak kemahalan?”
S: “Ya gak lah, wong yg biasanya kesini aja saia kasih tarif $”
Trio K + H+P: “Oooooohh…..”
Mata Pein dkk melirik kearah Kakuzu
Kk: “Napa kalian pada liatin gue?”
Kn+Ks+P+H: “Gak, Cuma ngeliatin yg ada dibalik jubah lo!!”-Bareng-
Kk: “Pokoknya tidak, pasti kalian mau mengambil uangku ini kan?”
Kn+Ks+P+H: “Gak kok, cuma mau minjem” –Bareng lagi-
Kk: “Pokoknya gak!!”
S: “Jadi beli gak?”
Dan terasa hawa yg mengerikan dari Akatsuki cs yg mengarah kepada Kakuzu
Beberapa menit kemudian….
P: “Ini cing uangnya” –sambil nyerahin uang-
S: “Nah ini barangnya..” –diambilnya sebuah pintu warna biru dari kantonya yg warna putih-
Kk: “Hikss… Hikss… Puas kalian!!”
Kn+Ks+P+H: “Iya, Emang napa?” –Bareng lagi-
Kakuzu yg mulai gak waras karena udah keilangan uangnya pun mulai nyanyi gaje……
Kk: “Kau sakiti aku dengan uangku….”
Kk: “Dan kau tak peduli apa yg terjadi pada uangku…”
Kk: “Lelah hati ini menghitungnya”
Kk: “Uang ini miliikkuu…”
Sementara itu kita lihat anggota akatsuki yg masih berkutat dengan pintu kemana saja…
H: “Lebih baik aku saja yg menguji coba dulu pertama kali?”
Kn+Ks+P: “Silahkan!!”
H: “Tempat yg suci” –sambil megang kenop pintu kemana saja-
Setelah dibuka….
P: “Ini dimana?”
Kn: “Kok panas banget ya?”
Ks: “Lagian banyak orang pake baju putih muterin bangun bentuk kotak!!”
H: “Ini Mekah dan lebih jelasnya dikabbah, dudut!!”
Kn+Ks+P: “Haaaaaahhh….”
Dan giliran selanjutnya….
Ks: “Nah giliran gue yg nguji coba!!”
Ks: “Ikaaann..” -sambil megang kenop pintu kemana saja-
Setelah dibuka….
Mahluk spon berwarna kuning: “Aku siap, Aku siap, Aku siap!!”
Kn: “Ini dimana lagi ?”
P: “Bikini Bottom” –Sambil baca tulisan di papan-
Mahluk spon berwarna kuning (yg diketahui bernama Spongebob: Sp)
Sp: “Selamat datang dibikini bottom, mahluk tak berbentuk!!” (yg dibold berarti ada penekanan)
Ks: “Ini dia, dunia saudara-saudara kita….”
Kn+P+H: “Dunia sodara lo kale!!”
H: “Lagi pula masa ada kembaranya Kakuzu disini!!” –sambil nunjuk kekepiting aneh yg diketahui namanya tuan Krab-
Tuan Krab: “Uang, Uang, I love Uang”
P: “Yg anehnya lagi disini juga ada kembaranya Dei-dei(Deidara)” –Sambil nunjuk gurita warna ijo yg diketahui namanya Squidward-
Squidward: “Ini adalah seni!!” –Sambil nunjukin hasil tanah liatnya yg tak berbentuk-
Kn: “Dan ANEHnya ini kan laut, Kenapa ada Tupai Texas?” –sambil nunjuk tupai(Sandy) yg lagi membagakan dirinya yg berasal dari Texas-
-Akatsuki pun berbingung ria (Ps: kecuali Ks)-
Dan giliran selanjutnya….
Kn: “Biar aku uji dulu, ini berbahaya apa tidak!!”
P: “Up to you..” (Ks & H sedang asik dengan moment2 bahagia meraka karena impian tercapai)
Kn: “Cowok Cakep” -sambil megang kenop pintu kemana saja-
Setelah dibuka….
Kn: “Kyaaa….” –Teriak histeris-
P: “Emang ada apa, yang?”
Kn : “Ada Kim Bum, Lee Min Hoo, anggota lainnya F4 di BBF & Aktor cowok Korea yg ganteng lainnya !!”
P: “Oh, terus sekarang kita ada dimana?”
Kn: “Dasar kuper, kita sekarang ada di Korea tau!!”
(Dan sekali lagi Ks & H sedang asik dengan moment2 bahagia meraka karena impian tercapai)
P: “Kembali kedimensi lain” -sambil megang kenop pintu kemana saja-
Kembali kedimensi lain….
Kn+H+Ks: “Loh kok gak pulang!!”
P: “Rupanya kalian melupakan Kakuzu!!” –sambil nunjuk mahluk bercadar yg mojok di pinggir-
Kn+H+Ks: “Upss..”
P: “Nah sekarang baru kita pulang”
Pintu Kemana Saja: “Maaf baterai habis, saya akan mati”
Kn+Ks+P+H: “Tidakk…..!!”
Mereka pun membuang 8 menit untuk jalan2 kedunia lain
Inner Pein: “Mampus aku tinggal dua menit lagi” –Sambil liat jam gede yg baru saja ia nyolong dari Kelinci yg biasa pake jas di Alice In Wonderful land-
3 Menit berlalu…(jam 09.16)
Tiba-tiba tubuh Anggota Akatsuki yg berada di dimensi lain tak terkecuali Kakuzu pun tersedot. Dan sampai ketempat yg mereka rindukan, yaitu MarkasBobrok mereka tercinta -Author dibunuh Anggota Akatsuki-
Itachi = I & Tobi = T
I: “Bagaimana, puas berada didimensi lain yg kosong ?”
Kn+Ks+H: “Puas banget!!” –Itachi mlongo-
T: “Pein senpai, ada titipan dari orang yg tadi dateng ke sini cari senpai!!” –Sambil bawa kardus gede yg ada tulisan ‘to: Pein’-
Yap, dengan tidak sengaja Tobi pun tersandung dan kardus gede itu terlempar ke Kisame, sukses membuat isi kardus itu berceceran karena tebasan reflek dari samehada Kisame.
Ini lah reaksi anggota aktasuki melihat barang didalam kardus untuk Pein itu :
Sasori : Histeris + Kegirangan karena ada boneka Dora The Explorer lengkap beserta seluruh karakter di Dora The Explorer.
Tobi: Kegirangan karena ada CD lengkap Video Dora The Explorer & ada penggemar lain Dora The Explorer.
Deidara: Hatinya sekarang sedang berbunga-bunga karena dapat patung tanah liat lengkap karakter Dora The Explorer
Kakuzu : Bahagia karena dapat menjual barang2 tersebut untuk mengganti uangnya yg ilang.
Kisame: Shock berat karena ketua yg dihormati ternyata adalah seperti itu.
Konan: Depresi karena mengetahui pacarnya seperti itu.
Itachi: Bahagia karena ada oleh2 buat cute outotonya, maklum Sasuke penggemar Dora The Explorer (Ketularan Naruto).
Hidan: Taubat dari aliran sesat DJnya
Zetsu: Mengulangi kata2nya yaitu “Kiamat” sebanyak 100x
Sudah bisa dipastikan Pein jadi gila, depresi, Histeris karena kehilangan wibawanya dan malu sampai pergi kesegitiga Bermuda karena rahasia yg paling ia jaga terbongkar.
Yaitu: Bahwa Pein adalah penggemar beraaattt.. Dora The Explorer.
-END OF PEIN SECRET-
~Rahasia Dibalik Organisasi Akatsuki ~Disclaimer: yang jelas bukan punya aku
Warning: effek samping dari membaca fanfic ini adalah…. bila anda sedang stress, maka anda akan menjadi stress kuadrat. Dan anda akan yakin bahwa yg menulis fanfic ini benar2 MKKB.
Chapter 4
- Konan secret–
Seperti biasanya, Markas Akatsuki masih terlihat ramai seperti kapal pecah. Tobi yg kegirangan menyaksikan adegan Dora The Explorer, saat Dora menyuruh para penonton memeluk orang disampingnya. Dan kebetulan sekali yg ada disebelah tobi adalah Deidara jadi, Tobi memeluk Dei-dei(Panggilan Deidara dific ini), secara reflek dia melemparkan bom C4 tanah liatnya sambil berkata “meledak”, Itachi yg berada di TKP langsung mengaktifkan mangekyou saringanya dan melempar effek bom itu kedimensi lain, dan naasnya Kakuzu, Konan, Pein, Deidara & Zetsu ikut tersedot ke dimensi lain. Itachi yg habis mengaktifkan mangekyou saringan pun tepar karena tertular virus tepar milik Kakashi –Author tepar habis di chidori sama Kakashi-
Kakashi: “Karena Autornya tepar maka fanfic ini dinyatakan –TAMAT-”
Author: “Enak aja lo guekan Authornya, masa lo yg mutusin!!”(Dalam keadaan seperti mumi)
Kakashi: “Bukanya tadi kamu kuchidori ya, Kok masih idup?”(Sambil nyengir tanpa rasa dosa)
Dengan nistanya Author menuliskan nama Hatake Kakashi dalam sebuah buku yg bertuliskan ‘death note’, dengan cara kematian keselek biji pisang susu.
Kira: “Oi, ada yg tau gak dimana death noteku ?”
Back to the story
Sementara di dimensi lain, Tertampanglah lima mahluk dengan penamipal tak berbentuk, tak jelas kelaminnya, dan tak jelas jenisnya. Pein yg pernah terdampar disini yg mengakibatkan terbongkarnya rahasianya langsung pundung dipojokan (Emang di dimensi lain ada pojokan?) . Sedangkan Kakuzu, Konan, Dei-dei, & Zetsu pun sibuk dengan dunia masing-masing:
Zetsu: masih asik dengan tanaman Venus flytrapnya (Author: “Oi darimana kamu dapet tuh Venus flytrap?”, Zetsu: “Oh itu, gue baru aja nyolong dari orang yg tadi lewat sambil bawa banyak tanaman”, Zetsu lainya: “itu loh yg barusan lewat, Rambutnya panjang warnanya kuning, mata satunya ketutupan rambutnya!!”)
Kisame: masih asik mandangin dirinya sendiri di cermin ajaib(Cerminya nyolong dari kastilnya nenek sihir di snow white)
~ “Siapa yg paling ganteng diduniah ini? Tanya Kisame”
“Anda tuan..” Jawab cermin(Jawabnya sambil gemeter coz ditodong samehada ama Kisame)~
Konan: kali ini dia cuma diem tapi aja kaya orang nyembunyiin sesuatu
Dei-dei: Masih asik dengan temannya yg baru saja ia temui. ini dia deskripsi tentang temannya itu: rambut warna merah, suka sekali dengan pasir, & seorang yg bertampang ganteng.
Beberapa menit kemudian….
“Oi, udah selesai dengan dunia kalian?” Tanya Pein
“Udah Kapten” Jawab Kisame dan dkk
“Sekarang, siapa yg tau cara keluar dari sini?” Tanya Pein
“Gak tau Kapten” Jawab Kisame dan dkk (Ngomongnya bareng+ toa lagi) –Pein sweatdrop-
“Oi Kiss, nanti lo pukul nih dimensi sama samehada lo tapi tunggu aba2 gue!” Titah Pein pada Kisame
“Aye aye captain” Jawab Kisame
“Buat apa sih Kisame lo suruh mukul nih dimensi?” Tanya Zetsu
“Ck..ck.. emang disini Cuma aku yg pinter (Huuu…!!), gini loh! Kisame kan nanti mukul nih dimensi mungkin aja kita bisa keluar lewat lubang yg diciptakan Kisame(Emang bisa?)” Jawab Pein dengan narsisnya, sedangkan Konan dkk hanya ber ‘oh’ ria tanda tak mengerti.
“Are you ready kid?” Tanya Pein
“Aye… aye captain” Jawab Kisame
“I can’t hear you” Kata Pein
“Aye...aye captain” Teriak Kisame pake toa masjid nyolong.
“Oi gak usah lebay kale!! ” Bentak Deidara
Dengan sangat kuat, samehada Kisame menghantam dimensi lain ini. Muncullah lubang dari dasar dimensi itu dan menyedot Pein dkk.
Dan mereka pun sampai disebuah hutan. Tiba-tiba terdengar sebuah lagu ditempat mereka berada sekarang:
~Go Diego Go..!!
Deep inside the jungle where Mr. Nature is eating marshmallow
Coming to lazy is a very special crime
Talking to the animals is a crazy action
This rough and tough adventurer is sleeping all the time
Yovi n Zetsu… Zetsu… Zetsu… Go, Zetsu, Go
(Pelesetan lagu theme Go Diego Go)~
Dan mereka juga melihat seorang anak manusia bergrlantungan ama anak jaguar.
“Kok rasanya ada yg manggil aku ya?” Inner Zetsu
“Nyampe diamana nih?”Tanya Diedara
“Mene ketehek, wong hutan tempat markas kita gak sebagus ini!!” Jawab Kisame
“Lo gak papakan Konan?” Tanya Pein pada konan yg dari tadi diem aja.
“Gak papa” Jawab Konan (Inner: tahan Konan, tahan sampai kamu menemukan ‘Itu’)
“Hello, namaku Diego” kata diego memperkenalkan diri
“Gue tau kok, lo kan yg biasanya ditonton Tobi” Jawab Deidara
“Berarti Kita masuk tipi dong!!” Kata Kisame dengan narsisnya menghadap kekameramen.
“Ck….ck…. sejak kapan Kisame ketularan virus narsisnya Itachi?” Tanya Pein pada batinya
“Oi bi, selametin kita dari sini seengaknya lo suruh si Itachi kek!!” Kata Deidara sambil ngadep kearah Kameramen.
Sementara dimarkas Akatsuki…
“Wow hebat, para senpai sekarang masuk tipi hole!!” Teriak Tobi yg lagi nonton tipi(Suara teriakanya malah lebih parah dari nyayi Giant bahkan sempat membuat gempa bersekala 7,1 Skala Richer di markas Akatsuki)
“Woi, napa lo ribut tobi the good boy?” Tanya Itachi yg terbangun dari virus teparnya berkat suara Tobi.
“Pein senpai dan para senpai lainnya masuk tipi!!” Jawab Tobi, Itachi hanya ber ‘oh’ ria melihat teman-temanya masuk tipi.
Kembali ketempat Pein dkk….
Tiba-tiba tercium bau yg amat sangat busuuuk banget ngalahin baunya Rafflesia Arnoldi disekitar tempat Pein dkk ama Diego.
“Bau siapa nih ?, BUSET BAU BANGET” Tanya Kisame, sedangkan Diego dan anak jaguarnya langsung tepar mencium bau yg 7 hari 7 malam gak bakal ilang walau mandi kembang 7 rupa.
“Pasti baumu, atau baumu, atau baumu!” Pein berkata sambil nunjuk Kisame, Zetsu, Deidara pake senjata M16 yg baru saja ia nyolong dari mahluk kaya setan dengan rambut spike mencuat keatas berwarna kuning dengan tinggi badan 176 cm.
“Gue..” Terdengar suara orang berkata tapi lebih mirip orang berbisik dari arah Konan
“I can’t hear you” Kata Pein sambil niru openingnya spongebob.
“GUE yg ngeluarin bau itu dan gue habis kentut, puas lo?” Teriak Konan frustasi stadium akut
-Akatsuki cengo-
“Gila pantes aja setiap kali lo diem langsung kekamar mandi dan bau WC yg gak ketulungan itu ternayata tercemari ama bau ken-”Belum selesai Kisame berbicara, tiba-tiba terdengar suara ‘BLAM.. BUK.. PAAAK..’ dan terlihat lah hiu biru terbang keangkasa bahkan melayang mendekati matahari bersama pedangnya.
-Akatsuki cengo kuadrat-
Di markas Akatsuki….
“Waaa… ada bintang jatuh!!” Kata Tobi
“Saya beri dua permintaan” Kata Jin dari bintang jatuh itu yg tiba-tiba nyelonong masuk dalam fanfic.
“Aku pengen Kakuzu senpai mbalek” Kata Tobi
Tiba-tiba muncul hiu warna biru bersama pedangnya jatuh dari langit dan mendarat tepat di markas Akatsuki.
“Wah Kisame senpai, tapi kenapa Kisame senpai kembali dengan terbang bukanya berenang?” Tanya Tobi.
“Oh itu, jadi…”(Flashback mode:on) saat itu Kisame sedang berbicara, tapi belum selesai berbicara tiba-tiba sebuah bom tanah liat yg dilempar Konan meledak tepat di depan Kisame, origami Konan membentuk gumpalan seperti batu yg amat besar dan menghantam badan Kisame dan Konan memukul Kisame dengan samehadanya seperti memukul bola baseball dengan bat. Yap, dengan suksesnya Kisame terbang keangkasa bersama pedangnya (Flashback mode:off)
“Oi, jangan lama-lama tinggal 1 permintaan aja!” Kata jin bintang yg udah bosen dengerin ocehan Kisame.
“Aku pengen Pein, Konan, Zetsu & Dei senpai mbalek” Kata Tobi
“Ocre, oke & sip!” Kata jin bintang
Tiba-tiba muncul lubang hitam yg memuntahkan beberapa mahluk aneh. Setelah melakukan tugasnya jin bintang pun pergi.
“Hore, para senpai kembali” Teriak Tobi girang
Tanpa disadari tatapan death glare diberikan Konan pada mereka(Kisame, Pein, Zetsu & Deidara) disela kebahagianya karena bisa pulang. Dari tatapan itu mengatakan bahwa ‘Awas kau jangan berani-berani bilang pada siapapun, kalau tidak…’
Yang ditatap hanya bisa menelan ludah.
