Total Tayangan Halaman

Selasa, 05 November 2013

To Know You part 4


''Sakura... Pergi denganku yuk!''

''Naruto, 'kan tadi sudah kubilang hari ini ada rapat panitia antar kelas.''

''Buu... Paling-paling kau pergi hanya untuk melihat Sasuke lagi 'kan.''

Wajah gadis itu memerah, ''Sudah ah, Naruto. Lebih baik kau cepat pulang. Semua murid sudah pulang dari tadi, tahu. Aku pergi rapat dulu.''

Pemuda itu hanya melihat ke arah gadis itu pergi, ''Lihat saja. Suatu saat nanti aku pasti akan mendapatkan hatimu.''

.

.

.

''Kenapa Sasuke? Kenapa?''

Pemuda rambut biru tua itu hanya menghela napas panjang seperti biasa, ''Sakura, sudah kubilang ini sama sekali bukan urusanmu.''

''Tapi, kenapa kau tidak memberitahuku kalau 2 minggu lagi kau mau ke luar negeri?''

''Sudah kukatakan, ini bukan urusanmu, Sakura.''

''Tapi Sasuke...'' Gadis itu mengaitkan lengannya pada pemuda itu, ''Kenapa kau pergi meninggalkanku begitu saja? Kita ini teman sejak kecil 'kan?''

Gadis berambut pink itu benar-benar berharap teman bermainnya sejak kecil yang sekaligus cinta pertamanya itu tidak akan pergi untuk sekolah ke luar negeri dan menghabiskan sisa hidupnya di sana, tanpa bertemu lagi dengannya dan juga teman-teman yang lain.

''Sasuke...''

''Cukup, Sakura!'' Hentakan suara yang keras dari pemuda itu membuatnya terdiam.

''Meskipun aku mengenalmu sejak kecil, aku tidak pernah menganggapmu teman. Dan kalaupun iya, aku tidak perlu melaporkan semua keputusanku padamu 'kan? Berhentilah untuk selalu mencampuri urusanku!''

Kejam. Ini terlalu kejam. Dia tidak pernah menganggapnya teman.

''Lalu... Lalu aku ini apa...? SELAMA INI BAGIMU AKU INI APA?''

Hanya satu jawaban yang dikeluarkan untuk pertanyaan itu, ''Tidak tahu.''

Geram, marah, sakit, tapi di atas semua itu... Kecewa.

''Baiklah, Sasuke. Aku ini bukan apa-apa bagimu dan kau pun bukan apa-apa bagiku. Kau akan kubuat menyesal pernah berkata seperti itu padaku.'' Saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas dendamnya pada cinta pertamanya.

.

.

.

''Kau mau jadian denganku?'' Gadis itu hanya mengangguk.

''Ini bukan mimpi 'kan?'' Ia mengangguk lagi.

''HOREEEE!''

''Sst... Pelankan suaramu, Naruto...'' Daripada mengecilkan suaranya, ia mengangkat tubuh gadis itu tinggi-tinggi.

''Hahaha... Aku senang sekali, Sakura. Aku tahu akhirnya kau pasti menyukaiku.'' Dia tersenyum senang.

''Aku mau pergi memberitahu Iruka-sensei, Shikamaru, Chouji, Kiba, lalu... lalu...'' Ia menghitung daftar orang-orang yang ingin diberitahunya. Sang gadis hanya tersenyum kecil, ''Oh, iya. Si Sasuke juga harus tahu!'' Dan saat mendengar nama itu, senyumnya menghilang.

''Aku pergi memberitahukan semuanya dulu ya, Sakura. Bye bye. Aku jemput saat pulang sekolah nanti.''

Sang gadis hanya berdiam di tempatnya.

'Benar. Beritahukan... Beritahukan pada semuanya, Naruto... Beritahukan pada semuanya kalau kita pacaran. Terutama padanya...'

.

.

.

Begitulah, rumor beredar cepat. Ditambah lagi dengan kemesraan mereka berdua di depan umum dan celoteh berkepanjangan dari pemuda pirang tersebut, membuat hal ini diketahui sampai ke seluruh sekolah.

Bergandengan tangan, makan bekal bersama, pulang bersama, ciuman pertama setelah 3 hari jadian...

''Kenapa senyum-senyum terus?''

''Tidak kok.''

Hal itu membuatnya tambah curiga akan apa yang dipikirkan si pemuda pirang, ''Ada apa? Kasih tahu dong...''

Dia hanya tersenyum senang, ''Benar tidak apa-apa. Aku hanya senang karena akhirnya kau menyukaiku dan melakukan hal ini bersamaku.''

''Hah?'' Kebingungan tersirat di wajahnya.

''Yah, hal ini. Pulang bersama, bergandengan tangan... Kau, di sebelahku,'' ia menyengir, ''Dulu kau selalu berbicara Sasuke, Sasuke, dan Sasuke terus. Karena itu, saat kau bilang kau menyukaiku, aku pikir aku bermimpi. Sebenarnya aku hampir menyerah untuk menyukaimu.''

Melihat senyum polos yang ada di wajah pemuda itu, sempat terpikir untuk menghentikan semua rencana ini. Tapi saat dendam lebih besar dari perasaan bersalah, tidak ada yang bisa melawannya.

Akhirnya, tidak ada lagi yang menyinggung tentang hal itu sampai mereka pulang ke rumah masing-masing.

.

.

.

''Apa maksud semua ini, Sakura?'' Suara itu terdengar sampai memekakkan telinga.

''Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa maksudmu memanggilku ke tempat seperti ini?'' Sekarang mereka berdua tengah berada di belakang sekolah, tempat yang sangat jarang didatangi orang.

''Nggak usah pura-pura! Kau tahu apa yang kumaksud.''

''Hah? Nggak ngerti tuh.''

''Kenapa setelah pembicaraan kita tiba-tiba kau berpacaran dengan Naruto?''

''Oh, itu...'' Mata gadis itu tidak menatapnya, membuatnya bertambah gusar, ''Dengan siapapun aku pacaran, tidak ada hubungannya denganmu 'kan?'' Ia mengembalikan kata-kata yang pernah dilempar padanya.

''Apa kau pernah berpikir apa yang dirasakan Naruto kalau tahu bahwa kau tidak pernah benar-benar mencintainya?''

Tapi gadis itu malah meremehkan perkataannya, ''Hah? Memangnya kau peduli pada Naruto? Kupikir kau orang yang tidak punya perasaan.''

''JANGAN MAIN-MAIN, SAKURA!''

''APA? KAU PIKIR AKU MAIN-MAIN? Sekian lama aku mencintaimu dan selalu bersamamu, tapi ternyata kau bahkan tidak menganggapku temanmu! Kau tahu betapa sakit hatiku saat mendengar kenyataan itu?''

Pemuda itu terdiam.

''Aku hanya ingin bersamamu, selalu di sampingmu. Hanya itu. Tapi kau sama sekali tidak mempedulikanku. Kau tahu? Aku bisa mengorbankan satu dunia ini hanya untukmu. Hanya untuk mendapatkanmu. Biarpun aku harus mempergunakan Naruto.''

Pemuda itu meringis melihat wanita yang berdiri di depannya, ''Kau gila, Sakura.''

''BENAR! AKU GILA. AKU GILA KARENA MENCINTAIMU!''

Dan saat itu, ia menempelkan bibirnya dengan pemuda itu, namun segera dihempas oleh sang pemuda. ''Lepas!''

Saat kedua bibir yang bertautan itu lepas, mereka baru menyadari akan kehadiran orang ketiga yang ada di sana. Kedua pasang bola mata itu terbelalak.

''Na-Naruto...''

''NARUTO!''

Di sana, berdiri sosok yang mereka kenal sejak kecil, namun ekspresi wajah itu tak pernah mereka lihat sebelumnya. Sebuah mimik yang tak pernah diperlihatkan oleh pemilik bola mata berwarna biru yang kini berdiri di depan mereka.

Sosok itu pun berlari ketika tak tahan lagi untuk membendung perasaannya.

''Naruto!'' Gadis itu pergi mengejarnya.

Sebuah keinginan untuk mengejar temannya timbul dalam diri pemuda itu. Namun, ia sadar. Apapun yang dikatakannya pada saat ini, tidak akan merubah apapun yang telah terjadi. Pada akhirnya, semua ini adalah kesalahan yang tak bisa tertebus olehnya.

.

.

.

''Naruto! Naruto! Kumohon, tunggu dulu.'' Pemuda pirang itu menghentikan langkahnya, namun tak berbalik untuk menghadap perempuan yang sedang mencoba bernapas lancar di belakangnya.

''Kenapa...'' Hanya itu yang bisa diucapkan.

''Dengar Naruto, aku dan Sasuke...''

''Kenapa aku?'' Bukan 'Kenapa memperalatku?' yang ditanyakan, melainkan 'kenapa' gadis itu memilihnya. Mengetahui perbedaannya, rasa bersalah gadis itu bertambah.

''Aku—''

''KENAPA AKU?'' Suara itu menggema di lorong sekolah yang sepi. ''Kau tahu aku sangat menyukaimu 'kan? Dan kau memperalatku karena tahu hal itu?''