-END OF KONAN SECRET-
To be continue….
Senin, 04 November 2013
Akatsuki Kerja
Siang itu, markas Akatsuki tampak agak sepi. Hanya ada Kakuzu yang sedang membaca majalah; "Cara Menjadi Kaya Tanpa Kerja", Tobi yang sedang mengemut lollipop di sudut, juga Deidara dan Itachi yang lagi menonton serial kesukaan mereka; "Karena Waria Ingin Dimengerti".
"Uwohh ...! Boleh juga neh!" Kakuzu tiba-tiba berteriak heboh, sontak membuat tiga makluk lainnya terpekik kaget.
"Kakuzu-senpai kenapa?" Tobi yang paling pertama berlari mendekati sang bendahara bangkotan.
"Ada artikel keren neh. Boleh juga loh," katanya, sebari memandangi majalah itu dengan pandangan berkilat-kilat.
"Emang apaan sih, un? Paling-paling tentang uang lagi kan?" Deidara ikutan nimbrung.
"Berkaitan dikit sih ... dengerin nih ye!" Kakuzu berujar, dan tiga makluk itupun langsung pada ngedeketin.
Kakuzu pun berdehem, lagaknya mirip presiden yang mau berdekrit, "Menurut survey ..." ia mulai membaca sebuah artikel. "pekerjaan yang berakhiran '–or' itu pasti berakhir sukses! Contohnya : Doktor, promotor, profesor, dan lain-lain ..."
"Bener gak tuh, un?"
"Bener juga loh ..." Itachi menimpali. "Pak haji romli tetangga gue contohnya, dia itu pengusaha motor, dan sukses!"
"Tobi juga pernah liat kontraktor yang sukses!" Tobi berkata sebari mengemut lollipopnya.
"Bapak gue juga koruptor, sukses tuh," Kakuzu membongkar aib.
"Tapi kenapa ya, un ..." Deidara bergumam lirih.
"Kenapa, senpai?" tanya Tobi, plus kuahnya yang mendarat di wajah Deidara.
"Iya ... babehku di kampung, un. Bukannya sukses, malah disiksa warga kampung, un. Terus mati dan mayatnya dibuang ke selokan terdekat, un!" Deidara mengumbar kisah ayah tercintanya yang menyedihkan.
"Emang pekerjaan babeh lu apaan?" tanya Kakuzu, diiringi tatapan penasaran Itachi dan Tobi.
Deidara terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Pencuri kolor."
Keriput Itachi mendadak copot dari tempatnya.
~oOo~
Paku
Tobi berjalan riang melewati pertokoan. Kalimat sang leader—Pein—sangat terngiang-ngiang di kepalanya, Tob, pintu utama markas kita undah bobrok. Gue mau ngebenerin, lu beliin paku ye?
Setelah berjalan mencari toko bangunan, akhirnya Tobi pun sampai di sebuah toko bangunan "TB Uchiha Corp".
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang Uchiha yang sudah agak tua itu—Uchiha Fugaku—menghampiri Tobi, karena curiga adanya lollipop berjalan yang menghalangi pemandangan.
"Itu! Tobi anak baik, mau beli paku! Sekilo ya," Tobi memberi tahu maksud dan tujuannya datang ke sana.
Fugaku manggut-manggut sambil nyiapin paku, "Oh ... dibungkus?"
Tobi yang nggak terlalu ngerti dengan entengnya menjawab, "Nggak bang, Tobi mau makan di sini aja."
~oOo~
Nasi
"Kenyang!" teriak Kisame, setelah mengisi perutnya di warteg punya mpok Tsunade. Kemiskinan yang melanda seluruh anggota Akatsuki—selain Kakuzu tentunya—memaksa Kisame hanya bisa makan di warteg. Padahal hati kecilnya meraung-raung pengen makan di restoran mewah di atas kapal pesiar.
"Semuanya ini berapa, mpok?" tanya Kisame pada mpok-mpok cantik nan bohai itu.
"Makannya sama apa aja, mas?" tanya Tsunade, sebari menyiapkan kalkulator.
"Tempe satu ..." Kisame mulai menyebutkan.
"Lima ratus rupiah ..." Tsunade bergumam sebari mengetikan angka.
"Pete dua ..."
"Dua ribu ..."
"Gepuk satu ..."
"Tiga ribu ..."
"Terus nasi. Udah deh," Kisame menyiapkan dompetnya.
"Nasi satu empat ribu ..."
"Hah? Mahal amat!" Kisame sewot.
"Mahal? Itu paling murah kok!" Tsunade nggak terima.
"Mahal lah mpok ... nasinya satu empat ribu. Berarti sepiring harganya berapa?"
Dada Tsunade yang besar itu tiba-tiba kempis.
~oOo~
Pinggir Jalan
Pagi ini nampaknya markas sedang sepi. Karena bosan, sang leader mengajak Tobi jalan-jalan. "Tob, lu bosen kan? Kita keluar yuk?"
"Ke mana, senpai? Tobi mau ke taman bermain!"
"Kagak ada duit. Kita ke depan aja, liatin mobil yang lewat."
"Emang asik yah, senpai?"
"Asik banget pokoknya," Pein pun berjalan santai menuju pintu utama, diikuti Tobi.
Sampai di luar, mata Tobi memancarkan kilatan-kilatan. "Wah! Senpai, banyak mobil berlalu-lalang!" Tobi memandang takjub pada pemandangan yang sebenarnya biasa aja itu.
"Tob, jangan main di pinggir jalan! Banyak mobil, nanti ketabrak!" teriak Pein bijak, saat melihat Tobi berlari mendekati jalan raya.
"Iya senpai, Tobi kan anak baik. Tobi emang nggak akan main dipinggir jalan, tapi ditengah jalan ... !"
Gigi-gigi Pein mendadak rontok.
~oOo~
Dari Mana
"Bang, ke Konoha ya?" ucap Hidan, sebari menaiki angkot jurusan Suna-Konoha itu.
"Ngapain kita naik angkot sih? Menghambur uang aja!" Kakuzu sewot sebari masuk dan duduk di salah satu tempat kosong.
Si sopir tampak agak risih waktu melihat dua makluk yang masuk ke dalam angkotnya tampak begitu mencurigakan. Yang satu pake cadar segala, yang satu kakek-kakek yang bawa-bawa sabit mata tiga. Tapi biarlah, yang penting mereka bayar kan?
Beberapa menit perjalanan, Hidan lekas berteriak. "Kiri, kiri, bang!" tepat di telinga sang sopir, bonus juga kuahnya.
Angkot pun berhenti dengan rem mendadak. Sehingga ban mengeluarkan suara decitan yang nggak enak di dengar.
Hidan dan Kakuzu pun turun. "Berapa ongkosnya, bang?" tanya Hidan.
"Dari mana, mas?" tanya sang sopir. Sepertinya sang sopir lupa dua makluk itu naik dari mana.
"Saya? Saya dari Banjarmasin, bang!" jawab Hidan, semangat.
~oOo~
Itikap di Masjid
"Dan, mau ke mana lu?" tanya Kisame, heran melihat sang ustadz Akatsuki berjalan ke luar markas.
"Mau Itikap di mesjid, Kis," jawabnya. "Kenape? Lu mau ikut?"
Kisame berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Males ah. Gue nanti aja ikutnya bulan April, ikutan Domba Cup."
~oOo~
Malam Hari
Di markas, hari sudah agak gelap tapi semuanya sudah tidur. Hanya tinggal dua makluk yang tersisa; the only beautiful girl dan si mesum. Yep, Konan dan Pein.
"Yayang, di sini bau ya? Kita sewa hotel yuk?" tanya Pein, dengan nada lembut dan misterius.
Wajah Konan langsung memerah, blushing ria digoda demikian oleh Pein yang sebenarnya ganteng aja kagak. Ancur sih, iya. "Boleh~"
Mereka pun kabur dari markas dan menyewa sebuah kamar hotel mewah. Bagaimana mereka akan membayar? Yah, itu mah gimana nanti aja.
"Yayang, tutup pintunya dong ..." ujar Pein, sebari memasuki ruangan bagai surga itu. "Iya, Pein ganteng ..." ujar Konan, dan hampir membuat Author muntah seember.
'Kreett ... cklek!' pintu pun tertutup rapat dan dikunci.
"Kayaknya asik kalau jendelanya ditutup juga, ya?" ujar Pein pelan, dengan nada seduktive. Konan semakin blushing, lalu berjalan mendekati letak jendela dan menutupnya. 'Blam.'
"Yayang Konan, gimana kalau lampunya kita matiin juga?" Pein bergumam lagi, nada suaranya semakin misterius dan pelan. Konan segera tersenyum tanpa menghilangkan semburat merah yang menghiasi pipinya.
Ia segera mematikan lampu, 'Tlek.'
"Yayang, kita naik ke atas ranjang yuk?" Pein berujar sebari memain-mainkan ujung rambut Konan.
"Bo-boleh," Konan tiba-tiba jadi merasa gugup. Apa Pein akan ...
Melihat Pein mulai menaiki ranjang, Konan mengikuti dan mereka berbaring bersebelahan.
"Kita masuk ke dalam selimut yuk?" ajak Pein lagi.
"A-ayo," Konan semakin gemetar. Ya ampun, bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya.
"Konan ..."
"I-iya?"
"Lihat! Bagus 'kan, jam tangan gue? Bisa menyala di tempat gelap!"
~oOo~
Lilin Mati
"Woi! Gue mau nanya nih!" Kisame berlari terbirit-birit menuju ruang TV Akatsuki yang sudah dipenuhi anggota lainnya yang sedang bersantai ria.
"Lain kali aja, lagi seru nih!" Itachi bergumam sebari memasukan kacang murahan sebagai camilan ke dalam mulutnya. "Wuihh! Liat tuh, Lee Min Ho! Ganteng ya? Kayak gue?" Itachi bernarsis sebari nunjuk-nunjuk ke arah sang TV.
"Chi, kapan lu berhenti ngayal sih?" gerutu Pein yang sedang berusaha menikmati film di TV.
"Iya, un. Lagian kita 'kan nggak langi nonton BBF, orang dari tadi listrik mati," Deidara menimpali.
"Oh ... pantesan dari tadi film yang kita tonton item doang. TV-nya gak nyala toh," balas Zetsu.
"Ehh ... tapi tadi gue abis nonton TV di rumah sebelah! Gue nebeng liat TV lewat jendela. Untung nggak ketahuan," Kisame membongkar aib.
"Nonton apa lu?" tanya Hidan.
"Itu loh, Rangking 1!" jawab Kisame. Seluruh Akatsuki nganga—tidak percaya.
"Sejak kapan lu tertarik asah otak?" tanya Pein asal. Padahal dirinya sendiri juga nggak pernah asah otak. Asah mata sih, sering.
"Ah, pokoknya ... sekarang lagi iklan! Tadi udah babak praktikum!" Kisame tampak terburu-buru. "Pertanyaannya gini nih; Kalau lilin nyala, terus ditutup pake gelas. Eh, api lilinnya mati! Menunjukkan apa itu?"
"Oh ... itu menunjukkan kalau emang udah waktunya bagi sang lilin dipanggil ke rahmatullah, un ..." tebak Deidara.
"Bukan, itu apinya pergi beli kaset XXX dulu," kata Pein, asal.
"Salah!" Sasori akhirnya membuka suara. "Itu menunjukkan oksigen di dalam gelas terbakar sehingga api mati," nah, itu jawaban paling meyakinkan.
Kisame hanya manggut-manggut, bingung mau pilih jawaban yang mana.
"Salah Kis," akhirnya Itachi sang partner sehidup semati angkat bicara. "Itu menunjukkan orang yang kurang kerjaan," katanya, "percaya deh sama gue."
Secara, wajah Itachi beneran serius saat itu. Terus, karena kapasitas otak Kisame yang nggak lebih gede dari ikan hiu, akhirnya ia ngangguk-ngangguk.
Kisame akhirnya pergi dengan memilih jawaban Itachi.
~oOo~
Narkoba
"Whoah!" Itachi berteriak kaget melihat sang leader yang tengah menyeduh kopi. "Leader-sama, aku tidak pernah menyangka ..." katanya, dengan nada dramatis.
"Apaan?" tanya Pein asal, masih mengaduk kopi dengan sendok.
"Leader, lu jadi pake narkoba?" Itachi was-was, "Setelah mengoleksi film XXX, sekarang lu jadi pecandu narkoba? Mau dibawa ke mana masa depan lu?" Itachi sok bijak. "Gue bilangin Konan, diputusin lu!" Itachi mengancam. Pada dasarnya emang dia tengah menunggu Konan menjomblo.
"Narkoba apaan? Astagfirullah, fitnah itu!" Pein mendadak alim.
"Gue tadi liat elu masukin sebuah tablet ke dalam kopinya! Tablet apaan tuh?"
"Oh ... itu? Itu mah Tablet turun panas," jawab Pein.
"Hah?" Itachi cengo, keriputnya nambah panjang. "Buat apaan?"
"Ini Chi, kopinya nggak dingin-dingin dari tadi."
~oOo~
CD Rusak
"Zetsu, aku benci padamu!" Hidan tiba-tiba datang dan berteriak gaje ke arah Zetsu.
Zetsu yang dikatai demikian langsung cengo. "Benci? Kenapa sih, lu?" ternyata Zetsu putih yang menimpali.
"Karena kita nggak masuk agama sesat lu?" tanya Zetsu hitam.
"Nggak. Kemarin gue minjem CD ke elu! Tapi kenapa nggak ada gambarnya? Jahat banget sih lu, minjemin CD rusak ke gue!" Hidan berujar dramatis.
Zetsu memasang pose berpikir. "Perasaan CD dan VCD gue masih bagus semua. Lu salah ambil kali, malah CD punya Leader-sama." Jawab Zetsu Putih.
"Iya, CD Leader-sama kan bajakan, terus sering banget si stell ... pasti pada udah rusak." Timpal si item.
"Kagak. Beneran kok, ini punya elu! Tapi gue stell tuh nggak ada gambarnya!" Hidan sewot.
"Emang lu pinjem CD gue yang mana? Yang judulnya apa?"
Hidan berpikir sebentar, "Umm ... ah, pokoknya yang judulnya tuh gini; CD Cleaner!"
~oOo~
Sumber : http://m.fanfiction.net/s/8145715/1/
Akatsuki Behind the Scene
By : The Crispy
Pair : Akatsuki
"Aah, bau. Lima menit saja di lubang kotoran begitu, baunya pasti sudah menempel di baju," gerutu Hidan sambil mengendus jubah Akatsukinya.
"Kakuzu, lama sekali," ujarnya kesal ketika merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Hidan tersentak saat mengetahui orang itu bukanlah Kakuzu. Dengan cepat dia mengayunkan sabit besarnya, berusaha menangkis shuriken yang dilemparkan ke arahnya. Tapi…
"Sialan, berat banget!"
"CUUTT!" teriak seseorang dari tempat yang tidak tersorot kamera. "HIDAAN! Sudah berapa kali saya bilang, kamu kurang cepat mengayunkan sabitnya! Dan dialogmu SALAH!"
"Ck, ini sudah yang ke enam kali. Sekali lagi salah, bisa jadi tujuh keajaiban dunia, nih," Asuma menarik napas panjang sambil mengumpulkan kembali shuriken imitasi yang bertebaran.
"Brengsek kau, pak tua! Salahin tuh, bagian properti yang bikin sabit sialan ini dari besi beneran! Berat tauk!" Hidan ngamuk dan membanting sabit itu.
"Siapa yang kamu bilang tua, saya ini…"
"Iya, gak tua, tapi bau tanah!" sela Hidan jengkel.
"Apa katamuu!" pak tua yang ternyata adalah sutradara Jiraiya menjerit histeris. "Rasakan ini, ranjishigami no jutsu!" Jiraiya membentuk segel dan mengibaskan rambut putihnya dengan liar.
"Mister Jiraiya… itukan cuma ada di film yang anda buat… pakai efek spesial… emm," Izumo yang baru selesai membantu Asuma memungut shuriken sweat drop.
"…HAH! Ini bukan jurus amukan surai singa. Tapi. Ini. Adalah. JURUS AMUKAN TRIO MACAN! IWAK PEYEEK, IWAK PEYEEK, IWAK PEYEK NASI JAGUNG!"
(Kita abaikan Jiraiya dan balik lagi ke Hidan)
Si mata ungu rambut beruban sedang istirahat bersama pemain lain. "Sialan, lenganku sakit kebanyakan mengulang adegan tadi," kata Hidan sambil memijit lengannya pake minyak telon. Shikamaru yang sedang menghafalkan dialognya menyahut, "Salahmu sendiri gak mau digantiin sama stuntman."
"Diem, bocah. Siapa juga yang mau digantiin sama stuntman jelek itu? Bisa-bisa aku gak populer lagi di kalangan…"
"Nenek-nenek," Shikamaru menginterupsi, lalu cepat-cepat kabur sebelum Hidan nyambit dia pake sabit properti. Setelah sukses membuat Hidan marah, Shikamaru mengalihkan sasaran berikutnya pada Kakuzu yang tertidur di kursinya.
"Om, Kakuzu. Hei, Om Kaku, woi…"
"Shikamaru, aku sudah dengar. Dan jangan panggil 'Om', umurku masih 25," ujar Kakuzu malas. "Ada perlu apa?"
"Dipanggil sama Mister Jiraiya."
"Siapa?"
"Ya, Kak Kakuzu lah."
Kakuzu terdiam sejenak, "Shikamaru."
"Apa?"
"Jangan panggil 'Kak', kesannya homo banget."
"…"
.
.