''Naruto...'' kata-kata seperti tertahan di tenggorokannya, namun bagaimanapun ia harus mengatakan kejujuran agar siapapun tidak menjadi lebih terluka.

''Benar. Aku memperalatmu karena ingin membalaskan dendamku pada Sasuke.'' Tidak ada respon darinya.

''Aku memilihmu karena kupikir kalau denganmu, Sasuke pasti menyadarinya dan akan menemuiku... Seperti tadi...'' Dia tetap diam tak bergerak.

''Tapi saat aku bersamamu, aku tidak bohong, Naruto. Aku benar-benar senang saat denganmu dan aku—''

''Sakura...'' Kata-katanya terhenti saat mendengar sesuatu dari mulut pemuda itu. ''Lebih baik kita tak perlu bertemu lagi...'' Dengan itu, ia berjalan semakin jauh dari sang gadis.

Dan gadis itu hanya bisa berdiam menangis di tempatnya ketika menyadari kesalahan paling besar yang pernah dia buat selama hidupnya.

Sejak saat itu, mereka tak pernah saling berbicara, maupun berhubungan lagi. Mereka menjalani hidupnya masing-masing tanpa ada campur tangan dari yang lain. Dunia mereka bertiga kini terpisah.

Sampai akhirnya mereka lulus dan melanjutkan di sekolah yang berbeda, tak pernah satu kali pun mereka bertemu pandang. Bahkan sampai kini, pemuda itu tidak mengetahui kabar tentang sang gadis maupun kehidupannya setelah hari itu.

Tidak tahu...

...dan tidak mau tahu...

.

.

.

Kurasakan terpaan angin yang melewati wajahku yang basah.

Sampai saat ini...

...angin masih berhembus.

.

.

.

To Be Continued

To Know You part 3


''Hei, kenapa kau ada di sini?'' tanyaku dengan nada terganggu.

''Tidak apa-apa 'kan? Aku tidak mengganggu kok,'' ia menjawab dengan santai.

''Oh ya? Kalau begitu, siapa yang seenaknya mengambil bekal yang kubuat untuk Naruto lalu memakannya tanpa ragu?''

''Hah? Orangnya sendiri tidak keberatan kok.''

''Aku keberatan.''

Hhhh, benar-benar deh. Kenapa sekarang bertambah lagi satu orang yang merepotkan di tempat ini?

Aku mencuri pandang ke arahnya. Setelah acara jalan-jalan kami waktu itu, dia jadi lebih pendiam. Atau, lebih tepat dikatakan dia memendam sesuatu, terlihat dari auranya yang membuat orang ingin menjauh. Tatapan matanya bukan tatapan kosong, melainkan kebencian.

''Hei, dia kenapa sih?'' tanyaku pada si cowo nanas yang ada di sebelahku, tetap sambil melihat punggung yang kesepian itu.

Dia tetap mengunyah makanannya, ''Entahlah. Dia jadi begitu sejak pulang kencan denganmu. Apa yang kau lakukan padanya?''

Aku mengalihkan pandangan padanya, ''Kami tidak kencan kok. Itu hanya jalan-jalan biasa.''

''Iya, iya. Terserahlah mau kau sebut apa. Pokoknya dia jadi begitu setelah pulang.''

Aku tidak mengerti dengan ucapannya. Setelah pulang? Bukankah tidak ada yang salah dengan acara jalan-jalan itu? Apa yang kulakukan sehingga membuatnya seperti itu?

''Terima kasih''

Dua patah kata itu masih terngiang jelas di telingaku, bagaikan gema yang tak pernah berhenti mengulang kata. Setiap nada, setiap intonasinya terekam di otakku dan selalu diputar dengan pasti, bagaikan mp3 yang di replay. Terulang terus, terulang terus. Tak pernah berhenti.

Seharusnya tidak ada yang salah.

''Ah, apa mungkin...'' Aku melihatnya, ''Ah, tidak, tidak mungkin... Tapi bisa saja...'' Gerakannya seperti orang yang berpikir serius.

''Apanya yang mungkin?''

''Tidak, tidak apa-apa.''

Aku sangat, sangat ingin tahu apa yang dimaksudnya. Tapi mungkin lebih baik kalau aku tidak tahu. Dari awal aku memang tidak ingin tenggelam ke dalam dunianya. Tidak mau tenggelam lebih jauh...

Aku bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. Sejak tadi yang dilakukannya hanyalah menatap langit, tapi aku tahu, yang ditatapnya bukanlah langit. Ada hal lain yang lebih jauh dibanding langit yang dilihatnya.

''Hei... Kamu tidak mau makan...?'' Tidak ada jawaban darinya.

''Tidak perlu makan bekal dariku. Roti saja juga tidak apa-apa, kok...'' Dia tetap diam.

Aku memang sudah terbiasa tidak dipedulikan oleh yang lainnya... tapi dia...

''Hei...'' Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya, namun yang dilakukannya merupakan reaksi yang paling tidak kuduga dan tidak kuharapkan.

Ia menepis tanganku dengan kasar. Bahkan saat mata kami bertemu, tak satu kata pun yang terucap di sana. Selanjutnya yang bisa kudengar hanyalah suara bantingan pintu dan helaan napas panjang dari cowo nanas.

''Gawat... Ternyata memang benar...''

.

.

.

''Hari ini kamu ikut pergi nggak?''

''Wah, gimana ya...? Aku 'kan udah punya pacar. Mana mungkin aku ikut begituan lagi.''

''Yah, sayang banget. Goukon* kali ini dengan anak-anak SMA K, loh. Rugi deh kalau sampai nggak ikutan.''

''Eh, kok nggak bilang sih? Kalau begitu hari ini aku ikut deh.''

''Kita janjian setelah pulang sekolah. Ingat, ya. Jangan sampai lupa!''

''Iya iya, aku tahu.''

Berisik sekali

Suasana kelas memang berisik. Aku tidak tahan mendengarnya. Tapi saat ini aku tidak bisa pergi ke atap, karena, kalau ke atap aku takut untuk bertemu dengannya. Kalau aku bertemu dengannya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan...

Sudah beberapa hari sejak saat itu, dan aku tidak pernah menemuinya lagi. Mungkin lebih tepat kalau kubilang aku menghindarinya. Tapi pada dasarnya, kami memang tidak akan bertemu kalau bukan aku yang menemuinya. Kelas kami terpisah dan kami memang tidak saling kenal.

Hhhh... Mungkin ini semua adalah hukuman untukku yang tidak tulus mendekatinya...

Kakiku melangkah ke arah atap. Pada akhirnya aku sendiri tidak bisa berada di ruangan itu lebih lama lagi.

Di saat pintu itu terbuka, aku tahu apa yang menungguku disana. Tempat ini sudah bukan tempat milikku pribadi lagi. Tapi, tempat ini juga bukan miliknya.

Aku mengambil langkah demi langkah sampai akhirnya tepat berada di sampingnya, lalu duduk menemaninya.

Hanya butuh beberapa saat sampai mulutku memutuskan untuk terbuka, ''Kenapa...''

Aku terdiam sesaat, bingung apa yang harus kukatakan selanjutnya, ''Kenapa kau kembali seperti dulu?'' Aku tidak bisa melihat ke arahnya. Mengingat aku bukan siapa-siapa baginya, bukan hakku untuk mengatakan hal semacam itu.

''Jangan bercanda,'' aku tak pernah mengharapkan sebuah respon darinya.

''Tahu apa kau tentang aku yang dulu.''

Kata-kata yang diucapkannya tanpa emosi di nada suaranya berlalu dihembus angin, namun tak bisa terlewatkan oleh indra pendengarku.

''Tahu apa kau...''

Aku mengerti.

Aku mengerti bahwa aku tidak pantas untuk membicarakan hal ini.

Aku mengerti bahwa bukan peranku untuk mengatakan hal seperti ini.

Aku tidak tahu dan tidak pernah mau tahu tentangmu, masalahmu, maupun kamu yang dulu.

Dan mungkin karena itulah sekarang aku menerima pandangan matamu yang menyakitkan. Mungkin karena itulah sekarang kau pergi meninggalkanku. Mungkin karena itulah sekarang aku sendirian di bawah langit yang luas ini sambil menahan rasa nyeri yang menghampiri dadaku.

Aku tidak pernah tahu tentang dirimu

Aku tidak pernah tahu tentang masa lalumu

Aku tidak pernah tahu penyebab kesedihan yang tersirat di bola matamu.

Dan inilah hukumanku... Untuk terus ditepis dan jauh dari kehidupanmu.

.

.

.

Pintu itu terbuka dan menunjukkan suasana kelas yang sepi dengan hanya segelintir orang di dalamnya.

''Hm? Tumben kau yang menemuiku lebih dulu.''

''Tolong ceritakan padaku semua yang kau ketahui.''

Semuanya...

.

.

.

To Be Continued

To Know You part 2


''Oi!''

Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapatkan seseorang yang tak ingin kutemui.

''Cowo nanas.''

''Hentikan panggilanmu itu. Tidak enak didengar, tahu.''

Aku tidak mempedulikan ocehannya. ''Mau apa kau?'' tanyaku sambil kembali pada pekerjaanku, membuang sampah.

''Terima kasih.''