Di tempat terpisah, Zetsu sedang sibuk mengecat mukanya dengan hati-hati. Deidara yang baru kembali dari toilet mengerutkan dahi melihat aktor yang kebagian peran jadi Sumanto versi Jepang itu. "Lho, Zetsu. Bukannya kamu gak ada take hari ini? Kok disini?"
"…"
"Zetsu?"
"…"
"Zetsu, aku sebarin ke media massa kalo kamu budek, nih."
Zetsu menoleh dengan kesal. "Aduh, bok! Eke lagi konsentrasi ngerias nih! Masa yey gak ngeliat Eke lagi ngapain? Riasan ini nih, bok, butuh satu minggu baru bisa sempurna. Yey sendiri? Bukannya lagi cuti?" tanya Zetsu sambil melanjutkan riasannya.
"Gak ada perlu apa-apa sebenernya. Cuman pengen ngeliat aktingnya Hidan aja. Hyahaha! Lumayan buar hiburan." Zetsu tersenyum seolah dia tau sesuatu di balik kedatangan Deidara yang hampir setiap hari.
"Dei, yey cuman mau nemuin Tenten kan?" Zetsu menyeringai seram karena wajahnya yang baru dicat separo.
"A-apa maksudmu?" ucap Deidara kaget. Hampir aja dia tersedak plastisin di tangannya.
"Jangan pura-pura. Eke udah tau dari dulu. Tenten kan selalu dateng tiap hari buat bantuin Mister Jiraiya. Dan yey dateng buat ngeliat keadaan dia kan?"
"D-dari mana kamu tau kalo a-aku sama Tenten.."
"Ha, ketauan satu fakta lagi. Yey udah pacaran sama dia!" kata Zetsu disela-sela riasannya.
"Sial. Salah ngomong gue. Zetsu, kamu emang bakat jadi Dedy Corbuzer!"
"Sapa tuh?"
"Orang gundul yang di acara Uya Emang Kuya…"
"Ooh…" Zetsu manggut-manggut ngerti. Dalam pikirannya terbayang orang gundul di acara Dunia Lain favorit Itachi.
.
.
(kembali lagi pada adegan Hidan dan kelompok Asuma)
"ROLLING ENNN ACTION!"
"Aah, bau. Lima menit saja di lubang kotoran begitu, baunya pasti sudah menempel di baju," gerutu Hidan sambil mengendus jubah Akatsukinya.
"Kakuzu, lama sekali," ujarnya kesal ketika merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Hidan tersentak saat mengetahui orang itu bukanlah Kakuzu.
BWUUNG… (SFX shuriken dilempar)
GABRUK! (SFX Asuma jatuh kesandung kaki kameramen)
"ASUMAA…! KAU MENGGAGALKAN TAKE YANG KE-7!" Hidan meraung emosi. Dia udah capek-capek latihan mengayunkan celurit dan bertekad menyelesaikannya di take ke tujuh, eeh… malah gagal gara-gara si Roma Irama Naruto Version.
"Hidan, harusnya aku yang teriak…" gerutu Asuma pasrah saking capeknya.
"Sialan! Saya juga mau teriak tapi keduluan si Hidan! Lain kali harus lebih cepat!" Jiraiya bergumam sendiri.
Setelah dua puluh menit, barulah adegan Hidan mengayunkan sabit dan Asuma melempar shuriken, kelar di take yang ke sepuluh. Seluruh pemain dan crew beristirahat di gedung tempat syuting. Hidan langsung cabut ke kamar mandi. Asuma sedang dipijit oleh beberapa crew film termasuk kameramen. Jiraiya mencari-cari asistennya, Tenten. Kakuzu mempersiapkan jebakan balasan bagi Shikamaru. Deidara, yaah… bisa ditebak, sedang membawa apa yang dicari Mister Jiraiya.
"Jiraiya, gimana kalau minum-minum di apartemenku? Ajak yang lain juga," ujar Tobi, aktor senior super kaya yang saat ini terjebak dalam film ini sebagai penipu bertopeng oranye.
"Hm, gak usah repot-repot lah, Tobi," Jiraiya sok menolak. Padahal dalam hatinya bersorak 'Yes! Yes! Sake gratis!'
"Hahaha, tidak apa-apa, Mister. Sekali-sekali saya traktir," desak Tobi. 'Soalnya kalo elo gak akan mungkin nraktir anak buah lo!' rutuk Tobi dalam hati.
Dan akhirnya, malam itu setelah syuting, beberapa pemain film Naruto rame-rame dateng ke apartemen Tobi untuk pesta. Awalnya banyak yang menolak dengan alasan sibuk dan capek syuting. Tapi ketika Jiraiya yang dengan-mulut salesnya-mengatakan 'Kesempataaan… jarang-jarang bisa makan minum sepuasnya dan gratis plus boleh dibungkus lho!' mereka pun setuju ikut.
.
.
Laki-laki berambut hitam panjang berjalan menyusuri lobi apartemen super besar milik senior Tobi. Dengan gayanya yang elegan laki-laki itu menghisap puntung rokok yang tadi dia temuin di asbak warung soto emperan. Dialah Itachi, pemeran tokoh Itachi dalam film paling fenomenal ini. Barusan dia mendapat telpon emergency dari aktor Kakashi yang menyuruhnya datang kesini.
"Awas aja kalo ternyata gak penting!" geram Itachi yang lagi bad mood karena gara-gara Kakashi, dia gak sempat mandi busa sama paus karetnya. Dia pun membuka pintu dan segera saja disambut dengan aroma sake dan asap rokok.
"ITACHI, AWASS!" seseorang menjerit.
PRANGG! Itachi tewas berlumuran darah. TAMAT. (nggak lah, gila aja langsung tamat)
"SIAPA YANG *TIIIT* NGLEMPAR *TIIIT* KULIT KACANG KE MUKA GUEE *TIIIIIT*!" Itachi yang mulutnya lebih parah dari Hidan meraung-raung sambil mengacungkan keempat jari tengahnya. Seketika ruangan tersebut sunyi senyap. Sampai seseorang menegur, "Mas Itachi…"
Itachi tambah ngamuk
"MAS *TIIIT* KEPALA LO EMAS! EMANG GUE *TIIIT* TUKANG OJEK APA?" semprot Itachi murka pada artis cilik Sasori yang entah kenapa bisa kebagian peran jadi anggota Akatsuki.
Sasori langsung mengkeret, "A-ampun, mas…"
"!"
Tiba-tiba, pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam. "Jangan ada yang nyalain pendingin dalam bentuk apa pun!" perintah orang tersebut, Kisame Hoshigaki.
"K-Kisame, kamu gak sakit lagi kan?" Sakura, aktris sekaligus model majalah PLANT and FERTILIZER bertanya waswas melihat seluruh tubuh Kisame (yang lagi-lagi) berwarna biru.
"Diam. Aku jadi begini gara-gara Jiraiya. Dia-dia…" Semua orang mangap menyaksikan Kisame yang tiba-tiba tersedu-sedu. "Dia… dia tega banget *sob* menyuruhku *sob-sob* masuk kulkas *sob-sob-sob*SETIAP PAGI SAUDARA-SAUDARA!"
Penonton mangap dua kali lipat.
"KATANYA BIAR PERAN MONSTER IKANKU JADI LEBIH REALIS-TIS! BAH!" Kisame terengah-engah setelah akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya yang terpendam.
"Masih mending," kata Kakuzu datar sambil menenggak birnya. "Dia sudah berkali-kali mendorongku masuk jurang untuk membuatku luka-luka dan dia jadi punya alasan menjahit seluruh badanku."
Penonton menelan ludah.
"Eke lebih kejam lagi." semua mata kini beralih ke Zetsu yang masih tetap dalam riasan LIDAH BUAYA MAN-nya. "Mister Jiraiya bikin eke diketawain cowok-cowok gara-gara setiap mangkal eke harus pake jas hujan buat nutupin dandanan menyedihkan ini."
Penonton masang tampang horor.
"Tapi Itachi, kamu enak ya," Deidara tiba-tiba bicara, "Mister Jiraiya cuman ngasih kamu dialog sedikit dengan bayaran banyak. Apalagi kontrak mainmu masih panjang. Kesannya kamu jadi lebih keliatan cool daripada yang lain."
"Hmp… Mister Jiraiya memang ngasih peran yang sesuai sama image gue," Itachi berkata bangga sambil menyesap minumannya.
"Psst. Hunny…" Tenten berbisik pada Deidara.
"Hm?"
"Mister Jiraiya ngasih dia dialog sedikit bukan karena dia cool atau apa. Tapi biar filmnya gak kebanyakan sensor gara-gara mulut Itachi. Cukup Hidan aja yang bikin film Naruto jadi banyak disensor. Gitu kata Mister."
"Oh, gitu ya. Pinter juga Mister Jiraiya…" Deidara manggut-manggut.
.
.
Jam 7 malam, para pemain film Naruto beserta staff mengadakan barbeque party di kolam renang pribadi milik Tobi. Para pemeran Akatsuki (kecuali Kisame yang menderita Hypothermia, Zetsu yang gak mungkin berenang dengan kostum kayak gitu, Konan yang lagi bantuin Sakura bakar barbeque dan Itachi yang entah apa alasannya) saling memamerkan kemampuan berenang mereka. (alasan sebenarnya mereka cuman pengen pamer body pada beberapa artis cewek disana).
"Itachi, jangan jadi pengecut. Ayo kita tanding!" Tobi yang sudah berumur kepala tiga tapi tetep sixpack menantang Itachi.
"Mungkin dia gak bisa berenang, Om," sahut Hidan memanas-manasi.
"Menyedihkan," Pain, aktor muda yang pernah masuk acara Believe It or Not gara-gara dia diguna-guna seseorang dan berakibat tumbuhnya besi di sekujur tubuhnya, ikut bekomentar.
Itachi mencoba gak terpengaruh oleh pancingan teman-temannya. "*TIIIT* peduli amat sama *TIIIT* ocehan lo semua. Dasar para *TIIIIT*!"
"Wow, mulut yang kasar. Tapi, aku suka," si bintang iklan super seksi, Hinata yang telah berganti pakaian renang *uhuk*bikini*uhuk* menghampiri Itachi. "Bagaimana kalau bertanding denganku saja? Hm?"
Itachi: *TIIIIIT* SROOOT! (SFX mimisan) Ng-nggak usah! Nggak usah!
Hinata: (tambah mendekat) hei, ayo dong… kenapa sih?
Itachi: *TIIIIT* GULP (SFX nelen ludah)
Itachi meraba-raba meja di sebelahnya dengan gugup tanpa melepaskan pandangannya dari Hinata. Kemudian dia mendapatkan apa yang dikiranya minuman soda dan segera meneguknya sampai habis.
"Om, Tobi. Bukannya Itachi gak tahan minum alkohol, ya?" tanya Hinata heran.
"Iya, dia pernah bilang. Memangnya kenapa?" Tobi mengikuti pandangan Hinata. Begitu juga dengan yang lain.
Semuanya terdiam sampai akhirnya Kakuzu bergumam datar, "Dia minum bir bintang lima milikku."
SHOCK
BRAAAK! Itachi tiba-tiba menggebrak meja. Semua penonton terlonjak kaget. Seketika suasana jadi sunyi. Semua mata memandang horor ke arah Itachi.
Tanpa diduga Itachi memeluk Hinata, "EHEHEHE… Hinata-chaan…!"
.
.
Di beranda apartemen mewah Tobi, Jiraiya sedang bersantai minum sake bersama Kakashi. "Hei, Kakashi, kenapa tidak minum? Lumayan lho, sake gratis…" ujar Jiraiya menyeringai bahagia karena pengaruh alkohol.
"Oi…"
"Mister gak dengar sesuatu? Seperti suara teriakan perempuan," Kakashi tiba-tiba berkata.
"Hah, perempuan?" Jiraiya bertanya balik, ikut memasang telinga.
"Kyaaaa….!"
"Iya, kan? Asalnya dari bawah."
"Haah… biarkan saja… mungkin mereka sedang bersenang-senang," sahut Jiraiya acuh.
"Bentar, Mister. Biar saya periksa kalau-kalau ada yang gak beres," Kakashi berujar sebelum akhirnya dia berlalu pergi.
"Huh, repot bener," Jiraiya akhirnya berdiri dengan sempoyongan, lalu pergi mengikuti Kakashi.
(kembali lagi ke kolam renang…)
"Itachi, oi, kamu gak mati kan, bro?" Hidan menepuk-nepuk lengan Itachi yang terkapar dengan bekas kaki di wajahnya, sementara Pain keluar dari kolam renang untuk memeriksa denyut nadi Itachi.
"Hinata kuat juga, ya? Padahal kalau adegan action selalu digantiin sama stuntman," bisik Deidara pada Zetsu melihat aksi tendangan combo Hinata barusan.
"Iya, ya. Eke juga baru tau," Zetsu balas berbisik. Semenit kemudian, Itachi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dia mengerang sambil memegangi wajahnya. "G-gue gak akan *TIIIT* kalah dari perempuan *TIIIIT* itu!" Itachi bangkit dari tidur panjangnya, serta merta dia membuka polo shirt-nya.
"Oi, oi, ngapain kamu? Masih mabuk, ya?"
"Tentu saja. Yang dia minum tadi mengandung alkohol 90%," Kakuzu bergumam menjawab pertanyaan Hidan dengan wajah yang tetap datar.
"UPH!" (suara Hidan keselek)
Itachi berdiri dengan cool dipinggir kolam. Menampakkan pada semua orang body hasil fitness-nya yang ber-pack-pack dengan otot-otot lengan yang terbentuk sempurna. Semua artis cewek terpana. Zetsu pun termasuk di antaranya. Tapi belum ada yang menyadari sesuatu di punggung Itachi, yang sejak tadi ditutupinya sampai bersikeras tidak mau ikut berenang.
Sasori, cucu si sutradara yang pertama kali mengetahui keanehan itu. "Lho, Mas, maksudku, Itachi, itu… tato yang di punggung, kenapa gambar Ikan?"
"Ikan?" semuanya berseru bersamaan.
Konan yang berada terdekat dengan Itachi, menaruh spatulanya dan melihat apa yang dilihat Sasori. "Lho, iya, ikan. Mana imut banget lagi." setelah kata-kata Konan itu, semua orang berebut melihatnya. Dan seketika itu juga meledaklah tawa semua orang.
"GYAHAHAHA! I-Itachi… kamu… yang bener aja! BUAHAHAH!" Hidan ngakak guling-guling.
"BUH! UPH! Serius lo, Itachi?"
"PFFFT!"
"HUEK! PREMAN BERTATO IKAAAN! BOAHAHAH!"
Itachi yang masih di bawah pengaruh alkohol hanya tersenyum layaknya idiot melihat reaksi teman-temannya. Bahkan Hinata pun sampai tertawa histeris. Satu-satunya orang yang masih waras dan tidak tertawa yaitu Konan, bertanya, "Itachi, tatomu bener-bener GAK BANGET!"
Kali ini Itachi menjawab tanpa sensor, "Gue terobsesi sama ikan." Dan semua orang kembali ngakak gulung-gulung. Hanya satu orang, yang sedang meringkuk di pojok karena hypothermia, berkata dengan wajah pucat. "I-Itachi…"
"Ya, sayang?"
Kisame tambah pucat. Penonton sunyi senyap, memandang bergantian dengan tampang ngeri ke arah dua orang itu.
"Pst… mereka… gay ya?" bisik Sakura pada Konan, merinding ngeliat pemandangan di depannya.
"Gak tau juga. Tapi, bukannya Kisame sudah punya istri. Dan Itachi, minggu lalu di infotainment, aku ngeliat dia digosipin lagi deket sama cewek, tuh," Konan menjelaskan.
"Oh, ya?"
(tinggalkan gosip antar cewek, balik lagi ke Itachi dan Kisame)
Kisame pucat dua kali lipat. "Jangan-jangan, maksudmu, obsesi dengan ikan… kamu… kamu…?"
Seperti sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Kisame, Itachi tiba-tiba membentak, "BUODOOOH *TIIIT-TIIIIT-TIIIIIIT* GUE NORMAL TAUK! LO PIKIR GUE SUKA SAMA *TIIIIT* ELO!" mulut sensor Itachi kembali kambuh. "Maksud gue, dari dulu gue obsesi sama ikan. Rencananya gue mau bikin tato lagi di dada yang gambarnya sendok ama garpu. BIAR LENGKAP OBSESI GUE JADI PENGUSAHA RESTORAN IKAN! NGERTI LOOO PADAAA?" (sensor diilangin biar gak kelamaan)
Semua tercengang. Terkesiap. Takjub dan berurai air mata. Setelah itu, tawa histeris kembali meledak. Dan para pemain film Naruto melanjutkan lagi pesta mereka yang sempat tertunda karena kehebohan Itachi.
.
.
"Siapa yang teriak tadi?" tanya Kakashi dan Jiraiya terengah-engah dengan keringat bercucuran sehabis lari dari tingkat dua puluh. Kolam renang sudah sepi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kericuhan seperti yang mereka bayangkan. Kemudian, pandangan mereka tertuju pada sesuatu yang merah mengambang di tengah kolam.
"Yo, Kakek, Om Kakashi! Sayang sekali kalian terlambat. Pestanya udah kelar," ujar Sasori dari tengah kolam.
THE END
Pair : Akatsuki
"Aah, bau. Lima menit saja di lubang kotoran begitu, baunya pasti sudah menempel di baju," gerutu Hidan sambil mengendus jubah Akatsukinya.
"Kakuzu, lama sekali," ujarnya kesal ketika merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Hidan tersentak saat mengetahui orang itu bukanlah Kakuzu. Dengan cepat dia mengayunkan sabit besarnya, berusaha menangkis shuriken yang dilemparkan ke arahnya. Tapi…
"Sialan, berat banget!"
"CUUTT!" teriak seseorang dari tempat yang tidak tersorot kamera. "HIDAAN! Sudah berapa kali saya bilang, kamu kurang cepat mengayunkan sabitnya! Dan dialogmu SALAH!"
"Ck, ini sudah yang ke enam kali. Sekali lagi salah, bisa jadi tujuh keajaiban dunia, nih," Asuma menarik napas panjang sambil mengumpulkan kembali shuriken imitasi yang bertebaran.
"Brengsek kau, pak tua! Salahin tuh, bagian properti yang bikin sabit sialan ini dari besi beneran! Berat tauk!" Hidan ngamuk dan membanting sabit itu.
"Siapa yang kamu bilang tua, saya ini…"
"Iya, gak tua, tapi bau tanah!" sela Hidan jengkel.
"Apa katamuu!" pak tua yang ternyata adalah sutradara Jiraiya menjerit histeris. "Rasakan ini, ranjishigami no jutsu!" Jiraiya membentuk segel dan mengibaskan rambut putihnya dengan liar.
"Mister Jiraiya… itukan cuma ada di film yang anda buat… pakai efek spesial… emm," Izumo yang baru selesai membantu Asuma memungut shuriken sweat drop.
"…HAH! Ini bukan jurus amukan surai singa. Tapi. Ini. Adalah. JURUS AMUKAN TRIO MACAN! IWAK PEYEEK, IWAK PEYEEK, IWAK PEYEK NASI JAGUNG!"
(Kita abaikan Jiraiya dan balik lagi ke Hidan)
Si mata ungu rambut beruban sedang istirahat bersama pemain lain. "Sialan, lenganku sakit kebanyakan mengulang adegan tadi," kata Hidan sambil memijit lengannya pake minyak telon. Shikamaru yang sedang menghafalkan dialognya menyahut, "Salahmu sendiri gak mau digantiin sama stuntman."
"Diem, bocah. Siapa juga yang mau digantiin sama stuntman jelek itu? Bisa-bisa aku gak populer lagi di kalangan…"
"Nenek-nenek," Shikamaru menginterupsi, lalu cepat-cepat kabur sebelum Hidan nyambit dia pake sabit properti. Setelah sukses membuat Hidan marah, Shikamaru mengalihkan sasaran berikutnya pada Kakuzu yang tertidur di kursinya.
"Om, Kakuzu. Hei, Om Kaku, woi…"
"Shikamaru, aku sudah dengar. Dan jangan panggil 'Om', umurku masih 25," ujar Kakuzu malas. "Ada perlu apa?"
"Dipanggil sama Mister Jiraiya."
"Siapa?"
"Ya, Kak Kakuzu lah."
Kakuzu terdiam sejenak, "Shikamaru."
"Apa?"
"Jangan panggil 'Kak', kesannya homo banget."
"…"
.
.
Di tempat terpisah, Zetsu sedang sibuk mengecat mukanya dengan hati-hati. Deidara yang baru kembali dari toilet mengerutkan dahi melihat aktor yang kebagian peran jadi Sumanto versi Jepang itu. "Lho, Zetsu. Bukannya kamu gak ada take hari ini? Kok disini?"
"…"
"Zetsu?"
"…"
"Zetsu, aku sebarin ke media massa kalo kamu budek, nih."
Zetsu menoleh dengan kesal. "Aduh, bok! Eke lagi konsentrasi ngerias nih! Masa yey gak ngeliat Eke lagi ngapain? Riasan ini nih, bok, butuh satu minggu baru bisa sempurna. Yey sendiri? Bukannya lagi cuti?" tanya Zetsu sambil melanjutkan riasannya.
"Gak ada perlu apa-apa sebenernya. Cuman pengen ngeliat aktingnya Hidan aja. Hyahaha! Lumayan buar hiburan." Zetsu tersenyum seolah dia tau sesuatu di balik kedatangan Deidara yang hampir setiap hari.
"Dei, yey cuman mau nemuin Tenten kan?" Zetsu menyeringai seram karena wajahnya yang baru dicat separo.
"A-apa maksudmu?" ucap Deidara kaget. Hampir aja dia tersedak plastisin di tangannya.
"Jangan pura-pura. Eke udah tau dari dulu. Tenten kan selalu dateng tiap hari buat bantuin Mister Jiraiya. Dan yey dateng buat ngeliat keadaan dia kan?"
"D-dari mana kamu tau kalo a-aku sama Tenten.."
"Ha, ketauan satu fakta lagi. Yey udah pacaran sama dia!" kata Zetsu disela-sela riasannya.
"Sial. Salah ngomong gue. Zetsu, kamu emang bakat jadi Dedy Corbuzer!"
"Sapa tuh?"
"Orang gundul yang di acara Uya Emang Kuya…"
"Ooh…" Zetsu manggut-manggut ngerti. Dalam pikirannya terbayang orang gundul di acara Dunia Lain favorit Itachi.
.
.
(kembali lagi pada adegan Hidan dan kelompok Asuma)
"ROLLING ENNN ACTION!"
"Aah, bau. Lima menit saja di lubang kotoran begitu, baunya pasti sudah menempel di baju," gerutu Hidan sambil mengendus jubah Akatsukinya.
"Kakuzu, lama sekali," ujarnya kesal ketika merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Hidan tersentak saat mengetahui orang itu bukanlah Kakuzu.
BWUUNG… (SFX shuriken dilempar)
GABRUK! (SFX Asuma jatuh kesandung kaki kameramen)
"ASUMAA…! KAU MENGGAGALKAN TAKE YANG KE-7!" Hidan meraung emosi. Dia udah capek-capek latihan mengayunkan celurit dan bertekad menyelesaikannya di take ke tujuh, eeh… malah gagal gara-gara si Roma Irama Naruto Version.
"Hidan, harusnya aku yang teriak…" gerutu Asuma pasrah saking capeknya.
"Sialan! Saya juga mau teriak tapi keduluan si Hidan! Lain kali harus lebih cepat!" Jiraiya bergumam sendiri.
Setelah dua puluh menit, barulah adegan Hidan mengayunkan sabit dan Asuma melempar shuriken, kelar di take yang ke sepuluh. Seluruh pemain dan crew beristirahat di gedung tempat syuting. Hidan langsung cabut ke kamar mandi. Asuma sedang dipijit oleh beberapa crew film termasuk kameramen. Jiraiya mencari-cari asistennya, Tenten. Kakuzu mempersiapkan jebakan balasan bagi Shikamaru. Deidara, yaah… bisa ditebak, sedang membawa apa yang dicari Mister Jiraiya.
"Jiraiya, gimana kalau minum-minum di apartemenku? Ajak yang lain juga," ujar Tobi, aktor senior super kaya yang saat ini terjebak dalam film ini sebagai penipu bertopeng oranye.
"Hm, gak usah repot-repot lah, Tobi," Jiraiya sok menolak. Padahal dalam hatinya bersorak 'Yes! Yes! Sake gratis!'
"Hahaha, tidak apa-apa, Mister. Sekali-sekali saya traktir," desak Tobi. 'Soalnya kalo elo gak akan mungkin nraktir anak buah lo!' rutuk Tobi dalam hati.
Dan akhirnya, malam itu setelah syuting, beberapa pemain film Naruto rame-rame dateng ke apartemen Tobi untuk pesta. Awalnya banyak yang menolak dengan alasan sibuk dan capek syuting. Tapi ketika Jiraiya yang dengan-mulut salesnya-mengatakan 'Kesempataaan… jarang-jarang bisa makan minum sepuasnya dan gratis plus boleh dibungkus lho!' mereka pun setuju ikut.
.
.
Laki-laki berambut hitam panjang berjalan menyusuri lobi apartemen super besar milik senior Tobi. Dengan gayanya yang elegan laki-laki itu menghisap puntung rokok yang tadi dia temuin di asbak warung soto emperan. Dialah Itachi, pemeran tokoh Itachi dalam film paling fenomenal ini. Barusan dia mendapat telpon emergency dari aktor Kakashi yang menyuruhnya datang kesini.
"Awas aja kalo ternyata gak penting!" geram Itachi yang lagi bad mood karena gara-gara Kakashi, dia gak sempat mandi busa sama paus karetnya. Dia pun membuka pintu dan segera saja disambut dengan aroma sake dan asap rokok.
"ITACHI, AWASS!" seseorang menjerit.
PRANGG! Itachi tewas berlumuran darah. TAMAT. (nggak lah, gila aja langsung tamat)
"SIAPA YANG *TIIIT* NGLEMPAR *TIIIT* KULIT KACANG KE MUKA GUEE *TIIIIIT*!" Itachi yang mulutnya lebih parah dari Hidan meraung-raung sambil mengacungkan keempat jari tengahnya. Seketika ruangan tersebut sunyi senyap. Sampai seseorang menegur, "Mas Itachi…"
Itachi tambah ngamuk
"MAS *TIIIT* KEPALA LO EMAS! EMANG GUE *TIIIT* TUKANG OJEK APA?" semprot Itachi murka pada artis cilik Sasori yang entah kenapa bisa kebagian peran jadi anggota Akatsuki.
Sasori langsung mengkeret, "A-ampun, mas…"
"!"
Tiba-tiba, pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam. "Jangan ada yang nyalain pendingin dalam bentuk apa pun!" perintah orang tersebut, Kisame Hoshigaki.
"K-Kisame, kamu gak sakit lagi kan?" Sakura, aktris sekaligus model majalah PLANT and FERTILIZER bertanya waswas melihat seluruh tubuh Kisame (yang lagi-lagi) berwarna biru.
"Diam. Aku jadi begini gara-gara Jiraiya. Dia-dia…" Semua orang mangap menyaksikan Kisame yang tiba-tiba tersedu-sedu. "Dia… dia tega banget *sob* menyuruhku *sob-sob* masuk kulkas *sob-sob-sob*SETIAP PAGI SAUDARA-SAUDARA!"
Penonton mangap dua kali lipat.
"KATANYA BIAR PERAN MONSTER IKANKU JADI LEBIH REALIS-TIS! BAH!" Kisame terengah-engah setelah akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya yang terpendam.
"Masih mending," kata Kakuzu datar sambil menenggak birnya. "Dia sudah berkali-kali mendorongku masuk jurang untuk membuatku luka-luka dan dia jadi punya alasan menjahit seluruh badanku."
Penonton menelan ludah.
"Eke lebih kejam lagi." semua mata kini beralih ke Zetsu yang masih tetap dalam riasan LIDAH BUAYA MAN-nya. "Mister Jiraiya bikin eke diketawain cowok-cowok gara-gara setiap mangkal eke harus pake jas hujan buat nutupin dandanan menyedihkan ini."
Penonton masang tampang horor.
"Tapi Itachi, kamu enak ya," Deidara tiba-tiba bicara, "Mister Jiraiya cuman ngasih kamu dialog sedikit dengan bayaran banyak. Apalagi kontrak mainmu masih panjang. Kesannya kamu jadi lebih keliatan cool daripada yang lain."
"Hmp… Mister Jiraiya memang ngasih peran yang sesuai sama image gue," Itachi berkata bangga sambil menyesap minumannya.
"Psst. Hunny…" Tenten berbisik pada Deidara.
"Hm?"
"Mister Jiraiya ngasih dia dialog sedikit bukan karena dia cool atau apa. Tapi biar filmnya gak kebanyakan sensor gara-gara mulut Itachi. Cukup Hidan aja yang bikin film Naruto jadi banyak disensor. Gitu kata Mister."
"Oh, gitu ya. Pinter juga Mister Jiraiya…" Deidara manggut-manggut.
.
.
Jam 7 malam, para pemain film Naruto beserta staff mengadakan barbeque party di kolam renang pribadi milik Tobi. Para pemeran Akatsuki (kecuali Kisame yang menderita Hypothermia, Zetsu yang gak mungkin berenang dengan kostum kayak gitu, Konan yang lagi bantuin Sakura bakar barbeque dan Itachi yang entah apa alasannya) saling memamerkan kemampuan berenang mereka. (alasan sebenarnya mereka cuman pengen pamer body pada beberapa artis cewek disana).
"Itachi, jangan jadi pengecut. Ayo kita tanding!" Tobi yang sudah berumur kepala tiga tapi tetep sixpack menantang Itachi.
"Mungkin dia gak bisa berenang, Om," sahut Hidan memanas-manasi.
"Menyedihkan," Pain, aktor muda yang pernah masuk acara Believe It or Not gara-gara dia diguna-guna seseorang dan berakibat tumbuhnya besi di sekujur tubuhnya, ikut bekomentar.
Itachi mencoba gak terpengaruh oleh pancingan teman-temannya. "*TIIIT* peduli amat sama *TIIIT* ocehan lo semua. Dasar para *TIIIIT*!"
"Wow, mulut yang kasar. Tapi, aku suka," si bintang iklan super seksi, Hinata yang telah berganti pakaian renang *uhuk*bikini*uhuk* menghampiri Itachi. "Bagaimana kalau bertanding denganku saja? Hm?"
Itachi: *TIIIIIT* SROOOT! (SFX mimisan) Ng-nggak usah! Nggak usah!
Hinata: (tambah mendekat) hei, ayo dong… kenapa sih?
Itachi: *TIIIIT* GULP (SFX nelen ludah)
Itachi meraba-raba meja di sebelahnya dengan gugup tanpa melepaskan pandangannya dari Hinata. Kemudian dia mendapatkan apa yang dikiranya minuman soda dan segera meneguknya sampai habis.
"Om, Tobi. Bukannya Itachi gak tahan minum alkohol, ya?" tanya Hinata heran.
"Iya, dia pernah bilang. Memangnya kenapa?" Tobi mengikuti pandangan Hinata. Begitu juga dengan yang lain.
Semuanya terdiam sampai akhirnya Kakuzu bergumam datar, "Dia minum bir bintang lima milikku."
SHOCK
BRAAAK! Itachi tiba-tiba menggebrak meja. Semua penonton terlonjak kaget. Seketika suasana jadi sunyi. Semua mata memandang horor ke arah Itachi.
Tanpa diduga Itachi memeluk Hinata, "EHEHEHE… Hinata-chaan…!"
.
.
Di beranda apartemen mewah Tobi, Jiraiya sedang bersantai minum sake bersama Kakashi. "Hei, Kakashi, kenapa tidak minum? Lumayan lho, sake gratis…" ujar Jiraiya menyeringai bahagia karena pengaruh alkohol.
"Oi…"
"Mister gak dengar sesuatu? Seperti suara teriakan perempuan," Kakashi tiba-tiba berkata.
"Hah, perempuan?" Jiraiya bertanya balik, ikut memasang telinga.
"Kyaaaa….!"
"Iya, kan? Asalnya dari bawah."
"Haah… biarkan saja… mungkin mereka sedang bersenang-senang," sahut Jiraiya acuh.
"Bentar, Mister. Biar saya periksa kalau-kalau ada yang gak beres," Kakashi berujar sebelum akhirnya dia berlalu pergi.
"Huh, repot bener," Jiraiya akhirnya berdiri dengan sempoyongan, lalu pergi mengikuti Kakashi.
(kembali lagi ke kolam renang…)
"Itachi, oi, kamu gak mati kan, bro?" Hidan menepuk-nepuk lengan Itachi yang terkapar dengan bekas kaki di wajahnya, sementara Pain keluar dari kolam renang untuk memeriksa denyut nadi Itachi.
"Hinata kuat juga, ya? Padahal kalau adegan action selalu digantiin sama stuntman," bisik Deidara pada Zetsu melihat aksi tendangan combo Hinata barusan.
"Iya, ya. Eke juga baru tau," Zetsu balas berbisik. Semenit kemudian, Itachi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dia mengerang sambil memegangi wajahnya. "G-gue gak akan *TIIIT* kalah dari perempuan *TIIIIT* itu!" Itachi bangkit dari tidur panjangnya, serta merta dia membuka polo shirt-nya.
"Oi, oi, ngapain kamu? Masih mabuk, ya?"
"Tentu saja. Yang dia minum tadi mengandung alkohol 90%," Kakuzu bergumam menjawab pertanyaan Hidan dengan wajah yang tetap datar.
"UPH!" (suara Hidan keselek)
Itachi berdiri dengan cool dipinggir kolam. Menampakkan pada semua orang body hasil fitness-nya yang ber-pack-pack dengan otot-otot lengan yang terbentuk sempurna. Semua artis cewek terpana. Zetsu pun termasuk di antaranya. Tapi belum ada yang menyadari sesuatu di punggung Itachi, yang sejak tadi ditutupinya sampai bersikeras tidak mau ikut berenang.
Sasori, cucu si sutradara yang pertama kali mengetahui keanehan itu. "Lho, Mas, maksudku, Itachi, itu… tato yang di punggung, kenapa gambar Ikan?"
"Ikan?" semuanya berseru bersamaan.
Konan yang berada terdekat dengan Itachi, menaruh spatulanya dan melihat apa yang dilihat Sasori. "Lho, iya, ikan. Mana imut banget lagi." setelah kata-kata Konan itu, semua orang berebut melihatnya. Dan seketika itu juga meledaklah tawa semua orang.
"GYAHAHAHA! I-Itachi… kamu… yang bener aja! BUAHAHAH!" Hidan ngakak guling-guling.
"BUH! UPH! Serius lo, Itachi?"
"PFFFT!"
"HUEK! PREMAN BERTATO IKAAAN! BOAHAHAH!"
Itachi yang masih di bawah pengaruh alkohol hanya tersenyum layaknya idiot melihat reaksi teman-temannya. Bahkan Hinata pun sampai tertawa histeris. Satu-satunya orang yang masih waras dan tidak tertawa yaitu Konan, bertanya, "Itachi, tatomu bener-bener GAK BANGET!"