Sekarang aku menatapnya dengan tatapan kau-sudah-gila-ya-?

''Jangan melihatku seperti itu!'' Sepertinya dia mengerti kalau dia dihina, ''Aku mengucapkan terima kasih padamu karena ternyata kau bisa berpacaran dengannya lebih dari seminggu, bahkan hampir dari dua minggu.''

Bukannya lebih tepat kalau diberi ucapan selamat daripada terima kasih?

''Dan juga...'' dia seperti mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Tidak seperti aku yang waktu itu langsung ceplas-ceplos. Sampai sekarang aku masih tidak habis pikir kenapa saat itu aku bisa berkata seperti itu.

''...mungkin karena bersamamu, akhir-akhir ini dia agak berubah.''

Ok, kali ini aku benar-benar bingung. Berubah? Sebelah mananya? ''Berubah...?''

''Hmm... Bagaimana ya... Belakangan ini, kalau ditanya dia sudah bisa mengatakan pendapatnya, walaupun hanya sekedar mengeluarkan satu atau dua patah kata dengan suara kecil. Tapi itu lebih baik daripada dia hanya mengangguk, atau lebih parah, tidak peduli sama sekali.''

Dia memberi respon pada cowo nanas ini? Kenapa? Padahal kalau denganku, dia tetap seperti saat kami pertama kali berbicara. Terutama sejak kejadian saat itu.

Aku membuka sedikit celah di mulutku, ''Kalau terlalu perhatian padanya, kau bisa dikira gay loh,'' hanya itu kalimat yang bisa kuberikan untuknya saat ini.

''Diam kau! Aku tidak memintamu mengomentari bagian itu.'' Terlihat semburat garis merah di pipinya. Masa' sih kata-kataku tepat?

Segera, dia mengubah emosinya yang tadi sempat naik, ''Yah, pokoknya aku sudah mengucapkan terima kasih untukmu. Dan... Kupikir kau memang agak berbeda dengan cewe lain yang pernah berpacaran dengan Naruto. Kau tidak punya niat untuk memanfaatkan Naruto.''

Nyut

Sakit.

''Kau sudah membuktikan kata-katamu waktu itu kalau kau sama sekali tidak mengincar wajah ataupun ketenaran Naruto. Kau melihat satu sisi lain darinya.''

Nyut

Dadaku sakit.

''Yah, terlebih, Naruto sendiri sepertinya tidak keberatan bersamamu. Karena itu...'' dia tersenyum lebar padaku, ''... Tolong temani Naruto terus, ya. Kupercayakan dia padamu.''

Nyut

Dia pun pergi berlalu bersama dedaunan yang terbang dihembus angin.

''...kau memang agak berbeda dengan cewe lain... Kau tidak punya niat untuk memanfaatkan Naruto.''

Bukan

''Kau melihat satu sisi lain darinya.''

Bukan begitu

''Naruto sendiri sepertinya tidak keberatan bersamamu.''

Aku sama sekali tidak baik

''Kupercayakan dia padamu.''

Aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan

Seluruh ucapannya terus terngiang di telingaku. Setiap kata-katanya membuat dadaku sakit, seperti diiris selembar demi selembar secara perlahan. Setiap penggalannya menambah beban dalam hatiku. Aku hanya bisa meremas bajuku.

Jangan tersenyum padaku

Aku sama sekali bukan orang yang baik

.

.

.

Kakiku membawaku menelusuri tangga yang membawaku ke tempat dimana aku selalu menjernihkan pikiranku. Setiap langkah yang kujalani terasa berat, dan semakin berat.

Aku mengeluarkan jepitan hitam yang kecil, kunci menuju duniaku sendiri. Saat aku memasukkan jepitan itu ke lubang kunci, aku sadar bahwa dunia itu bukanlah milik pribadiku lagi. Seseorang telah memasukinya.

Kuputar knop pintu yang kuncinya telah terbuka lebih dulu itu lalu mendorongnya. Disana aku menemukan dia.

Tempat dimana kami makan bersama. Bedanya, kali ini tidak ada bekal makanan di sana. Hanya ada dia yang sedang berbaring sendirian dengan wajah mengarah pada langit.

Aku berjalan pelan mendekatinya, ingin tahu reaksinya bila tahu aku ada di sini. Aku berhenti setelah kedua kakiku dengan kepalanya dekat.

Matanya terpejam. Rambutnya tersebar ke segala arah, memperlihatkan keningnya yang tanpa cacat. Dia tertidur dengan damainya. Aku berlutut untuk melihat wajahnya lebih dekat, dan memandangnya untuk waktu yang lama.

''Naruto sendiri sepertinya tidak keberatan bersamamu.''

Dadaku masih terasa sakit bila mengingat kata-kata dari cowo nanas. Aku tidak pantas menerima ucapan terima kasihnya. Aku tidak pantas mendapatkan kepercayaannya. Aku sama dengan semua cewe lain yang pernah berpacaran dengan Naruto.

Aku menempelkan keningku dengan miliknya.

''Maafkan aku... Maafkan aku...''

Aku sama sekali bukan orang yang baik. Aku hanyalah perempuan jahat.

Berulang kali aku mengucapkan hal yang sama padanya, berharap dia akan melakukan apa yang kuminta dalam setiap kata yang keluar dari mulutku, meski aku tahu dia tidak akan mendengarnya. Kata-kata itu juga kubisikkan dengan suara pelan.

Karena...

...aku tidak tahu apa yang harus kulakukan bila ia terbangun dari tidurnya.

.

.

.

Gawat.

Ini gawat.

Aku tidak terbiasa mendapatkan pandangan sebanyak ini.

''Kita pergi yuk.'' Mendengarku berbicara seperti itu, dia hanya melihatku dengan pandangan aneh.

''Ayolah, hanya jalan-jalan di kebun binatang kok.'' Tampangnya kelihatan ogah-ogahan.

''Kutunggu besok jam satu siang di depan Zoo-Zoo ya. Awas kalau kau tak datang, aku akan menghantuimu malam-malam.'' Memang ancaman seperti ini tak bisa dipercaya, buktinya dia langsung pergi.

''Hei! Aku benar-benar akan menunggumu sampai kau datang loh!''

Meski tidak bilang apa-apa, tapi dia datang juga hari ini.

Sekarang yang jadi masalah...

''Eh, liat deh. Cowo itu cakep banget ya.''

''Iya, keren banget. Style-nya juga ok.''

''Tapi yang di sebelahnya itu siapanya dia, ya. Pacar?''

''Ah, nggak mungkin. Paling-paling sepupu atau saudara jauh. Paling banter, temen doang kali. Mana mungkin tuh cowo mau pacaran sama cewe biasa begitu. Bukan biasa, jelek malah, kampungan.''

''Iya, ya. Liat aja tampang tuh cowo. Muram, nggak senyum. Dia juga pasti nggak mau jalan bareng sama tuh cewe. Hahahahaha...''

''Psst, pelanin suaramu. Nanti kedengeran.''

Biar dibilang pelanin suara, udah kedengeran kali. Suara kalian besar begitu. Nggak cuma kedua cewe itu, banyak juga yang lain.

Sampai saat ini, sudah banyak yang melirik ke arah kami lalu memuji dia dan mencibirku. Ada juga yang mengajaknya kenalan atau ngobrol, sebagian dari cewe-cewe itu bahkan punya pacar yang ada di sampingnya. Alhasil, pacar cewe-cewe itu marah-marah lalu menyeret mereka pergi. Yang paling parah, ada yang datang lalu mengajak Naruto pergi meski mereka sudah melihat aku berada di sampingnya, tapi mereka ditolak keras oleh Naruto dengan tatapan yang menusuk. Baru kali ini aku melihatnya marah.

Aku tidak heran dengan reaksi orang-orang di sekitarnya, mengingat mudahnya ia mendapat pacar baru setelah satu hari diputus oleh seorang cewe. Aku menghela napas. Tahu begini, aku lebih memilih untuk diam di rumah.

Tapi tak kusangka, banyak juga pasangan yang pergi ke kebun binatang. Kupikir tempat kencan itu terbatas seperti taman bermain, restoran, mall, atau semacamnya.

Begitulah, disini kami hanya melihat-lihat binatang yang umum. Gajah, jerapah, kuda nil, monyet, apa perlu disebutkan semua? Tidak banyak yang istimewa dari kebun binatang kecil di pinggiran kota ini. Intinya, cukup membosankan.

Lagipula, daripada binatang, aku merasa kalau kami yang jadi bahan tontonan cewe-cewe yang ada di sini.

Setidaknya kebun binatang ini menyediakan tempat dimana para pengunjungnya diizinkan berinteraksi dengan para binatang jinak.

''Hei, kita kesana, yuk,'' ajakku sambil menunjuk tempat para binatang itu dikeluarkan dari kandangnya. Dia hanya mengangguk setuju.

Disana ada kelinci, kambing, burung unta, dan beberapa binatang jinak lainnya. Daripada pasangan muda, disini lebih banyak yang membawa keluarganya. Anak-anak bersama para orang tua, ada juga kakek-nenek yang duduk di tempat yang disediakan. Benar-benar seperti taman bermain dengan binatang.