Kali ini Itachi menjawab tanpa sensor, "Gue terobsesi sama ikan." Dan semua orang kembali ngakak gulung-gulung. Hanya satu orang, yang sedang meringkuk di pojok karena hypothermia, berkata dengan wajah pucat. "I-Itachi…"
"Ya, sayang?"
Kisame tambah pucat. Penonton sunyi senyap, memandang bergantian dengan tampang ngeri ke arah dua orang itu.
"Pst… mereka… gay ya?" bisik Sakura pada Konan, merinding ngeliat pemandangan di depannya.
"Gak tau juga. Tapi, bukannya Kisame sudah punya istri. Dan Itachi, minggu lalu di infotainment, aku ngeliat dia digosipin lagi deket sama cewek, tuh," Konan menjelaskan.
"Oh, ya?"
(tinggalkan gosip antar cewek, balik lagi ke Itachi dan Kisame)
Kisame pucat dua kali lipat. "Jangan-jangan, maksudmu, obsesi dengan ikan… kamu… kamu…?"
Seperti sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Kisame, Itachi tiba-tiba membentak, "BUODOOOH *TIIIT-TIIIIT-TIIIIIIT* GUE NORMAL TAUK! LO PIKIR GUE SUKA SAMA *TIIIIT* ELO!" mulut sensor Itachi kembali kambuh. "Maksud gue, dari dulu gue obsesi sama ikan. Rencananya gue mau bikin tato lagi di dada yang gambarnya sendok ama garpu. BIAR LENGKAP OBSESI GUE JADI PENGUSAHA RESTORAN IKAN! NGERTI LOOO PADAAA?" (sensor diilangin biar gak kelamaan)
Semua tercengang. Terkesiap. Takjub dan berurai air mata. Setelah itu, tawa histeris kembali meledak. Dan para pemain film Naruto melanjutkan lagi pesta mereka yang sempat tertunda karena kehebohan Itachi.
.
.
"Siapa yang teriak tadi?" tanya Kakashi dan Jiraiya terengah-engah dengan keringat bercucuran sehabis lari dari tingkat dua puluh. Kolam renang sudah sepi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kericuhan seperti yang mereka bayangkan. Kemudian, pandangan mereka tertuju pada sesuatu yang merah mengambang di tengah kolam.
"Yo, Kakek, Om Kakashi! Sayang sekali kalian terlambat. Pestanya udah kelar," ujar Sasori dari tengah kolam.
THE END
Sasori with Old Woman
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Credit: Nuightmareside Ardan Fm dan Takojo FULLHOUSE-nya Kak Aya Nirwana
Di malam yang dor-dar-gelap itu
(baca: mendung) seluruh anak-anak senat sibuk mondar-mandir di sebuah
vila di puncak yang menjadi tempat acara puncak ospek yang diusulkan
sama pacarnya ketua Senat, yaitu Ino. Dan tersebutlah Sasori dan
Deidara yang duduk di ujung kasur yang sudah tersedia seperti biasa lagi
asyik bikin petasan. Dan memiliki keyakinan bahwa kesenian itu sama
dengan dar-der-dor bunyi petasan. *dicekek fans Dei
Dan seperti biasa pula Sasori yang
mengamati cowok berambut blonde itu dengan malas-malasan. “Nggak bosen
kamu Dei, bikin petasan mulu?”
“Heh! Ini bukan petasan sembarangan.” Kata Deidara sambil tersenyum penuh arti.
Sasori merinding melihat senyum Deidara. “Kok udara jadi dingin ya?”
“Jendela belum ketutup kali.” Balas Deidara melempar pandangan ke arah jendela. “tuh kaaaan. Tutup jendela gih!”
“Enak aja kamu nyuruh-nyuruh yang tua. Kamu aja yang tutup jendela.” Sergah Sasori.
“Nggaklah ya! Aku juga nggak mau disuruh-suruh yang tua.” Balas Deidara menyebalkan.
“Kan aku termasuk tua di Akatsuki.”
“Muka kamu nggak keliatan tua tuh.”
“Berani kamu sama yang tua?”
“Berani lha ya!”
Sasori tertohok. Dengan
bersungut-sungut akhirnya Sasori pun mengalah dan menutup jendela.
Letak kamar yang berada di lantai dua membuat Sasori melongok ke arah
bawah dan menemukan beberapa kuburan tua.
“Hiiiiiy!” cepat-cepat Sasori menutup jendela kamar.
“Liat apa kamu Sas?”
“Hiiiy, masa di vila yang bagus kek begini masih aja ada kuburan.”
“Hah? Yang bener?”
“Beneran. Barusan aku liat pas nutup jendela.”
Deidara menatap Sasori dengan pandangan aneh.
“Kamu nggak percaya? Tuh liat aja.”
“Nggak. Percaya kok.” Jawabnya sambil melanjutkan aktivitasnya.
“Mandi ah.” Sasori nguibek-ngubek tasnya dan ngambil handuk.
“Lha? Kan tadi kata kamu dingin, kok mau mandi.”
“Badan lengket. Nggak enak kalo tidur entar.”
Deidara angkat bahu. “Akhirnya beres juga ni petasan. Pasti Aya bakal kaget. Hehehehehehe…..” Deidara ketawa ala psikopat.
Sambil bergidik ngeri Sasori pun melangkah keluar dan mendapati Yuuri lagi jalan sambil ngubek-ngubek tasnya.
“Eh Yuuri, baru dateng?” sapa Sasori.
“Iya nih, gue di suruh Shikamaru ke
sini buat ngurus ni anak-anak ospek. Nggak ngerti deh gue, kok
Shikamaru yang hobi molor itu jadi ketua senat?”
Sasori nyengir gaje denger keluh-kesah Yuuri. “Gue mandi dulu.” Pamit Sasori.
“Oke.” Yuuri pun berlalu.
Setelah melanjutkan perjalanan, dan
melewati dapur umum akhirnya Sasori menemukan kamar mandi yang dia
tuju. Begitu membuka kamar mandi Sasori berdecak kagum saat melihat
kamar mandinya yang luas dengan keramik biru yang tersebar dari lantai
dan juga dinding. Walaupun tiada air, keseluruhan dari kamar mandi itu
terlihat bersih.
Tapi, baru saja melangkah kan kaki
kanan ke dalam, tiba-tiba Sasori merinding disko. Bahkan cowok bermuka
bayi ini mendengar suara-suara bisik-bisik tetangga yang yang nggak
sudah-sudah. Tapi, bukan Sasori namanya kalo modalin takut. Dengan
pede jaya ia pun melangkah ke dalam kamar mandi.
“Nak, siniiiii….” Suara lirih nenek-nenek membuat Sasori membeku.
Sasori dengan gemeteran menolehkan
kepalanya ke kiri dan kek kanan, namun tak ada siapa pun di dalam.
Sampai tiba-tiba suara jeritan yang familiar terdengar dari lantai dua.
Cepat-cepat Sasori keluar dan melesat ke arah jeritan.
Ramai-ramai panitia dan peserta ospek
berkerumun di suatu kamar. Sasori yang melihat Aya dan Anin yang
berlari keluar ruangan nyegat mereka berdua.
“Eh ada apa nih? Ada apa?”
“Yuuri!”Anin loncat-loncat bolak-balik dengan panik.
“Yuuri kenapa?” Sasori dan Aya juga ikutan loncat bolak-balik.
“KESURUPAAAAAAN!” setelah menjawab itu, Aya dan Anin melesat dan Gaara pun ikut keluar.
“Gaara, mau kemana?” Sasori nyegat Gaara. Gaara mondar-mandir nggak jelas.
“Nyusul Anin sama Aya buat manggil penjaga vila.” Gaara pun melesat bersama angin.
Sasori pun akhirnya masuk dan
mendapati Yuuri teriak-teriak sambil dipegangin Kakashi, Itachi, Sasuke,
dan Naruto. Tapi yang lebih tragis adalah nasib Neji yang rambutnya
dijenggutin Yuuri yang lagi ngamuk.
“Sasori, bantuin!” Itachi yang udah
kewalahan megangin Yuuri kasih muka melas. Sasori buru-buru menghampiri
Yuuri, tapi Yuuri malah menodong Sasori dengan telunjuknya dan tertawa.
“Kamu! Hahahahahaha….”
Semua menbatap Sasori heran sampai
akhirnya, penjaga vila pun dating bersama Aya, Anin dan Gaara yang
sekarang loncat-loncat barengan.
Sejam kemudian, Yuuri pun berhasil
ditenangkan dan dalam keadaan pingsan. Setelah itu semua panitia senat
pun berkumpul untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya tengah terjadi.
“Jadi, sebenernya ada apa ya Pak?” Tanya Shikamaru selaku Ketua Senat.
“Hmmm…. Mungkin ada beberapa dari kalian yang melanggar salah satu pantangan di vila ini.”
“Hah?” yang lain terbengong-bengong. Sedangkan Naruto nyengir dengan rasa bersalah.
“Maaf ya? Aku lupa kasih tau kalian.” Seketika Anin cs nimpuk Naruto.
“Ehem…” Shikamaru mencoba menguasai keadaan. “Yak, silahkan lanjutkan Pak.”
“Pantangannya ada dua, yaitu tidak boleh masuk kamar mandi luas yang ada di kamar mandi sebelah dapur…”
Sasori tiba-tiba merinding disko.
“dan tidak boleh bercermin pada malam
hari. Kayaknya Neng ini (nunjuk Yuuri yang lagi tepar di tempat
tidur), bercermin malam-malam.”
Semua saling pandang dengan bingung.
Akhirnya dengan permintaan Shikamaru dan bujukan Kakashi ke dosen
pembimbing acara itu pun dihentikan.
*Ghost Story*
Sasori yang sedang enak-enak tertidur
tiba-tiba didatangi seorang nenek-nenek yang nyengir lebar. Sasori
bergidik ngeri sampai tiba-tiba nenek itu menjulurkan lidahnya yang
panjang sampai bawah, begitu melihat ke bawah, Sasori menyadari bahwa
nenek itu tidak berkaki.
“HWAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”
“Sas, bangun oi! Bangun!”
“HWAAAAAAAAA!”
“SASORIIII!!!” teriakan Dediara akhirnya membangunkan Sasori.
“Berisik!”
“Kamu yang berisik! Ngapain coba merem-merem kek tidur tapi teriak-teriak?”
Sasori manyun, dengan sebel ia pun
bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar kost-kostan. Sejak dari vila
itu, entah kenapa Sasori hampir setiap hari mimpiin tu nenek-nenek,
entah itu siang ataupun malam ditambah lagi pegel di betis Sasori nggak
ilang-ilang gara-gara kegiatan itu. Dan sejak dari vila itu juga, Yuuri
belum balik lagi ke kost-kostan karena ia masih di rawat oleh
keluarganya. Dan
Sasori yang tengah melewati ruang
tengah yang masih didominasi cowok-cowok yang nonton bola berlalu ke
dapur untuk mengambil minum sampai tiba-tiba seseorang membuat Sasori
kaget.
“Yuuri!”
“Eh, Sasori!” Yuuri nyengir.
“Kamu udah balik ke kost-kostan ini?”
“Udah, dari tadi jam Sembilan. Kamu sih ngurung diri di kamar terus.”
“Ehehehehe….” Sambil garuk-garuk kepala, Sasori nyengir kuda. “Tapi kamu nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa sih… tapi sejak itu
aku jadi bias ngeliat hal-hal yang nggak bias diliat orang lain, awalnya
sih ngeri-ngeri gitu, tapi sekarang udah biasa lagi.”
“Oya?” Sasori merasakan firasat buruk.
“Iya. Eh, lo masuk kamar mandi yang disebelah dapur ya?”
Sasori melotot. “Eh? Lo kok tau?”
“Taulaaaah…” Yuuri tersenyum bangga. “Nenek-nenek yang nemplok di kaki lo itu yang kasih tau gue.”
Sasori melirik kebawah kakinya dan
matanya tiba-tiba menatap si nenek-nenek yang nemplok dibetisnya itu
nyengir lebar dengan gigi ompongnya. “HWAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”
FIN
Duel of Akatsuki
Di sebuah rumah megah
yang sudah terlihat tua, hiduplah sekelompok ninja berbakat (dari
hongkong) yang sedang berkumpul di ruang tengah yang cukup luas, dalam
kurung sudah diporak-porandakan oleh sang Leader dan sang autis
berlebihan. Yah, karena pertarungan mereka tadi berangsur pada
pertengkaran para teman-temannya yang saling mendukung jagoannya
masing-masing. Pandangan mereka sudah lumayan kendur dengan arti –ogah
ngelemparin barang-barang dan akhirnya nanti bakal disiksa oleh Kakuzu- ,
yah, memang Kakuzu sempat ngoceh ria saat teman-temannya yang (sangat)
brandalan telah melempar barang-barang elektronik sekedar mendukung
jagoannya masing-masing.
"Hahahaha ... Leader, jangan coba-coba melawan Tobi!" kata salah satu anggota Akatsuki yang memakai topeng oranye. Suasana hening seketika.
"Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah bagaimana cara mengalahkanmu, Anak Baek!" balas Pein sengit. Manusia di depannya yang memakai topeng oranye hanya tertawa lepas.
"Kau sudah tahu dari dulu bahwa melawanku adalah kesalahan terbesarmu, Leader!"
"Sudah kubilang aku tidak peduli," balas Pein lagi.
Para anggota Akatsuki lainnya akhirnya hanya duduk-duduk males di sofa nungguin pertarungan dari Pein vs Tobi dengan mata mulai terpejam sambil menguap, setelah kecapaian membanting dan melempar barang-barang elektronik sehingga Kakuzu sempat mengamuk. Itachi sibuk nyisir rambut pake jemari, Konan sibuk melipat kertas origami, Hidan masih dengan ritual anehnya (yang sekarang sedang memakai bangkai tikus sebagai korbannya), Deidara udah ngiler, Zetsu masih setia melihat pertarungan sengit antara Pein dengan Tobi, Kakuzu sibuk menghitung anggaran yang dikeluarkan selama seminggu, Sasori sibuk mengerjakan PR akuitansi yang harus dikumpulkannya besok (sudah jelas bahwa Sasori melakukan kesalahan sehingga dia mendapat PR aneh dari guru killer). Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di sini?
"Hoamm, sampe kapan kalian mau bertarung, hah?" tanya Hidan yang udah berdiri mau ke kamarnya. Kakuzu masih sibuk ngehitung anggaran belanja hari itu, sementara Konan dengan manisnya sudah berganti tugas -masih setia duduk di samping Deidara yang udah tidur dari tadi-, tetapi tetap dengan pekerjaan melipat origaminya.
"DIEM LU!" tereak Pein dan Tobi bersamaan, sampai membuat Hidan kalang kabut dan langsung terdiam tak berani menjawab.
Pein masih sibuk berpikir, bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya setelah dia terdesak seperti berada di ujung jurang kematian yang di bawahnya sudah menunggu magma cair di neraka. Ooh, ckckck ...
"Gimana nih?" bisik Itachi ke Sasori. Yang ditanya hanya mengangkat bahu pasrah. "Aku serahkan semuanya pada Leader. Dia pasti bisa menghadapi Anak Baek semacam Tobi," jawabnya dengan penuh harap, disertai helaan napas dari semua anggota Akatsuki minus PeinTobi.
"Gue berani taruhan kalo si Pein mesti kalah!" sambut Zetsu hitam.
"Yah, sebenernya gue agak bimbang, tapi buat yang satu ini gue setuju dah sama lu," balas Zetsu putih pasrah.
"Ok, taruhan berapa nih?" tanya Hidan yang mulai ikut-ikutan. "Hoi, gue ikut!" tereak manusia bercadar yang lebih mencintai uang dibandingkan wanita, yap, dialah Kakuzu.
"Gue taruhan kalo Pein yang bakalan menang. Dia kan kuat!" kata Sasori membangga-banggakan si Leader mesum itu. "Gue setuju tuh un ..." dukung Deidara yang barusan bangun gara-gara denger Pein dan Tobi yang tereak tadi.
"Gue juga percaya kalo Pein yang bakal menang," dukung Konan. Yah, sudah diketahui apa alasannya kenapa dia memilih Pein.
"Yap, jadi gue yang milih Tobi. Loe pilih apa Dan?"
"Gue pilih Tobi aja deh."
"Gue juga."
"Gue juga."
Nah, sekarang yang memilih Pein adalah Sasori, Deidara, dan Konan. Sementara yang memilih Tobi adalah Hidan, Itachi, Zetsu, Kakuzu, dan Kisame.
"Berani berapa?" tantang Kakuzu.
"5000 yen dah ..." jawab Konan pasrah. Tumben dia baik mau memberikan 5000 yen. Hahahha ... "Ok!" sambut Kakuzu senang. Akhirnya gue bisa dapet uang juga ... batin Kakuzu disertai tawa laknat darinya.
Nah, sekarang yang dipertanyakan adalah, kenapa para anggota lain hanya bersikap acuh sementara percakapan antara sang Leader dan sang Autis itu terlihat sangat frontal?
Dua buah kubus kecil menggelinding ke tengah-tengah arena pertarungan. Dan kemudian berputar-putar lalu ...
"ARRRGHHH!" Pein mengacak-acak rambutnya dengan garang. "KENAPA HARUS SEPERTI INI?" dengan terpaksa, Pein maju 4 langkah. Tobi tersenyum licik sambil ngejilat lolipop-nya (?).
Dan ...
"YEE! Tobi menang lagi! Yee ... Sudah kubilang kan, Tobi itu bakalan menang walau pun sama Leader!" sorak Tobi begitu pion milik Pein berhenti tepat di atas gambar sebuah bangunan dengan tulisan 'Amerika Serikat'.