Terpesona dengan para binatang, aku berlari menghampiri mereka. Mengelus kelinci dengan bulu lebat, bersama anak-anak lain memberi makan burung, kupikir hari ini tidaklah terlalu buruk.

Baru saja aku berpikir begitu, tiba-tiba ada yang menyambar topiku. Saat aku melihatnya, ternyata seekor anak monyet. Ia berlari memanjat pohon lalu memakai topi berwarna kuning itu di kepalanya lalu berteriak 'uki-uki'. Sepertinya senang sekali. Aku ingin mengambil topi itu, tapi aku tidak bisa memanjat pohon. Anak-anak lain hanya memandang monyet yang tertawa itu dengan tatapan kagum atau senang. Dasar anak-anak.

Saat aku berniat menyerah, aku tak menyangka ada orang yang berniat menolongku. Dengan mudahnya ia memanjat pohon itu dan mengambil topiku dari monyet kecil itu. Anak-anak lain langsung bertepuk tangan melihat aksi cowo itu ketika ia melompat dengan kerennya dari atas. Aku sendiri hanya bisa tertunduk malu saat ia mengembalikan topiku. Tetap tanpa ekspresi.

''Kakak, kakak,'' aku merasa ada seseorang yang menarik ujung bajuku yang ternyata seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun, ''Yang tadi itu pacar kakak, ya? Keren deh.'' Wajahku memerah karena komentarnya. Untung Naruto sudah pergi menjauh, jadi dia tidak bisa melihat reaksiku.

Tanpa kusadari mataku mengikuti kemana dia pergi. Ia dikelilingi banyak binatang dan anak-anak. Lalu, yang paling tak kusangka, ia tersenyum. Pandangan matanya tidak lagi kosong, tetapi melembut. Tatapannya saat ia bermain dengan anak-anak sangat berbeda dengan saat ia di sekolah.

Kuharap, tatapannya bisa terus tetap seperti itu.

.

.

.

Ketika matahari sudah letih berada di langit, ia mewarnai langit dengan warna oranye yang kemudian ditemani warna ungu kelam yang datang bersama bulan.

Sekarang kami berada di bawah langit yang berganti jam jaga itu. Seperti biasa, tidak ada yang mau sukarela jadi pembicara di antara kami berdua. Keadaan ini terus berlanjut sampai tempat dimana biasanya kami berpisah sudah dekat.

Aku mengambil tindakan dengan berjalan di depannya lalu berbalik menghadapnya.

''Terima kasih... karena kau mau datang.''

Dia tidak membalas ucapanku, melainkan menggerakkan tangannya seperti orang yang memakai topi. Aku mengerti apa yang dimaksud.

''Oh, topiku? Karena saat kau mengembalikannya padaku monyet itu seperti terlihat sedih, jadi kuberikan topi itu padanya,'' aku mengingat kejadian tadi siang, ''Maaf ya, jadi menyia-nyiakan usahamu.''

Dia tidak berkomentar apapun.

''Ah, pokoknya terima kasih kau mau datang. Setidaknya nanti malam aku tidak perlu menghantuimu,'' kataku mencoba bercanda.

Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke milikku, lalu bibirnya ke telingaku, dan membisikkan sesuatu di sana.

Aku merasakan panas di bagian wajahku, kupikir wajahku memerah oleh karena tindakannya yang tiba-tiba. Dia pun pergi ke arah rumahnya. Aku yakin sesaat tadi aku melihat salah satu sudut bibirnya naik sedikit.

Kakiku membawaku berlari sejauh mungkin dari sana. Pipiku memerah, wajahku panas, dadaku berdebar-debar. Tapi senyum tak pernah menghilang dari wajahku.

''Terima kasih''

Aku terlalu bahagia sampai tidak mengetahui siapa yang ditemuinya setelah berpisah denganku.

.

.

.

To Be Continued

To Know You part 1


Di sekolahku, banyak bertebaran gosip aneh. Yang paling terkenal adalah tentang dia.

Dia adalah cowo terpopuler di sekolah ini, entah kenapa. Seorang playboy yang aneh. Kabarnya, dia tidak pernah menolak siapapun yang menyatakan suka padanya. Benar-benar murahan 'kan? Tapi...

''Kau ini sebenarnya suka padaku nggak sih?'' gadis itu berteriak namun dia tidak merespon. Ia bahkan tidak melihat ke arah gadis itu.

Merasa tidak dipedulikan, gadis itu melayangkan sebuah tamparan. ''Ternyata semua gosip itu benar. Kau memang rendah!'' Gadis itu berlari pergi. Ia masih tetap disitu, tidak merespon. Seolah-olah tidak merasakan apa-apa.

Kejadian itu memang sudah biasa di sekolah ini. Selalu seperti itu. Katanya, tidak pernah ada yang bertahan lebih dari seminggu. Dan setiap kali selalu diakhiri dengan sebuah tamparan. Dan parahnya lagi, begitu pergi, selalu ada yang menggantikan. Dan kali ini...

''Hei,'' ia melihat ke arahku, ''Kau mau pacaran denganku?''

Itu merupakan hal yang tidak pernah kurencanakan saat sarapan tadi pagi.


Atap sekolah memang tempat yang paling nyaman untuk memakan bekal. Padahal sampai beberapa bulan yang lalu, atap sekolah masih menjadi tempat para pasangan berkumpul dan bermesraan. Tapi sejak Guru Ebisu yang merupakan guru sastra diangkat menjadi wakil kepala sekolah, ia melarang murid-muridnya untuk memasuki wilayah atap.

Terima kasih untuk jepitan hitam kecil yang ada di sakuku. Aku bisa makan sendirian di atap dengan tenang. Menikmati belaian angin, selimut biru langit dengan motif awan. Yah... Membawa satu orang tidak terlalu menyakitkan 'kan?

Aku memperhatikannya sambil menyuap makananku ke mulut. Rambut pirangnya yang halus bergoyang dengan lembut sesuai arah angin. Samar-samar, tercium bau semerbak melon dari roti yang tinggal setengah ditangannya.

Ia makan dengan pelan. Sangat pelan. Ia menggigit sebagian kecil roti itu kemudian mengunyahnya dengan sangat lama. Aku tidak yakin ia bisa menghabiskan roti itu sampai waktu istirahat selesai.

Matanya seolah-olah menerawang jauh. Jauh ke tempat yang tidak kukenal.

''Hei, makananmu hanya roti itu?'' Ia tidak menjawabku. ''Kalau kau hanya makan itu terus, tidak ada gizinya, loh.''

Ia tetap tidak mengatakan apapun.

Aku mengambil sepotong telur dadar gulung dari kotak bekalku lalu aku berusaha memasukkannya ke dalam mulutnya yang sedikit terbuka walau ia menolak, dan...

Hola!

Aku berhasil memasukkannya walau harus dengan susah payah.

Tidak bisa membuangnya, ia mengunyah telur itu perlahan. Matanya sedikit melebar saat memakannya. ''Enak?'' Dia hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Aku senang dengan reaksinya.

''Kalau begitu, mulai besok aku akan membuatkan bekal yang sama untukmu. Oh iya, siapa namamu?'' Aneh memang karena aku mengajaknya pacaran tanpa tahu namanya, tapi aku benar-benar tidak tahu.

Aku masih bisa mendengar suaranya yang pelan di antara angin yang bertiup dan sedikit menyamarkan suaranya. ''Naruto? Itu namamu?'' Ia mengangguk.

''Salam kenal, Naruto. Namaku Hinata.''

.

.

.

Kepopulerannya memang hebat. Dalam sekejap, hampir seluruh sekolah tahu ia sudah berpacaran lagi. Meski hal ini merupakan kegiatan mingguan, tapi efeknya tidak pernah berkurang.

Aku sendiri tidak menyangka ia bisa menjadi pacarku. Tapi seingatku, saat aku mengajaknya, ia tidak mengatakan iya atau tidak. Ia hanya melihat ke arahku sebentar dengan pandangan yang masih sama, lalu pergi begitu saja. Seperti berkata: 'Terserahlah'

Tidak menolak...

... dan tidak menerima.

Kini aku mengerti kenapa banyak orang yang tidak terlalu suka saat bersama dengannya, kenapa tidak pernah ada yang bertahan lebih dari seminggu. Dia tidak pernah bicara. Diajak bicara, dia tetap diam. Didiamkan, suasana jadi sunyi. Tanda kalau ia mendengarmu hanyalah sedikit anggukkan atau gerakan kelopak matanya. Gerakan lain? Kurasa tidak ada.

Yang lebih membuatku tertarik adalah pandangannya yang kosong. Benar-benar seperti orang mati. Yang ia lakukan hanyalah makan, bernapas, dan berjalan. Aku tidak yakin ia akan tetap melakukan hal itu untuk ke depannya. Siapa tahu dalam waktu dekat ia juga berhenti melakukan hal itu.

Kalau bersamanya, kita jadi tidak tahu apakah kita benar-benar hidup di dunia ini. Entah ia yang tidak hidup, atau kita yang tidak hidup. Apapun yang kita lakukan, tidak pernah ditanggapinya. Bagi kita, ia seperti tidak ada, dan baginya, kita benar-benar tidak ada. Pantas saja banyak yang menyebutnya seperti mayat hidup. Bagiku ia lebih mirip zombie. Tidak hidup, tapi tidak mati. Lifeless.