"YES! Gue menang taruhan. Hahahha ..." tawa Kakuzu, menyerobot uang yang lagi dipegang Konan dengan paksa, membuat satu-satunya gadis di kelompok Akatsuki itu kecewa berat dengan kekasihnya. Sasori menghela napas pelan. "Yah, sekarang gue tau sebabnya kenapa Tobi gak nolak ditantang main monopoli bareng Pein," ucap Sasori nafsu. Anggota lain yang mendukung Pein hanya menghela napas pasrah. "Mau gimana lagi un, Tobi udah menang un," sahut Deidara. Konan mengangguk penuh KEKECEWAAN.
"Leader janji kan mau beliin Tobi 10 karung lollipop? Janji kan? Janji kan? Tobi kan anak baik, Tobi itu anak baik," kata Tobi penuh keceriaan dengan autis yang berlebihan.
Pein terpaksa mengangguk dan segera menyerahkan 10 karung lollipop yang sengaja ia simpan dari dahulu sekedar untuk jaga-jaga (?). Konan menyerahkan 5000 yen ke Kakuzu de ka ka yang mendukung Tobi. Sasori dan Deidara beruntung karena mereka tidak taruhan apapun. Mereka hanya melihat ke arah dua temannya yang menjadi 'korban' pemerasan hak asasi manusia (?)
CHAPTER 2 KAKUZU VS KISAME
GUE!"
"GUE!"
"GAK! TAPI GUE!"
"GAK BISA! POKOKNYA GUE!"
"GUE YA GUE! GUE YANG .."
"Setop kalian berdua!" tereak Itachi garang. Tingkat interamentalnya sudah naik hingga tingkat dewa sehingga mangekyou saringgannya langsung aktif dan siap meluncurkan genjutsu.
"Yang paling ganteng itu …" Itachi menggantungkan kalimatnya. Kakuzu dan Kisame menunggu kalimat Itachi yang terpotong itu.
"Yang paling ganteng itu … GUE!" seru Itachi.
Sedetik,
Dua detik,
Tiga detik,
Dan …
Tratatrarattaratatarata … Kakuzu meluncurkan ribuan tembakan dari senjata yang entah ia dapat darimana, sehingga Itachi, lelaki berparas tampan yang memiliki kerutan di wajahnya itu sibuk menangkis tembakan tersebut dengan shuriken yang entah juga dapat dari mana.
"Gua gak ngomong tentang lo!" tereak Kakuzu garang. Itachi tetap menangkis beribu-ribu tembakan yang diluncurkan oleh senjata Kakuzu.
Di lain tempat …
"Cebol Sialan! Cepat bodoh!" teriak Hiruma sambil menyiapkan bazooka-nya. Sena pun menambah kecepatannya. "I-Iya!" balas Sena singkat. Sena segera berlari secepat kilat.
"Haah, dimana senjata automatic rifles-ku?" gumamnya sambil menembak bazooka ke arah Sena. Sena berlari terbirit-birit lebih cepat dari biasanya ketika tembakan bazooka milik Hiruma nyaris menyentuh ujung rambut dari Sena.
Di lain tempat …
"TEME! Kau lihat sekarung shuriken yang kutaruh di bawah meja ini tidak?" tanya Naruto sambil menunjuk ke bawah meja yang dimaksud olehnya. Sasuke menggeleng.
"Tidak, tapi aku tahu siapa yang mengambilnya," balas Sasuke sambil menyeringai tipis.
Kembali lagi …
DOR! DOR! Dua tembakan terakhirnya tepat mengenai pelindung kepala milik Itachi. "Fyuuh," lega Itachi.
"Dapet darimana sih itu senjata?" tanya Itachi miris.
"Dari Eyeshield 21. Gue nyuri senjatanya Hiruma biar Sena disiksa, huahahhaha," jawab Kakuzu dengan tawa laknatnya. "Eh, bai de wai (gogel trenslet lagi error, kamus udah dibakar sama Itachi), elu dapet darimana tuh shuriken?" Kakuzu balik nanya. Itachi tersenyum miris lagi seraya menjawab, "Dari Naruto. Untung gue cepet-cepet ngambil tuh shuriken. Kalo gak, dia musti udah bunuh diri pake sekarung shuriken gara-gara si Sakura nolak cintanya mentah-mentah, plus bogem andalan dari Sakura."
Kakuzu dan Kisame geleng-geleng kepala menyaksikan Itachi yang kini tengah meratapi Naruto (?).
"Eh, gimana kalo kita ngada'in voting un, siapa yang paling cakep diantara kalian berdua un. Setuju kagak un?" tawar Deidara. Konan, Pein, Tobi (tumben dia kalem … *Tobi : kan elu yang nyuruh T.T*), Itachi, Sasori, Zetsu, dan Hidan mengangguk tanda setuju.
"Ok, gue terima voting ini. Tapi, bentar dulu ya," sahut Kisame sambil ngeluarin hp dari saku jubahnya (wuuiiih, Akatsuki udah gaul!). Terus mencet-mencet nomer yang entah itu nyambung kemana.
"Helow~ Enibodi dere?" tanya Kisame alay dengan sumringah keterlaluan.
"Bzkjdlkdjlkzbvxxxbzzz kblkdjlaj;dlk," terdengar suara dari seberang telepon dengan memakai bahasa aneh yang author sendiri tidak tahu artinya apa.
"Owh, tanks yu sooo much," balas Kisame. Kini dia asyik joget-joget gaje sama Tobi yang hyper aktifnya udah mulai kambuh lagi mulai saat ini. Kemudian terdengar suara telepon ditutup dan Kakuzu sudah mencium bau kecurigaan dan sekaligus firasat buruk.
"Gue curiga sama loe …" ucap Kakuzu. Kisame memasang wajah innocent. "HAHAHA! Ya iyalah! Gue kan minta sama para sodara-sodara gue buat milih gue yang jadi pemenang di voting ini, huahahhaha!" balas Kisame buka aib (?). Para anggota Akatsuki yang lain melirik ke arah Kakuzu yang kepalanya udah mendidih.
"Elu curang un!" teriak Kakuzu garang. Deidara melotot. "Itu gaya bicara gue un! Jangan ditiru, dong un. Gak gratis un!" seru Deidara gak terima. Kakuzu gentian melotot, bikin nyali Deidara ciut. "GAK GRATIS?"
-Kita skip bagian dimana Kakuzu menyiksa Deidara tanpa ampun-
3 jam kemudian …
"Wadaw," sungut Deidara ketika Konan tak sengaja menekan pipi Deidara terlalu keras.
"Aah, gomenasai, Dei-chan," mohon Konan, sekali lagi menekan pipi Deidara yang sudah lebam-lebam biru akibat .. yeah you know what *ngelirik ke arah si setengah ikan ~Diplototi sama setengah ikan~*.
"Hei Setengah Ikan, setidaknya jangan berbuat aneh-aneh pada Dei-chan. Atau aku akan meminta Pein-sama untuk mengeluarkanmu dari Akatsuki," ancam Konan. Kisame malah makin melototin si Konan.
"GUE BUKAN SETENGAH IKAN!" teriak Kisame, yang suaranya sampe ke Sunagakure.
"Hei, Gaara, kau dengar suara serak-serak basah tadi tidak?" tanya Kankurou.
"Ya, aku dengar," jawab Gaara singkat.
"Lalu apa?" tanya Konan datar.
"GUE IKAN!" teriak Kisame lagi.
GUBRAKK! JBUURR …~! (eeh?) ooh, itu mah suara si Tobi yang lagi nyemplung ke kolam renang ~.~
"Eh, salah. Maksudnya aku itu setengah hiu," ralat Kisame sambil garuk-garuk kepala. Kakuzu garuk-garuk kepala. "Ya udah lah. Lu curang, gue juga mau curang," kata Kakuzu penuh makna. Dia gentian mengeluarkan Samsung android dari saku jubah Akatsukinya (eh, emangnya bener-bener ada sakunya ya? Huahaha ..).
Tat tit tut … tttttuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt
"Hellow …" sapa Kakuzu ramah.
"…."
"Kok cuman diem aja sih?" protes Kakuzu.
"….."
"Huuh! Kalian gak bisa dipercaya! Tapi aku tetap menyayangi kalian. Jadi, tolong dukung aku ya," ucap Kakuzu. Anggota Akatsuki lain udah masang kepala miring gak mudeng sama percakapan Kakuzu dengan seseorang, atau bahkan beberapa orang di seberang sono.
"Ya udah deh, aku tau kok kalian lagi dapet mood buruk buat ngeladeni telfon mendadak ini. Jadi, bye bye …" pamit Kakuzu sambil matiin telepon.
"Elu … telpon ama siapa?" tanya Kisame bingung. Kakuzu pasang seringai aneh. "Sama … pacar-pacarku," jawab Kakuzu tanpa dosa.
"WHAA? PACAR-PACARMU? EMANGNYA SIAPA?" tanya Kisame begitu mendengar kata-kata 'pacar-pacarku' dari mulut Kakuzu yang sekarang lagi pasang muka tak bersalah ditambah seringai aneh dari Kakuzu.
"Yaaa … duit-duitku," jawab Kakuzu.
Kisame menganga sampe-sampe dagunya nyentuh lantai saking syoknya dengan jawaban Kakuzu yang udah gila itu. Sementara yang lain … oh, jangan dipikirkan. Mereka kini sudah megap-megap gak karuan dengan busa keluar dari mulut. Ckckck, poor Akatsuki.
"Terus yang ngangkat teleponnya siapa?" tanya Tobi yang udah kembali dari renangnya. Dia satu-satunya anggota Akatsuki yang gak megap-megap minus Kisame-Kakuzu. Tobi pasang wajah bingung. "Senpai, ini semua kenapa?" tanya Tobi gak ngerti.
"Lagi ngadain kontes mati suri," jawab Kakuzu tanpa dosa. Tobi memiringkan kepalanya. "Loh, Senpai Kisame kenapa?" tanya Tobi khawatir.
"Lagi nyari laler buat ditelen," jawab Kakuzu lagi. Dan kali ini sukses bikin Kisame cepet-cepet nutup mulutnya yang udah menganga lebar. Padahal kalo Kisame gak nutup mulutnya, sedetik kemudian pasti udah ada laler yang masuk. Ckckck …
"Eh, Tobi, menurutmu siapa yang paling ganteng di sini?" tanya Kakuzu penuh harap. Tobi terlihat berpikir sambil ngetuk-ngetuk kepala pake palu.
"Err … siapa ya? Tobi bingung nih," kata Tobi, ganti garuk-garuk kepala.
"Udah lah, jawab jujur aja. Gue kan?" tanya Kakuzu sambil sedikit mengeluarkan narsisme dari sang mata duitan alias bendahara Akatsuki yang suka korupsi itu. Tobi tersenyum, Kakuzu sedikit lega.
"Waah, kalo Senpai sih emang ganteng!" seru Tobi. Kakuzu langsung menyeringai sementara Kisame langsung pingsan.
"Yeaaahh! Gue menang!" tereak Kakuzu, yang bikin seluruh anggota Akatsuki yang tadinya megap-megap sekarang jadi meninggal berjamaah #abaikan, mereka hanya pingsan sementara.
"EITS!" potong Tobi sebelum Kakuzu menjadi-jadi.
"Hehehe, iya. Senpai Kakuzu emang paling ganteng di antara semua perempuan," lanjut Tobi tanpa perasaan bersalah, dengan humor berlebihan yang ampuh membuat Kakuzu langsung tepar seketika.
"Jadi, gue yang menang nih?" tanya Kisame yang udah bangun (wuih, cepet amat). Tobi senyum lagi, tapi percuma lah, dia kan pake topeng lollipop.
"Hehehe, Senpai Kisame ganteng juga kok!" puji Tobi. Kisame jadi bangga.
"WUAHAHAHAH! GUE MENANG!" teriak Kisame dengan hyper aktif yang hampir menyaingi Tobi.
"Ha? Menang?" gumam Tobi. "Padahal kan Tobi mau bilang kalau Senpai Kisame itu paling ganteng dari semua ikan yang ada," lanjut Tobi dengan angkatan bahu. Lalu segera meninggalkan Kisame yang lagi jingkrak-jingkrak sambil tereak pake toa, bikin semua ninja langsung meninggal berjamaah karena mendengar suara Kisame yang bagaikan guntur di siang bolong.
CHAPTER 3 DEIDARA VS SASORI
"Hahahaha ... Leader, jangan coba-coba melawan Tobi!" kata salah satu anggota Akatsuki yang memakai topeng oranye. Suasana hening seketika.
"Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah bagaimana cara mengalahkanmu, Anak Baek!" balas Pein sengit. Manusia di depannya yang memakai topeng oranye hanya tertawa lepas.
"Kau sudah tahu dari dulu bahwa melawanku adalah kesalahan terbesarmu, Leader!"
"Sudah kubilang aku tidak peduli," balas Pein lagi.
Para anggota Akatsuki lainnya akhirnya hanya duduk-duduk males di sofa nungguin pertarungan dari Pein vs Tobi dengan mata mulai terpejam sambil menguap, setelah kecapaian membanting dan melempar barang-barang elektronik sehingga Kakuzu sempat mengamuk. Itachi sibuk nyisir rambut pake jemari, Konan sibuk melipat kertas origami, Hidan masih dengan ritual anehnya (yang sekarang sedang memakai bangkai tikus sebagai korbannya), Deidara udah ngiler, Zetsu masih setia melihat pertarungan sengit antara Pein dengan Tobi, Kakuzu sibuk menghitung anggaran yang dikeluarkan selama seminggu, Sasori sibuk mengerjakan PR akuitansi yang harus dikumpulkannya besok (sudah jelas bahwa Sasori melakukan kesalahan sehingga dia mendapat PR aneh dari guru killer). Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di sini?
"Hoamm, sampe kapan kalian mau bertarung, hah?" tanya Hidan yang udah berdiri mau ke kamarnya. Kakuzu masih sibuk ngehitung anggaran belanja hari itu, sementara Konan dengan manisnya sudah berganti tugas -masih setia duduk di samping Deidara yang udah tidur dari tadi-, tetapi tetap dengan pekerjaan melipat origaminya.
"DIEM LU!" tereak Pein dan Tobi bersamaan, sampai membuat Hidan kalang kabut dan langsung terdiam tak berani menjawab.
Pein masih sibuk berpikir, bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya setelah dia terdesak seperti berada di ujung jurang kematian yang di bawahnya sudah menunggu magma cair di neraka. Ooh, ckckck ...
"Gimana nih?" bisik Itachi ke Sasori. Yang ditanya hanya mengangkat bahu pasrah. "Aku serahkan semuanya pada Leader. Dia pasti bisa menghadapi Anak Baek semacam Tobi," jawabnya dengan penuh harap, disertai helaan napas dari semua anggota Akatsuki minus PeinTobi.
"Gue berani taruhan kalo si Pein mesti kalah!" sambut Zetsu hitam.
"Yah, sebenernya gue agak bimbang, tapi buat yang satu ini gue setuju dah sama lu," balas Zetsu putih pasrah.
"Ok, taruhan berapa nih?" tanya Hidan yang mulai ikut-ikutan. "Hoi, gue ikut!" tereak manusia bercadar yang lebih mencintai uang dibandingkan wanita, yap, dialah Kakuzu.
"Gue taruhan kalo Pein yang bakalan menang. Dia kan kuat!" kata Sasori membangga-banggakan si Leader mesum itu. "Gue setuju tuh un ..." dukung Deidara yang barusan bangun gara-gara denger Pein dan Tobi yang tereak tadi.
"Gue juga percaya kalo Pein yang bakal menang," dukung Konan. Yah, sudah diketahui apa alasannya kenapa dia memilih Pein.
"Yap, jadi gue yang milih Tobi. Loe pilih apa Dan?"
"Gue pilih Tobi aja deh."
"Gue juga."
"Gue juga."
Nah, sekarang yang memilih Pein adalah Sasori, Deidara, dan Konan. Sementara yang memilih Tobi adalah Hidan, Itachi, Zetsu, Kakuzu, dan Kisame.
"Berani berapa?" tantang Kakuzu.
"5000 yen dah ..." jawab Konan pasrah. Tumben dia baik mau memberikan 5000 yen. Hahahha ... "Ok!" sambut Kakuzu senang. Akhirnya gue bisa dapet uang juga ... batin Kakuzu disertai tawa laknat darinya.
Nah, sekarang yang dipertanyakan adalah, kenapa para anggota lain hanya bersikap acuh sementara percakapan antara sang Leader dan sang Autis itu terlihat sangat frontal?
Dua buah kubus kecil menggelinding ke tengah-tengah arena pertarungan. Dan kemudian berputar-putar lalu ...
"ARRRGHHH!" Pein mengacak-acak rambutnya dengan garang. "KENAPA HARUS SEPERTI INI?" dengan terpaksa, Pein maju 4 langkah. Tobi tersenyum licik sambil ngejilat lolipop-nya (?).
Dan ...
"YEE! Tobi menang lagi! Yee ... Sudah kubilang kan, Tobi itu bakalan menang walau pun sama Leader!" sorak Tobi begitu pion milik Pein berhenti tepat di atas gambar sebuah bangunan dengan tulisan 'Amerika Serikat'.
"YES! Gue menang taruhan. Hahahha ..." tawa Kakuzu, menyerobot uang yang lagi dipegang Konan dengan paksa, membuat satu-satunya gadis di kelompok Akatsuki itu kecewa berat dengan kekasihnya. Sasori menghela napas pelan. "Yah, sekarang gue tau sebabnya kenapa Tobi gak nolak ditantang main monopoli bareng Pein," ucap Sasori nafsu. Anggota lain yang mendukung Pein hanya menghela napas pasrah. "Mau gimana lagi un, Tobi udah menang un," sahut Deidara. Konan mengangguk penuh KEKECEWAAN.