Meski dia seperti ini, tapi ternyata ia juga memiliki teman. Pernah ada seorang cowo berambut nanas mendatangiku saat aku sedang bertugas membuang sampah. Wajahnya seperti orang yang kurang tidur. Entah apa yang dilakukannya di malam hari.

''Hei, kau.'' Aku menoleh ke arahnya dan menunggu ia berbicara. ''Dengar, aku tidak tahu siapa kau. Aku bahkan tak tahu siapa namamu...'' Ok, kurasa itu kalimat yang kurang sopan untuk diucapkan pada orang yang baru ditemui. ''...tapi kalau kau hanya ingin mendekati Naruto karena wajah, predikat, maupun ketenarannya, lebih baik kau berhenti sekarang sebelum kau menjadi seperti para cewe yang sudah-sudah.'' Kupikir apa yang mau di bicarakan sampai mendatangiku. Ternyata ia mau membahas tentang pacar zombieku.

''Aku suka tubuhnya.'' Cowo nanas tampak bingung dengan jawabanku. Aku sendiri tidak tahu dari mana kalimat itu berasal. Itu keluar begitu saja tanpa sempat dicerna oleh otakku. ''Aku suka tubuhnya yang atletis, perutnya yang six-packs lalu...''

''Oi oi oi, kau bercanda 'kan? Kalau hanya seperti itu, lebih baik kau cari saja cowo lain. Masih banyak yang lebih baik daripada dia. Kau lihat sendiri 'kan dia itu seperti mayat hidup? Kau—''

''Sebenarnya yang kau khawatirkan aku, atau Naruto?'' Ia terdiam tak menjawab. Aku menghela napas panjang. ''Dengar, aku tidak berpacaran dengannya karena aku menyukai wajah, predikat, dan ketenarannya. Maupun tubuhnya.'' Bagian terakhir kukatakan sambil sedikit berbisik karena ceplas-ceplosku tadi. Rasanya aku bahkan belum penah melihat tubuhnya yang tanpa busana. ''Apa dengan begitu kau bisa tenang?''

Cowo nanas itu mengepalkan tangannya dengan erat. ''Lalu kenapa? Kenapa kau mau berpacaran dengannya? Apa kau sama dengan cewe-cewe sebelumnya yang berpura-pura baik dan berusaha agar dia tidak seperti itu lagi? Seolah-olah membawanya keluar dari kegelapan menuju cahaya, hah? Kalau memang seperti itu, hentikan saja! Sia-sia tahu! Sudah banyak orang yang mencoba, tapi gagal. Jangan bersikap sok peduli!''

''Matanya.''

Cowo nanas melihat lurus ke arah mataku. Aku yakin ia mengerti maksudku tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata. Ia hanya melarikan tangan ke rambutnya lalu berbalik pergi.

''Terserahlah. Kalian kaum Hawa memang merepotkan.''

Itulah pertama kali aku melihatnya. Aku tidak tahu kalau ia mempunyai teman. Jangan salahkan aku, siapa yang menyangka dengan sifatnya yang seperti itu ia masih bisa berteman? Yang jelas bukan aku.

Menarik napas panjang, aku menghembuskannya keras-keras. Apa tindakanku ini benar adanya?

.

.

.

''Nah, seperti yang kujanjikan, ini bagianmu,'' kataku sambil menyerahkan sebuah kotak bekal ke pangkuannya. Hari ini cuaca cerah, angin berhembus sepoi-sepoi. Atap sekolah memang tempat yang paling nyaman untuk makan siang.

Dia menatapku. Hanya hal itu yang bisa dia lakukan untuk menanggapi segala tindakanku, selain mengangguk atau pergi begitu saja meninggalkanku.

''Ada apa? Kau tidak bisa membukanya?'' tanyaku sambil mengunyah sosis gurita yang baru kugoreng tadi pagi. Dia hanya diam melihat kotak bekal itu.

Aku memutar bola mataku sebelum membuka kain penutup kotak tersebut dan memperlihatkan isinya. Nasi putih, sosis goreng berbentuk gurita, telur dadar gulung, tomat kecil, dan yang lainnya. Bekal yang sama dengan yang kumiliki.

''Apa kau juga perlu disuapi?''

Dia mengambil sumpitnya sendiri dan mulai mengambil sedikit nasi. Nasi yang masih agak hangat itu dikunyahnya bersama dengan telur dadar gulung yang berwarna kuning keemasan. Tempo makannya lebih cepat dibandingkan dengan saat pertama kali makan bersamaku.

Aku tersenyum melihatnya memakan masakanku yang sudah kubuat sampai harus bangun pagi. ''Kau boleh makan, tapi jangan sampai belepotan dong.'' Aku menertawai cara makannya sambil mengambil butiran nasi yang ada di dekat mulutnya lalu memasukkannya bersama dengan kumpulan nasi lain yang dikunyahnya.

Dia tidak kelihatan protes dan membiarkanku melakukannya. Dia tetap melanjutkan acara makannya sendiri, dan aku melanjutkan bagianku.

Aku menyukai keberadaannya yang hampir tidak menimbulkan suara di dekatku. Sama seperti angin yang menerpa wajahku kemudian membelai rambutku dengan lembut. Sama seperti suara burung yang selalu menemaniku dari atas sana.

Dekat namun jauh. Jauh...

...namun terasa dekat.

.

.

.

Tidak terasa hubungan kami yang tidak jelas ini sudah berlangsung hampir seminggu, dan... Aku masih belum merasa mau putus dengannya.

Entah ini harus digolongkan kabar baik atau bukan, yang pasti hal itu sudah tersebar hampir ke seluruh sekolah. Cowo ini memang hebat. Segala hal yang berhubungan dengannya selalu menyebar dengan cepat. Tapi menjadi pusat perhatian sepertinya bukan tujuan utamanya berperilaku seperti zombie.

Saat bel pulang berbunyi aku harus segera berberes dan pergi ke tempatnya kalau tidak mau ditinggal.

''Hyuuga, tolong gantikan aku piket, ya.'' Tiba-tiba salah seorang dari mereka menghampiriku dan mencegah niatku untuk segera pergi dari kelas ini. Ingin rasanya menolak permintaan itu, tapi mulut ini serasa kaku dan suaraku tidak bisa keluar.

Belum sempat aku memberikan respon, ia pergi begitu saja sambil melambaikan terima kasihnya. Ia pergi bersama kawanannya ke karaoke box bertemu dengan kawanannya yang lain. Dan tadi dia bilang dia harus pergi untuk menjemput adiknya di TK?

Aku melihat sekelilingku. Bahkan satu orang lagi yang seharusnya ikut ber-piket bersamanya pun menghilang. Kurasa kali ini aku harus membiarkan dia pulang sendiri.

Dengan ogah-ogahan, aku membersihkan ruangan kelas itu seorang diri. Berharap agar matahari akan terbenam setelah aku sampai di rumah karena aku terlalu takut untuk pulang sendirian saat gelap.

Setelah beberes, aku berlari di koridor agar cepat sampai di bawah. Saat aku melewati ruang kelas 2-3 yang berada di sebelah kelasku, pintu kelas itu terbuka, memberi celah yang cukup untuk seseorang dapat mengintip apa yang ada di dalamnya.

Saat itulah aku mulai tidak mempercayai apa yang dilihat mataku dan yang tersampaikan ke otakku. Ruangan kelas yang bermandikan warna oranye matahari sore, tirai jendela yang menari dengan diiringi irama angin, disana ia duduk seolah-olah menjadi penonton dalam sebuah pertunjukan fenomena alam.

Ia duduk bersandar santai pada kursinya. Posisi yang sama dengan saat tiap kali aku melihatnya di kelas, dimana sekelilingnya selalu ramai dan dia selalu berdiam di situ. Arah yang sama ketika aku melihatnya sedang berada dalam pelajaran, entah ia memperhatikan guru atau tidak. Tempat yang sama dimana aku selalu menemukannya saat istirahat dan menyeretnya ke atap bersamaku.

Tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya, membuatku sedikit terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Dia berjalan ke arahku tanpa melihatku meski hanya sekilas lalu melewatiku yang berada di ambang pintu begitu saja tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kurasa, meski tidak menunjukkannya, ia tahu kalau aku ada di sini.

Aku pun menyusulnya dari belakang menelusuri lorong sekolah yang panjang setelah melepaskan senyum kecil di bibirku.

.

.

.

Perjalanan pulang kami tidaklah istimewa. Tidak ada bergandeng tangan, maupun obrolan ringan. Jarak kecil yang ada di antara kami berdua hanya diisi oleh keheningan yang diselingi oleh suara langkah kami maupun tawa canda orang-orang yang melewati jalan yang sama dengan kami.

Untuk ukuran laki-laki, kupikir jalannya cukup pelan. Seharusnya dengan kaki yang panjang itu, dia bisa mengambil langkah yang jauh lebih lebar dari sekarang.

Karena aku mengambil jarak sekitar dua langkah di belakangnya, aku bisa melihat punggungnya yang lebar. Sebelah tangannya dimasukkan ke saku celana dan sebelahnya lagi membawa tas sekolah. Kancing blazer hijaunya dibuka, menampilkan warna putih kemeja yang ia pakai. Dan bila angin bertiup, ujung blazer itu akan melambai, bersamaan dengan melambainya rambut pirang itu.

Kepalanya selalu agak tertunduk. Seperti tidak ingin melihat dunia, dan tidak peduli.

Tiba-tiba di depan kami, lewat sebuah bola sepak yang ditendang keluar dari taman yang kami lewati. Anak-anak yang sejak tadi bermain bola itu meminta agar bolanya yang bergelinding ke jalan diambilkan. Merasa tidak ada pergerakan lebih lanjut darinya, aku memutuskan untuk mengambil bola itu sendiri.

Saat tanganku menyentuh bola tersebut, tiba-tiba di depanku muncul sebuah siluet mobil yang berjalan ke arahku dengan kecepatan penuh. Aku bisa mendengar suara teriakan orang-orang di sekitarku yang menyuruhku untuk menyingkir, tapi kejadian ini terlalu tiba-tiba. Kakiku terlalu takut untuk melangkah, terlalu takut untuk beranjak. Satu-satunya yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menutup mataku rapat-rapat hingga aku tak bisa melihat atau mendengar suara apapun lagi.

.

.

.

Di dalam kegelapan dan keheninganku, aku bisa mendengar bunyi detak jantung dengan jelas. Apa ini detak jantungku?

Aku membuka mata perlahan, hanya untuk menemukan bahwa diriku sedang berada di dalam pelukan seseorang. Detak jantung yang bertempo cepat ini bukan milikku, melainkan pemilik tangan yang sedang melingkariku dengan erat.

Aku mendongak melihat pemilik tangan dan suara detak jantung itu. Mata birunya memandang ke arah mobil tadi pergi berlalu tanpa sempat berhenti maupun meninggalkan ucapan maaf dari si pengendara.

Aku ingat.

Sesaat sebelum mobil itu sempat menyenggol tubuhku, tanganku sudah ditarik terlebih dahulu oleh seseorang. Sampai sekarang pun ia masih belum melepaskan cengkramannya di pergelangan tanganku, bahkan aku masih merasakan sebelah tangannya yang melingkari pinggangku, menahanku untuk tetap lebih dekat dengannya. Dan aku belum pernah melihat wajahnya yang shock seperti sekarang.

''A... Ano...''

Ia tersadar dari shocknya kemudian melepaskanku. Ia berdiri dan merusak posisi kami yang sebelumnya. Ia mengambil tasnya yang sempat terlempar saat menolongku, lalu segera pergi dari tempat ini.

Aku menangkupkan kedua tanganku di dada, masih belum beranjak karena terlalu shock dengan semuanya yang berlalu begitu cepat.

Aku masih belum mengucapkan terima kasih padanya...

.

.

.

To Be Continued

Status Facebook Itachi

By : Anggie Uchiha
Pair : Akatsuki

Sabtu sore yang kelabu, ya jelas kelabu lah, secara si Itachi kagak punya pacar.

"Apes banget sih gue" gerutu Uchiha Sulung sambil ngebuka pintu kamar kost nya

"Udah kehujanan, kedinginan, kagak punya pacar," lanjutnya sambil melepas jubah Akatsuki nya.

"Kurang apa sih gue" kali ini Itachi ngaca.

"Yasudah lah, emang belom waktunya" Itachi nenangin diri sambil berjalan gontai menuju kamar mandi.

Ga usah di ceritain kayak gimana dia mandi yak...ntar Rate nya berubah jadi rate M, ::Mhehehehehe...Author ngikutin ketawanya Zetsu::

Biasa lah Uchiha kalo mandi ngabisin waktu 2 jam, tadinya mandi jam 5 sore sekarang udah jam 7 malem =.=" sweatdroop.

"Dingin gini enaknya makan nih" Itachi dari tadi ngomong sendirian aja.

"Eh...tapi si Sasuke mana yak?"

"Telpon ah."

tat tit tut tet tat tit tut...mencet nomer hape Sasuke...

Tuuut...tuuttt...

"Apaan sih?" jawab sasuke langsung bete begitu ada telpon dari Itachi

"Kamu kemana aja sayang? udah malem belom balik." Itachi khawatir.

Sasuke muntah-muntah denger kata sayang dari sesama jenis

"Ga usah panggil sayang segala, najis dengernya" Sasuke ngambek.

"Khukhukhu...pan Aniki sayang kamu sih"

"Makanya buruan nyari cewe, biar berhenti maho'an ama Kisame!"

"Woi...kamfret lu yak!" Itachi mulai marah ama adek nya.

"Wateper!"

tuuut...tanda panggilan terputus

"Sama sekali kagak ada yang bisa di ajak kompromi nih" gerutu Itachi sambil membuka Laptop nya.

"Pesbukan aja ah" Itachi masuk akun Fb nya.

"Haih...beranda isinya status pacaran mulu, mentang-mentang ini malem minggu"

Sasori No Danna

Malem minggu enaknya ngapain ya?

Like. Comment. 10 minutes ago

Itachi ngetik komen di statusnya Sasori

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Sini aja main ke kost gue, Lagi sepi nih.

Kakuzu Saiiank Dollar : ada duitnya kagak?

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Gue kagak ngajak lu, RENTENIR!

Sasori No Danna : Minggat Lu pada! kagak usah nyampah di status gue!

"Ahh...gak asik nih Sasori, malah sewot" Itachi mengakhiri komen nya.

Pein siHotz Bangetdech

Semoga aja malam ini hujan...Nyahahahahaha

Like. Comment. 5 minutes ago

Itachi kembali mengetik komen, kali ini di statusnya Pein

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Mo hujan-hujanan lu?

Pein siHotz Bangetdech : Nyahahaha...ni bocah pikirannya cetek banget,

Sasori No Danna : Paling mau nge grepe-grepe ceweknya.

Pein siHotz Bangetdech : Nyahahaha...ko tauk? Dukun yaaaa? nyahahahaha

Sasori No Dana : Bhahahahaha...ya tauk Lah, gue juga gitu .

Hidan Cindta JashinOnly : Siapa tuh yang bilang dukun, sesat lu ah.

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Pada ngomongin apa'an sih, kagak ngerti ah.

Itachi lagi lagi mengakhiri komennya, pan si Itachi thu jomblo, belom pernah pacaran, jadi ga ngerti apa yang lagi di bahas ama 2 buaya itu. ::Author di marahin ama Fansnya Pein ama Sasori::

"Bikin status sendiri aja ah"

Itachi mulai mengetik di kolom yang bertuliskan What's on your mind?

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha

Status malam minggu isinya tentang pacar mulu =,="

Kayak yang baru pada punya pacar aja nih pada pamer.

Like. Comment. Just now

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Ciee...yang kagak pernah punya pacar, un.

Zetsu Go green : Kasian Dei, jagan di ejekin mulu, Mhehehehehehe

Kisame Go Blue : Napa ga bilang ke gue kalo lu pengen punya pacar chi!

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : DeiBanci : Lu ngatain gue emang lu sendiri pernah punya cowo? khukhukhu

ZetsuPagerMakanTaneman : Lu ngebela apa ngejekin juga?

Kisame : No thanks deh,ntar gue di jomblangin ama cumi-cumi, sodara lu kan standar sea food smua.

Zetsu Go green : Apa'an tuh ZetsuPagerMakanTaneman? jangan se'enaknya ngubah nama fb orang donk!

Pein siHotz Bangetdech : Nyahahahha...apa'an sih anak buah gue pada ribut di status abal kayak gini?

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Satus lu tuh abal! Hentai!

Pein siHotz Bangetdech : Makanya buruan cari cewek Chi, biar kagak Galau teruz...Nyahaahahahaha

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Gua kagak galau , Cuma kesel aja nih di beranda statusnya pada gak mutu.

Zetsu Go green : Mhehehehehe...Ngomong aja ngiri gitu.

Kisame Go Blue : Makanya nyari kesibukan aja biar gak galau, nih kayak gue melihara ikan lohan, Syaaahahahahahaha

Pein siHotz Bangetdech : Buset dah...Lu bedua nama Fb nya kompakan banget sih, gue dukung Kisame aja dah...Go Blue...Go perfileman Blue...Nyahahahaha

Kisame Go Blue : Hentai lu ah! maksutnya bukan yang kayak gitu, Go Blue...Lestarikan laut...kampret!

Sasori No Danna : Eh tumben nih statusnya si Itachi rame gini? biasanya sepi kayak kuburan.

Kakuzu Saiiank Dollar : woi...tumben lu pada komen di statusnya Itachi, di bayar gak nih? Duuituituituituit.

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Weegghh...ketawa model apa tuh si kikir? khukhukhukhu

Pein siHotz Bangetdech : Nyahahahaha...Ngakak sumpah baca ketawanya si Kuzzu...

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Wah gue udah ketinggalan jauh nih, jadi gimana Chi? lu kapan punya pacar? Uhn un un un un.

Sasori No Danna : Ini ketawa macem apa lagi nih si banci kaleng =,="

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Ihh...Sasori jahat akh, ga inget semalem

Pein siHotz Bangetdech : Hueh? Ngapai lu semalem?