"Leader janji kan mau beliin Tobi 10 karung lollipop? Janji kan? Janji kan? Tobi kan anak baik, Tobi itu anak baik," kata Tobi penuh keceriaan dengan autis yang berlebihan.
Pein terpaksa mengangguk dan segera menyerahkan 10 karung lollipop yang sengaja ia simpan dari dahulu sekedar untuk jaga-jaga (?). Konan menyerahkan 5000 yen ke Kakuzu de ka ka yang mendukung Tobi. Sasori dan Deidara beruntung karena mereka tidak taruhan apapun. Mereka hanya melihat ke arah dua temannya yang menjadi 'korban' pemerasan hak asasi manusia (?)
CHAPTER 2 KAKUZU VS KISAME
GUE!"
"GUE!"
"GAK! TAPI GUE!"
"GAK BISA! POKOKNYA GUE!"
"GUE YA GUE! GUE YANG .."
"Setop kalian berdua!" tereak Itachi garang. Tingkat interamentalnya sudah naik hingga tingkat dewa sehingga mangekyou saringgannya langsung aktif dan siap meluncurkan genjutsu.
"Yang paling ganteng itu …" Itachi menggantungkan kalimatnya. Kakuzu dan Kisame menunggu kalimat Itachi yang terpotong itu.
"Yang paling ganteng itu … GUE!" seru Itachi.
Sedetik,
Dua detik,
Tiga detik,
Dan …
Tratatrarattaratatarata … Kakuzu meluncurkan ribuan tembakan dari senjata yang entah ia dapat darimana, sehingga Itachi, lelaki berparas tampan yang memiliki kerutan di wajahnya itu sibuk menangkis tembakan tersebut dengan shuriken yang entah juga dapat dari mana.
"Gua gak ngomong tentang lo!" tereak Kakuzu garang. Itachi tetap menangkis beribu-ribu tembakan yang diluncurkan oleh senjata Kakuzu.
Di lain tempat …
"Cebol Sialan! Cepat bodoh!" teriak Hiruma sambil menyiapkan bazooka-nya. Sena pun menambah kecepatannya. "I-Iya!" balas Sena singkat. Sena segera berlari secepat kilat.
"Haah, dimana senjata automatic rifles-ku?" gumamnya sambil menembak bazooka ke arah Sena. Sena berlari terbirit-birit lebih cepat dari biasanya ketika tembakan bazooka milik Hiruma nyaris menyentuh ujung rambut dari Sena.
Di lain tempat …
"TEME! Kau lihat sekarung shuriken yang kutaruh di bawah meja ini tidak?" tanya Naruto sambil menunjuk ke bawah meja yang dimaksud olehnya. Sasuke menggeleng.
"Tidak, tapi aku tahu siapa yang mengambilnya," balas Sasuke sambil menyeringai tipis.
Kembali lagi …
DOR! DOR! Dua tembakan terakhirnya tepat mengenai pelindung kepala milik Itachi. "Fyuuh," lega Itachi.
"Dapet darimana sih itu senjata?" tanya Itachi miris.
"Dari Eyeshield 21. Gue nyuri senjatanya Hiruma biar Sena disiksa, huahahhaha," jawab Kakuzu dengan tawa laknatnya. "Eh, bai de wai (gogel trenslet lagi error, kamus udah dibakar sama Itachi), elu dapet darimana tuh shuriken?" Kakuzu balik nanya. Itachi tersenyum miris lagi seraya menjawab, "Dari Naruto. Untung gue cepet-cepet ngambil tuh shuriken. Kalo gak, dia musti udah bunuh diri pake sekarung shuriken gara-gara si Sakura nolak cintanya mentah-mentah, plus bogem andalan dari Sakura."
Kakuzu dan Kisame geleng-geleng kepala menyaksikan Itachi yang kini tengah meratapi Naruto (?).
"Eh, gimana kalo kita ngada'in voting un, siapa yang paling cakep diantara kalian berdua un. Setuju kagak un?" tawar Deidara. Konan, Pein, Tobi (tumben dia kalem … *Tobi : kan elu yang nyuruh T.T*), Itachi, Sasori, Zetsu, dan Hidan mengangguk tanda setuju.
"Ok, gue terima voting ini. Tapi, bentar dulu ya," sahut Kisame sambil ngeluarin hp dari saku jubahnya (wuuiiih, Akatsuki udah gaul!). Terus mencet-mencet nomer yang entah itu nyambung kemana.
"Helow~ Enibodi dere?" tanya Kisame alay dengan sumringah keterlaluan.
"Bzkjdlkdjlkzbvxxxbzzz kblkdjlaj;dlk," terdengar suara dari seberang telepon dengan memakai bahasa aneh yang author sendiri tidak tahu artinya apa.
"Owh, tanks yu sooo much," balas Kisame. Kini dia asyik joget-joget gaje sama Tobi yang hyper aktifnya udah mulai kambuh lagi mulai saat ini. Kemudian terdengar suara telepon ditutup dan Kakuzu sudah mencium bau kecurigaan dan sekaligus firasat buruk.
"Gue curiga sama loe …" ucap Kakuzu. Kisame memasang wajah innocent. "HAHAHA! Ya iyalah! Gue kan minta sama para sodara-sodara gue buat milih gue yang jadi pemenang di voting ini, huahahhaha!" balas Kisame buka aib (?). Para anggota Akatsuki yang lain melirik ke arah Kakuzu yang kepalanya udah mendidih.
"Elu curang un!" teriak Kakuzu garang. Deidara melotot. "Itu gaya bicara gue un! Jangan ditiru, dong un. Gak gratis un!" seru Deidara gak terima. Kakuzu gentian melotot, bikin nyali Deidara ciut. "GAK GRATIS?"
-Kita skip bagian dimana Kakuzu menyiksa Deidara tanpa ampun-
3 jam kemudian …
"Wadaw," sungut Deidara ketika Konan tak sengaja menekan pipi Deidara terlalu keras.
"Aah, gomenasai, Dei-chan," mohon Konan, sekali lagi menekan pipi Deidara yang sudah lebam-lebam biru akibat .. yeah you know what *ngelirik ke arah si setengah ikan ~Diplototi sama setengah ikan~*.
"Hei Setengah Ikan, setidaknya jangan berbuat aneh-aneh pada Dei-chan. Atau aku akan meminta Pein-sama untuk mengeluarkanmu dari Akatsuki," ancam Konan. Kisame malah makin melototin si Konan.
"GUE BUKAN SETENGAH IKAN!" teriak Kisame, yang suaranya sampe ke Sunagakure.
"Hei, Gaara, kau dengar suara serak-serak basah tadi tidak?" tanya Kankurou.
"Ya, aku dengar," jawab Gaara singkat.
"Lalu apa?" tanya Konan datar.
"GUE IKAN!" teriak Kisame lagi.
GUBRAKK! JBUURR …~! (eeh?) ooh, itu mah suara si Tobi yang lagi nyemplung ke kolam renang ~.~
"Eh, salah. Maksudnya aku itu setengah hiu," ralat Kisame sambil garuk-garuk kepala. Kakuzu garuk-garuk kepala. "Ya udah lah. Lu curang, gue juga mau curang," kata Kakuzu penuh makna. Dia gentian mengeluarkan Samsung android dari saku jubah Akatsukinya (eh, emangnya bener-bener ada sakunya ya? Huahaha ..).
Tat tit tut … tttttuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt
"Hellow …" sapa Kakuzu ramah.
"…."
"Kok cuman diem aja sih?" protes Kakuzu.
"….."
"Huuh! Kalian gak bisa dipercaya! Tapi aku tetap menyayangi kalian. Jadi, tolong dukung aku ya," ucap Kakuzu. Anggota Akatsuki lain udah masang kepala miring gak mudeng sama percakapan Kakuzu dengan seseorang, atau bahkan beberapa orang di seberang sono.
"Ya udah deh, aku tau kok kalian lagi dapet mood buruk buat ngeladeni telfon mendadak ini. Jadi, bye bye …" pamit Kakuzu sambil matiin telepon.
"Elu … telpon ama siapa?" tanya Kisame bingung. Kakuzu pasang seringai aneh. "Sama … pacar-pacarku," jawab Kakuzu tanpa dosa.
"WHAA? PACAR-PACARMU? EMANGNYA SIAPA?" tanya Kisame begitu mendengar kata-kata 'pacar-pacarku' dari mulut Kakuzu yang sekarang lagi pasang muka tak bersalah ditambah seringai aneh dari Kakuzu.
"Yaaa … duit-duitku," jawab Kakuzu.
Kisame menganga sampe-sampe dagunya nyentuh lantai saking syoknya dengan jawaban Kakuzu yang udah gila itu. Sementara yang lain … oh, jangan dipikirkan. Mereka kini sudah megap-megap gak karuan dengan busa keluar dari mulut. Ckckck, poor Akatsuki.
"Terus yang ngangkat teleponnya siapa?" tanya Tobi yang udah kembali dari renangnya. Dia satu-satunya anggota Akatsuki yang gak megap-megap minus Kisame-Kakuzu. Tobi pasang wajah bingung. "Senpai, ini semua kenapa?" tanya Tobi gak ngerti.
"Lagi ngadain kontes mati suri," jawab Kakuzu tanpa dosa. Tobi memiringkan kepalanya. "Loh, Senpai Kisame kenapa?" tanya Tobi khawatir.
"Lagi nyari laler buat ditelen," jawab Kakuzu lagi. Dan kali ini sukses bikin Kisame cepet-cepet nutup mulutnya yang udah menganga lebar. Padahal kalo Kisame gak nutup mulutnya, sedetik kemudian pasti udah ada laler yang masuk. Ckckck …
"Eh, Tobi, menurutmu siapa yang paling ganteng di sini?" tanya Kakuzu penuh harap. Tobi terlihat berpikir sambil ngetuk-ngetuk kepala pake palu.
"Err … siapa ya? Tobi bingung nih," kata Tobi, ganti garuk-garuk kepala.
"Udah lah, jawab jujur aja. Gue kan?" tanya Kakuzu sambil sedikit mengeluarkan narsisme dari sang mata duitan alias bendahara Akatsuki yang suka korupsi itu. Tobi tersenyum, Kakuzu sedikit lega.
"Waah, kalo Senpai sih emang ganteng!" seru Tobi. Kakuzu langsung menyeringai sementara Kisame langsung pingsan.
"Yeaaahh! Gue menang!" tereak Kakuzu, yang bikin seluruh anggota Akatsuki yang tadinya megap-megap sekarang jadi meninggal berjamaah #abaikan, mereka hanya pingsan sementara.
"EITS!" potong Tobi sebelum Kakuzu menjadi-jadi.
"Hehehe, iya. Senpai Kakuzu emang paling ganteng di antara semua perempuan," lanjut Tobi tanpa perasaan bersalah, dengan humor berlebihan yang ampuh membuat Kakuzu langsung tepar seketika.
"Jadi, gue yang menang nih?" tanya Kisame yang udah bangun (wuih, cepet amat). Tobi senyum lagi, tapi percuma lah, dia kan pake topeng lollipop.
"Hehehe, Senpai Kisame ganteng juga kok!" puji Tobi. Kisame jadi bangga.
"WUAHAHAHAH! GUE MENANG!" teriak Kisame dengan hyper aktif yang hampir menyaingi Tobi.
"Ha? Menang?" gumam Tobi. "Padahal kan Tobi mau bilang kalau Senpai Kisame itu paling ganteng dari semua ikan yang ada," lanjut Tobi dengan angkatan bahu. Lalu segera meninggalkan Kisame yang lagi jingkrak-jingkrak sambil tereak pake toa, bikin semua ninja langsung meninggal berjamaah karena mendengar suara Kisame yang bagaikan guntur di siang bolong.
CHAPTER 3 DEIDARA VS SASORI
"Haahh~~!" hela salah
satu dari anggota Akatsuki. "Ada tomat gak sih?" tanyanya pada setiap
makhluk hidup -yang kebetulan lagi ngumpul di ruang tengah- terkecuali
untuk para semut dan nyamuk serta lalat yang beterbangan-. SEMUA
makhluk hidup di sana menggeleng pelan, minus dirinya sendiri *keyword :
SEMUA*. Deidara menatap Itachi. Itachi balik menatap Deidara penuh
makna. Sekarang, kita lihat ekspresi Deidara yang udah pucat pasi.
"Ita senpai, jangan suruh Dei untuk beli tomat di Supermarket dong un. Kan, Dei capek," keluh Deidara yang merasa bahwa tatapan Itachi yang tadinya penuh makna sekarang berubah menjadi Killing Intens. "Duuh, gue mesti pergi ke Supermarket deh kalo gini caranya un," kesalnya -tanpa memerdulikan deathglare dari Kakuzu-, sambil membanting benda yang tergeletak di samping kanannya ke lantai. Kebetulan dia memang sedang duduk di sofa.
BRAKK!
Suasana hening seketika …
Satu detik …
Dua detik …
Tiga detik …
Hanya ada tatapan tidak percaya dari sang empu benda tersebut.
Empat detik …
"!"
Semua mata tertuju pada anggota Akatsuki berambut merah berwajah babi (baca : Babi faced)yang kini berubah menjadi suram dengan background neraka hendak melahap habis pelaku dari penghancuran boneka Barbie terbarunya. Deidara, nama dari seorang wanita dari klan blah blah blah *C4 Aktif* itu hanya menggaruk kepalanya bingung. Dia bingung mau menjelaskan apa ke Sasori. Dan kemudian, Deidara harus mengakui bahwa killing intens yang diluncurkan Sasori lebih kuat daripada killing intens dari sang empu sharingan. Dan, pada kenyataannya, Sasori tidak mungkin percaya pada Deidara bila dia member alasan, 'Gomen ne, Sasori. Aku tidak tahu kalau itu adalah Barbie mu dan aku sangat menyesal.'
Percaya atau tidak, Sasori akan mengata…
"DEIDARA! CEPAT GANTI BARBIE-KU ATAU KAU AKAN KUJADIKAN SEBAGAI GANTINYA!"
Deidara gugup setengah mati mendengar amarah dari Sasori yang abal dan memekikkan telinga hingga Deidara siap mati sekarang daripada harus mendengar suara itu selama setahun penuh.
Pein hanya menatap Deidara dengan pandangan memelas. "Ya ampun Deidara, tabahkan saja dirimu. Aku sudah tobat untuk tidak bertarung dengan Tobi …" ucapnya sambil melirik ke arah salah satu anggota Akatsuki yang sedang asyik makan lollipop. Di sampingnya, masih ada 2 karung lollipop yang masih belum dimakan dari kemarin. Yap, Pein saja sampai tidak percaya bahwa Tobi 'mampu' menghabiskan 8 karung lollipop dalam waktu 1 hari sampai-sampai Author terpaksa geleng-geleng kepala membaca ceritanya sendiri. *Author : Bagi-bagi donk …* *Tobi : Beli aja sendiri :p*
Sementara Kisame dan Kakuzu menatap Deidara dengan miris. "Sabarlah, Deidara …" gumam mereka berdua, mengharap keselamatan dari Tuhan yang maha kuasa untuk sang wanita bernama Deidara *C4 aktif untuk kedua kalinya* yang sekarang lagi bersimpuh di hadapan Sasori, dengan backsound lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh Pein beserta anggota lainnya minus DeidaraSasori.
"Jangan bernyanyi!" teriak Sasori. Lagu yang dilantunkan oleh para Anggota Akatsuki yang suaranya sama-sama cempreng itu pun berhenti mendadak, ketabrak badak, gara-gara massa mbludak, teriak sampe serak-serak, sampe-sampe dapet balasan bau ketiak (?). Ok, bisa dipastikan bahwa ruangan yang diterangi oleh satu lampu itu mendadak jadi gelap gara-gara aura suram dari Sasori, diiringi dengan backsound Moonlight Sonata yang mengantarkan Deidara pada kematiannya, yang entah sejak kapan sudah disetel. YES, YOU DIE DEI! HUAHAHAHHA! (kok dari tadi backsound terus ya?)
"KONAN! MATIKAN!" perintah Sasori, tak lepas dari aura kematian yang dipancarkan KE Deidara, yang udah gemetaran sambil nelen ludah. Dia sekarang tobat gak mau nelen paku payung lagi … (WTH?)
Konan pun langsung merebut hp milik Tobi dan langsung melemparnya ke sembarang tempat, sementara Tobi menganga lebar tidak percaya kalau I Pad yang tadi sempat digenggamnya kini tengah melayang … melayang menu … menuju …
JBURR~!
"TTTIIIDAAAAAAAAAAAAKKK!"
Oke, masalah belum kelar, sekarang udah ada masalah lagi antara Konan dengan Tobi. Tobi mendekat ke arah kolam renang berdiameter 100 cm itu dan mengambil I Pad tadi yang udah bobrok kemasukan aer. 100 cm? hehehe, Tobi kan pake kolam renang praktis dari bahan plastik. ~lirik ke arah Kakuzu yang pelit sangat untuk membuatkan kolam renang sungguhan~
"Tob, maafin gue ya. Gue gak sengaja. Gue khilaf deh .." ucap Konan penuh rasa bersalah. "Gak bisa. Konan-senpai harus ganti dong!" seru Tobi.
"Loh? Tobi kan anak baik. Masa gak mau maafin Konan-senpai sih?" isak Konan dengan imej kekanak-kanakan. Akhirnya, Tobi pun luluh juga. "Iya deh, Tobi kan anak baik. Jadi Konan-senpai Tobi maafin deh. Tapi jangan diulangin lagi ya."
Konan mengangguk dengan senyum. Yang Tobi sendiri tidak tahu bahwa itu adalah senyum licik kemenangan.