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Buset dah Sasori...mentang mentang berbakat ngerayu, cowok cewek banci di embat juga,ckckckck

Sasori No Danna : Woi Deidara, sini lu, kagak usah bikin isu!

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Isu gimana sih? Pan semalem kita nonton tv bareng sih =,="

Kisame Go Blue : Si Pein hentai ah! bikin isu mulu.

Pein siHotz Bangetdech : apa'an sih lu! woi Kisame...lu belum pernah di tampar Orang gila ya?

Kisame Go Blue : Ngapain juga di tampar orgil?

Pein siHotz Bangetdech : Pengen ngerasain kagak?

Kisame Go Blue : Coba!

Pein siHotz Bangetdech : Chi...tampar tuh Kisame, katanya dia pengen ngerasain di tampar orang gila...Nyahahahaha

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Kampreeeeeet lu pada !!

Sasori No Danna : Udah pren..kasian si Itachi di ejekin mulu, buruan di kasih tips biar cepet dapet jodoh

Pein siHotz Bangetdech : Gue sih taunya tips biar cepet dapet momongan...Nyahahahaha

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Rusak lu Pein! otak lu kudu di cuci un!

Zetsu Go Green : Chi, sebenernya lu pernah gak sih nembak cewek gitu.

Pein siHotz Bangetdech : Pernah tuh! mau pada tau ga ceritanya?

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Please Pein, ga usah di ceritain.

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : cerita aja un.

Zetsu Go Green : Cerita!

Kisame Go Blue : Cerita!

Sasori No Danna : Buruan cerita.

Tiba-tiba Laptop Itachi Mati karena batrenya abis.

"Yah...kampret ah.." gerutu Itachi sambil nyari-nyari Charger.

Nah...akhirnya nyala lagi tuh laptop.

Masuk lagi ke akun Fb,

"Thu hentai udah ngomong apa aja nih"

Itachi buru-buru ngebuka Notifikasi dan lanjut ngebaca komen.

Pein siHotz Bangetdech : Waktu pulang kuliah si Itachi minta di anter buat nembak cewe, dia ngeluarin rayuan gombalnya, and guess what? coba tebak apa yang terjadi? Nyahahahaha

Sasori No Danna : Luluh kah?

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Waooww...ga nyangka Itachi bisa ngerayu...terus terus terus gimana un?

Pein siHotz Bangetdech : Gak Luluh lagi, Gosong malahan...Nyahahahaha

Kisame Go Blue : Gosong?

Zetsu Go Green : Di apain tuh cewek ampe gosong?

Pein siHotz Bangetdech : Nyahahahaha...pas lagi ngerayu tuh cewek, dengan bodohnya si Itachi lupa menonaktifkan Amaterasu Mode nya, kebayang kan kayak apa thu cewek kena amaterasu...Nyahahahaha

Deidara siKatsu terUnyuSeAkatsuki : Uhn un un un un...Itachi bego...

Sasori No Danna : Bhahahahaha...Uchiha Bego! Off dlu ah...

Kisame Go Blue : Syaaaahehehehehe...

Zetsu Go Green : Mhehehehehe...terus gimana tuh akhirnya.

Pein siHotz Bangetdech : Ya gue kena apes di kejar warga gara-gara ngebakar cewek...Nyahahahahaha

Itachi Uchiha SiGantengDariKonoha : Woiii Kampet lu pein! pake cerita segala, awas besok gue abisin lu!

おわり

Menu Buka Puasa Akatsuki

*MENU BUKA PUASA AKATSUKI*

Hari ini di markas Akatsuki penjahat tingkat S yang sangat di cari di Konohagakure. Mereka sedang berdebat tentang menu makan untuk berbuka puasa nanti saat magrib menjelang

"Huuuaahhh un, nanti kita buka pakai apa un." Teriak Deidara frustasi

"Jangan Tanya kami Banci." Kisame memamerkan deretan gigi runcingnya

"Mana Konan." Tanya sang ketua 'pain'

"Mana kami tahu.." Ujar Sasori yang sibuk mengotak atik boneka kesayangnnya.

"Tadi aku lihat dia di belakang.." Itachi menyahut, sambil membaca Koran bekas yang dibelinnya dari tukang loak (author mati di amaterasu Itachi)

"Kalian mencariku." Keluar lah satu-satunya perempuan di komplotan itu dari balik gorden.

"Konan_chan, hari ini kita buka apa un?" Tanya deidara merengek.

"Hmmmmppp aku akan memasak ikan panggang."

"Benarkah un, kyyaa asik.." Deidara memeluk-meluk Konan.

"Tapi kalian juga harus bantu aku masak."

"Baik un." Jawab Deidara mantap, yang lain hanya diam membisu(?)

"Kisame dan Hidan, kalian pergi memancing di kolam Kakashi sana, jangan sampai ketahuan, kalian mengerti..?" perinta Konan

"Kenapa harus aku dan Kisame, kenapa pula harus di kolam si orang mesum itu." Konan menjitak kepala hidan

"Karna Kisame itu jago memancing, dan kau kan punya pedang itu"Konan menunjuk-nunjuk pedang sabit Hidan"Gunakan pedang itu untuk membersihkan ikan nanti."

"Huuuaaapppaaa, ini pedang suci dari dewa jashin, nanti kena kutuk baru tahu rasa.."

"Itu kan pedang mu, lagian kau juga yang menggunakannya, jadi pasti kau juga yang kena kutuk." Jawab Konan enteng

"Aku tak mau." Tolak Hidan. Konan langsung menyeringai setan

"Jadi kau tak mau heh?" Kisame langsung menyeret Hidan dari TKP, menuju kolam ikan Kakashi.

"Zetsu dan Kakuzu, kalian pergi potong-potong pakis di dapur, terus langsung di masak. Ingat! Hanya daunnya saja." Zetsu mengangguk dan langsung kedapur diikuti Kakuzu

"Hahahaha..kasihan sekali mereka." Pain tertawa

"Kau, Pain dan Tobi cuci piring di dapur.."

"Hei?aku ini kan ketua, kenapa harus aku.."

"Jadi kau mau buka puasa dengan air putih saja.." Konan mengancam

"Huh..baiklah." Pain langsung menuju dapur di ikuti Tobi yang menari-nari gaje

"Tobi anak baik…mau bantu senpai nyuci piring kkkyyyaaakkkk" Tobi langsung mendapatkan bogeman mentah dari Pain

"CK, berisik."

Konan menatap kearah orang-orang yang tesisa, Sasori, Deidara, Itachi..

"Sasori dan Deidara, kalian buat sambal terasi sana.." Konan memerintah, seenak jidat nya Sakura..(Kali ini author benar-benar di tendang Sakura)

"Kenapa sambal terasi un…"

"Kerjakan.."

Sasori langsung ngacir sambil menyeret Deidara.

"Dan kau Itachi, bantu aku menyiapkan arang untuk membakar ikan nanti.."

"Hn.." Itachi melipat korannya dan berjalan mengikuti Konan..

-Kita intip Kisame dan Hidan-

"Cih, lama sekali..masa sudah satu jam masiH dapat 2 ekor ikan, mana anaknnya lagi. Hei Kisame, induk ikannya mana sih, masa Ikan gak bisa mancing ikan."

"Sabarlah, memancing itu butuh kesabaran.."

"Aku sudah sangat sabar, kenapa baru dapat 2 ekor anak ikan, coba kau panggil pakai bahasa ikan mu induk-induk mereka, sekalin moyang mereka.."

"Kau ini, berisik sekali sih.."

"Aku curiga.. jangan-jangan seluruh ikan-ikan besar di tempat ini sudah di ungsikan oleh Kakashi lagi, soalnnya dia tahu kalau kita sering mencuri ikan-ikannya." Urat didahi Kisame berkedut

"Oi Kisame..kok diam…"

"…"

"Kau bisu ya?"

"…"

"Kau sedang bicara dengan ikan-ikan itu ya?makanya kau diam.." Kisame berdiri. Dan melilitkan tali pancinnya ke leher Hidan, kemudian menggantunnya

"Untung aku pergi dengan mu, jadi dapat ku pastikan kalau tali pancing itu tak akan membunuhmu." Kisame tersenyum mengerikan

"Kisame…turunkan aku…"

"Lebih baik aku beri kan ikan ini ke Konan." Kisame pergi meninggalkan Hidan yang meronta-ronta minta dilepaskan.

-Kita lihat Zetsu dan Kakuzu-

"Ck, benda apa ini.." Kakuzu mendecak sambil membalik-balikan sayur pakis yang masih utuh di tangannya

"Sudah, ayo kita kerjakan apa yang diperintahkan Konan." Zetsu menepuk bahu Kakuzu

"Dia bilang kalau Cuma daunnya saja yang di ambil."

"Tapi kalau Cuma daunnya, kan sangat dikit, lagi pula kita ini banyak " Zetsu mengambil seikat sayur Pakis itu dari tangan Kakuzu

"Baiklah, ayo kita mulai operasi.." Kakuzu mengeluarkan Kunainnya

"Mau apa kau?"

"Kita potong pakis ini dengan batang-batangnya, biar banyak."

"Iya, aku setuju denganmu." Zetsu mengangguk mantap. Lima jam kemudian, seikat pakis itu terpotong lengkap dengan batang nya (Matilah kau Kakuzu dan Zetsu oleh konan)

-Kita lihat Pain dan Tobi-

"Senpai..kau yang mencuci ya.."

"HHuuuaahhh kenapa piring kotornya sampai ada yang belumut, sebenarnya sudah berapa tahun piring ini tak dicuci.."

"Yang aku tahu semenjak puasa tahun kemarin piring ini tak perna di cuci.."

"Ih..jorok..mana banyak lagi.."

"Sudahlah senpai..ayo kita cuci bersama.." Pain langsung mengambil satu piring kotor berlumut

"Aku tak tahan…" Pain segera menjauh dari tempat piring-piring itu.

"Terus kalau tak mendekat bagaimana cara mencucinya senpai.."

"Hmmm aku tahu." Pain tertawa setan, dia merentangkan kedua tangannya di sebelah kanan dan kirinya "Bersiapalah Tobi."

"Tobi anak baik selalu siap senpai.."

"SHINRA TENSEI."

-PRAK, TUING, KLUNANG, KLONTENG, DUAR , TAK, DUAR, BYUR, JUDAR, (dan berbagai bunyi lainnya yang author tak dapat menulisnya)-

"Huuuuuaaaahhhhhhh" tobi melayang diikuti piring-piring, gelas-gelas, mangkok, sendok, garpu, pisau, dan berbagai macam alat makan lainnya, yang pecah berserakan

-GLEK-

"Mampuslah aku setelah ini, pasti Konan akan murka." Pain menelan ludah paksa

"Senpaaaiiiiiii, Konan-chan pasti akan membunuh kita…"

"Aku tahu.." Pain berjalan santai keluar dari tempat terkutuk itu 'Setelah ini, aku akan Ke Konoha minta perlindungan Anbu, lebih baik aku di tangkap Konoha dari pada dibantai Konan' Batin Pain

-Kita lihat Sasori dan Deidara-

"Huh..kenapa harus kita yang masak sambal terasi ini sih un.." Deidara menggerutuk kesal

"Jangan lupa pakai bawang dan tomat.." Sasori menyiapkan alat penggiling batunya (itu loh, penggiling jaman bahulak, yang terbuat dari batu)

"Aku tahu un."

"Jangan mengoceh terus Deidara, kalau kau terus mengoceh, nanti kerjaan ini tak selesai."

"Aku lebih memilih menangkap Kyuubi Un, ketimbang membuat sambal terasi ini." Geram deidara, sambil memetil-metil cabai yang akan di giling

"Sudah belum cabainya.."

"Ini." Deidara menyerahkan semangkok cabai merah, tomat, bawang, dan terasi.

"Baiklah, jangan dekat-dekat nanti terciprat cabainnya."

"Iya un." Deidara menjauh. Sasori mulai menggiling Cabai itu, dengan cara di tokok-tokok, karna Sasori sendiri tak tahu cara menggiling Cabai.

-CROT-

"Kyyyyaaa…mataku…un.." Deidara mencak-mencak sambil memegangi matanya yang terasa perih, Sasori segera mendekati Deidara sambil membawa seember besar air

-BYUR-

"Kyaa Sasori.. kenapa kau menyiramku un.."

"Supaya perih dimatamu hilang.."

"Kan yang sakit mataku un, kenapa semua tubuhku kau siram un."

"Reflek." Jawab Sasori santai

"SAMBAL TERASI KEPARAT…" Deidara naik pitam. Sasori segera menahan Deidara yang hendak menghancurkan Sambal terasi yang tak berdosa itu

"Jangan Dei..nanti Konan bisa marah.."

"LEPASKAN AKU UN…AKAN AKU MUSNAKAN SAMBAL ITU.." Deidara memberontak. Sasori segera mengambil Sambal terasi setengah jadi itu dari jangkauan Deidara

"Kemarikan Un…"

"Tidak."

"Kemarikan Sambal berengsek itu Sasori un."

"Tak mau.."

"KU MUSNAKAN KAU BERSAMA SAMBAL ITU SASORI…" Deidara menyengir setan

"Ka…kau mau apa Dei.."

"LEDAKAN.."

-DUAAAAARRRRRRRR-

Jadilah Sasori yang gosong beserta sambal terasi yang sedang di pegangnya

"Auw" Hanya itu yang keluar dari mulut Sasori

"Berani-beraninya dengan Deidara un.." Deidara segera pergi meningalkan Sasori yang meratapi Sambal terasi dan dirinya

-Kita lihat Konan dan Itachi-

"Itachi, aku tak bisa membuat bara untuk membakar ikan.." Teriak Konan

"Jadi bagaimana.."

"Tolong aku bodoh.."

"Uchiha itu tak bodoh Konan." Balas Itachi sengit

"Ayo bantu aku Itachi.." Konan membalas dengan tatapan tajam

"Mana ikannya."

"Ini." Konan memperlihatkan dua ikan sekecil ibu jari yang sudah ditusuk dengan lidi. Itachi menautkan alisnya

"Ikan ini yang mau di bakar."

"Iya.." Itachi menghebus Napas berat

"Terus mau dibakar pakai apa?"

"Hmmm," Konan terlihat berfikir. "Gunakan Gokakyu no jutsu mu Itachi.."

"Heh? Cuma membakar ikan, aku harus menggunakan jutsu?"

"LA-KU-KAN…atau kau akan ku REMUKAN."

-GLEK-

Itachi membuang napas berat "Baiklah." Itachi sudah bersiap, siap membuat segel dan akan melepaskan Jutsunnya.

"Apinya jangan besar-besar, nanti ikannya hangus."

"Fyuu..Hn, baiklah."

"Gokakyu No Jutsu." Keluarlah api merah dari mulut Itachi, tapi dalam kadar yang sangat kecil. 10 kali Itachi menggunakan Jutsu itu, tapi Ikan di hadapnnya sama sekali belum matang

"Pueh..bibirku panas karna mengeluarkan Gokakyu terus menerus." Itachi menggosok-gosokan bibirnya

"Cepat keluarkan lagi apinya, sebentar lagi sudah masak nih ikan.."

"Cih, Ikan berengsek.."

"Jangan mengeluh, ayo cepat, sebentar lagi magrib." Itachi sudah benar-benar tak tahan dengan ikan itu.

"Baiklah.." Itachi menyeringai ala Uchiha yang selalu membuat para FC+FG Uchiha brother tepar (termasuk author). Tak lama kemudian, munculah Saringgan, mata itu terus berubah dan menjadi mata Mangekyo Saringgan. Konan yang melihatnya hanya menelan ludah

"Mau apa kau Itachi?"

"Hn, Ikan itu lebih menyebalkan dari pada Kisame dan My Otouto."

*di tempat lain*

"Huachim…puih.." Sasuke terlihat mengusap Hidungnya yang mengeluarkan ingus (Kyyyaaa Sasuke_kun jorok)

"Kau Sakit Sasuke?" Ujar perempuan berambut merah bernama Karin, rekan kerja Sasuke (?)

"Aku rasa, my lovely dobe_chan sedang membicarakanku." (Chiken dungdung, bukan Naruto yang membicarakanmu, tapi you punya aniki)

*kembali kemarkas akatsuki, bersama Itachi dan Konan*

"Baiklah kOnan, akan aku bakar Ikan itu."

"Mau apa kau, ingat Itachi, ini menu buka puasa kita."

"Besiaplah.."

"Heh?" Konan cengok

"AMETERASU" api hitam itu membakar seluruh ikan yang ada di tangan Konan

"KKKyyyaaaa, matikan api itu itachi."

Itachi gelagapan, dia segera mematikan api itu. Konan berangsur-angsur mendekati Ikan malang itu

"APA…YANG KAU LAKUKAN BAKA ITACHI.." Konan meledak, ketika melihat ikan bakarnya hangus tak berbentuk.

"Aku tidak sengaja." Balas Itachi enggan

DUAR, BUK, TUING, HAIAH, KROK, PRET, GYUR….

"Kyyyaaaaaaaaa, menyebalkan." Itachi terbang dan menghilang entah kemana

Seluruh anggota akatsuki sekarang sedang duduk di ruang rapat yang juga merangkap sebagai ruang makan mereka, menatap tumpukan makanan tak berbentu, untuk buka puasa mereka. kita lihat menu buka puasa mereka.

1. Sayur pakir lengkap dengan batangnya yang super keras

2. sambal terasi gosong hasil ledakan seni Deidara

3. Ikan hasil tangkapan Kisame dan Hidan yang tak berbentuk, akibat kemahiran Uchiha Itachi dalam menggunakan Amaterasu"

4. Makan beralaskan daun pisang. Karna Piring-piring mereka yang dipecahkan Tobi dan Pain (sebenarnya hanya Pain yang memecahkannya)

Konan menghela napas berat. Menatap seluruh anggota akatsuki dengan tatapan paling tajamnya setajam silet –plak-. Dan muka seluruh anggota akatsuki minus Konan yang hancur karna mereka habis di pukuli, dibantai, ditendang, di injak, di cakar dan hal-hal sadis lainnya yang dilakukan Konan kepada mereka

Begitulah, cerita akatsuki dan menu buka puasa mereka

.

.

.

FIN