Ok, bek tu de Deidara-chaaan ..
"G-gomen, D-Dei a-akan me-mengganti-nya u-un …"
*Hinata : U-Untunglah, t-ttidak hh-hanya a-aku yang gg-ggaagap ddalam berbi-cara*
"HAYAKU! CEPAT ATAU …"
"I-IYA SASORI-KUUNN!" Deidara buru-buru ngacir setelah Sasori memasukkan tangannya ke dalam saku jubah Akatsukinya. "Loh? Kenapa malah pergi? Gue kan mau dengerin lagu dari I Pad gue .. Ngapain Deidara lari-lari gaje kayak gitu?" tanya Sasori bingung dengan wajah innocent, kemudian mulai menyetel lagu dari I Pad-nya.
Ke sana kemari membawa alamat …
Klik
Iwak peyek, Iwak peyek …
Klik
Ke sana kemari membawa alamat …
Klik
Iwak peyek, Iwak peyek …
"SUMPAH! INI I-PAD GILA BENER! LAGUNYA CUMA DUA DOANK! MANA I PAD GUE?" tereak Sasori mencak-mencak.
"Loh, itu kan I Pad Tobi~," ujar Tobi yang langsung ngambil I Pad di tangan Sasori tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
"K-kalau i-itu punya To-Tobi, bb-bberaaarrti yyanngg tad-di di-dilempar samma Ko-Konnan itu I Pad … I Pad … Gua?" tanya Sasori memastikan dengan nada mengenaskan. Konan masang wajah ~gawat, gue harus cepet-cepet kabur~, sementara Tobi garuk-garuk kepala sambil memiringkan kepalanya yang tadinya emang udah miring duluan.
*Hinata : W-waah, t-ternyata Sa-Sasori-kun j-juga g-ggagap, h-hehehe.*
"GRAAAAAAHHHHHH! BBAKKKAAA!"
"Sasori-senpai gerah ya? Sini Tobi kipasin pake kipas ini," ucap Tobi, ngeluarin kipas gede yang entah di dapat dari mana. Sementara itu, di Sunagakure, seorang wanita berkucir empat mencak-mencak sambil ngamuk-ngamuk gara-gara benda kesayangannya udah lenyap dari tempatnya.
Sasori mendelik begitu Tobi mengayunkan kipas itu pada dirinya. "Tobi, jangaaaa~!"
WUSH!
Empat jam kemudian setelah markas Akatsuki rapi kembali ...
"Anjr*t, Tobi kambuh lagi! Awas kalo markas ini diberantakin lagi," rutuk Hidan penuh emosi. "Udahlah. Sabar aja, Dan. Lagian kita lebih berharap kalau Tobi kayak gitu daripada jadi M*dara ..." nasehat Zetsu putih, dengan menghilangkan huruf 'a' dari tempatnya. "Gak sabar gue kalau Tobi jadi Madara," kata Zetsu hitam.
"Ada yang bilang sesuatu?" tanya Tobi, mendekati aura suram.
"Gak kok, Tob. Kita cuman ngomong tentang darahnya Sasuke sama Itachi. Mereka berdua satu darah kan?" ralat Kakuzu, menenangkan keadaan. Zetsu putih sama Hidan bernapas lega begitu Tobi ambil langkah keluar markas. (Nah lho? Apa hubungannya kata 'Madara' dengan darah? maDARA, dan DARAh. Kikiki, author stress)
"Fyuuh, bisa gawat kalo dia berubah jadi M*dara ..." celetuk Itachi.
"Iya tuh. Kamu sih!" Zetsu putih menyalahkan Zetsu hitam. "Lho? Kok gue? Gue kan cuma bilang kalau gue gak sabar lihat Tobi jadi Ma ... mpphhh!" Zetsu hitam langsung disumpel mulutnya pake kain perca. Trus bareng-bareng dimasukin ke karung.
"Hei, ue ko' iut i eap ii?" protes Zetsu putih gak jelas. (baca : Hei, gue kok ikut disumpel sih?)
"Ga usah banyak ngomong lu Zet!" dengus Hidan.
"!"
"Mana Deidara?" tanya Sasori yang udah gak sabar. "Sabar Sas. Deidara mungkin lagi beli barbie-nya ..." nasehat Itachi. Tua-tua harus bisa nasehatin donk, hehehe *diamaterasu*
"HOEEY, MINAA~! Dei kembali un!" teriak Deidara yang udah nyampe di pintu. Di tangannya ada sebuah benda yang dinanti-nanti oleh Sasori. Mata Sasori langsung bling-bling begitu melihat apa yang dipegang Deidara. Sementara itu, hidung Deidara juga bling-bling akibat keringat yang terkena sinar matahari (?).
"Cepet, sini barbienya!" teriak Sasori. Deidara menyerahkan apa yang dimaksud 'barbie' oleh Sasori dari tangannya. Sasori langsung berbinar-binar melihat barbienya yang baru.
"Waah, bagus bangeet! Bisa gue jadiin koleksi nih ..." kilah Sasori bahagia.
"Hehehe, iya! Sekarang jangan bertengkar lagi ya," timpal Itachi. Sasori mengangguk mantap, tanpa mengalihkan pandangannya dari barbie tersebut.
"Hah? Koleksi?" gumam Deidara gak ngerti.
"Deidara, elu dapet dari mana barbie ini?" tanya Sasori.
"Waah, kalo itu, biar Deidara cerita dari awal ya un!" respon Deidara. Sasori mengangguk mengiyakan. "Gini ceritanya un. Dei kan pergi dari markas akatsuki, terus ke pasar un. Tapi di sana Deidara malah dikejar-kejar satpam gara-gara dikira banci un. Habis itu, Dei pergi ke toko khusus barbie un, satu-satunya toko barbie di sekitar sini. Tapi ternyata tokonya tutup un," cerita Deidara.
"Terus barbie ini dapet dari mana?" tanya Sasori gak ngerti. Deidara tersenyum penuh arti. "Yaaa ... terpaksa dibuat pake tanah liat lah un."
"Wooaah, pantesan berat," respon Sasori dengan tampang tak bersalah. Lima detik kemudian ... "Nani?" tanya Sasori yang mulai sadar. Deidara masih tersenyum sampai ...
"Katsu."
DDUUAARRRR!
"Ita senpai, jangan suruh Dei untuk beli tomat di Supermarket dong un. Kan, Dei capek," keluh Deidara yang merasa bahwa tatapan Itachi yang tadinya penuh makna sekarang berubah menjadi Killing Intens. "Duuh, gue mesti pergi ke Supermarket deh kalo gini caranya un," kesalnya -tanpa memerdulikan deathglare dari Kakuzu-, sambil membanting benda yang tergeletak di samping kanannya ke lantai. Kebetulan dia memang sedang duduk di sofa.
BRAKK!
Suasana hening seketika …
Satu detik …
Dua detik …
Tiga detik …
Hanya ada tatapan tidak percaya dari sang empu benda tersebut.
Empat detik …
"!"
Semua mata tertuju pada anggota Akatsuki berambut merah berwajah babi (baca : Babi faced)yang kini berubah menjadi suram dengan background neraka hendak melahap habis pelaku dari penghancuran boneka Barbie terbarunya. Deidara, nama dari seorang wanita dari klan blah blah blah *C4 Aktif* itu hanya menggaruk kepalanya bingung. Dia bingung mau menjelaskan apa ke Sasori. Dan kemudian, Deidara harus mengakui bahwa killing intens yang diluncurkan Sasori lebih kuat daripada killing intens dari sang empu sharingan. Dan, pada kenyataannya, Sasori tidak mungkin percaya pada Deidara bila dia member alasan, 'Gomen ne, Sasori. Aku tidak tahu kalau itu adalah Barbie mu dan aku sangat menyesal.'
Percaya atau tidak, Sasori akan mengata…
"DEIDARA! CEPAT GANTI BARBIE-KU ATAU KAU AKAN KUJADIKAN SEBAGAI GANTINYA!"
Deidara gugup setengah mati mendengar amarah dari Sasori yang abal dan memekikkan telinga hingga Deidara siap mati sekarang daripada harus mendengar suara itu selama setahun penuh.
Pein hanya menatap Deidara dengan pandangan memelas. "Ya ampun Deidara, tabahkan saja dirimu. Aku sudah tobat untuk tidak bertarung dengan Tobi …" ucapnya sambil melirik ke arah salah satu anggota Akatsuki yang sedang asyik makan lollipop. Di sampingnya, masih ada 2 karung lollipop yang masih belum dimakan dari kemarin. Yap, Pein saja sampai tidak percaya bahwa Tobi 'mampu' menghabiskan 8 karung lollipop dalam waktu 1 hari sampai-sampai Author terpaksa geleng-geleng kepala membaca ceritanya sendiri. *Author : Bagi-bagi donk …* *Tobi : Beli aja sendiri :p*
Sementara Kisame dan Kakuzu menatap Deidara dengan miris. "Sabarlah, Deidara …" gumam mereka berdua, mengharap keselamatan dari Tuhan yang maha kuasa untuk sang wanita bernama Deidara *C4 aktif untuk kedua kalinya* yang sekarang lagi bersimpuh di hadapan Sasori, dengan backsound lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh Pein beserta anggota lainnya minus DeidaraSasori.
"Jangan bernyanyi!" teriak Sasori. Lagu yang dilantunkan oleh para Anggota Akatsuki yang suaranya sama-sama cempreng itu pun berhenti mendadak, ketabrak badak, gara-gara massa mbludak, teriak sampe serak-serak, sampe-sampe dapet balasan bau ketiak (?). Ok, bisa dipastikan bahwa ruangan yang diterangi oleh satu lampu itu mendadak jadi gelap gara-gara aura suram dari Sasori, diiringi dengan backsound Moonlight Sonata yang mengantarkan Deidara pada kematiannya, yang entah sejak kapan sudah disetel. YES, YOU DIE DEI! HUAHAHAHHA! (kok dari tadi backsound terus ya?)
"KONAN! MATIKAN!" perintah Sasori, tak lepas dari aura kematian yang dipancarkan KE Deidara, yang udah gemetaran sambil nelen ludah. Dia sekarang tobat gak mau nelen paku payung lagi … (WTH?)
Konan pun langsung merebut hp milik Tobi dan langsung melemparnya ke sembarang tempat, sementara Tobi menganga lebar tidak percaya kalau I Pad yang tadi sempat digenggamnya kini tengah melayang … melayang menu … menuju …
JBURR~!
"TTTIIIDAAAAAAAAAAAAKKK!"
Oke, masalah belum kelar, sekarang udah ada masalah lagi antara Konan dengan Tobi. Tobi mendekat ke arah kolam renang berdiameter 100 cm itu dan mengambil I Pad tadi yang udah bobrok kemasukan aer. 100 cm? hehehe, Tobi kan pake kolam renang praktis dari bahan plastik. ~lirik ke arah Kakuzu yang pelit sangat untuk membuatkan kolam renang sungguhan~
"Tob, maafin gue ya. Gue gak sengaja. Gue khilaf deh .." ucap Konan penuh rasa bersalah. "Gak bisa. Konan-senpai harus ganti dong!" seru Tobi.
"Loh? Tobi kan anak baik. Masa gak mau maafin Konan-senpai sih?" isak Konan dengan imej kekanak-kanakan. Akhirnya, Tobi pun luluh juga. "Iya deh, Tobi kan anak baik. Jadi Konan-senpai Tobi maafin deh. Tapi jangan diulangin lagi ya."
Konan mengangguk dengan senyum. Yang Tobi sendiri tidak tahu bahwa itu adalah senyum licik kemenangan.
Ok, bek tu de Deidara-chaaan ..
"G-gomen, D-Dei a-akan me-mengganti-nya u-un …"
*Hinata : U-Untunglah, t-ttidak hh-hanya a-aku yang gg-ggaagap ddalam berbi-cara*
"HAYAKU! CEPAT ATAU …"
"I-IYA SASORI-KUUNN!" Deidara buru-buru ngacir setelah Sasori memasukkan tangannya ke dalam saku jubah Akatsukinya. "Loh? Kenapa malah pergi? Gue kan mau dengerin lagu dari I Pad gue .. Ngapain Deidara lari-lari gaje kayak gitu?" tanya Sasori bingung dengan wajah innocent, kemudian mulai menyetel lagu dari I Pad-nya.
Ke sana kemari membawa alamat …
Klik
Iwak peyek, Iwak peyek …
Klik
Ke sana kemari membawa alamat …
Klik
Iwak peyek, Iwak peyek …
"SUMPAH! INI I-PAD GILA BENER! LAGUNYA CUMA DUA DOANK! MANA I PAD GUE?" tereak Sasori mencak-mencak.
"Loh, itu kan I Pad Tobi~," ujar Tobi yang langsung ngambil I Pad di tangan Sasori tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
"K-kalau i-itu punya To-Tobi, bb-bberaaarrti yyanngg tad-di di-dilempar samma Ko-Konnan itu I Pad … I Pad … Gua?" tanya Sasori memastikan dengan nada mengenaskan. Konan masang wajah ~gawat, gue harus cepet-cepet kabur~, sementara Tobi garuk-garuk kepala sambil memiringkan kepalanya yang tadinya emang udah miring duluan.
*Hinata : W-waah, t-ternyata Sa-Sasori-kun j-juga g-ggagap, h-hehehe.*
"GRAAAAAAHHHHHH! BBAKKKAAA!"
"Sasori-senpai gerah ya? Sini Tobi kipasin pake kipas ini," ucap Tobi, ngeluarin kipas gede yang entah di dapat dari mana. Sementara itu, di Sunagakure, seorang wanita berkucir empat mencak-mencak sambil ngamuk-ngamuk gara-gara benda kesayangannya udah lenyap dari tempatnya.
Sasori mendelik begitu Tobi mengayunkan kipas itu pada dirinya. "Tobi, jangaaaa~!"
WUSH!
Empat jam kemudian setelah markas Akatsuki rapi kembali ...
"Anjr*t, Tobi kambuh lagi! Awas kalo markas ini diberantakin lagi," rutuk Hidan penuh emosi. "Udahlah. Sabar aja, Dan. Lagian kita lebih berharap kalau Tobi kayak gitu daripada jadi M*dara ..." nasehat Zetsu putih, dengan menghilangkan huruf 'a' dari tempatnya. "Gak sabar gue kalau Tobi jadi Madara," kata Zetsu hitam.
"Ada yang bilang sesuatu?" tanya Tobi, mendekati aura suram.
"Gak kok, Tob. Kita cuman ngomong tentang darahnya Sasuke sama Itachi. Mereka berdua satu darah kan?" ralat Kakuzu, menenangkan keadaan. Zetsu putih sama Hidan bernapas lega begitu Tobi ambil langkah keluar markas. (Nah lho? Apa hubungannya kata 'Madara' dengan darah? maDARA, dan DARAh. Kikiki, author stress)
"Fyuuh, bisa gawat kalo dia berubah jadi M*dara ..." celetuk Itachi.
"Iya tuh. Kamu sih!" Zetsu putih menyalahkan Zetsu hitam. "Lho? Kok gue? Gue kan cuma bilang kalau gue gak sabar lihat Tobi jadi Ma ... mpphhh!" Zetsu hitam langsung disumpel mulutnya pake kain perca. Trus bareng-bareng dimasukin ke karung.
"Hei, ue ko' iut i eap ii?" protes Zetsu putih gak jelas. (baca : Hei, gue kok ikut disumpel sih?)
"Ga usah banyak ngomong lu Zet!" dengus Hidan.
"!"
"Mana Deidara?" tanya Sasori yang udah gak sabar. "Sabar Sas. Deidara mungkin lagi beli barbie-nya ..." nasehat Itachi. Tua-tua harus bisa nasehatin donk, hehehe *diamaterasu*
"HOEEY, MINAA~! Dei kembali un!" teriak Deidara yang udah nyampe di pintu. Di tangannya ada sebuah benda yang dinanti-nanti oleh Sasori. Mata Sasori langsung bling-bling begitu melihat apa yang dipegang Deidara. Sementara itu, hidung Deidara juga bling-bling akibat keringat yang terkena sinar matahari (?).
"Cepet, sini barbienya!" teriak Sasori. Deidara menyerahkan apa yang dimaksud 'barbie' oleh Sasori dari tangannya. Sasori langsung berbinar-binar melihat barbienya yang baru.
"Waah, bagus bangeet! Bisa gue jadiin koleksi nih ..." kilah Sasori bahagia.
"Hehehe, iya! Sekarang jangan bertengkar lagi ya," timpal Itachi. Sasori mengangguk mantap, tanpa mengalihkan pandangannya dari barbie tersebut.
"Hah? Koleksi?" gumam Deidara gak ngerti.
"Deidara, elu dapet dari mana barbie ini?" tanya Sasori.
"Waah, kalo itu, biar Deidara cerita dari awal ya un!" respon Deidara. Sasori mengangguk mengiyakan. "Gini ceritanya un. Dei kan pergi dari markas akatsuki, terus ke pasar un. Tapi di sana Deidara malah dikejar-kejar satpam gara-gara dikira banci un. Habis itu, Dei pergi ke toko khusus barbie un, satu-satunya toko barbie di sekitar sini. Tapi ternyata tokonya tutup un," cerita Deidara.
"Terus barbie ini dapet dari mana?" tanya Sasori gak ngerti. Deidara tersenyum penuh arti. "Yaaa ... terpaksa dibuat pake tanah liat lah un."
"Wooaah, pantesan berat," respon Sasori dengan tampang tak bersalah. Lima detik kemudian ... "Nani?" tanya Sasori yang mulai sadar. Deidara masih tersenyum sampai ...
"Katsu."
DDUUAARRRR!
Langganan:
Postingan (Atom)